Nyanyian HK setelah kalah di Pilkada Singkawang                  

26 Nopember 2012  

Komentar:

Banyak orang bertanya kepada Pak Edy Yacoub, apa yang akan Beliau lakukan sesudah tidak menjabat wakil wali kota Singkawang pada akhir tahun ini? Jawab Pak Edy singkat: “ingin menjadi Dai ”. Kita tidak tahu pasti apakah jawaban Pak Edy itu serius atau hanya sebuah sindiran yang bermakna menegur mantan atasannya( Pak Hasan Karman). Menurut pengalaman Pak Edy sendiri: Pak HK banyak bersaksi dusta, janjinya tidak pernah ditepati. Selama menjadi pejabat ada kemungkinan membuat dosa, perlu mencari jalan penyucian.

Sejak kekalahan dalam pilkada, Pak HK mencoba mencari ketenangan jiwa di lingkungan gereja. Lebih aktif mengikuti kegiatan gereja. Berusaha lebih mengenal dan bergaul dengan para jemaat. Ada juga jemaat tidak suka mendengar lagu yang dinyanyikan oleh Pak HK di lingkungan gereja mereka. Lagu yang dinyanyikan Pak HK yang bernada menyalahkan orang dan menuduh pihak lain menzholiminya, menyalahkan organisasi sosial yang memberi pelayanan beasiswa untuk masyarakat yang tidak beruntung itu. Menurut Pak HK mereka itu yang tidak mendukungnya dalam pilkada. Seperti kata John F Kennedy: 'ask not what your country can do for you – ask what you can do for your country'. Kalau kalimat diatas diubah sedikit maknanya akan jelas : 'ask not what our social organization can do for you – ask what you can do for our social organization. Jadi, apa telah Pak HK berbuat untuk organisasi sosial yang ada di kota Singkawang selama HK menjabat wako Singkawang? Nil, nil, nil. Mengapa mereka harus mendukung Pak HK?
Ada juga jemaat menaruh curiga akan perubahan sikap Pak HK yang tiba- tiba melekat di lingkungan gereja. Bertujuan politik untuk tahun 2014 nanti dalam pemilihan anggota legislatif?
Tetapi sebelum Pak HK dapat eksekusi rencananya mencalonkan diri sebagai anggota legislatif pada tahun 2014 nanti. Dia harus aman melewati tahun 2013 dulu, kalau dia tersangkut dengan beberapa kasus yang sedang dituduhkan ada kemungkinan besar tahun 2013 bukan tahun keberuntungan bagi pak HK. Karena:
-Musuh HK menunggu:
Pihak Birokrasi: tuntutan hukum
Ada beberapa tuduhan terhadap pemerintah Pak HK. Terutama tuduhan Pak HK memakai wewenangnya sebagai wako Singkawang untuk memperkaya diri , aksi tersebut dapat merugikan keuangan Negara. Tuduhan tersebut harus dibuktikan secara hukum,yang merupakan tuntutan legal.

-Pihak Perseorangan atau perkelompok.
Musuh Pak HK dari hari ke hari semakin bertambah panjang listnya. Sejak dimuat dan beredar daftar orang- orang sebagai pengkhianat Singkawang. Mereka yang merasa dirugikan dengan edaran tersebut menaruh curiga bahwa kasus ini ada hubungan dengan Pak HK. Mereka ini akan menunggu waktu yang tepat untuk memberi serangan balasan untuk Pak HK.
Dari segi politik jika Pak HK tersangkut kasus pada tahun 2013 nanti, berarti ada kemungkinan Pak HK tidak dapat mengikuti pencalonan sebagai anggota legislatif. Berarti mengurangi persaingan diantara kelompok Tionghoa Singkawang dalam pencalonan tersebut. Kalau karier politik Pak HK lemah, berarti Pak HK tidak memiliki peluang mengikuti Pilkada Singkawang yang akan datang, berarti tamat pengaruh Pak HK di kota Singkawang.

-Dampak “masyarakat pandangan mata Anjing”
Sering orang kehilangan kekuasaan , kekayaan, pekerjaan akan menghadapi suatu ujian dalam kehidupannya. Apakah dia masih dihormati orang ? Masih mendapat pelayanan istimewa? Berpengaruh? Jawabannya tergantung beberapa faktor. Faktor manusia dan masyarakat. Kalau ketika dia berada dalam pada posisi sedang jaya, dia suka menolong orang, memberi kontribusi kepada komunitas dan masyarakat, cinta sosial. Membangun komunikasi channel dengan mereka sehingga memiliki hubungan yang baik. Kalau orang ini jatuh dalam kehidupannya dia akan selalu dihormati orang. Pemikiran, gagasan, cinta sesama, yang dimilikinya menjadi pujian orang. Fisik manusia itu fana, tetapi pemikiran manusia akan hidup abadi.

Pepatah orang Tionghoa Singkawang mengatakan “ fu hin mo fu soi”(artinya:mendukung yang jaya,tidak mendukung yang gagal). Kalau kita hidup dalam lingkungan masyarakat yang menganut sistim” masyarakat pandangan mata Anjing”(keu gan sa fui) kalau anda jatuh dalam kehidupan ini, anda akan merasa kehilangan semuanya. “Keu gan sa fui” ini adalah kata kiasan, hasil observasi dari kehidupan anjing kemudian diimplikasi dalam kehidupan manusia. Cerita begini: Kalau anda memelihara beberapa ekor anjing, kita nama saja anjing A dan anjing B. Mereka mungkin akur di depan anda, mereka makan bersama, main bersama, berburu bersama. Tetapi kalau mereka sedang berkelahi dengan anjing lain(tetangga) mereka tidak memandang kawan, mereka hanya memandang “posisi” anjing pada waktu itu. Kalau anjing A berkelahi dengan anjing tetangga, jika anjing A pada posisi dibawah( jatuh dilantai) maka anjing B akan menggigit anjing A. Walaupun anjing A dan B adalah teman, satu pemilik. Kata orang sifat anjing hanya memandang “posisi”, siapa yang pada posisi bawah akan diserang. Maka analogi ini sering dipakai untuk menilai karakter masyarakat. Apakah masyarakat Singkawang seperti itu? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus menunggu pengalaman Pak HK sesudah dia tidak menjabat wako Singkawang lagi. Apakah dia masih disanjung dan puji puji?

Sementara Pak Edy menyarankan bossnya pembarui diri melalui rohani, Pak Nusantio Setiadi mengajar kepada Pak HK bagaimana cara sebagai pemimpin berjiwa “demokrasi” bersaing secara “sportif”. “Kalah harus mengaku kalah, jangan menyalahkan orang lain” itulah inti pernyataan Pak NS melalui pers pada minggu yang lalu. Pak NS juga tidak ingin melihat sebagian masyarakat melakukan hal yang sia- sia dan tidak produktif dalam aksi pemfitnahan terhadap dirinya dan kawan- kawannya.
Kubu Pak NS siap bersaingan dengan kubu Pak HK secara demokrasi dalam bentuk aksi sosial di tahun 2013 dan seterusnya. Demikian persaingan antar kelompok akan mendatangkan manfaat bagi masayarakat Singkawang. Apakah kubu Pak HK siap menghadapi tantangan tersebut? Kita tunggu saja.



CintaSingkawang, 26 Nopember 2012