Cara sebagian orang Tionghoa Singkawang mengucapkan terima kasih

-Tgl 14 November 2011 Siang Aliok berkunjung ke Sekolah Barito

07 Nopember 2011

Komentar:

Pada era pertengahan tahun ’70 -‘80an di kota Singkawang kekurangan fasilitas sekolah, terutama sekolah dasar untuk menampung perkembangan populasi yang membutuhkan pendidikan dasar yang bermutu. Ada beberapa orang Singkawang merasa perlu membangun sekolah baru untuk mengatasi permasalahan tersebut .

Pada Th 1979 mereka mengusulkan kepada Pak Prajogo Pangestu untuk membangun sekolah swasta  di kota Singkawang. Pada pada masa itu untuk mendapat donatur yang bersedia  membangun sekolah di Singkawang bukan hal yang mudah, hanya mereka yang memiliki kemampuan melobi baik kepada donatur maupun instansi terkait dalam hal ini pemerintah akan memperoleh izin. Sekolah barito kemudian dibangun untuk kalangan Buddha dan masyarakat sekitarnya.

 

Bagi konglomerat  sekelas Pak Prajogo tidak akan mempermasalahkan  sumbangan untuk membangun sekolah apalagi sebuah proyek untuk kepentingan masyarakat Singkawang. Yang paling Beliau khawatirkan yakni siapa yang bersedia mengurus, mengembangkan, dan mengoperasikan sekolah tersebut. Menjawab tantangan menejemen yang dihawatirkan oleh Pak Prajogo itu maka dibentuk sebuah yayasan baru karena pengelola sebelumnya yakni Yayasan Dharma Buddha Maitreya (YDBM) gagal menjalankan misinya apalagi internal yayasan terjadi kekisruhan antar pengurus.

Yayasan baru ini diberi nama Yayasan Dharma Barito Singkawang (YDBS). Pada awal mula yayasan ini belum memiliki pengalaman mengurus  sekolah sehingga yayasan menghadapi perbagai kendala untuk mengembangkan misinya.

 

Seiring dengan perkembangan kota Singkawang, sekolah Barito juga mengalami perkembangan, kemudian dibangun sekolah lanjutan pertama hingga sekolah lanjutan atas. Mengembangkan misi sekolah Barito sampai ke tahap mendapat pengakuan sekolah bermutu dari  masyarakat luas bukan hal yang mudah. Keberhasilan ini berkat kerja keras dari team Dharma Barito Singkawang yang memiliki ketrampilan mengelola menejemen operasional sekolah, kemampuan mengumpulkan dana untuk mengembangkan misi sekolah. Tantangan yang akan dihadapi sekolah Barito ke depan bukan hal yang kecil, harus bersaing dengan sekolah lain untuk mendapat murid.  Dalam kenyataannya kota Singkawang dewasa ini lebih banyak sekolah dari pada murid, Laporan CintaSingkawang di lapangan menemukan fakta bahwa beberapa sekolah bahkan kesulitan mendapatkan murid. Dari segi prospek ekonomi; daya tampung murid tidak memadai, margin keuntungan bagi pihak pengelola sekolah  bertambah kecil. Banyak sekolah swasta dapat bertahan berkat ada dana BOS(Bantuan Operasional Sekolah) dari pemerintah.  Seperti pada umumnya dana subsidi selalu mengalami perubahan di masa akan datang sesuai dengan kebutuhan kemampuan keuangan Negara kita. Bisa saja porsi subsidi dana BOS  untuk sekolah swasta dikurangi dengan pelbagai pertimbangan; misal   standard hidup (pendapatan) kota tersebut sudah tinggi tidak perlu mendapat tunjangan dari pemerintah. Sesuai dengan info dari Pak wako kita dana masyarakat kota Singkawang sedang parkir di bank berjumlah beberapa triliun  rupiah.(Baca ; Jika benar maka BOS harus ditinjau kembali).

 

Beberapa bulan yang lalu telah terjadi penggantian menejemen di sekolah Barito, Yayasan Dharma Buddha Maitreya (YDBM) mengambil alih menejemen dari Yayasan Dharma Barito Singkawang (YDBS). Masyarakat meragukan kemampuan dan ketrampilan team Bhikuni Tjhin Djin Siu sebagai ketua Yayasan Dharma Buddha Maitreya (YDBM) mengurus sekolah Barito. Karena persaingan pendidikan di kota Singkawang yang semakin ketat.  Mengurus sekolah berbeda dengan mengurus organisasi keagamaan.

 

Pada tgl 4 November 2011 sebuah kendaraan berplat militer Kodam Tanjungpura meluncur ke sekolah Barito, siang itu  Pendeta Kwok dari YDBS menyambut hangat tamu barunya,siapa gerangan???

Lio Kurniawan alias Pak Aliok  dan loyalisnya Nursantio (Asan).Menurut rumor yang sedang beredar di masyarakat  Pak Aliok mendukung Bhikuni Tjhin Djin Siu untuk menghadapi  kelompok Yayasan Dharma Barito Singkawang (YDBS). Padahal Pak Aliok saat ini sedang disibukkan oleh masalah Sekolah Dasar Plus Pak Aliok di kopisan tidak jelas nasibnya karena pihak donatur menyatakan mundur dari sekolah ini terakhir narasumber CintaSingkawang menyebut Yayasan Bumi Khatulistiwa pun mundur dari sekolah ini. Kedatangan Pak Aliok ke sekolah Barito mencerminkan ambisi Beliau untuk menguasai stock pendidikan dikota Singkawang.

 

Sedang narasumber Cinta di Gedung Barito Pacific Jakarta mengatakan bahwa Pak Prajogo menghibahkan sekolah Barito kepada Yayasan Dharma Buddha Maitreya. Sejauh ini belum ada pernyataan resmi melalui media publik dari pihak Yayasan Dharma Buddha Maitreya baik itu merupakan ucapan terima kasih kepada donaturnya, dalam hal ini kepada Pak Prajogo.

Yang jelas, foto Pak Prajogo yang digantung di sekolah Barito pernah diturunkan sesudah diambil alih oleh Yayasan Dharma Buddha Maitreya. Kemudian digantung kembali karena ada pihak mengancam menuntut secara hukum kepada pihak YDBM . Betapa memalukan komunitas Tionghoa Singkawang tidak menghargai orang yang telah memberikan kontribusi sesuatu kepada masyarakat kita. Lebih memalukan lagi mereka tidak mengerti budaya mengucapkan “terima kasih”.

 

Betapa mengecewakan jika pada suatu hari (beberapa puluh tahun mendatang) foto Aliok yang  tergantung di STIE Mulia Singkawang sebagai Founding father Sekolah tinggi tersebut di buang ketong sampah oleh penerusnya. Tentu saja ini bisa terjadi kepada siapapun, bukan hanya terjadi pada diri Pak Aliok saja. Jika anda tinggal di lingkungan masyarakat yang  tidak bisa menghargai kontribusi orang untuk kepentingan masyarakat, masyarakat  yang tidak memiliki budaya mengucapkan “thank you” kebaikan orang. Ada kemungkinan Anda akan kecewa terhadap masyarakat seperti itu.

 

CintaSingkawang,07 Nopember 2011