Sanggupkah  Pak Aliok mendirikan Permasis bayangan?

11Juni 2009
Komentar:

Pasca kekalahan Pak Lio Kurniawan dalam mempertahankan posisinya sebagai ketua PERMASIS, melalui sebuah pertarungan pemilihan ketua Permasis pada akhir bulan Mei yang lalu. Kekalahan tersebut sungguh menyakitkan perasaan Pak Aliok. Sebagai  Mantan ketua Permasis,Pak Aliok merasa tidak nyaman dengan posisi sekarang sebagai penasehat senior/mentor yang tidak berpengaruh dalam organisasi Permasis. Kita memahami posisinya sekarang, sangat tidak nyaman bagi seorang yang pernah menduduki  jabatan yang paling tinggi dalam suatu organisasi. Diumpamakan dalam kabinet  parlementer tempat duduk para anggota kabinet dan partai oposisi,dulu Pak Aliok duduk di “front bench”(baris paling depan). Karena duduk di posisi “front bench”kalau berbicara selalu mendapat perhatian orang,semua anggota Permasis akan terfokus kepada Beliau. Tidak seperti sekarang, posisinya sebagai penasehat tempat duduknya juga berubah menjadi “back bench”(baris belakang),disini tempat duduk bagi mereka yang tidak mempunyai rangking dan tidak berpengaruh terhadap kebijakan organisasi. Mereka yang duduk di“back bench” hanya menjadi pendengar dan selalu menjawab “yes” terhadap komentar temannya yang duduk di “front bench”.

 

Sebagai mantan ketua Permasis yang berpengaruh,Pak Aliok juga memiliki pengikut fanatik di Permasis. Pengikut Aliokisme ini memiliki rasa kesetiaankawanan dan kekompakan yang sangat tinggi diantara komunitas mereka. Sebagai bukti, sesudah pergantian ketua Permasis yang baru, banyak pengikut Pak Aliok menyatakan  mundur dari postnya yang mereka pegang selama Pak Aliok sebagai ketuanya.Kalau kita meninjau kembali program Permasis dibawah kepemimpian Pak Aliok ,seperti pada umumnya organisasi, ada program mereka yang sukses ada juga tidak memberikan hasil yang positif,alias gagal. Sebagai contoh, proyek Budi Pekerti,Dizi Gui(baca komentar). Tidak ada murid,anak-anak tidak mau  belajar sesuatu yang dapat membatasi pergaulan mereka,sesuatu tidak bisa diterapkan di dalam kehidupan mereka.Kalau tujuan Dizi Gui untuk  memperbaiki karakter komunitas kita jelas itu di luar kapasitas Permasis. Contoh lain,proyek sekolah 3 bahasa di kopisan.Sedikit murid yang mau belajar di sekolah tersebut, karena standarnya belum diakui oleh badan pendidikan nasional.Membangun rumah duka yang digembargemborkan pak Aliok tidak pernah direalisasi, katanya proyek ini tidak mendapat dukungan. Kebijakan SK 138 yang bermasalah .

Proyek yang sukses besar dibawah kepemimpinan Pak Aliok yaitu bersepeda ria,gerak jalan sehat, sumbangan untuk acara  MTQ di Singkawang.

Menurut mereka yang mengamati Bonghiongcosiauselogy (ilmu untuk mempelajari tingkah laku orang Singkawang,Bong Hiong Co Siau Se +logy) berpendapat bahwa Pak Aliok  cocok menangani proyek yang memberikan dampak seketika,istilahnya “soda efek”.Kalau  type proyek seperti itu ditangani oleh Pak Aliok pasti sukses besar.

Kita mengharapkan selama Pak Aliok refreshing di kota Singkawang .Dapat menghasilkan suatu pemikiran mendirikan sebuah organisasi yang baru yang dapat menyaingi Permasis,NEOPERMASISME.Sanggupkah Pak Aliok mendirikan satu organisasi yang baru? Inilah menjadi pertanyaan dan teka teki bagi seluruh komunitas Tionghoa Singkawang pada saat ini terutama para pengikut setianya.Pak Aliok, Cia you!!!

CintaSingkawang,11 Juni 2009