Mafia tanah merajalela di kota Singkawang

14Juni 2009
Komentar:

Masyarakat Singkawang sangat prihatin terhadap para mafia tanah sedang merajalela di kota kita yang tercinta,Singkawang. Terutama bagi mereka yang berekonomi lemah yang tinggal di pedesaan atau dipinggiran kota Singkawang merasa tidak berdaya menghadapi mafia tanah atau spekulator tanah asal Jakarta itu. Aksi para mafia tanah yang berasal dari Jakarta ini, sangat meresahkan dan merugikan masyarakat miskin sebagai petani yang hidup di desa. Harga tanah menjadi sangat mahal,harga sewa lahan dan kebun menjadi mahal bagi petani. Pendapatan  mereka berkurang karena harus membayar harga sewa yang tinggi,sehingga penghasilan mereka tidak dapat mensejahterakan keluarga mereka dan standard hidup mereka merosot.  Mafia tanah merajalela di kota Singkawang dipertanyakan oleh masyarakat Singkawang karena hal ini terjadi selama Pak Hasan Karman menjadi wako Singkawang. Apakah para mafia tanah itu ada hubungan dengan Pak Hasan Karman? Kita tidak tahu pasti akan hal ini.  Tetapi ada satu hal sudah kita tahu pasti, siapa mereka. Apabila kita mengunjungi  kawasan pedesaan di sekitar kota Singkawang. Kalau kita bertanya kepada masyarakat setempat siapa pemilik tanah atau kebun ini? Anda jangan heran kalau Anda mendapat jawaban nama pemiliknya Anda kenal atau namanya sangat familiar ditelinga Anda,seperti ini: “kebun(tanah) ini milik Pak Aliok,Pak Asan,Pak Chin Miau Fuk,Pak Simon,Pak Reinhard dll”.

 

Masalah merajalela mafia tanah di kota Singkawang,juga mendapat  perhatian serius pada elite Tionghoa Singkawang di Jakarta maupun tokoh masyarakat setempat.

 

Ada beberapa hal yang menyebabkan para mafia tanah ingin menguasai tanah di kota Singkawang:

 -Ada rencana membangun bandara udara Singkawang Spektakuler yang lokasinya tidak menentu itu. Pada mafia tanah membeli lahan yang akan menjadi lokasi pembangunan bandara. Dengan harapan pada investor bandara membeli lahan dari mereka. Sayangnya, izin untuk bandara Singkawang Spektakuler(Skw-Ptk) itu tidak  menarik perhatian para investor yang siap rugi.

Banyak pihak di Singkawang meyakini isu Bandara ini sengaja dihembus-hembuskan agar dapat mendongkrak harga tanah .

-Burung Walet: Belum ada peraturan Pemda yang mengatur(membatasi) pembangunan rumah walet di kota Singkawang.Dari hari ke hari rumah walet semakin bertambah banyak di kota Singkawang. Kebutuhan bata meningkat untuk membangun rumah walet.Pada mafia tanah memanfaatkan lemahnya conduct of law enforcement yang dilakukan oleh  pemerintah Pak Hasan Karman terhadap galian C.Pada mafia tanah mencari keuntungan dengan cara memproduksi bata untuk kebutuhan pembangunan rumah walet.

Penduduk yang hidup di sekitar galian itu harus menanggung resiko dari kerusakan lingkungan,bekas galian tersebut digenang air menjadi saran nyamuk. Nyamuk membawa berbagai penyakit yang dapat mengancam kesehatan masyarakat .

 

Secara hukum memang tidak melarang(mengatur) warganegara Indonesia dalam hal pemilikan luas tanah yang boleh dimiliki oleh  setiap individu.Setiap warganegara berhak memiliki tanah dimana saja.Secara hukum aksi mafia tanah tidak melanggar hukum  tetapi bagaimana dari segi moral isu dalam hal ini? Apakah  kita merasa kaya atau sanggup memberi  semua supermie yang dijual di toko  Singkawang kita beli semua?  Tanpa memikirkan mereka yang benar-benar membutuhkan supermie untuk  hidup? Seandai semua orang kaya berhati demikian betapa kacau dunia ini.

Menurut komentar dari salah satu tokoh senior masyarakat Tionghoa Singkawang yang tinggal di Singkawang Selatan meminta identitasnya jangan dicantumkan mengatakan:"mereka(mafia tanah) sudah sukses diperantauan, seharusnya dengan kekayaan dan pengetahuan mereka miliki untuk membantu  masyarakat kita yang tidak beruntung itu.Dengan mengembangkan proyek yang dapat meningkatkan standar hidup komunitas kita yang miskin sehingga nilai-nilai kemanusiaan dimuliakan. Jangan memakai kekayaan yang mereka dapat diperantauan dibawa pulang kesini menciptakan Feudalism.Saya kecewa dengan moral mereka,apalagi ada mantan pemimpin Singbebas disitu sebagai mafia tanah. Sebagai pemimpin tidak memahami moral isu." Tentu saja kita mengerti siapa yang dimaksudkan oleh tokoh msyarakat kita itu.

 

CintaSingkawang,14 Juni 2009