Trilogi 3B

29Juni 2010

Komentar:

Pada jaman pemerintahan  Pak Harto ada wacana pembangunan nasional  yang disebut ‘Trilogi Pembangunan” sebagai landasan penentuan  kebijakan politik, ekonomi dan sosial untuk menyukseskan pembangunan nasional. Tanpa ada wacana pemimpin negara kita waktu itu khawatir pembangunan nasional kita tidak terarah sehingga hasil pembangunan  tidak mencapai tingkat maksimal. Begitu juga di kota Singkawang, ada wacana disebut  Trilogi 3B merupakan sebuah dokrin bagaimana memanfaatkan keterbelakangan komunitas kita, Tionghoa Singkawang untuk tujuan politik.

Menurut  statistik yang ada dalam arsip CintaSingkawang  komunitas Tionghoa Singkawang yang tinggal di kota Singkawang memiliki indeks sumber daya manusia(SDM) paling rendah dibandingkan dengan komunitas(etnis) lain. Terutama komunitas kita  yang tinggal di pinggiran kota, khususnya di kawasan pedesaan.,indikator  SDM disini yaitu jika ditinjau dari tingkat pendidikan yang mereka miliki dan kemampuan mereka berbahasa Indonesia. Komunitas yang memiliki indek SDM yang rendah memiliki peluang besar komunitas tersebut akan  menjadi mangsa oleh pihak tertentu( dari komunitas mereka sendiri atau dari komunitas lain), memanfaatkan keterbelakangan mereka sebagai alat untuk memperjuangkan kepentingan individu atau kelompok. Maka itu,  merupakan kewajiban kita bersama untuk  mendidik  dan memajukan komunitas kita supaya tidak menjadi korban.

Trilogi 3B ini terdiri tiga komponen Bong, yaitu Bong Li Thiam, Bong Phen Thin dan,Bong Sau Fan kombinasi ketiga komponen tersebut menjadi sebuah doktrin yang dapat meracuni kehidupan komunitas Tionghoa Singkawang, dapat menyesatkan perkembangan komunitas tionghoa Singkawang.  Marilah kita mengikuti analisa CintaSingkawang tentang  Trilogi 3B di bawah ini:

-Bong Li Thiam, alias Benny Setiawan. Lahir dan dibesarkan di GM Situt - Singkawang. Pengusaha perhotelan dan walet, mantan pemeran tokoh antagonis dalam film "Wo ai ni Indonesia". Sebagai pengusaha sudah lazim dalam pergaulannya dengan sesama pengusaha, pejabat. Konsep hidup bermasyarakat yang dimiliki  Bong Li beraliran konservatif, ortodok dan kaku. Menurutnya untuk  menunjukkan identitas  jati diri etnis Tionghoa sebagai penduduk  mayoritas di kota Singkawang harus bernuansa dengan symbol-simbol atau lambang lambang ketionghoaannya. Dalam sejarah kota Singkawang Bong Li sudah berkali-kali berusaha keras untuk membangun patung naga di tempat umum di kota Singkawang. Dia siap mengeluarkan dana berapa besarpun jika ada yang memberikan dukungan terhadap cita-citanya. Jadi, dalam doktrin Trilogi 3B Pak Bong Li Thiam berperanan sebagai pihak menyediakan dana.

 -Bong Phen Thin, alias Lio Kurniawan. Lebih dikenal dengan panggilan Pak Aliok. Putra kuala Singkawang ini menghabiskan masa kecil dan remajanya di kota Singkawang. Sejak di SMP  bakat menggambar Pak Aliok sangat menonjol. Dalam dunia menggambar objek kesukaan Pak Aliok yaitu menggambar manusia( fa nyin), ada beberapa karyanya mendapat penghargaan di sekolah.

Pak Aliok adalah termasuk salah satu putra Singkawang terbaik, memiliki segudang reputasi dan sering mendapat ‘Bong Hiong award”  dan karya sosial. Memiliki kepribadian menarik, suka bergaul dan berteman membuat Beliau sebagai salesman yang sukses  dalam hal mencari dana. Pak Aliok,  type pemimpin yang memiliki wibawa dan kharismatik. Tetapi pantas disayangkan, alam pemikiran Pak Aliok masih terbentur masalah tradisi, harus berorientasi budaya tradisional karena Beliau terbiasa membaca buku-buku klasik yang sudah kadaluarsa. Beliau lebih suka mendiskusikan bagaimana cara merayakan acara Peh Cun,Cap Go Meh daripada bagaimana memajukan komunitas Tionghoa Singkawang dengan metode  modern. Disamping cerita sukses Beliau membangun sekolah tinggi STIE MULIA  Singkawang, ada juga cerita Beliau gagal menyediakan pendidikan bertepat guna untuk masyarakat kecil. Sekedar contoh: sekolah tiga bahasa(Indonesia,Mandarin, Inggeris) di Kopisan. Ide membangun sekolah tersebut ketika Beliau sebagai pejabat ketua Permasis. Sebuah proyek tidak memiliki sebuah konsep apa yang dibutuhkan oleh komunitas Tionghoa Singkawang di pedesaan. Sasaran yang akan dicapai Sekolah ini tidak jelas, apakah mendidik komunitas kita menjadi calon buruh kasar untuk negara berbahasa Mandarin atau mendidik anak-anak dari komunitas kita untuk menghadapi suatu persaingan di dalam masyarakat kita(Indonesia).  Kalau  tujuan untuk mempersiapkan mereka  menghadapi tantangan masa depan, sekolah harus memfokuskan  penguasaan bahasa Indonesia harus menjadi perioritas utama. Tanpa penguasaan bahasa Indonesia yang baik mereka akan menghadapi kesulitan melanjutkan pendidikan mereka  untuk mendapat pekerjaan profesional(skill jobs).

Fakta di lapangan menunjukkan sangat memprihatinkan tentang komunitas Tionghoa Singkawang di pedesaan yaitu kemampuan mereka menguasai bahasa nasional kita, bahasa Indoensia.  Betapa memalukan kita sebagai etnis minoritas di negri ini sebagai generasi 3 bahkan ke 4 dan seterusnya yang lahir tanah air ini masih menghadapi kendala besar tentang  pemahaman bahasa nasional(pendidikan). Dibandingkan dengan para imigran di negara Amerika(USA), Australia, Canada dan New Zealand. Anak-anak  dari keturunan  imigran mereka cepat adaptasi kedalam masyarakat dan menguasai pendidikan. Mereka berkemampuan menguasai bahasa dan memiliki pendidikan sehingga mereka mendapat pekerjaan yang lebih baik.

Ketidakmampuan komunitas kita menguasai pendidikan yang memadai menyebabkan komunitas kita kelak akan kalah bersaing dengan etnis lain dalam bidang pekerjaan baik itu sektor swasta ataupun sektor pemerintah di kota Singkawang.

Sejauh ini kita masih belum menemukan pemimpin komunitas Tionghoa Singkawang memiliki visi dan program kerja yang jelas untuk memajukan komunitas kita. Atau  mereka sengaja membodohkan komunitas kita untuk tujuan dan ambisi mereka sendiri ?

Selama Pak Aliok menjabat sebagai ketua Permasis, isi dari buletin Permasis sudah sangat jelas memberi gambaran kepada kita  ide Beliau tercermin dalam buletin yang isinya membodohkan komunitas kita daripada mencerdaskan mereka. Berisikan cerita-cerita tempo doeloe, adat dan kebiasaan sudah tidak lazim berlaku, bahan bacaan semacam itu membuat komunitas kita bermimpi indah dengan cerita di masa lampau. Sedikitpun tidak memberi gagasan kehidupan ke depan, bagaimana memecahkan permasalahan yang dihadapi komunitas kita agar  mereka dapat keluar dari kemiskinan dan keterbelakangan . Sperti buku bacaan untuk anak-anak SD pada jaman Hindia Belanda yang berisikan cerita dongeng atau cerita rakyat, cerita si Hasan membantu orangtuanya memandikan kerbau pada akhir pekan, bacaan yang tidak merangsang  produktivitas.

Gagasan membentuk pasukan atau pendukung bayaran  keberadaan patung naga di-mastermind oleh Pak Aliok. Menurut Pak Aliok mereka yang ingin patung naga direlokasi itu harus diberi “pelajaran”( Kau Hiun) supaya mereka  takut. Maka dibentuk aksi pengambilan tanda tangan dengan kain merah 3.000 meter di happy Building. Masalah pendanaan untuk aksi itu ditanggung oleh Bong Li dan pak Aliok sesuai dengan fungsi  dan peranan dia dalam doktrin  Trilogi 3B. Peranan Pak Aliok dalam Trilogi 3B sebagai  Think Tank, memberi gagasan.  Idenya membentuk pihak tandingan terhadap pihak yang menginginkan relokasi patung naga, adalah ide  tanpa mempertimbangkan akibat yang dapat merugikan komunitas kita terutama mereka hidup di sekitar patung naga. Ada  ide yang paling brilliant sedang dirancang oleh Pak Aliok tentang jual calon “wakil wako” kepada etnis tertentu. Dengan methode pasang judi buntut semua nomer dipasang pada pilkada 2012 mendatang,  sekarang ide tersebut sedang diujicobakan di lapangan sebagai bahan gadaian ke sana ke sini untuk mempertahankan kekuasaan status quo kelompok 3 B ini.

 -Bong Sau Fan, berprofesi sebagai raja San Keu Jong. Hobby kesayangannya yaitu koleksi penghargaan MURI, menyanyi, kesukaan naik jeep terbuka keliling kota. Humoris dan entertainist kadang-kadang lebih suka gosip di kelenteng menjual melankholis daripada memikirkan kebijakan untuk memajukan Singkawang.

Dalam Trilogi 3B pak HK berperanan sebagai eksekutor rencana. Prinsip kerja Trilogi 3B ini: Ada proyek (ide) dari Pak Aliok kemudian Pak Bong Li mendanai Pak HK mengeksekusi rencana. Dengan bahasa sederhana ide dari pak Aliok, dana dari Pak Bong Li, Pak HK  sebagai Pimpro.

Sebagian besar dari komunitas kita hidup di kawasan pedesaan, mereka memiliki wawasan sangat terbatas maka mereka ini mudah dihibur oleh Pak HK dengan cerita  Republik Lan Fong, Lo Thai Pak, menyebarkan ide-ide berbau rasisme dan cerita heroisme pak HK kadang-kadang dibumbui Kong Thai Khung terutama gelar Doktolnya agar mampu mengiring mereka menjadi pendengar setia pak HK .  Mereka itu belum memahami bahwa mereka berhak menagih janji janji surga Wako jika Pak HK tidak sanggup memenuhi janji-janji politiknya semasa kampanye dahulu yang terkenal “Singkawang Spektakuler” itu, mengubah kehidupan Singkawang ke arah yang lebih baik. Sudah sangat jelas apabila komunitas kita tidak memiliki taraf pendidikan yang memadai  maka mereka mudah dimanipulasi oleh pihak-pihak tertentu.

CintaSingkawang, 29Juni 2010