Sekilas Pemikiran

Edisi Akhir Tahun

26 Desember 2008
 
Salam Cinta Singkawang,

Kunjungan terakhir saya ke Singkawang sekitar satu tahun yang lalu, dimana saya sangat menikmati secangkir kopi yang begitu nikmat di pagi hari yang bersebelahan dengan rumah saudara saya. Sambil menikmati kopi yang tiada duanya itu, saya sering memperhatikan kegiatan-kegiatan yang sedang berlangsung di kedai kopi tersebut. Si empunya kedai melayani para pembeli dan customernya, yang banyak merupakan langganan tetap setiap pagi. Ada dialog kecil yang terjadi disana ditengah pelayanan.  Keadaan yang sangat kondusif dari kemajemukan masyarakat dengan latar belakang dan budaya yang berbeda. Menyatu dalam keselarasan kehidupan keseharian. Sungguh merupakan pemandangan indah setiap pagi yang menemani saya dengan setia, saat menikmati secangkir kopi keras yang nikmat.  Itulah pandangan sekilas yang saya dapatkan saat berkesempatan berkunjung kesana.

Menurut hemat saya pribadi, bahwa saya tidak lagi dapat mengkategorikan diri saya pribadi sebagai "Orang Singkawang", karena begitu lama saya sudah meninggalkannya, juga begitu banyak tempat dan hal yang tidak saya pahami, begitu pula dengan budaya dan kebiasaan masyarakat setempat yang kadang terasa asing. Maka saya sungguh tidak layak apabila masih mengikrarkan sebagai orang Singkawang. Dalam 20 tahun terakhir saya berdomisili di Solo (Jawa Tengah).  Demikian mengenai diri saya.

Sekilas saya membaca tentang berita aktual maupun yang sudah lewat tentang manuver politik yang terjadi di kota tersebut, tentang pembangunan patung naga yang kontroversial, tentang organisasi sosial budaya yang tidak sepenuhnya murni sebagai organisasi yang bergerak di bidang sosial budaya. Walaupun saya tidak begitu tertarik terhadap issue di bidang politik, tergelitik juga saya untuk menanggapi pemikiran saya dari sudut pandang saya pribadi.  Yang ingin saya tanggapi adalah beberapa masalah, seperti kontroversial patung naga.  Pembuatan patung atau tugu di tengah kota/tempat umum harusnya mengkaji dari segi sejarah atau kultur lokal (dalam hal ini lintas etnis, karena Singkawang adalah kota unik dimana kebersamaan lintas etnis sangat terasa).  Seperti di Solo, kami mempunyai tugu lilin sebagai peringatan akan serangan umum 4 hari melawan Belanda di Solo, patung Brigjen (Anumerta) Ignatius Slamet Riyadi, sebagai peringatan perjuangannya merebut Solo kembali dari tangan Belanda dengan dilakukannya penandatanganan serah terima kota Solo, selain beliau adalah putra Solo.  Dan untuk menegakkan patung beliau ditengah kota kami, bukanlah perjuangan yang mudah, walaupun beliau adalah putra Solo yang dalam sejarah sangat berjasa untuk Solo.  Kajian-kajian sejarah dan birokrasi memerlukan waktu yang lama dari semua pihak untuk memperjuangkan peletakan patung tersebut.  Namun, di Singkawang, sesuai yang saya baca dari artikel anda, patung kecil yang membahayakan kerukunan etnis di kota itu adalah merupakan monumen "kesombongan dan keangkuhan" bagi segelintir orang-orang kaya yang merajai perekonomian kota tersebut, tanpa ada background sosial budaya maupun sejarah yang melatarbelakangi pembangunan patung tersebut.  Bagi saya adalah sesuatu yang sangat absurd dalam hal ini, maka layaklah terjadi gejolak-gejolak yang dapat merugikan masyarakat kota itu sendiri, yang apabila tidak hati-hati dapat memporakporandakan keutuhan bermasyarakat di sana.  Selain patung naga, saya juga sempat mendengar cerita dari handai tauladan yang tinggal di kota itu, bagaimana para konglomerat Singkawang memamerkan kekayaan mereka dalam merayakan pergantian tahun dengan memberikan atraksi kembang api yang memakan biaya begitu besar.  Sementara di setiap sudut kota dan pedesaan/kampung terdapat banyak saudara-saudara, baik yang berkuning langsat ataupun sawo matang yang masih mengais di tengah kemiskinan yang mengakibatkan kebodohan, karena ketidakmampuan mereka dalam memberikan pendidikan yang semestinya kepada anak-anak mereka.  Begitu ironis keadaan di kotamadya ini.  Begitu tertindasnya orang-orang yang dilahirkan menjadi ekonomi bawah.  Seakan adalah dosa mereka untuk dilahirkan di keluarga miskin.  Para penguasa bergandeng tangan dengan "konglomerat" Singkawang menutup mata terhadap peningkatan kesejahteraan saudara-saudara mereka, baik yang se-etnis maupun yang tidak.  Apabila setahun sekali ada bakti sosial dengan membagikan bantuan sembako satu kantong kresek kepada setiap individu kaum papa, bagi saya tidak bedanya sebagai suatu pertunjukkan yang membosankan dalam mengelabui mereka.  Kembali lagi hal itu dapat bermuara dari kesombongan dan keangkuhan pribadi, demi kepentingan untuk dielukan dan menjadi topik pembicaraan masyarakat di sana, yang di mana mungkin merupakan kebanggaan tersendiri bagi para "konglomerat". Sekali lagi ABSURD! 

Mungkin adalah sudah menjadi kebiasaan masyarakat Singkawang di dalam dialog atau pembicaraan selalu tidak alpa menambahkan angka-angka di sela-sela pembicaraan. Hal ini terjadi karena latar belakang mayoritas masyarakat adalah pedagang, dengan berbagai usaha yang dilakukan disana dan bisa dimengerti. Namun, juga sering terlupakan, bahwa manusia hidup tidak hanya terdiri dari angka-angka dan hitungan untung rugi, apalagi dengan jalan mempertaruhkan integritas kemajemukan masyarakat lokal pada khususnya dan integritas bangsa pada umumnya.  Hal itu bagi saya adalah menjadi penghianatan terhadap negara dan bangsa kesatuan Indonesia secara umum. 

Hal-hal yang dapat saya tangkap dari kunjungan saya ke kota anda, menorehkan keprihatinan tersendiri terhadap masyarakat di sana, khususnya masyarakat Tionghoa yang apatis terhadap lingkungan dan higenisitas dengan ditransformasinya rumah-rumah tinggal di tengah kota menjadi rumah burung walet yang bertebaran dimana-mana. Pada pagi ataupun sore hari terdengar bunyi kicauan burung buatan yang saling menyahut di setiap sudut kota.  Pembangunan tersebut juga kembali bermuara pada ke-egoisan para pemilik modal/cukong besar, baik yang bermukim di kota ini maupun yang perantauan.  Juga keheranan saya terkuak dengan pertanyaan, mengapa masyarakat umum di Singkawang menutup mata, telinga dan mulut mereka, saat eksistensi kehidupan mereka di ambang bahaya, yang dilakukan oleh segelintir orang-orang yang "merasa" kaya.  Kesehatan tidak dapat di beli oleh siapapaun di dunia ini, namun merupakan anugerah Tuhan sang pencipta dan bagaimana kita mewujudkannya dalam menjaga kelestarian lingkungan dan ekosistemnya.  Kerusakan-kerusakan lingkungan sekitar, sudah ditandai dengan banjir besar yang menjadi langganan setiap tahun dan bahkan sudah meluas kemana-mana. Banjir setiap tahunnya bukan saja ajang untuk bermain-main berkeliling kota, namun haruslah diantisipasi dengan pengaturan tata kota yang lebih baik, sampah yang tidak bercecer di setiap sudut kota dan pasar, sungai yang tidak juga dipenuhi sampah, pembangunan fisik yang sembarangan, meninggalkan segala aspek lingkungan hidup dan tata kota dan hal lain sebagainya yang dilakukan masyarakat dalam sumbangsih mereka terhadap keterpurukan mentalitas dan pengrusakan lingkungan yang berdampak kesegala lapisan masyarkat, tanpa membedakan, etnis, agama, ekonomi, status atau apapun yang menjadi kelekatan dan kebanggaan masyarakat Singkawang pada umumnya.

Semoga artikel yang anda posting di blog anda dapat juga menggugah rasa kritis masyarakat Singkawang, khususnya para generasi tunas dan muda untuk lebih peka terhadap perkembangan jaman dan pengrusakan lingkungan yang dilakukan oleh generasi sebelum mereka, agar mereka dapat menampilkan diri secara intelektual, sehingga tidak lagi menjadi kaum marginal di Indonesia, suatu kurun waktu nanti. Selamat berjuang dan semoga anda tetap bersemangat untuk menyuarakan kritisi untuk menggugah hati setiap orang disana untuk berbuat yang lebih baik untuk kota yang mereka akui sebagai kota kecintaannya, dengan melepaskan ego.  Bahwa Singkawang bukan saja identik dengan makanan-makanan full fat yang enak, bukan saja pasir panjang (yang telah dinodai dengan pengrusakan besar-besaran), ataupun pantai yang telah dinodai pula dengan bangunan-bangunan patung-patung dan kolam renang yang tidak higenis. Singkawang dapat menjadi sebuah daerah percontohan tentang kerukunan dan pembauran di Indonesia dengan keunikan kultur yang sudah mulai menjadi buah bibir di tingkat nasional dan Internasional pada umumnya. 

Semoga keunikan ini dapat dipelihara dengan baik dan dikemudian hari menjadi kebanggaan anak cucu rakyat di Kalimantan Barat dan Singkawang pada khususnya.

Salam,
Connie  ( ,
Solo,Wednesday, December 24, 2008

 


Jawaban Dari CintaSingkawang:

Yth Ibu Connie,

Terima kasih atas email Ibu.Tulisan Ibu merupakan sebuah observasi Ibu terhadap kehidupan masyarakat Singkawang berdasarkan apa yang telah Ibu “lihat”kejadian yang terjadi di lingkungan dimana Ibu berada ketika itu.Tulisan Ibu sangat menarik,pantas mendapat perhatian dari Cinta.

Menurut pengakuan Ibu bahwa Ibu tidak merasa sebagai "Orang Singkawang" lagi karena Ibu sudah lama meninggalkan kota Singkawang.Cinta sangat menghargai pengakuan Ibu yang jujur itu dalam hal ini.Memang,kita sering merasa kehilangan terhadap kepemilikan terhadap sesuatu yang kita miliki jika kita berpisah jauh atau karena faktor waktu.Namum demikian, konsen Ibu terhadap Singkawang seperti apa yang tertulis di dalam email Ibu tidak  sedikitpun yang menunjukkan Ibu bukan "Orang Singkawang".

Walaupun Ibu tidak merasa sebagai orang Singkawang lagi, tetapi perhatian yang telah Ibu berikan terhadap masalah sosial-budaya di kota Singkawang telah menunjukkan bahwa Ibu adalah " Warga/Orang Singkawang" teladan. Dari tulisan Ibu bahkan telah  menunjukkan bahwa  Ibu memiliki moral lebih baik daripada  beberapa tokoh masyarakat Singkawang dalam hal ini. Menurut beberapa versi gossip yang beredar di masyarakat Singkawang tentang cerita ada orang Singkawang tinggal di Jakarta yang malu mengakui dirinya sebagai orang Singkawang.Akan tetapi, karena pada suatu hari ketika dia ingin menjadi tokoh masyarakat Singkawang kemudian dia mengakui dirinya sebagai orang Singkawang.Jadi, ingin menjadi tokoh(dihargai) baru mau mengakui dirinya sebagai orang Singkawang.Lucu,  bukan? Sifat manusia.

Dengan jujur Cinta harus mengakui bahwa kota kita, Singkawang sedang menghadapi beberapa masalah yang sangat serius.Seperti masalah lingkungan hidup dan sosial.Kerusakan lingkungan hidup sudah semakin terasa dampaknya bagi masyarakat kota Singkawang.Sudah hampir setiap tahun terjadi banjir,tanah longsor,berbagai penyakit musiman(deman berdarah) yang menyerang masyarakat Singkawang.Semua itu merupakan sumber”musibah” yang ada sangkut paut dengan masalah kerusakan lingkungan hidup yang dilakukan oleh masyarakat yang tidak menghargai betapa pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup.Mengenai masalah rumah  walet di tengah kota,ini adalah isu tata kota. Kita tidak tahu pasti, apakah kita pantas hidup dalam lingkungan seperti itu sebagai manusia yang sudah “berbudaya”.Yang jelas,masalah burung walet merupakan “bom waktu” bagi masyarakat Singkawang.Karena masalah burung walet menyangkut isu kesehatan umum dan isu ekonomi.Seperti pada umumnya isu ekonomi selalu menyangkut masalah pajak.Kita tidak tahu pasti, apakah pengusaha walet itu telah memenuhi kewajibannya membayar pajak dari hasil pendapatan wallet?

Disamping masalah lingkungan hidup,kota Singkawang juga menghadapi masalah sosial.Jurang pemisah antara miskin dengan kaya sudah semakin melebar di dalam masyarakat.Bagi mereka sebagai masyarakat miskin merasa keadilan sosial tidak memihak mereka,kesulitan mengakses pendidikan dan pemeliharaan kesehatan.Tanpa memiliki pendidikan dan skill mereka sukar mendapat pekerjaan yang dapat mengubah kehidupan mereka.

Masyarakat masih belum menyadari betapa pentingnya kita melakukan sesuatu untuk kepentingan komunitas kita.Dengan perkataan lain,masyarakat kita masih belum dapat melakukan sesuatu yang  bermanfaat untuk kepentingan bersama sebagai komunitas.Seperti dalam kasus patung naga,proyek yang  tidak mengandung nilai ekonomi.Seandainya mantan aktor figuran pemeran film Wo Ai Ni Indonesia  Pak Bong Li Thiam sebagai pengusaha yang memiliki wawasan untuk memajukan kota Singkawang.Seharusnya dana untuk membangun patung naga dipakai untuk training beberapa pemuda pengangguran(karena mereka tidak memiliki skill) supaya mereka mendapat ketrampilan(misal menejemen perhotelan).Dengan adanya ketrampilan mereka berpeluang besar akan mendapat pekerjaan dikemudian hari,bukan memamerkan kekayaannya diatas kemiskinan saudara-saudara kita sebagaimana yang dimaksud dalam tulisan Ibu.

Mengenai organisasi sosial budaya yang tidak sepenuhnya murni sebagai organisasi sosial budaya sudah bukan rahasia bagi sebagian masyarakat Singkawang,sejak berdirinya klub para konglomerat Singkawang (Permasis) di Jakarta,kelompok ini sering memaksakan kehendak mereka dengan cara yang tidak demokratis merebut pengaruh di Singkawang dengan alasan Bui Sha Fui(demi masyarakat),mereka yang kritis akan mendapatkan tekanan,dimusuhi dan terpinggirkan,karena propaganda mereka Luk Fa Nyin(pengacau komunitas Tionghoa).

Dialema yang dihadapi  wako kita,Pak Hasan Karman cukup mengkhawatirkan masyarakat Singkawang.Beliau dikelilingi pengusaha-pengusaha yang tidak memiliki wawasan.Permasalahannya,Beliau mengatur pengusaha atau pengusaha yang mengatur Beliau.Kalau kita dapat menjawab pertanyaan itu kita akan mengerti pembangunan di kota Singkawang.

Mengenai sungai kota Singkawang yang kotor itu,dulu Pak wako kita pernah bermimpi akan mengundang konsultan  dan foundation asing untuk mengadakan normalisasi sungai Singkawang.Entahlah sekarang Beliau masih memiliki mimpi seperti itu atau tidak.Memang, sudah saatnya kita memikirkan cara membersihkan sungai Singkawang supaya tidak terjadi banjir yang menyiksa masyarakat Singkawang.

 Salam,

CintaSingkawang




 

 

 

 

CintaSingkawang,26 Desember 2008