|
Pada
jaman
pemerintahan
Pak
Harto
ada
wacana
pembangunan
nasional
yang
disebut
‘Trilogi
Pembangunan”
sebagai
landasan
penentuan
kebijakan
politik,
ekonomi
dan
sosial
untuk
menyukseskan
pembangunan
nasional.
Tanpa
ada
wacana
pemimpin
negara
kita
waktu
itu
khawatir
pembangunan
nasional
kita
tidak
terarah
sehingga
hasil
pembangunan
tidak
mencapai
tingkat
maksimal.
Begitu
juga di
kota
Singkawang,
ada
wacana
disebut
Trilogi
3B
merupakan
sebuah
dokrin
bagaimana
memanfaatkan
keterbelakangan
komunitas
kita,
Tionghoa
Singkawang
untuk
tujuan
politik.
Menurut
statistik
yang ada
dalam
arsip
CintaSingkawang
komunitas
Tionghoa
Singkawang
yang
tinggal
di
kota Singkawang
memiliki
indeks
sumber
daya
manusia(SDM)
paling
rendah
dibandingkan
dengan
komunitas(etnis)
lain.
Terutama
komunitas
kita
yang
tinggal
di
pinggiran
kota,
khususnya
di
kawasan
pedesaan.,indikator
SDM
disini
yaitu
jika
ditinjau
dari
tingkat
pendidikan
yang
mereka
miliki
dan
kemampuan
mereka
berbahasa
Indonesia.
Komunitas
yang
memiliki
indek
SDM yang
rendah
memiliki
peluang
besar
komunitas
tersebut
akan
menjadi
mangsa
oleh
pihak
tertentu(
dari
komunitas
mereka
sendiri
atau
dari
komunitas
lain),
memanfaatkan
keterbelakangan
mereka
sebagai
alat
untuk
memperjuangkan
kepentingan
individu
atau
kelompok.
Maka itu,
merupakan
kewajiban
kita
bersama
untuk
mendidik
dan
memajukan
komunitas
kita
supaya
tidak
menjadi
korban.
Trilogi
3B ini
terdiri
tiga
komponen
Bong,
yaitu
Bong Li
Thiam,
Bong
Phen
Thin
dan,Bong
Sau Fan
kombinasi
ketiga
komponen
tersebut
menjadi
sebuah
doktrin
yang
dapat
meracuni
kehidupan
komunitas
Tionghoa
Singkawang,
dapat
menyesatkan
perkembangan
komunitas
tionghoa
Singkawang.
Marilah
kita
mengikuti
analisa
CintaSingkawang
tentang
Trilogi
3B di
bawah
ini:
-Bong Li
Thiam,
alias
Benny
Setiawan.
Lahir
dan
dibesarkan
di GM
Situt -
Singkawang.
Pengusaha
perhotelan
dan
walet,
mantan
pemeran
tokoh
antagonis
dalam
film "Wo
ai ni
Indonesia". Sebagai
pengusaha
sudah
lazim
dalam
pergaulannya
dengan
sesama
pengusaha,
pejabat.
Konsep
hidup
bermasyarakat
yang
dimiliki
Bong
Li
beraliran
konservatif,
ortodok
dan kaku.
Menurutnya
untuk
menunjukkan
identitas
jati
diri
etnis
Tionghoa
sebagai
penduduk
mayoritas
di kota Singkawang harus bernuansa dengan symbol-simbol
atau
lambang
lambang
ketionghoaannya.
Dalam
sejarah kota Singkawang Bong Li sudah berkali-kali berusaha keras
untuk
membangun
patung
naga di
tempat
umum di kota Singkawang. Dia siap mengeluarkan dana
berapa
besarpun
jika ada
yang
memberikan
dukungan
terhadap
cita-citanya.
Jadi,
dalam
doktrin
Trilogi
3B Pak
Bong Li
Thiam
berperanan
sebagai
pihak
menyediakan
dana.
-Bong
Phen
Thin,
alias
Lio
Kurniawan.
Lebih
dikenal
dengan
panggilan
Pak
Aliok.
Putra
kuala
Singkawang
ini
menghabiskan
masa
kecil
dan
remajanya
di kota Singkawang. Sejak di SMP
bakat
menggambar
Pak
Aliok
sangat
menonjol.
Dalam
dunia
menggambar
objek
kesukaan
Pak
Aliok
yaitu
menggambar
manusia(
fa nyin),
ada
beberapa
karyanya
mendapat
penghargaan
di
sekolah.
Pak
Aliok
adalah
termasuk
salah
satu
putra
Singkawang
terbaik,
memiliki
segudang
reputasi
dan
sering
mendapat
‘Bong
Hiong
award”
dan
karya
sosial.
Memiliki
kepribadian
menarik,
suka
bergaul
dan
berteman
membuat
Beliau
sebagai
salesman
yang
sukses
dalam
hal
mencari
dana.
Pak
Aliok,
type
pemimpin
yang
memiliki
wibawa
dan
kharismatik.
Tetapi
pantas
disayangkan,
alam
pemikiran
Pak
Aliok
masih
terbentur
masalah
tradisi,
harus
berorientasi
budaya
tradisional
karena
Beliau
terbiasa
membaca
buku-buku
klasik
yang
sudah
kadaluarsa.
Beliau
lebih
suka
mendiskusikan
bagaimana
cara
merayakan
acara
Peh
Cun,Cap
Go Meh
daripada
bagaimana
memajukan
komunitas
Tionghoa
Singkawang
dengan
metode
modern.
Disamping
cerita
sukses
Beliau
membangun
sekolah
tinggi
STIE
MULIA
Singkawang,
ada juga
cerita
Beliau
gagal
menyediakan
pendidikan
bertepat
guna
untuk
masyarakat
kecil.
Sekedar
contoh:
sekolah
tiga
bahasa(Indonesia,Mandarin,
Inggeris)
di
Kopisan.
Ide
membangun
sekolah
tersebut
ketika
Beliau
sebagai
pejabat
ketua
Permasis.
Sebuah
proyek
tidak
memiliki
sebuah
konsep
apa yang
dibutuhkan
oleh
komunitas
Tionghoa
Singkawang
di
pedesaan.
Sasaran
yang
akan
dicapai
Sekolah
ini
tidak
jelas,
apakah
mendidik
komunitas
kita
menjadi
calon
buruh
kasar
untuk
negara
berbahasa
Mandarin
atau
mendidik
anak-anak
dari
komunitas
kita
untuk
menghadapi
suatu
persaingan
di dalam
masyarakat
kita(Indonesia).
Kalau
tujuan
untuk
mempersiapkan
mereka
menghadapi
tantangan
masa
depan,
sekolah
harus
memfokuskan
penguasaan
bahasa
Indonesia
harus
menjadi
perioritas
utama.
Tanpa
penguasaan
bahasa
Indonesia
yang
baik
mereka
akan
menghadapi
kesulitan
melanjutkan
pendidikan
mereka
untuk
mendapat
pekerjaan
profesional(skill
jobs).
Fakta di
lapangan
menunjukkan
sangat
memprihatinkan
tentang
komunitas
Tionghoa
Singkawang
di
pedesaan
yaitu
kemampuan
mereka
menguasai
bahasa
nasional
kita,
bahasa
Indoensia.
Betapa
memalukan
kita
sebagai
etnis
minoritas
di negri
ini
sebagai
generasi
3 bahkan
ke 4 dan
seterusnya
yang
lahir
tanah
air ini
masih
menghadapi
kendala
besar
tentang
pemahaman
bahasa
nasional(pendidikan).
Dibandingkan
dengan
para
imigran
di
negara
Amerika(USA), Australia, Canada
dan
New
Zealand.
Anak-anak
dari
keturunan
imigran
mereka
cepat
adaptasi
kedalam
masyarakat
dan
menguasai
pendidikan.
Mereka
berkemampuan
menguasai
bahasa
dan
memiliki
pendidikan
sehingga
mereka
mendapat
pekerjaan
yang
lebih
baik.
Ketidakmampuan
komunitas
kita
menguasai
pendidikan
yang
memadai
menyebabkan
komunitas
kita
kelak
akan
kalah
bersaing
dengan
etnis
lain
dalam
bidang
pekerjaan
baik itu
sektor
swasta
ataupun
sektor
pemerintah
di
kota
Singkawang.
Sejauh
ini kita
masih
belum
menemukan
pemimpin
komunitas
Tionghoa
Singkawang
memiliki
visi dan
program
kerja
yang
jelas
untuk
memajukan
komunitas
kita.
Atau
mereka
sengaja
membodohkan
komunitas
kita
untuk
tujuan
dan
ambisi
mereka
sendiri
?
Selama
Pak
Aliok
menjabat
sebagai
ketua
Permasis,
isi dari
buletin
Permasis
sudah
sangat
jelas
memberi
gambaran
kepada
kita
ide
Beliau
tercermin
dalam
buletin
yang
isinya
membodohkan
komunitas
kita
daripada
mencerdaskan
mereka.
Berisikan
cerita-cerita
tempo
doeloe,
adat dan
kebiasaan
sudah
tidak
lazim
berlaku,
bahan
bacaan
semacam
itu
membuat
komunitas
kita
bermimpi
indah
dengan
cerita
di masa
lampau.
Sedikitpun
tidak
memberi
gagasan
kehidupan
ke depan,
bagaimana
memecahkan
permasalahan
yang
dihadapi
komunitas
kita
agar
mereka
dapat
keluar
dari
kemiskinan
dan
keterbelakangan .
Sperti
buku
bacaan
untuk
anak-anak
SD
pada
jaman
Hindia
Belanda
yang
berisikan
cerita
dongeng
atau
cerita
rakyat,
cerita
si Hasan
membantu
orangtuanya
memandikan
kerbau
pada
akhir
pekan,
bacaan
yang
tidak
merangsang
produktivitas.
Gagasan
membentuk
pasukan
atau
pendukung
bayaran
keberadaan
patung
naga di-mastermind
oleh Pak
Aliok.
Menurut
Pak
Aliok
mereka
yang
ingin
patung
naga
direlokasi
itu
harus
diberi “pelajaran”(
Kau Hiun)
supaya
mereka
takut.
Maka
dibentuk
aksi
pengambilan
tanda
tangan
dengan
kain
merah
3.000
meter di
happy
Building.
Masalah
pendanaan
untuk
aksi itu
ditanggung
oleh
Bong Li
dan pak
Aliok
sesuai
dengan
fungsi
dan
peranan
dia
dalam
doktrin
Trilogi
3B.
Peranan
Pak
Aliok
dalam
Trilogi
3B
sebagai
Think
Tank,
memberi
gagasan.
Idenya
membentuk
pihak
tandingan
terhadap
pihak
yang
menginginkan
relokasi
patung
naga,
adalah
ide
tanpa
mempertimbangkan
akibat
yang
dapat
merugikan
komunitas
kita
terutama
mereka
hidup di
sekitar
patung
naga.
Ada
ide yang
paling
brilliant
sedang
dirancang
oleh Pak
Aliok
tentang
jual
calon “wakil
wako”
kepada
etnis
tertentu.
Dengan
methode
pasang
judi
buntut
semua
nomer
dipasang
pada
pilkada
2012
mendatang,
sekarang
ide
tersebut
sedang
diujicobakan
di
lapangan
sebagai
bahan
gadaian
ke sana
ke sini
untuk
mempertahankan
kekuasaan
status
quo
kelompok
3 B ini.
-Bong
Sau Fan,
berprofesi
sebagai
raja San
Keu Jong.
Hobby
kesayangannya
yaitu
koleksi
penghargaan
MURI,
menyanyi,
kesukaan
naik
jeep
terbuka
keliling
kota.
Humoris
dan
entertainist
kadang-kadang
lebih
suka
gosip di
kelenteng
menjual
melankholis
daripada
memikirkan
kebijakan
untuk
memajukan
Singkawang.
Dalam
Trilogi
3B pak
HK
berperanan
sebagai
eksekutor
rencana.
Prinsip
kerja
Trilogi
3B ini:
Ada
proyek (ide)
dari Pak
Aliok
kemudian
Pak Bong
Li
mendanai
Pak HK
mengeksekusi
rencana.
Dengan
bahasa
sederhana
ide dari
pak
Aliok,
dana
dari Pak
Bong Li,
Pak HK
sebagai
Pimpro.
Sebagian
besar
dari
komunitas
kita
hidup di
kawasan
pedesaan,
mereka
memiliki
wawasan
sangat
terbatas
maka
mereka
ini
mudah
dihibur
oleh Pak
HK
dengan
cerita
Republik
Lan
Fong, Lo
Thai
Pak,
menyebarkan
ide-ide
berbau
rasisme
dan
cerita
heroisme
pak HK
kadang-kadang
dibumbui
Kong
Thai
Khung
terutama
gelar
Doktolnya
agar
mampu
mengiring
mereka
menjadi
pendengar
setia
pak HK .
Mereka
itu
belum
memahami
bahwa
mereka
berhak
menagih
janji
janji
surga
Wako
jika Pak
HK tidak
sanggup
memenuhi
janji-janji
politiknya
semasa
kampanye
dahulu
yang
terkenal
“Singkawang
Spektakuler”
itu,
mengubah
kehidupan
Singkawang
ke arah
yang
lebih
baik.
Sudah
sangat
jelas
apabila
komunitas
kita
tidak
memiliki
taraf
pendidikan
yang
memadai
maka
mereka
mudah
dimanipulasi
oleh
pihak-pihak
tertentu.
|