Patung Naga Barang Objekan?

24Juni 2010

Komentar:

Sudah tidak perlu kita ragukan lagi pada saat ini masyarakat Singkawang membutuhkan  “ketenangan” hidup. Tanpa ada ketenangan, hidup ini menjadi tidak produkif . Hidup penuh dengan kecurigaan, was-was dan kekhawatiran pada kondisi seperti itu dapat menurunkan produktivitas dan aktivitas masyarakat Singkawang sehingga  dapat  mengganggu  segala aspek kehidupan baik sosial maupun sendi-sendi perekonomian.

 

Kecemasan masyarakat Singkawang khususnya komunitas Tionghoa Singkawang  dapat kita pahami, dalam minggu-minggu ini telah terjadi beberapa kali aksi kebakaran mobil dan aksi teror bom Molotov yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu dengan memakai gaya pemikiran  primitif. Karena metode seperti itu pernah digunakan oleh orang–orang beraliran komunis pada jaman orde lama tempoe doeloe sehingga  menimbulkan rasa kecurigaan dan kebencian masyarakat terhadap pihak tertentu terutama etnis tertentu dan mengambinghitamkan lawan politiknya. Kejadian kebakaran sudah seperti arisan, entah giliran siapa yang akan kena malapetaka itu. Sejauh ini kita belum mengetahui pasti  berapa jumlah kerugian materi yang diderita oleh  para korban. Yang jelas semua korban itu adalah komunitas Tionghoa. Ini adalah fakta ! Apakah  semua ini disebabkan oleh Patung Naga  di perempatan Jalan Niaga-Kepol Mahmud Singkawang ? Yang jelas kehidupan di kota Singkawang sudah berubah tidak mungkin sama seperti dulu lagi.

 

Bagi mereka sebagai pencetus ide membangun patung naga sudah saatnya harus menerima pertanggungjawaban  atas kesalahan mereka. Ini semua akibat dari segelintir komunitas Tionghoa Singkawang yang kaya tetapi tidak memiliki wawasan luas (mo ci sit) dan  tidak mempunyai konsep berpikir kedepan. Sehingga hasil karyanya memberi peluang kepada  pihak-pihak tertentu  untuk dijadikan  barang objekan ekonomi. Bahkan akan dijadikan bahan isu politik dan pemerasan. Dalam hal ini yang paling dirugikan yaitu komunitas Tionghoa Singkawang  sendiri terutama bagi mereka yang tinggal di kota Singkawang. Menurut pengalaman Pak Herry Chung yang pernah mengadakan diskusi dengan kelompok mahasiswa Tionghoa Indonesia di Universitas New South Wales di Sydney dengan topik; reformasi di Indonesia memberi kesempatan kepada etnis Tionghoa untuk masuk jalur birokrasi. Hasil dari kesimpulan diskusi itu perlu kita renungkan kembali  bagi  komunitas Tionghoa Singkawang,. “Di bidang birokrasi; Etnis Tionghoa. bukan diberi kesempatan untuk mempercepat pembangunan  karena mereka memiliki talenta dan kemampuan mengembangkan perekonomian .  Mereka diberi kesempatan di  bidang  birokrasi  tetapi mereka dijadikan sebagai barang objekan ekonomi dengan perkataan lain “ditugaskan mencari duit dan kesempatan untuk mereka”. Untuk membuktikan pandangan semacam itu ‘salah atau benar’ kelak kita akan mengetahui sesudah kita membaca Memoir Pak HK Pasca Beliau tidak menjabat wako Singkawang lagi.

Mudah –mudahan Pak HK akan menuliskan  pengalamannya itu sebagai pengalaman berharga bagi komunitas Tionghoa Singkawang.

 

Masalah patung naga harus diselesaikan secepat mungkin, Jika dibiarkan akan menjadi barang objekan jangka panjang dampaknya akan merugikan masyarakat Singkawang khususnya komunitas Tionghoa Singkawang. Bagaimana cara menyelesaikan masalah patung naga? Menurut  mantan walikota Singkawang, Pak Awang Ischak masalah patung naga  di Singkawang mudah diselesaikan( Koran PontianakPost, pada tanggal 21 Juni 2010, hal 31). Pada masa Beliau menjabat wako Singkawang Beliau pernah menyelesaikan masalah patung naga yang dibangun di depan vihara tengah kota. Pengalaman Pak Awang menyelesaikan patung naga tempo hari itu  tidak ada relevansi dengan masalah patung naga sekarang . Karena pada jaman Pak Awang sebagai wako Singkawang tidak menghadapi tekanan politik  dari pihak FPI(Front Pembela Islam) Singkawang, Persatuan Pemuda Dayak (PPD), Persatuan Pemuda Tionghoa (PPT), dan Dewan Adat Dayak (DAD) Singkawang seperti apa yang sekarang sedang dihadapi Pak Hasan Karman . Pada waktu itu Pak Awang hanya menghadapi Pak Benny Setiawan, Iwan Gunawan, dan  yang lain cukup Pak Awang mengadakan silaturami kepada mereka  masalahnya menjadi selesai.  Pak HK tidak memiliki kekuatan  sakti seperti itu, hanya mengandalkan  lembaran Bung Karno dan Bung Hatta , Semakin banyak lembaran Bung Soetta dipakai semakin jelas persoalan Patung naga tidak

 akan terselesaikan  oleh Pak HK dan semua masalah di Singkawang akan berputar di situ saja,

 Itulah patung Naga  yang sering disebut patung  naga rezeki di pihak tertentu dan malapetaka di pihak lain,meminjam istilah salah satu rohaniwan di Singkawang ada roh Jahat di sana.

 

Betapa kacau seandainya  setiap organisasi massa(ormas) memiliki otoritas menghalangi pemerintah menjalankan tugas dan fungsinya.Terutama dalam hal mengambil keputusan terhadap masalah yang menyangkut kepentingan umum seperti masalah patung naga tersebut. Ormas memiliki komitmen untuk  memperjuangkan kepentingan masyarakat dan  mengawasi pemerintah menjalankan kebijakannya. Namun demikian bukan berarti ormas boleh intervensi pemerintah menjalankan kebijakannya.

 

Ada beberapa opsi untuk pemecahan masalah Patung Naga di Singkawang. Marilah kita melihat opsi pemecahan masalah patung naga:

-Referedum: referedum adalah cara demokrasi modern untuk memutuskan sesuatu masalah yang menyangkut kepentingan umum(negara), masalah yang tidak dapat diputuskan oleh penguasa. Untuk memutuskan masalah dengan cara pemungutan suara umum. Rakyat diminta vote ‘yes’ atau ‘no’ terhadap keputusan terhadap masalah tersebut. Dalan hal patung naga suara ‘yes’ untuk relokasi patung naga, suara ‘no’ untuk tetap mempertahankan keberadaan patung naga. Secara teknis dan mekanisme sudah tidak mungkin memakai cara “referendum” untuk menyelesaikan masalah patung naga Singkawang. Biayanya terlalu mahal.

-Resignation atau pengunduran diri. Pak HK mengundurkan  diri dari jabatan sebagai walikota Singkawang. Kalau Pak HK mengundurkan diri tekanan politik terhadap patung naga langsung hilang, pilkada mendatang dengan memakai  patung naga sebagai proganda bukan isu lagi. Sesuai dengan konstitusi  Pak Edy akan menjadi walikota Singkawang  menggantikan  Pak HK. Jadi  pihak FPI akan berhadapan dengan PPD dan DAD. Tentu saja Pak Edy  tidak selunak seperti Pak HK menghadapi mereka yang pro dan kontra patung naga. Atau mungkin mereka tidak berani menghadapi  Pak Edy.

-Dengan Undi: salah satu cara yang paling kuno untuk memutuskan sesuatu dengan cara mengundi. Kedua pihak; kontra dan pro patung naga membuat perjanjian legal yang isinya kedua pihak  harus menghormati hasil dari undian.Dengan memakai  cara mengundi ada kemungkinan besar ada pihak tidak mau menyetujui cara seperti itu.

-Memberi Hadiah: cara ini yaitu memberi hadiah 1 miliar rupiah kepada masing-masing pihak; kontra dan pro patung naga. Metode ini kita sebut: “membeli kembali perbuatan  kebodohan sendiri”. Seperti perusahaan membeli saham sendiri dari perusahaan lain yang menguasai sahamnya.

Pak Bong Li Thiam sebagai penggagas patung musibah tersebut diminta menyiapkan  2 miliar rupiah sebagai hadiah bagi “mereka”  sebagai transaksi prosesi membeli kembali patung naga. Karena patung naga sudah dibeli orang, pemilik baru berhak memutuskan patung naga mau diapakan kelak.

 

Kita sudah melihat dan menguji berbagai opsi untuk pemecahan permasalahan patung naga di kota Singkawang. Dari sekian opsi, hanya dengan memakai metode “membeli kembali perbuatan kebodohan sendiri” metode ini paling tepat guna dan tingkat keberhasilan lebih tinggi. Jika tidak percaya silakan coba. Membangun patung naga tanpa mempertimbangkan dampaknya  adalah melakukan“perbuatan kebodohan .

Dalam hal ini silahkan para pembaca CintaSingkawang menilai sendiri kebodohan ini,apakah itu Bong Lie Thiam? Atau…………..? yang pengen lengser itu?


CintaSingkawang, 24Juni 2010