Hasil Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional pada siswa SLTA di kota Singkawang

20 Juni 2008
Komentar:

Hasil Ujian Akhir Sekolah Berstandar nasional(UASBN) yang diikuti siswa SLTA di kota Singkawang pada tahun 2008 sangat memprihatinkan. Hasil yang telah dicapai oleh  siswa yang mengikuti ujian tersebut jauh dari harapan masyarakat dan Pemkot Singkawang. Siswa yang dinyatakan tidak lulus UASBN  sangat tinggi jumlahnya dimana lebih dari seribu siswa yang ikut ujian yang lulus hanya sekitar 500 siswa. Kalau kita memakai kata statistik  untuk melukiskan angka perbandingan siswa yang   tidak lulus itu, 10 siswa yang ikut ujian terdapat enam siswa dinyatakan tidak lulus. Dalam persentase  siswa yang tidak lulus begitu tinggi tentu saja merupakan kenyataan yang sulit diterima  oleh masyarakat  Singkawang.

Masyarakat emosi, jengkel, frustrasi, dan tidak percaya terhadap institusi pendidikan di kota Singkawang. Perasaan Masyarakat pada situasi seperti itu dapat kita pahami. Terutama bagi mereka yang secara langsung berhadapan dengan masalah ini. Para orangtua (wali), guru dari siswa yang tidak lulus merasakan trauma yang sukar mereka lupakan. Seperti pada umumnya kegagalan yang dihadapi manusia, selalu mencari siapa yang jadi penyebab kegagalan tersebut. Seperti apa yang diberitakan di media terbitan lokal, para pakar pendidikan dan pemilik khusus yang ada di kota Singkawang memberikan berbagai kritikan. Ada yang mengatakan Dinas Pendidikan dan Pemkot yang harus bertanggungjawab dalam hal ini. Karena akibat dari penggantian para pejabat di lingkungan Dinas Pendidikan oleh Pak Hasan Karman. Menurut penilaian dari masyarakat cara penggantian tidak berdasarkan prosedur dan pratokol birokrasi.

Ada juga yang berpendapat bahwa sekolah dan kualitas guru menyebabkan pada siswa tidak lulus dalam mengikuti UASBN. Tetapi tidak seorangpun mempertanyakan pertanggungjawaban siswa yang tidak lulus pada siswa itu sendiri. Apakah dia sudah belajar semaksimal mungkin? Sebagai siswa apakah dia sudah melakukan semua kewajibannya sebagai pelajar? Berapa banyak  waktu yang dia habiskan untuk belajar pelajaran sekolahnya? Kalau ada siswa secara jujur menjawab pertanyaan tersebut, maka dia akan sadar bahwa dia juga bertanggung jawab atas ketidak lulusan dalam UASBN.

Mutu sumber daya manusia dari siswa yang lulus masih harus dipertanyakan. Jika hasil UASBN sebagai patokkan kita menilai SDM siswa  kota Singkawang maka kita akan lebih dikagetkan pada fakta berikut ini, banyak diantara mereka yang lulus itu  hanya memiliki nilai “pas-pasan”memenuhi persyaratan untuk kelulusan standar nasional. Mereka yang memiliki angka kelulusan “pas-pasan” itu, kemungkinan akan mengalami kesulitan memasuki jenjang  perguruan tinggi favorit nasional  karena persaingan nilai diantara para kompetitor.

Kita semuanya menyadari untuk mendapat pendidikan yang berkualitas perlu biaya besar. Tanpa dana memadai sulit bagi kita dapat menikmati pendidikan seperti itu. Bagi orangtua yang memiliki ekonomi mampu (kaya) tersedia banyak solusi untuk anak-anaknya dalam masalah pendidikan. Bahkan, salah satu  dari solusi  dapat mengurangi stress anaknya untuk menghadapi ujian akhir. Sekedar contoh, anaknya selesai pada kelas X di Indonesia, kemudian anak itu didaftarkan pada  salah satu foundation Studies yang ada di Jakarta, kurang lebih satu tahun belajar disana. Setelah selesai dari foundation, anak tersebut dapat masuk ke universitas  diluar negeri yang ada hubungan dengan foundation tersebuat. Sehingga anak tersebut tidak perlu sampai kelas XII, dimana harus mengikuti ujian akhir yang dapat membuat seluruh keluarga ikut tegang dan merasa dag dig dug. Diluar negeri, 2,5-3 tahun(tergantung displin ilmu) sudah tamat sarjana(S1), sehingga anak ini sudah masuk dunia kerja yang telah menghasilkan  income, tetapi ex classmates yang dulu di SLTA masih duduk di bangku kuliah di Indonesia. Kadang-kadang keberuntungan selalu memihak kepada  mereka memiliki banyak uang. Bagi masyarakat tidak mampu (miskin) dapat menikmati pendidikan berkualitas sangat tergantung dari alokasi budget APBD untuk pendidikan. Semakin besar dana tersedia semakin beruntunglah mereka.

Kita tidak bisa semata-mata menyalahkan pihak  Pemkot, khususnya Pak Hasan Karman atas banyaknya siswa yang tidak lulus UASBN pada tahun ini, karena dalam hal ini banyak pihak terlibat yang menentukan hasil akhir yang dicapai oleh pada siswa. Namun demikian, Pak Hasan Karman  dalam posisi sebagai  ‘pengambil keputusan’ yang dapat menentukan proses pendidikan di kota Singkawang. Tentu saja Beliau juga harus menanggung sebagian dari gagal panen bibit  unggul SDM Singkawang pada tahun ini. Masyarakat mengharapkan  Beliau dapat merumuskan solusi yang jelas untuk memperbaiki mutu pendidikan di kota Singkawang, yang intinya merupakan kebijakan pembinaan dan pemberdayaan sumber daya manusia. Apabila masalah ini tidak ditangani  secara serius oleh Beliau maka kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan  figur pemimpin seperti Pak Hasan Karman akan menurun. Bahkan, pada orangtua(wali) dari para siswa  merasa was-was dan hilang kepercayaan terhadap mutu pendidikan kota Singkawang, terutama bagi mereka yang anaknya akan mengikuti ujian pada tahun depan.

Kita turut merasakan kekecewaan dari hasil UASBN yang diperoleh siswa  SLTA di Singkawang  pada tahun ini. Seperti apa yang dirasakan oleh tokoh pendidikan kita, Pak Aliok yang dikenal sebagai pak wako Singkawang di Bandengan. Beliau pasti sangat kecewa melihat fakta ini. Padahal Beliau telah banyak melakukan usaha advokasi dan pemikiran untuk memajukan pendidikan di kota Singkawang.Tetapi hasilnya?Untuk menghilangkan stress masalah ini dan menjaga kebugaran maka Beliau mengajak pada orangtua(wali) dan siswa mengikuti acara tour de Singkawang. Dengan harapan bersepeda dapat menurunkan tekanan darah tinggi dari pasca bad news untuk dunia pendidikan di Singkawang. Manfaat bersepeda juga dapat memperlancar peredaran darah dipinggul dapat mengurangi rasa sakit postrat. Selamat bersepeda ria Pak Aliok!!! Semoga dapat banyak inspirasi baru untuk memajukan pendidikan di Singkawang setelah bersepeda nanti.

 

 

CintaSingkawang,20Juni2008