Seandainya Aku menjadi Pak HK

19 April 2014

Komentar:
Kekalahan Pak HK dalam pemilihan legislatif. Kita tidak tahu pasti apa reaksi dari dirinya terhadap kekalahan tersebut. Apakah dia mengeluh? Atau menerima semua itu sebagai takdir? Tetapi reaksi dari masyarakat Singkawang beraneka ragam, khususnya dari komunitas Tionghoa Singkawang. Secara garis besar, reaksi mereka dapat kita bagi dalam dua kelompok.

Group pertama adalah mereka yang kalah dalam pertaruhan, mereka ini yang selalu percaya bahwa Pak HK  adalah mahluk serba bisa. Group ini terdiri atas Bong li Thiam, Tia Kia, Bong Nen, Bong Chun Loi, dan Achon.. Menurut pengakuan Tia Kia bahwa dia berani bertaruhan karena mendapat jaminan langsung dari Pak HK. Pak HK mengatakan kepada dia bahwa Pak HK mendapat suara 70ribuan suara, merupakan caleg yang mendapat suara terbanyak diantara 10 caleg.

Pak Bong Chun Loi bukan hanya kalah dalam pertaruhan saja tetapi dia mendapat pelajaran berharga dari istrinya. Dapat kita maklumi,mana ada istri tega melihat suaminya melakukan kebodohan, dalam hal mempercayai perkataan Pak HK. Padahal CintaSingkawang sudah memberi peringatan dini dengan informasi sangat jelas bahawa Pak HK gagal terpilih sebagai legislator, dan mendapat suara tidak melewati 40 rb.” Seandainya kau mengikuti nasehat CintaSingkawang kau akan kaya” kata istri Bong Chun Loi kepada suaminya. Dia juga memuji muji kehebatan CintaSingkawang dan menguraikan panjang lebar tentang  tulisan CintaSingkawang kepada suaminya.”Supaya kau lebih pintar, berwawasan lebih banyak membaca artikel Cinta” saran istrinya kepada dia.  Pak Bong Chun Loi merasa menyesal terlambat mengetahui informasi yang dapat memperkaya dirinya. Memang, rasa penyesalan selalu datang sesudah melakukan “kebodohan”, kadang kadang harus dibayar dengan harga mahal..

Group kedua, adalah mereka ingin mengembangkan daya berpikir dan memakai logika untuk memecahkan persoalan dalam kehidupan nyata ini. Seandainya mereka menjadi Pak HK apa yang harus mereka lakukan? Mereka ini berpandangan apa yang dipilih Pak HK sejauh ini; menjadi caleg DPR RI. Adalah pilihan yang tidak realistis, tindakkan bunuh diri dalam karier dijalur birokrasi. Seandainya aku menjadi Pak HK ini yang harus aku lakukan:

“Sesudah aku kalah dalam pilkada Singkawang, aku harus memfokuskan masalah daerah ini. Karena daerah ini masih berpeluang besar mengembangkan karier aku dijangka panjang, persaingan tidak terlalu ketat, chances untuk suskses jauh lebih menyakinkan.Aku akan melihat opsi yang ada; sekarang hanya ada 3 opsi. Menjadi caleg DPRD Singkawang, caleg DPRD Provinsi, dan caleg DPR RI.
Aku tidak memilih opsi nomor satu, menjadi caleg DPRD Singkawang karena aku tidak ingin bersama dengan teman yang pernah menghianati aku, Chai Chui Mie. Kekalahan aku dalam pemilihan pilkada Singkawang tidak luput dari pembocoran rahasia yang dilakukan Chai Chui Mie untuk secret lover nya. 

Opsi nomor dua, menjadi caleg DPRD Provinsi. Opsi ini sangat menarik, karena memberi jaminan rencana kedepan jauh lebih jelas dan mudah dicapai. Kalau aku terpilih menjadi anggota DPRD Provinsi, ada dua peluang kedepan yang harus aku pilih dikemudian hari, dalam jangka waktu 3 tahun dan 5 tahun. Dalam waktu 3 tahun, aku bisa mencalonkan kembali sebagai cawako Singkawang untuk pilkada Singkawang. Kalau aku gagal dalam pilkada Singkawang, aku masih ada memiliki satu peluang lagi. Yakni menjadi caleg DPR RI.

Opsi ke tiga, menjadi caleg DPR RI. Kalau aku memilih opsi ini, peluang untuk terpilih sangat sukar. Kesulitan yang akan aku hadapi mendapat partai politik, dan suara masayarakat diluar daerah Singbebas.Untuk berhasil terpilih aku membutuh jumlah suara sangat banyak. Dana Rp5 miliar akan aku investasikan kebank dengan tingkat suku bunga 5.57% per tahun. Sesuai nasihat Warren Buffett investasi ke real term lebih bermanfaat daripada diiinvestasikan kedalam politik yang tidak jelas hasilnya.

Sesudah aku menguji opsi opsi tersebut diatas, aku akan memilih opsi nomor dua. Karena opsi ini lebih realistis dengan keadaan aku sekarang, peluang untuk sukses lebih nyata. Jumlah suara yang diperlukan tidak terlalu banyak, dapat ditutup suara  dari masyarakat  Singbebas. Walaupun tempo hari dalam pilkada aku mendapat suara banyak di wilayah Singkawang. Tetapi situasi sekarang sudah berbeda dibandingkan pada saat aku masih menjabat wako Singkawang. Pasti mengalami deplesi stock suara pada masayarakat yang menganut “keu gan sa fui”. Aku diumpamakan sebuah mobil brand new yang ditaruh di showroom car dealer, kalau mobil itu meninggalkan showroom(dibawa pergi) kemudian kembali ke showroom lagi pasti dinilai sebagai barang “second hand”, atau barang “bekas”. Harus diakui masyarakat kita tidak menghargai barang second hand atau barang bekas.
Ketika kampanye  pilkada Singkawang, aku pernah menyerang partai Gerindra karena pemiliknya, Prabowo terlibat dalam  peristiwa pembataian komunitas Tionghoa Indonesia yang sering disebut peristiwa Tragedi Mei 1998. Karena partai Gerindra  mendukung Pak Nusantio Setiadi sebagai pesaing aku.

Ah…ah..ah. Sekarang aku memuja  dan memuji Prabowo. Bahkan aku membela beliau tidak terlibat peristiwa Tragedi Mei 1998. Walaupun semua warga Chinese diseluruh dunia “percaya” bahwa  Prabowo  tidak luput dari pertanggungjawabannya dalam  peristiwa tersebut. Aku sering muncul di koran Merdeka untuk menarik perhatian Pak Prabowo, setidak tidaknya akulah orang chinese yang tidak berprasangka buruk terhadap dia. Siapa tahu aku bisa dipakai untuk kepentingan mereka?.

Aku diumpamakan meteor jatuh(sen sia shi,)pernah tinggal dilangit tinggi dan bersinar kemudian jatuh kebumi. Kemegahan, sinar, semua itu hilang ketika meteor jatuh kebumi. Menjadi barang tidak berharga, tidak ada bedanya seperti batu batu ditepi jalan.

Aku tidak tahu  pasti bagaimana komunitas Tionghoa Singkawang menilai aku. Tetapi kalau seadainya ditanya kepada rohnya  Lo Tai Pak, dia akan menjawab:Itu adalah gaya baru pelacuran politik  untuk mendapat kekuasaan yang dilakukan segelintir komunitas Tionghoa Singkawang, mereka yang mahalkan segala cara. Pantaskah aku meminta dukungan dari komunitas Tionghoa Singkawang lagi ? Tanpa dukungan dari mereka aku adalah nobody  ".

CintaSingkawang,03 Mei 2014