Surat Pembaca-Jawaban

"Kenny Kumala dikagetkan suara sirene mobil Wako Singkawang"
24 Nopember 2010

Komentar:

From: Kenny Kumala <kenny.kumala@gmail.com>
Subject: menjilat yang mentah
To: cintasingkawang@yahoo.com
Received: Saturday, 20 November, 2010, 9:26 PM

 

udah 3 tahun HK menjadi Wako di Skw, sedikitpun tidak ada 'spektakulernya' kecuali saya pernah meminggir dari jalan Diponegoro Singkawang karena suara sirene voorridernya yang mengantar beliau ke sebuah restaurant di Jl Diponegoro, itu yang saya anggap spektakuler.... seorang Wako makan ke restoran pakai Voor rider!!, luar biasa.... Itu saya anggap 'penyakit' wajar, mirip orang Tionghoa lainnya yang biasanya berfoto dgn pejabat! Tetapi sebagai Wako saya heran, kok udah menjabat Wako
             

Jawaban dari CintaSingkawang:

Yth Bapak Kenny Kumala,

Terima kasih atas email Pak Kenny untuk  sharing pengalaman Bapak dengan pembaca kami. Informasi yang Bapak sampaikan ini sebagai bahan ‘literature’ yang akan menambah wawasan komunitas Tionghoa Singkawang dalam hal pemahaman terhadap ‘diri’ menjadi lebih baik.

 

Menurut  CintaSingkawang pengalaman Bapak  yang dikagetkan suara sirene mobil Wako Singkawang itu merupakan pengalaman yang sangat luar biasa.

Untuk memahami bunyi suara sirene itu,tentu saja pemahaman Bapak Kenny berbeda dengan masyarakat Singkawang pada umumnya. Yang menurut narasumber CintaSingkawang Bapak pernah tinggal di Jerman,bukan? Hanya mobil ambulan yang paling banyak mengeluarkan suara sirene disana. Ketika Bapak mendengar suara sirene dari mobil yang membawa wako Singkawang itu, Mungkin Bapak mengira itu mobil ambulan yang sedang lewat membawa orang dalam keadaan gawat, bukan?? Sehingga Bapak langsung meminggirkan kendaraan Bapak? Hee…..nyatanya Pak Wako kita yang sedang terburu-buru mau ke restoran.  Tetapi, bagi masyarakat Singkawang mendengar suara sirene seperti diasosiakan Pak Wako Singkawang sedang melakukan  kegiatan Spektakuler; seperti Pak wako pergi makan, Pak wako pergi mandi, Pak wako pergi jalan-jalan dll.

 

Bapak Kenny, CintaSingkawang tidak menemukan referensi mengenal gejala sebagian besar dari komunitas kita yang suka ‘berfoto dengan pejabat’, kemudian foto tersebut digantung tinggi-tinggi  di dinding ruang tamu rumah mereka. Menurut Bapak Kenny gejala tersebut  sebagai ‘penyakit’. CintaSingkawang kurang tahu apakah ada dampak pengaruh dari foto tersebut baik dari segi fisik ataupun mental. Seperti seorang anak kecil memegang boneka kesayangannya ada benefit untuk perkembangan mentalnya yaitu dia akan merasakan ketenangan, tidak kesepian, merangsang pertumbuhan rasa kasih cinta.  Kita perlu studi lebih jauh tentang pengaruh “berfoto dengan pejabat” terhadap perkembangan mental komunitas Tionghoa Singbebas untuk mendapat jawaban yang pasti.

 

Namun diantara referensi ada sebuah pendapat dari repoter CintaSingkawang di Jakarta yang memberi analogi sebagai berikut; Bahwa sebagian masyarakat Singkawang mempunyai kebiasaan memiliki zimat atau istilah Singkawang sebagi “Phu Theu” di rumah-rumah atau di dompet. Nah “Phu Theu” ini dipercaya bisa mengusir roh jahat atau bisa menambah rasa percaya diri.  Seriing dengan perubahan zaman, merubah pandangan masyarakat untuk mencari Phu yang lebih efektif,dan ternyata foto-foto dengan pejabat bisa menjadi “Phu Theu” yang sangat efektif,dia dapat berfungsi untuk menakut-nakuti orang yang datang ke rumah kita atau dapat menaikkan status sosial seseorang, sama halnya dengan  pencantuman nama seperti DR,PhD,MBA dll.

Bahkan dewasa ini pencantuman Foto dengan pejabat tidak hanya di rumah-rumah,bahkan sudah melanda dunia maya seperti yang dilakukan oleh anak tetangga Pak HK, Hendy Lie yang rajin mengkoleksi foto Pak HK yang sedang berfoto dengan Pak SBY dan para konglomerat lainnya di websitenya.   

 

Ada satu hal yang sudah kita tahu pasti bahwa menggantung foto nenek moyang kita di rumah  menandakan kita sudah “civilised”(beradab). Konon ceritanya: Pada zaman dahulu kala ada seorang petani muda bekerja di sawah. Setiap hari Ibunya yang sudah tua  mengantar makanan untuk dia. Pada jaman itu tidak ada jam sebagai penunjuk waktu, sukar menentukan waktu  yang tepat. Ibunya kadang-kadang mengantar makanan kepagian, kadang-kadang  juga kesiangan. Pada suatu  hari  ibunya terlambat mengantar makanan untuknya, sore hari makanannya baru mengantar. Petani muda ini marah-marah kemudian memukul ibunya. Sesudah kejadian itu , keesokan pagi hari petani ini berangkat ke sawah.  Sebelum dia mulai bekerja pagi itu, dia duduk di  bawah pohon besar yang rindang. Diatas pohon ada seekor burung Crow (Gagak = Buh Ah )muda sedang menyuap burung Gagak tua, dapat dipastikan anak menyuap ibu.  Petani ini terharu menlihat kasih sayang dari seekor anak burung Gagak terhadap ibunya. Sesudah menyaksikan burung Gagak itu, petani ini termenung mengingat peristiwa kemarin dia memarahi dan memukul ibunya.  Dia rasa menyesal, ingin meminta ampun sama ibunya.

Pada hari itu Ibu petani lebih awal mengantar makanan kepada anaknya karena dia tidak ingin peristiwa pemukulan dirinya terulang kembali. Seperti biasa Ibu petani ini selalu menaruh makanan anaknya dibawah pohon. Dari jauh petani melihat ibunya datang, menaruh makanannya dibawah pohon itu, dia cepat menuju ke sana. Ibu petani panik melihat anaknya menuju ke dia. Dia kira bahwa anaknya akan memukul dia, “lebih baik bunuh diri daripada disiksa”  pikir ibu petani. Dia  membentur kepalanya ke pohon hingga meninggal. Ketika petani ini tiba di tempat itu,  menemukan ibunya sudah meninggal. Bekas benturan kepala ibunya di pohon kemudian  bagian itu diambil  untuk dibuat sebuah lukisan ibunya kemudian menggantungkan  ke dinding ruang tamu rumahnya untuk mengenang ibunya.

Pak Kenny, moral cerita ini yaitu bentuk “Appreciate”( Schätzen) kita kepada nenek moyang kita, tiada mereka tiada kita pula. Sebagai bentuk “danken”( thank you) kita kepada mereka.  Sudah sangat jelas, “foto bersama pejabat” tidak bisa menggantikan foto nenek moyang kita. Karena tidak mendapat dukungan dari segi cerita rakyat diatas

 

Sekali lagi terima kasih Pak Kenny atas sharing dari Bapak.,semoga jawaban CintaSingkawang dapat memuaskan Bapak dan jangan lupa selalu membaca CintaSingkawang.

CintaSingkawang, 24 Nopember 2010