Intermesso : Raja San Keu Jong menendang pemilik Patung Naga

18 Juli 2010

Komentar:
Seperti pada umumnya aktivitas para Raja, Raja San Keu Jong juga menghadapi  kegiatan kerajaan  setiap hari berupa menerima laporan dari bawahannya  tentang situasi  kerajaan. Sang Raja harus bangun pagi lebih awal supaya lebih banyak waktu tersedia untuk  mendengar laporan( Pai Thong) dari bawahannya, terutama apa yang sedang terjadi selama ini negeri kerajaan San Keu Jong yang disebut-sebut kurang aman. “Sering terjadi  serangan api(teror bom Molotov), perampokan(penjambretan) pada malam hari negeri San Keu Jong bukan tempat yang aman lagi”seperti yang dilaporkan oleh salah satu dorna kerajaan yaitu Tjhai Chui Mie yang lapor bahwa sebaiknya rakyat San Keu Jong terutama para wanita tidak keluar rumah pada malam hari telah membutktikan bahwa San Keu Jong memang sudah tidak aman lagi. Kemudian  si raja San Keu Jong bertanya  kepada mereka yang hadir. “Apa yang menyebabkan hal itu ?” tanya Baginda. Pada bawahannya berbisik satu sama lain dengan suara yang pelan salah satu dari mereka mengatakan ”Patung Naga”. Disambung oleh yang lain “pemiliknya Bong Li Thiam, Thi Cu (tuan tanah) di Kerajaan San Keu Jong ”. “Siapa Bong Li Thiam itu?”, tanya raja San Keu Jong dengan nada ingin tahu.

Lalu salah satu bawahannya memberanikan diri menjelaskan kepada raja. “Bong Li Thiam adalah tuan tanah( Thi Cu) tinggal di pusat distrik Kerajaan San Keu Jong. Dalam kehidupan sosial masyarakat feodal para Thi Cu dengan berbagai cara dengan memakai uang  untuk mempengaruhi pejabat melakukan sesuatu yang sesuai dengan kehendaknya. Tanpa mempertimbangkan mana kepentingan umum selalu harus kita hormati, jangan diganggu. Bahkan para Thi Cu lebih kotor  daripada seorang maling dalam hal berprinsip. Karena dalam di dunia  maling ada aturan main dan kode etik tak tertulis, mereka  tidak akan mencuri  barang  milik tetangganya. Salah satu sifat jelek dan merupakan ciri khas Thi Cu yaitu suka mengeksploitasi  anak gadis miskin untuk dijadikan objekan kepuasan birahinya. Dialah memelihara patung naga untuk menghancurkan kerajaan dan negeri kita”, kata bawahan raja.

Raja San Keu Jong no happy sesudah mendengar penjelasan tadi dan terus menjadi pikiran Sang Raja sampai larut malam. Sebelum tidur  Raja terus  memikirkan keamanan  kerajaan dan kebodohan salah satu Dornanya. Pada malam itu Raja San Keu Jong bermimpi tiba-tiba dikejar-kejar oleh seekor naga yang sedang meliuk-liuk dengan mata memerah  yang tiba-tiba muncul dari Patung Naga dipersimpangan Jalan Kepol Mahmud-Jln Niaga yang belakang ekor naga itu  diikuti  oleh bendera  FPI, komunitas Tionghoa Singkawang, elite Tionghoa Singkawang di Jakarta, komunitas Tionghoa Jawai dan komunitas Tionghoa Sambas.  Sang Raja terus terdesak  sudah hampir kehilangan nafas . Pada saat kritis itu Raja San Keu Jong melarikan diri menuju  rumah Bong Li Thiam kebetulan Bong Li sedang berdiri bersama Bong Phen Thian alias Aliok di depan rumahnya. Raja kemudian menendang Bong Li Thiam dan Aliok  ke samping agar bisa selamat dari kejaran Sang Naga yang marah sehingga naga mengalihkan pengejaran kepada  Bong Li Thiam, pada saat itulah Bong Li Thian bertarung dengan Sang Naga yang terus mengamuk, pada posisi yang tidak menguntungkan tersebut Aliok langsung cabut menyelamatkan dirinya, tinggalah Bong Li berhadapan dengan maut.

Ah.ah..ah, Bong Li kutendang kau ! supaya aku dapat selamat. Patung naga harus dipindahkan! Agar aku bisa bebas dari kejaran Sang Naga yang sudah tidak bersahabat itu”, berteriaklah Pak Hasan Karman sambil menendang-nendang kakinya.

Eh …eh… Pap…papi., bangun papi…bangun pi!. Papi  mimpi lagi ? tanya Ibu Emma. Mimpi apa Papi cerita dong sama mami, demikian desak Ibu Emma kepada Pak HK. Iya, mi. Sedang mimpi, saya sedang mimpi menendang Pak Bong Li supaya saya selamat dari kejaran Naga yang tiba-tiba muncul dari patung naga, ” Kata Pak HK.

Ya,aku lupa dengan Penasehatku yang paling setia CintaSingkawang, selalu setia menasehatiku agar berhati-hati dengan saran konco disekitarku.”;keluh Pak HK
.

 

CintaSingkawang, 18 juli 2010