|
Pasca kekalahan Pak
Lio Kurniawan dalam mempertahankan
posisinya sebagai ketua PERMASIS,
melalui sebuah pertarungan pemilihan
ketua Permasis pada akhir bulan Mei yang
lalu. Kekalahan tersebut sungguh
menyakitkan perasaan Pak Aliok. Sebagai
Mantan ketua Permasis,Pak
Aliok merasa tidak nyaman dengan posisi
sekarang sebagai penasehat senior/mentor
yang tidak berpengaruh dalam organisasi
Permasis. Kita memahami posisinya
sekarang, sangat tidak nyaman bagi
seorang yang pernah menduduki
jabatan yang paling tinggi dalam
suatu organisasi. Diumpamakan dalam
kabinet parlementer
tempat duduk para anggota kabinet dan
partai oposisi,dulu Pak Aliok duduk di
“front bench”(baris paling depan).
Karena duduk di posisi “front
bench”kalau berbicara selalu mendapat
perhatian orang,semua anggota Permasis
akan terfokus kepada Beliau. Tidak
seperti sekarang, posisinya sebagai
penasehat tempat duduknya juga berubah
menjadi “back bench”(baris belakang),disini
tempat duduk bagi mereka yang tidak
mempunyai rangking dan tidak berpengaruh
terhadap kebijakan organisasi. Mereka
yang duduk di“back bench” hanya menjadi
pendengar dan selalu menjawab “yes”
terhadap komentar temannya yang duduk di
“front bench”.
Sebagai mantan ketua
Permasis yang berpengaruh,Pak Aliok juga
memiliki pengikut fanatik di Permasis.
Pengikut Aliokisme ini memiliki
rasa kesetiaankawanan dan kekompakan
yang sangat tinggi diantara komunitas
mereka. Sebagai bukti, sesudah
pergantian ketua Permasis yang baru,
banyak pengikut Pak Aliok menyatakan
mundur dari postnya yang mereka
pegang selama Pak Aliok sebagai ketuanya.Kalau
kita meninjau kembali program Permasis
dibawah kepemimpian Pak Aliok ,seperti
pada umumnya organisasi, ada program
mereka yang sukses ada juga tidak
memberikan hasil yang positif,alias
gagal. Sebagai contoh, proyek Budi
Pekerti,Dizi
Gui(baca komentar). Tidak ada
murid,anak-anak tidak mau belajar
sesuatu yang dapat membatasi pergaulan
mereka,sesuatu tidak bisa diterapkan di
dalam kehidupan mereka.Kalau tujuan Dizi
Gui untuk memperbaiki
karakter komunitas kita jelas itu di
luar kapasitas Permasis. Contoh
lain,proyek sekolah 3 bahasa di
kopisan.Sedikit murid yang mau belajar
di sekolah tersebut, karena standarnya
belum diakui oleh badan pendidikan
nasional.Membangun
rumah duka yang digembargemborkan pak
Aliok tidak pernah direalisasi, katanya
proyek ini tidak mendapat dukungan.
Kebijakan SK 138 yang bermasalah .
Proyek yang sukses
besar dibawah kepemimpinan Pak Aliok
yaitu bersepeda ria,gerak jalan sehat,
sumbangan untuk acara MTQ
di Singkawang.
Menurut mereka yang
mengamati Bonghiongcosiauselogy (ilmu
untuk mempelajari tingkah laku orang
Singkawang,Bong Hiong Co Siau Se
+logy) berpendapat bahwa Pak Aliok
cocok menangani proyek yang
memberikan dampak seketika,istilahnya
“soda efek”.Kalau
type proyek seperti itu ditangani oleh
Pak Aliok pasti sukses besar.
Kita mengharapkan
selama Pak Aliok refreshing di
kota
Singkawang .Dapat menghasilkan suatu
pemikiran mendirikan sebuah organisasi
yang baru yang dapat menyaingi
Permasis,NEOPERMASISME.Sanggupkah Pak
Aliok mendirikan satu organisasi yang
baru? Inilah menjadi pertanyaan dan teka
teki bagi seluruh komunitas Tionghoa
Singkawang pada saat ini terutama para
pengikut setianya.Pak Aliok, Cia you!!!
|