|
Sudah
tidak
perlu
kita
ragukan
lagi
pada
saat ini
masyarakat
Singkawang
membutuhkan
“ketenangan”
hidup.
Tanpa
ada
ketenangan,
hidup
ini
menjadi
tidak
produkif
. Hidup
penuh
dengan
kecurigaan,
was-was
dan
kekhawatiran
pada
kondisi
seperti
itu
dapat
menurunkan
produktivitas
dan
aktivitas
masyarakat
Singkawang
sehingga
dapat
mengganggu
segala
aspek
kehidupan
baik
sosial
maupun
sendi-sendi
perekonomian.
Kecemasan
masyarakat
Singkawang
khususnya
komunitas
Tionghoa
Singkawang
dapat
kita
pahami,
dalam
minggu-minggu
ini
telah
terjadi
beberapa
kali
aksi
kebakaran
mobil
dan aksi
teror
bom
Molotov
yang
dilakukan
oleh
pihak-pihak
tertentu
dengan
memakai
gaya
pemikiran
primitif.
Karena
metode
seperti
itu
pernah
digunakan
oleh
orang–orang
beraliran
komunis
pada
jaman
orde
lama
tempoe
doeloe
sehingga
menimbulkan
rasa
kecurigaan
dan
kebencian
masyarakat
terhadap
pihak
tertentu
terutama
etnis
tertentu
dan
mengambinghitamkan
lawan
politiknya.
Kejadian
kebakaran
sudah
seperti
arisan,
entah
giliran
siapa
yang
akan
kena
malapetaka
itu.
Sejauh
ini kita
belum
mengetahui
pasti
berapa
jumlah
kerugian
materi
yang
diderita
oleh
para
korban.
Yang
jelas
semua
korban
itu
adalah
komunitas
Tionghoa.
Ini
adalah
fakta !
Apakah
semua
ini
disebabkan
oleh
Patung
Naga di
perempatan
Jalan
Niaga-Kepol
Mahmud
Singkawang
? Yang
jelas
kehidupan
di
kota
Singkawang
sudah
berubah
tidak
mungkin
sama
seperti
dulu
lagi.
Bagi
mereka
sebagai
pencetus
ide
membangun
patung
naga
sudah
saatnya
harus
menerima
pertanggungjawaban
atas
kesalahan
mereka.
Ini
semua
akibat
dari
segelintir
komunitas
Tionghoa
Singkawang
yang
kaya
tetapi
tidak
memiliki
wawasan
luas (mo
ci sit)
dan
tidak
mempunyai
konsep
berpikir
kedepan.
Sehingga
hasil
karyanya
memberi
peluang
kepada
pihak-pihak
tertentu
untuk
dijadikan
barang
objekan
ekonomi.
Bahkan
akan
dijadikan
bahan
isu
politik
dan
pemerasan.
Dalam
hal ini
yang
paling
dirugikan
yaitu
komunitas
Tionghoa
Singkawang
sendiri
terutama
bagi
mereka
yang
tinggal
di
kota
Singkawang.
Menurut
pengalaman
Pak
Herry
Chung
yang
pernah
mengadakan
diskusi
dengan
kelompok
mahasiswa
Tionghoa
Indonesia
di
Universitas
New
South
Wales di
Sydney
dengan
topik;
reformasi
di
Indonesia
memberi
kesempatan
kepada
etnis
Tionghoa
untuk
masuk
jalur
birokrasi.
Hasil
dari
kesimpulan
diskusi
itu
perlu
kita
renungkan
kembali
bagi
komunitas
Tionghoa
Singkawang,.
“Di
bidang
birokrasi;
Etnis
Tionghoa.
bukan
diberi
kesempatan
untuk
mempercepat
pembangunan
karena
mereka
memiliki
talenta
dan
kemampuan
mengembangkan
perekonomian
.
Mereka
diberi
kesempatan
di
bidang
birokrasi
tetapi
mereka
dijadikan
sebagai
barang
objekan
ekonomi
dengan
perkataan
lain
“ditugaskan
mencari
duit dan
kesempatan
untuk
mereka”.
Untuk
membuktikan
pandangan
semacam
itu
‘salah
atau
benar’
kelak
kita
akan
mengetahui
sesudah
kita
membaca
Memoir
Pak HK
Pasca
Beliau
tidak
menjabat
wako
Singkawang
lagi.
Mudah
–mudahan
Pak HK
akan
menuliskan
pengalamannya
itu
sebagai
pengalaman
berharga
bagi
komunitas
Tionghoa
Singkawang.
Masalah
patung
naga
harus
diselesaikan
secepat
mungkin,
Jika
dibiarkan
akan
menjadi
barang
objekan
jangka
panjang
dampaknya
akan
merugikan
masyarakat
Singkawang
khususnya
komunitas
Tionghoa
Singkawang.
Bagaimana
cara
menyelesaikan
masalah
patung
naga?
Menurut
mantan
walikota
Singkawang,
Pak
Awang
Ischak
masalah
patung
naga
di
Singkawang
mudah
diselesaikan(
Koran
PontianakPost,
pada
tanggal
21 Juni
2010,
hal 31).
Pada
masa
Beliau
menjabat
wako
Singkawang
Beliau
pernah
menyelesaikan
masalah
patung
naga
yang
dibangun
di depan
vihara
tengah
kota.
Pengalaman
Pak
Awang
menyelesaikan
patung
naga
tempo
hari itu
tidak
ada
relevansi
dengan
masalah
patung
naga
sekarang
. Karena
pada
jaman
Pak
Awang
sebagai
wako
Singkawang
tidak
menghadapi
tekanan
politik
dari
pihak
FPI(Front
Pembela
Islam)
Singkawang,
Persatuan
Pemuda
Dayak
(PPD),
Persatuan
Pemuda
Tionghoa
(PPT),
dan
Dewan
Adat
Dayak
(DAD)
Singkawang
seperti
apa yang
sekarang
sedang
dihadapi
Pak
Hasan
Karman .
Pada
waktu
itu Pak
Awang
hanya
menghadapi
Pak
Benny
Setiawan,
Iwan
Gunawan,
dan
yang
lain
cukup
Pak
Awang
mengadakan
silaturami
kepada
mereka
masalahnya
menjadi
selesai.
Pak
HK tidak
memiliki
kekuatan
sakti
seperti
itu,
hanya
mengandalkan
lembaran
Bung
Karno
dan Bung
Hatta ,
Semakin
banyak
lembaran
Bung
Soetta
dipakai
semakin
jelas
persoalan
Patung
naga
tidak
akan
terselesaikan
oleh
Pak HK
dan
semua
masalah
di
Singkawang
akan
berputar
di situ
saja,
Itulah
patung
Naga
yang
sering
disebut
patung
naga
rezeki
di pihak
tertentu
dan
malapetaka
di pihak
lain,meminjam
istilah
salah
satu
rohaniwan
di
Singkawang
ada roh
Jahat di
sana.
Betapa
kacau
seandainya
setiap
organisasi massa(ormas) memiliki otoritas menghalangi
pemerintah
menjalankan
tugas
dan
fungsinya.Terutama
dalam
hal
mengambil
keputusan
terhadap
masalah
yang
menyangkut
kepentingan
umum
seperti
masalah
patung
naga
tersebut.
Ormas
memiliki
komitmen
untuk
memperjuangkan
kepentingan
masyarakat
dan
mengawasi
pemerintah
menjalankan
kebijakannya.
Namun
demikian
bukan
berarti
ormas
boleh
intervensi
pemerintah
menjalankan
kebijakannya.
Ada
beberapa
opsi
untuk
pemecahan
masalah
Patung
Naga di
Singkawang.
Marilah
kita
melihat
opsi
pemecahan
masalah
patung
naga:
-Referedum:
referedum
adalah
cara
demokrasi
modern
untuk
memutuskan
sesuatu
masalah
yang
menyangkut
kepentingan
umum(negara),
masalah
yang
tidak
dapat
diputuskan
oleh
penguasa.
Untuk
memutuskan
masalah
dengan
cara
pemungutan
suara
umum.
Rakyat
diminta
vote
‘yes’
atau
‘no’
terhadap
keputusan
terhadap
masalah
tersebut.
Dalan
hal
patung
naga
suara
‘yes’
untuk
relokasi
patung
naga,
suara
‘no’
untuk
tetap
mempertahankan
keberadaan
patung
naga.
Secara
teknis
dan
mekanisme
sudah
tidak
mungkin
memakai
cara
“referendum”
untuk
menyelesaikan
masalah
patung
naga
Singkawang.
Biayanya
terlalu
mahal.
-Resignation
atau
pengunduran
diri.
Pak HK
mengundurkan
diri
dari
jabatan
sebagai
walikota
Singkawang.
Kalau
Pak HK
mengundurkan
diri
tekanan
politik
terhadap
patung
naga
langsung
hilang,
pilkada
mendatang
dengan
memakai
patung
naga
sebagai
proganda
bukan
isu lagi.
Sesuai
dengan
konstitusi
Pak Edy
akan
menjadi
walikota
Singkawang
menggantikan
Pak
HK. Jadi
pihak
FPI akan
berhadapan
dengan
PPD dan
DAD.
Tentu
saja Pak
Edy
tidak
selunak
seperti
Pak HK
menghadapi
mereka
yang pro
dan
kontra
patung
naga.
Atau
mungkin
mereka
tidak
berani
menghadapi
Pak Edy.
-Dengan
Undi:
salah
satu
cara
yang
paling
kuno
untuk
memutuskan
sesuatu
dengan
cara
mengundi.
Kedua
pihak;
kontra
dan pro
patung
naga
membuat
perjanjian
legal
yang
isinya
kedua
pihak
harus
menghormati
hasil
dari
undian.Dengan
memakai
cara
mengundi
ada
kemungkinan
besar
ada
pihak
tidak
mau
menyetujui
cara
seperti
itu.
-Memberi
Hadiah:
cara ini
yaitu
memberi
hadiah 1
miliar
rupiah
kepada
masing-masing
pihak;
kontra
dan pro
patung
naga.
Metode
ini kita
sebut: “membeli
kembali
perbuatan
kebodohan
sendiri”.
Seperti
perusahaan
membeli
saham
sendiri
dari
perusahaan
lain
yang
menguasai
sahamnya.
Pak Bong
Li Thiam
sebagai
penggagas
patung
musibah
tersebut
diminta
menyiapkan
2
miliar
rupiah
sebagai
hadiah
bagi “mereka”
sebagai
transaksi
prosesi
membeli
kembali
patung
naga.
Karena
patung
naga
sudah
dibeli
orang,
pemilik
baru
berhak
memutuskan
patung
naga mau
diapakan
kelak.
Kita
sudah
melihat
dan
menguji
berbagai
opsi
untuk
pemecahan
permasalahan
patung
naga di kota Singkawang. Dari sekian opsi, hanya
dengan
memakai
metode “membeli
kembali
perbuatan
kebodohan
sendiri”
metode
ini
paling
tepat
guna dan
tingkat
keberhasilan
lebih
tinggi.
Jika
tidak
percaya
silakan
coba.
Membangun
patung
naga
tanpa
mempertimbangkan
dampaknya
adalah
melakukan“perbuatan
kebodohan
”.
Dalam
hal ini
silahkan
para
pembaca
CintaSingkawang
menilai
sendiri
kebodohan
ini,apakah
itu Bong
Lie
Thiam?
Atau…………..?
yang
pengen
lengser
itu?
|