Kok Patung Singa, bukan Patung Naga

04 Maret 2009
Komentar:

Mengenai berita tentang perusakan patung singa di depan kalenteng Cung Jong Pak Kung di Singkawang cepat tersebar luas.Bahkan  ada milis yang mengupas masalah ini mendetil  dan memperlakukan sebagai berita penting bagi mereka. Kita perlu menaruh curiga terhadap  kejadian tersebut mengingat  pemilihan legislatif semakin dekat,ada pihak tertentu mempunyai kepentingan politik  dan motif, manuver politik sering melantar belakangi suatu peristiwa. Sebagai masyarakat kita perlu mewaspadai  hal tersebut jangan sampai kita menjadi korban permainan mereka.

 

Pada tanggal 03 Maret 2009, sekitar pada jam 23.00 malam sebagian kecil dari masyarakat Singkawang masih belum tidur. Ada beberapa orang melewati  di depan Pekong Tua yang kita sebut Cung Jong Pak Kung  dijalan  Sejahtera. Entah bagaimana cerita orang tersebut perhatiannya tertuju ke patung Singa  didepan kelenteng tersebut, telinga dari patung Singa itu telah dirusak orang.

Berita kerusakan patung singa ini cepat tersebar seluruh kota  Singkawang pada malam itu, kelenteng tersebut dikerumuni oleh komunitas Tionghoa  Singkawang yang ingin tahu apa yang terjadi. Mereka semua  hampir  memiliki satu  bertanya yang sama yaitu “siapakah pelakunya? Diantara mereka ada yang  langsung memberikan  jawaban atas pertanyaan tersebut yaitu “mereka yang menentang patung naga yang melakukan aksi ini”. Jawaban semacam itu,  tanpa didasari  bukti dan analisa logika,lebih berdasarkan emosi saja.Kita maklum, orang sedang emosi sering  memberikan jawaban tanpa dengan pertimbangan yang matang.

Tak lama kemudian, datang seorang  bapak yang berusia sekitar 50an tahun untuk meriksa kerusakan  pada patung singa  tersebut. Kemudian bapak ini mengatakan”pelaku perusakan patung singa  adalah orang yang mencintai pekong”.” Seandainya  pelaku bukan  pencinta pekong sudah sangat  jelas dia tidak mungkin melakukan perusakan yang kecil sekali,hanya telinga -gampang diperbaiki. Kalau dia benci  pekong,dia akan melakukan kerusakan yang besar. Seandainya tuduhan kita kepada mereka yang menentang pembangunan patung naga , kok  mereka  merusak patung singa bukan patung naga” tanya si bapak tua itu dengan keheranan.  Seperti kita ketahui, sudah berkali –kali para penentang  pembangunan patung naga mengingatkan kepada masyarakat  Singkawang sasaran mereka yaitu “patung naga”.

Mengenai kecurigaan terhadap pihak penentang pembangunan patung naga, Cinta menghubungi  salah satu caleg,Bapak Junaidi meminta  beliau memberikan  pandangannya. Menurut Pak Junaidi  tidak  mungkin dan tidak memiliki alasan mereka(penentang pembangunan patung naga)melakukan  aksi perusakan patung singa di Pekong Tua”. “Sejauh ini mereka berdemonstrasi sangat tertib dan tidak merugikan masyarakat umum apalagi merusak rumah ibadah,tidak mungkin mereka melakukan aksi  tersebut .Menurut saya  kalau ada orang menuduh mereka melakukan perusakan  patung singa tersebut berarti tuduhan tersebut salah alamat ”kata Pak Junaidi.

 

Salah satu dari orang yang meyaksikan  patung singa itu  bertanya kepada bapak itu”siapakah pelakunya?” Jawaban si bapak itu” siapa saja bisa menjadi pelaku tanpa memandang dari komunitas apa”.  Seperti dalam kasus pembunuhan,polisi selalu menaruh curiga dan  menyelidiki mulai dari orang yang paling dekat dengan korban(keluarga korban). Dalam hal perusakan patung singa ini, kita harus menaruh curiga terhadap komunitas kita dulu siapa tahu  ada pihak-pihak tertentu memiliki kepentingan politik,dengan nada curiga si bapak tua  memberikan  penjelasan kepada mereka. Mengingat masa pemilihan legislatif semakin dekat,mungkin  kejadian ini  bermotif politik. Ada orang mengharapkan kita memberi dukungan kita kepadanya padahal  kita tidak mau memberikan dukungan kita lagi. Dengan kejadian malam ini, mereka mengharapkan  kita mau memberikan dukungan kita kepadanya. Jangan harap,kita tidak mau mengikuti permainan mereka  yang kotor itu  kata si bapak itu sambil mengajak orang pulang ke rumah  untuk tidur. Betul,pak .Jawab  mereka . Hanya sebuah drama politik murahan saja mengandalkan sensitif  isu ras sebagai produk politik untuk ditawarkan kepada masyarakat, ini sudah barang basi yang sering kita dengar dan saksikan. Teriak dari salah satu anak muda merasa  dirinya dipermainkan oleh mereka yang memiliki kepentingan politik di kota Singkawang,muak,bosan,capek,katanya sambil berlalu.

 

CintaSingkawang,04 Maret 2009