|
Hai,Cinta!
Dalam situasi apapun, aku merasa kau
adalah tetap sahabatku. Kau adalah Orang
yang dapat mengerti akan kesulitan yang
sedang aku hadapi sekarang dan
yang akan datang. Kau adalah sahabatku
yang mau mendengar keluh kesahku.
Sikapmu yang penuh dengan pengertian itu,
membuat aku tidak segan
mengakui kesalahanku. Kau adalah
sahabatku, tempat untuk berdiskusi dan
berdebat, membuat pembicaraan
kita tentang membangun kota Singkawang
Spektakuler menjadi sangat seru.
Orang lain sering salah
dalam menafsirkan perkataanku,
sehingga menimbulkan Polemik
seperti peristiwa terjadi dua minggu
yang lalu.
Aku merasa seperti “menggurui”
para guru dalam acara pertemuan
pengurus PGRI Singkawang untuk
memperkenalkan metode spektakuler
cara menyejahterakan para guru di
kota Singkawang. Dengan harapan, jika
kehidupan para guru dapat disejahterakan
maka mutu pendidikan di kota Singkawang
dapat ditingkatkan. Dihadapan mereka,
aku menyatakan para anggota DPRD periode
sekarang tidak selevel dengan eksekutif.
Maksud aku, mereka bukan teman
berdiskusi dan berdebat yang baik
karena mereka tidak selevel. Partner
yang tidak selevel mana mungkin dapat
diajak kerjasama. Buktinya permintaanku
mengenai defisit
APBD sebesar Rp.45.872.906.415,00
tidak pernah mereka setujui. Aku
juga mengatakan ”Pak
Tasman (Mantan Ketua PGRI) adalah guru
olahraga saya waktu SMP. Beliau akan
maju sebagai caleg dari Partai Gerindra.
Ini harus didukung. Saya mengimbau PGRI
nanti ikut bertanggung jawab untuk
menghasilkan dewan yang lebih baik,
jangan sia-siakan hak pilih kita. Saya
sambut baik figur-figur potensial untuk
maju sebagai caleg pemilu 2009”.
Untung, pada waktu itu tidak
ada guru yang memprotes akan perkataanku.
Seandainya ada maka betapa malunya aku
karena pada pertemuan tersebut aku
memakai baju safari dengan pin (pakaian
dinas). Seharusnya dalam kapasitas
sebagai wako dalam pertemuan resmi (dinas),
aku tidak pantas mengatakan masalah
ambisi perseorangan,partai, atau memberi
dukungan kepada caleg secara terbuka.
Tindakan yang tidak menurut pratokol ini,
akan menimbulkan pertanyaan
tentang mutu level yang aku miliki.
Ah,aku membuat kesalahan kecil,
Cinta ! Seharusnya aku tidak paranoia
tentang masalah level.
Oh,Cinta! Satu hal yg sangat
menyakitkan perasaanku yaitu mendengar
kritikan tajam dari masyarakat yang
menyebut aku belum mampu berbuat banyak
selama sepuluh bulan duduk dibangku
orang nomor satu itu. Aku harus
mengembangkan immunilitas untuk
menghadapi kritikan seperti itu
yang dimuat di koran lokal ataupun
menjadi bahan cerita di warung kopi. Ada
yang mengatakan janjiku akan membawa
investor ke kota Singkawang hanya
merupakan “dongeng siang bolong”.
Ada juga yang mengatakan itu hanya
cerita klasik . Untuk menghadapi
kritikan semacam itu, terpaksa aku
memberi sebuah analogi ini ‘"Kita ambil
contoh, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo
yang sebelumnya wakil gubernur juga
perlu pembenahan mendasar. Berhubung
perbedaan visi misi dari gubernur
terdahulu”. Aku tahu, argumentasi ini
sangat lemah dan tidak dapat diterima
oleh masyarakat Singkawang secara umum.
Aku memahami betul “adatnya” orang
Singkawang,mereka ”tidak peduli” dengan
wako Jakarta bagaimana cara
dia membangun kota Jakarta . Tetapi,
orang Singkawang “sangat peduli” akan
wakonya yang membangun dan
memajukan kota Singkawang. Dengan
perkataan lain, masyarakat Singkawang
tidak peduli akan wako Jakarta bagimana
dia menangani pembangunan diwilayahnya
karena ini tidak mempengaruhi terhadap
kehidupan masyarakat Singkawang secara
langsung. Sebaliknya, ada masyarakat (orang)Jakarta
yang sangat menaruh perhatian
tentang pembangunan dan perkembangan
kota Singkawang. Sebagai contoh, seperti
Pak Aliok, Pak Akhiong, Pak Asan, Pak
Miau Fuk, dll.
Ada satu keistimewaan
yang melekat pada jiwa setiap
orang Singkawang , yaitu rasa cinta
begitu besar terhadap kota
kelahirannya yaitu Singkawang. Mungkin
ini pengaruh gen terhadap setiap anak
yang lahir di Singkawang. Mereka ini
selalu bersedia berbakti untuk
kota kelahirannya tanpa merasa
dikomandani oleh organisasi sosial
tertentu.
Sebagai sahabat, dengan
kerendahan hati Cinta ingin memberi
sedikit masukan untuk menghadapi
kritikan terhadap ketidakberhasilan
proses penarikan investor untuk masuk ke
Singkawang.
Tiba-tiba aku mendengar suara
bangun..bangun,pak!.”Bangun,pak! “ Aku
terbangun dari tidurku kemudian aku
bertanya kepada istriku:” Ada apa Ibu
?”. Istriku tersayang dengan suara
lembutnya menjawab:”Sudah jamnya bangun
tidur,siap-siap pergi ke kantor untuk
menyiapkan THR karena lebaran sudah
dekat” . ”Oh,Bu.Baru enak
tidur,dibangunkan “jawabku dengan letih
dan masih ingin terbaring diranjang. “
Bapak,mimpi lagi?”tanya istriku.”Iya,berbincang-bincang
dengan
sahabatku,CintaSingkawang”,jawabku
dengan memberi penjelasan kepada istriku.”Syukur,syukur.Ketemu
dengan cinta,dia ramah dan sopan
terhadap saya.”,kata istriku.”. Apakah
bapak mendapat inspirasi dari Cinta?”,istriku
bertanya dengan nada interogasi . “Ya,Bu”
jawabku singkat. Memang,aku harus
berhati-hati mengeluarkan statement
karena musuh-musuh politik aku sedang
menyusun kekuatan mereka utk menyerang
aku,seperti yang telah dibisikan cinta
kepadaku dalam mimpi.
|