Cara Pak HK memperlakukan orang kecil

-Mengerjai Pak Chai Ket Khiong dan Pak Hendro Karlan( Ahian)

 

18 September 2011

Komentar:

Kita sering mendengar cerita bagaimana orang berkuasa memperlakukan kaum lemah. Apalagi kalau kaum lemah itu sebagai orang dapat mengganggu kebahagiaan  atau ketenangan hidup orang berkuasa.  Bahkan cerita seperti itu juga  kita temukan dalam catatan  sejarah belbagai bangsa di bumi ini. Pada umumnya cerita semacam itu mengisahkan cara kejahatan  yang dipakai oleh kaum berkuasa untuk menghadapi orang yang dianggap dapat mengganggu kejamanan hidupnya. Dengan memakai kekuasaan, dikombinasikan dengan kelicikan dan tipu muslihat adalah teknik paling jitu yang  dipakai untuk mengeksekusi rencana kejahatan dalam hal ini.

 

Orang besar menunjukkan kebesarannya dengan cara dia memperlakukan orang kecil , “A great man shows his greatness by the way he treats little men”. Mungkin itu adalah salah satu cara menilai karakter orang besar (berkuasa) bagaimana cara dia memperlakukan orang kecil( lemah). Sebagai manusia berbudaya kita tidak  seharusnya memperlakukan bawahan kita, pembantu rumah tangga kita dengan tidak sopan dan tidak manusiawi. Tentu saja kita tidak mau mencontoh gaya Pak Atien (Seventien Lunardy) ketika sebagai manager pada perusahaan Barito . Ketika anak buahnya menghadap, dengan gaya bak Boss  Mafia kakinya ditaruh diatas meja sambil membaca koran sedangkan bawahannya berdiri didepan sambil memberi laporan.

 

Sudah lama kita tidak mendengar sepak terjang Front Pembela Islam (FPI) Singkawang. Apakah misi yang diperjuangkan oleh organisasi ini tercapai semua? Atau terjadi perpecahan dalam tubuh organisasi ini sesudah “dikuliahi” oleh Anton Medan? Kalau disebabkan misinya sudah tercapai semua, jelas ini tidak mungkin. Dilapangan; kita menemukan masih banyak kemiskinan, ketidakadilan terjadi di kota Singkawang. Selama masih ada kemiskinan dan ketidakadilan seharusnya perjuangan mereka tidak akan berhenti. Kalau FPI Singkawang berhenti kegiatannya karena sesudah mendengar kuliah dan wejangan dari pak Anton Medan hal ini bisa terjadi. Karena Pak Anton berkunjung ke Singkawang atas sponsor Pak HK. Pak HK menitip beberapa “mantra” untuk FPI Singkawang via Pak Anton. Sekali mendengar “mantra Pak HK” para pengikut FPI Singkawang merasa bimbang dan terhibur bahkan bubar.

 

Kemudian Pak HK meminta Pak Anton Medan  meloby Pak Andi Hakin( petinggi Majelis Tao Indonesia). Tujuannya supaya Pak Andi menggeser ketua Majelis Tao Indonesia Resort Singkawang, Bapak Chai Ket Khiong(CKK). Selama ini Pak  CKK adalah suara yang mencerminkan ketidakpuasan komunitas Tionghoa Singkawang terhadap pemerintah Pak HK mengurus kota Singkawang.  Terlepas dari persoalan pribadi antara Pak HK dengan Pak CKK (janji Pak HK  memberi sumbangan Rp 40 juta kepada MTI resort Singkawang

 sebagai upah demo menjelang Pilkada yang lalu untuk memperlemah Pak Awang), suara FM pak CKK yang vokal itu sangat penting untuk kemajuan kota Singkawang. Seandainya tanpa suara itu, kehancuran kota Singkawang semakin  dekat. Kepentingan masyarakat dikorbankan untuk kepentingan kelompok, sektor ekonomi dikuasai oleh kelompok yang pro pak HK sehingga praktek ekonomi bersifat monopoli tidak bisa dihindarkan. Akibatnya, masyarakat Singkawang akan membayar harga mahal untuk  kebutuhan hidupnya.

Untuk mencabut  suara FM Radio  CKK supaya tidak merdu  lagi, maka Pak HK merasa perlu membuat tindakan nyata agar  pak CKK tidak berfungsi di masyarakat dengan cara; Pak CKK harus diusir dari posisi sebagai ketua Tao di Singkawang. Sebelumnya Pak HK  juga mengerjai puteri CKK agar tidak memperoleh izin praktek dokter umum di Singkawang.

Beberapa hari yang lalu Pak Andi meloby pihak Permasis (setelah pesanan order dari pak HK) supaya mempersiapkan seorang pengganti Pak CKK sebagai ketua Majelis Tao Indonesia Resort Singkawang. Dengan demikian Pak HK mencoba mendapat dua keuntungan sekaligus yaitu mencopot posisi Pak CKK dan sekaligus  mengadu domba antara Permasis dengan  umat Tao di Singkawang.

 

Cerita diatas adalah tentang cara pak HK menghadapi orang lemah yang tidak memiliki nilai ekonomi. Bagaimana menghadapi orang lemah memiliki nilai kepentingan ekonomi?

Mari kita mengikuti sebuah laporan hasil investigasi dari team CintaSingkawang dibawah ini:

Mungkin para pembaca CintaSingkawang masih ingat tentang pembangunan depot elpiji di Lirang, Kelurahan Sedau. Lokasi pembangunan depot ini bersebelahan  dengan kebun milik Pak Alex di Lirang dan bersebelahan  hutan lindung. Depot ini milik pak HK, dengan memakai nama orang lain sebagai pemilik. Cara ini bukan hal baru dalam praktek bisnis; istilah orang Singkawang mengatakan“ membuka toko suruh orang lain menjaganya”.

Penyaing group Pak HK untuk mendapat izin penyaluran elpiji yakni Pak Hendro Karlan ( Ahian). Group bisnis keluarga Pak Ahian di bidang  percetakan, toko komputer dan   pembangunan ruko. Dalam persaingan mendapat izin penyalur elpiji itu, tender ini dimenangkan oleh Pak Ahian. Karena lokasi depot elpiji milik pak Ahian memenuhi persyaratan; diantara persyaratan itu yakni jauh dari lingkungan perumahan masyarakat. Sedang depot milik group pak HK ini  dibangun di lingkungan perumahan masyarakat dan hutan lindung.

Untuk memberi pelajaran kepada Pak Ahian, Pak HK memakai orang lain untuk mengungkit tentang pembangunan ruko modern milik Pak Ahian  di jalan Sudirman, kelurahan Roban yang tidak memiliki izin (IMB). Sepintas lalu dalam berita PontianakPost edisi tanggal 15 Agustus 2011 itu, seakan akan ada nada sentimen atau  kecemburuan etnis kalau pembaca salah dalam menafsirkan berita tersebut.  Padahal pak HK memakai aktor etnis lain  untuk mengungkapkan hal ini supaya mendapat keuntungan maksimal; memberi pelajaran kepada group pak Ahian dan supaya mendapat  simpati dari komunitas Tionghoa Singkawang.  Padahal ini murni persaingan bisnis mendapat tender penyaluran antara group Pak HK dengan Pak Ahian.

 

Untuk menilai seseorang kita harus menilai pembuatan bukan perkataan. Sebagai orang besar seharusnya memperlakukan kepada mereka yang tidak beruntung itu secara terhormat, adil dan manusiawi.

 

CintaSingkawang, 18 September 2011