Wako Singkawang lebih senang menjadi orang Jerman ketimbang orang Indonesia


30 September 2010
Komentar:

Sejak beberapa ratus tahun yang lalu pada filsul Tiongkok dan India menghadapi satu pertanyaan yang sama yaitu apa yang menentukan kedewasaan seseorang? Mereka sependapat bahwa yang menentukan kedewasaan itu adalah kematangan berpikir seseorang.Bagaimana cara menentukan kematangan berpikir itu? Maka dikembangkanlah suatu cara  untuk menentukan kedewasaan seseorang, yaitu Usia.

Salah satu dari sifat kedewasaan yaitu memiliki pendirian, dan konsisten dengan apa yang menjadi pilihannya. Sifat ketidakdewasaan sering tercermin dari  perubahan pendirian seseorang, sekedar contoh Pak Hasan Karman. Dulu ketika baru terpilih menjadi wako Singkawang Beliau bangga sebagai keluarga Sakinah. Foto sebagai keluarga Sakinah pernah dipromosikan kepada masyarakat Singkawang pada kalangan terbatas.

Beberapa bulan yang lalu ketika masalah patung naga sedang memuncak Pak HK pernah mengklaim dirinya sebetulnya adalah keturunan etnis Dayak.  Membuat Pak Edy geleng-geleng kepala  mendengar klaim atasannya itu.

Ketika acara halal bihalal Pemkot Singkawang dengan  FKUB Kalbar, pidato Pak Hasan Karman mengatakan keinginan dalam hatinya “jika hidup ini kita dapat memilih kelahiran, saya  akan memilih dilahirkan sebagai orang Jerman”. Entah apa yang membuat Pak HK merasa tidak puas dilahirkan sebagai bangsa Indonesia? Kita tidak tahu pasti apa keuntungan menjadi orang Jerman yang diidamkan oleh Pak HK. Yang jelas, kita sudah tahu keuntungan Hasan Karman menjadi orang Indonesia yaitu diberi kesempatan menjabat wako Singkawang.

Tetapi  menurut Pak HK alasan dia memilih sebagai orang Jerman karena orang Jerman memiliki kulit putih badan besar tinggi. Padahal Pak HK memiliki kulit putih dan memang postur tubuh Pak HK kurang tinggi,namun tidak dapat dikatakan  cryptid untuk ukuran bangsa Indonesia, cuma mata Beliau agak sedikit sipit.

Di kalangan para remaja putri sering merasa ketidakpuasan terhadap penampilan fisiknya. Bahkan ada yang melakukan operasi plastik untuk memperbaiki image fisiknya, wajahnya dipermak seperti bintang film tertentu. Mereka melakukan hal itu karena mereka beranggapan bahwa hidup ini yang menentukan  makna hidup ini adalah penampilan fisik. Karena terbatasan kematangan berpikir mereka membuat keterbatasan memahami makna hidup. Merasa ketidakpuasan terhadap penampilan fisik bukan hanya didominasi oleh para remaja saja,ternyata hal yang sama juga dialami oleh Walikota Singkawang Hasan Karman. Kalau bisa dia ingin operasi plastik agar dapat menjadi orang Jerman. Sehingga Pak HK dapat tinggal  di Berlin bertetangga dengan Pak Habibie (Habis bicara Bingung sendiri).

 

 

CintaSingkawang, 30 September 2010