Politisasi  Etnisisme  vs  Militerisme di Kalbar

06 Januari 2012

Komentar:

Banyak orang memanjatkan doa pada saat  menjelang penggantian tahun kemarin. Dalam doa mereka mengharapkan Tuhan memberi kemudahan ,kemurahan atau minimal konsesi  kepada mereka supaya pada tahun 2012 ini akan  merupakan  tahun keberuntungan, mudah mencapai kesuksesan dalam ber karier. Tak  kecuali  Pak HK dan  Pak Cornelis juga berdoa, sudah pasti doa mereka  mengandung permohonan kepada Tuhan supaya mereka dapat terpilih kembali  sebagai pemimpin Kalbar pada tahun 2012 ini.

 

Ada peramal yang memprediksi bahwa tahun 2012 akan banyak terjadi bencana  alam, perekonomian dunia semakin tidak menentu.  Apapun  ramalan mereka, yang jelas di bumi Kalbar  tahun 2012 nanti adalah tahun yang penuh tantangan bagi Pak HK, dan Pak Cornelis.  Karena mereka  akan menghadapi  beberapa kendala  supaya  mereka dapat terpilih  kembali . Adapun  kendala  yang dihadapi yakni menghadapi kompetitor yang sangat kuat, persepsi  atau kesan  masyarakat Kalbar dan Singkawang  terhadap mereka. Persepsi masyarakat  merupakan  bagian  dari sebuah penilaian masyarakat terhadap kepemimpinan mereka sejak terpilih hingga sekarang, yang berdasarkan pengamatan  mereka atau  masyarakat Kalbar.

 

Sekedar contoh menurut penilaian dari  seorang senior alumni SMAN3 Pontianak, yang kini menjadi pengusaha di kawasan Season city, Jakarta Barat. Dalam sebuah pertemuan alumni, beliau  memberi kesaksian  “ketika  Pak Sanjaya meminta dukungan,  banyak  teman kami memberi dukungannya”, kata Bapak ini yang meminta Cintasingkawang merahasiakan identitas dirinya. Sesudah  Pak Sanjaya terpilih sebagai wakil gubernur secepat  itu  juga HPnya  dimatikan. “Sehingga banyak  temannya hanya mau mengucapkan kata selamat saja tidak diberi kesempatan, akibatnya banyak teman merasa kecewa. Pemimpin semacam itu adalah pemimpin  hanya kita pilih dia sekali saja, kalau minta  kita memilih dia lagi, sorry deh”, kata Bapak  ini dengan nada kecewa.

 

Masyarakat Internasional terkejut ketika mendengar pernyataan Pak Gubernur Kalimantan Barat mengenai  persengketaan perbatasan  wilayah  Kalimantan dengan Malaysia. Menurut Pak Gubernur  yang pernah ditegur keras oleh Pak Neras Terang (Gubernur Kalteng) dalam kasus penghakiman massal kepada  Prof.Thamrin Tamagola : ” Saya sebagai kepala pemerintah di sini haruslah mempertahankan wilayah saya. Jika memang Malaysia tidak mau berunding, maka akan kami nasionalisasikan saja mereka punya investasi yang ada di Kalbar, saya tidak takut," ungkap Cornelis di Pontianak, Jumat (4/11/2011)-kompas”.

Menurut masyarakat Internasional,  sangat disayangkan pernyataan Pak gubernur kita yang kurang memahami  hukum internasional , hukum ketatanegaraan, apalagi kerkaitan dengan penanaman asing yang ada di negeri  ini, menyelesaikan persoalan cenderung emosional dan sarat  memakai kekerasan.

Menurut  track record Pak Cornelis  di wilayah kabupaten Landak.  Komunitas Tionghoa  Landak  pernah mengeluh  ketika  menerima ancaman , intimidasi,  pada saat menjelang  pemilihan Bupati  Landak  pada zaman Pak Cornelis sebagai bupati Landak. Akibatnya  hampir semua suara dari TPS-TPS  yang di dominasi populasi Tionghoa  tidak memilih Pak Cornelis.

 

Ketika Cintasingkawang menghubungi  salah - satu petinggi DAD (Dewan Adat Dayak) menanyakan apakah keuntungan  DAD selama Pak Cornelis menjabat gubernur KalBar?  Pejabat ini  tidak dapat memberi jawaban yang pasti. Satu hal sudah jelas, siapapun yang menjabat Gubernur masalah  pemilikan tanah adat etnis dayak di KalBar semakin tidak jelas.  Dari hari ke hari tanah mereka semakin bertambah sempit. Hilangnya pemilikan tanah adat ini akan mempengaruhi kehidupan mereka, hilangnya tanah identik hilangnya kehidupan mereka. Hal ini sudah terjadi pada suku Indian yang tinggal di Negara-negara  Amerika Latin. Hilangnya pemilikan  tanah suku Indian, hilanglah  kehidupan mereka ( Suku Indian kehilangan posisi bargaining di negara bersangkutan).

Untuk melindungi  kepentingan etnis dayak ini tidak bisa mengandalkan para politisi, karena para politisi cenderung mengutamakan kepentingan mereka sesaat dan individual. Banyak pemilik tanah adat  dibujuk oleh para politisi mereka untuk meminta mereka  melepaskan pemilikan tanah kemudian tanah tersebut dijual untuk pengusaha perkebunan.

 

Melihat perkembangan di KalBar pada  dewasa ini, para politisi berpolitik mengandalkan kekerasan etnis dan agama  untuk mencapai tujuannya.  Cara- cara seperti itu akan mengancam kehidupan berbangsa  dan bernegara dan mengancam keutuhan NKRI. Menyebabkan kawasan ini  sangat tidak stabil  baik dari segi politik maupun  keamanan.  Faktor  tersebut dapat mengganggu pertumbuhan  ekonomi dalam jangka pendeka atau panjang di Kalbar.  Oleh sebab  itu merupakan kewajiban pihak militer untuk menstabilkan sikon yang sangat tidak kondusif di bumi Kalbar ini ,untuk itulah TNI   mendorong salah satu perwira tingginya untuk terjun  ke dalam kompetisi  di Pilgub Kalbar agar mendapat posisi  sebagai pemimpin  dalam pemerintahan sipil di Kalbar.  Pihak militer tidak ingin melihat di KalBar menjadi  sumber ketegangan antar etnis dan agama, yang pada  intinya  dapat menghancurkan intergrasi militer dan merusak keutuhan NKRI seperti yang terjadi di wilayah lain di Republik Indonesia.

 

Sejak beberapa tahun yang lalu, pihak  Asing terutama negara Barat kembali  menjalin kerjasama militer dengan  RI. Ini menandakan  bahwa pihak militer  telah memperbaiki citra dan image mereka  yang pernah ternoda di masa pemerintah rezim Suharto.

 

Pak Cornelis akan berhadapan dengan  Pak Mayor Jenderal  Armyn Alianyang pada pilgub KalBar  pada tahun ini yang didukung penuh  oleh seluruh jajaran teritorial TNI-AD . Pak Armyn merupakan tokoh yang sangat popular baik di kalangan militer ataupun sipil. Terutama di daerah pesisir pantai utara dan di daerah tempat kelahiran orangtuanya pedalaman Menantak Sintang ,Kalimantan Barat. Keunggulan Pak Armyn merangkul pelbagai etnis  tanpa mempermasalahkan agama, ras, dan status sosial ekonomi. Tantangan terbesar bagi Pak Armyn yakni bagaimana mempersatukan visi  etnis Dayak  di KalBar yang terdiri dari beberapa sub suku tanpa konsiderasi agama yang dianut  oleh mereka  .  Dengan demikian akan  membawa etnis Dayak  KalBar ke dimensi   lain tanpa kehilangan identitas etnis  mereka.

 

Tantangan yang dihadapi Pak Cornelis  juga tidaklah ringan adalah bagaimana memperbaiki  komunikasi  di kalangan etnis Dayak di Bengkayang, Sintang, Landak.  Akibat intervensi politik yang berlebihan untuk tujuan  mempengaruhi  jalan arus demokrasi di daerah tersebut telah merugikan image Pak Cornelis. Tuduhan tuduhan miring terhadap Pak Cornelis yang sering terdengar  di kalangan  etnis Dayak bahwa Pak Cornelis lebih mengutamakan kepentingan “Dinasti Cornelis” seperti yang sedang melanda para elit di Indonesia  daripada kepentingan etnis Dayak di kawasan tersebut sekedar contoh pilkada Landak yang lalu .

 

Kedua tokoh ini akan bertanding dalam pemilihan gubernur nanti. Siapakah yang berhasil muncul sebagai pemenang sangat tergantung  dari bagaimana mereka  memanfaatkan network  yang ada di masyarakat. Jadi Pilkada Kalbar adalah sebuah pertarungan antara teritorial militer dan adu strategi jaringan intelijen yang  akan berhadapan dengan jaringan etnis CintaSingkawang menyebutnya Politik Etnis Vs Militerisme . Kita tunggu saja siapa diantara yang akan menjadi Gubernur Kalbar???

 

 

 

CintaSingkawang,06 Januari 2012