Peredaran Pamflet “20 nama pengkhianat  Singkawang”

03 Nopember 2012

Komentar:

Walaupun Mahkamah Konstitusi telah memutuskan perkara perselisihan pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala kota Singkawang tahun 2012, dengan amar keputusan MK menolak tuntutan kubu Pak HK. Bukan berarti masalah pilkada Singkawang 2012 sudah selesai, masyarakat dapat menjalankan kegiatan hidup sehari hari dengan tenang. Tanpa dikejutkan dengan isu- isu yang dapat mengganggu stabilitas bermasyarakat.

 

Tetapi masyarakat Singkawang dalam dua minggu ini diteror dengan beredarnya pamflet yang memuat dua puluh nama  orang yang divonis sebagai “pengkhianat  Singkawang”. Keduapuluh orang tersebut dianggap sebagai orang bertanggungjawab atas kehancuran karier Pak HK dan  menghancurkan kerajaan San Keu Jong yang dicita-citakan oleh Pak HK. Pamflet tersebut dibuat dalam tiga versi bahasa: bahasa Indonesia dan Mandarin dan Inggris. Mula mula masyarakat menemukan pamflet tersebut ditembok- tembok warkop di kawasan Pasar Turi Singkawang, kemudian pamflet tersebut beredar hampir merata seluruh kota Singkawang. Sesudah sebuah Koran lokal memuat list 20 orang berikut foto mereka, pada hari yang sama  mereka  beramai- ramai mendatangi Kapolres Singkawang. Untuk melapor dan meminta pihak aparat menindak orang- orang yang menyebarkan isu yang dapat memprovokasi masyarakat, dan menyebarkan kebenciaan terhadap mereka.

 

Peredaran pamflet gelap ini mengingatkan masyarakat Singkawang akan peristiwa pengedarannya pamflet yang berseru mendukung  PKI pada awal tahun 1970an. Pada masa itu ada pemimpin militer di Kalbar untuk menarik perhatian pemerintah pusat( Suharto) mereka membuat pamflet tersebut seakan- akan di Kalbar penuh dengan sisa sisa PKI atau PKI masih aktif di Kalbar. Dengan harapan pemerintah pusat akan mendrop dana untuk operasi membersihkan PKI. Tetapi pemerintah pusat melakukan sesuatu di luar dugaan mereka, Suharto mengirim intel- intel khusus menyelidiki kasus ini. Sesudah hasil penyelidikan permasalahan jelas, para pemimpin militer yang terlibat kasus ini dimutasikan ke pulau Jawa kemudian jabatan mereka dicopot.

 

Pamflet pengkhianat masyarakat Singkawang ini juga beredar di kalangan komunitas Singkawang di daerah Tanah Abang Jakarta. Menurut pihak aparat pamflet yang beredar di Tanah Abang dan di kota Singkawang memiliki kesamaan bentuk fisik. Tetapi sampai saat berita ini diturunkan, pihak aparat masih belum sanggup mengungkapkan jaringan pengedar pamflet “pengkhianat Singkawang”itu.

 

Ada dua kubu dijadikan praduga dalam kasus pengedaran pamflet “pengkhianat Singkawang”itu:

-Kubu pendukung HK:

Kalau ini dilakukan oleh para pendukung HK; adalah tindakkan kebodohan. Karena aksi tersebut tidak akan mengubah kenyataan: bahwa karier Pak HK sebagai wako Singkawang akan berakhir dalam hitungan hari. Menyalahkan orang lain atas kesalahan diri sendiri, itu bukan cara orang bijak. Seharusnya memikirkan cara- cara baru bagaimana mengorganisasi dan koordinasi potensi Tionghoa Singkawang untuk tujuan politik demokrasi dalam jangka pendek dan panjang. Bukan membiarkan para pendukung melakukan radikal yang berlawanan dengan hukum, yang pada intinya akan membahayakan diri mereka.

 

-Kubu “X”.

Kalau pengedaran pamflet “pengkhianat Singkawang” dilakukan oleh kubu”X”. Dengan catatan bahwa kubu X ini tidak ada hubungan dengan komunitas Tionghoa Singkawang. Kalau ini terjadi, ada kemungkinan bermotivasi “politik” yang bertujuan mengadu domba komunitas Tionghoa Singkawang sehingga terjadi perpecahan yang menuju ke arah mudah dikontrol oleh pihak berkepentingan politik di Singkawang baik untuk sekarang atau dimasa akan datang.

 

 

Sementara ini masyarakat Singkawang menunggu pihak aparat dapat  mengungkapkan kasus pengedaran  pamflet “pengkhianat Tionghoa Singkawang” itu secepat mungkin.

 

 

 


CintaSingkawang, 03 Nopember 2012