Kursi Listrik (Thian Ten)

10 Oktober 2008
Renungan:

Kita semua sudah tahu apa yang disebut  KURSI. Dengan memakai bahasa sederhana kita dapat  melukiskan apa yang disebut kursi, yaitu tempat untuk duduk.Ada bermacam-macam jenis kursi seperti kursi makan,kursi malas. Kursi  juga sebagai symbol kekuasaan atau kedudukan terutama didalam dunia birokrasi. Kita sering mendengar suatu pernyataan seperti ini; dia menduduki kursi walikota, partai politik yang dia pimpin menguasai jumlah sekian kursi di parlemen. Kursi juga bermakna perlindungan dalam konteks “ayat ayat kursi”. Ditinjau dari bahasa kita pengertian kursi lebih memberikan makna positip seperti “kenyamanan,perlindungan,kedudukan” daripada bermakna  negatip.

Namun demikian, paling tidak ada tiga jenis kursi yang harus dihindari dan jangan pernah kita berniat menduduki diatas kursi tersebut.Yaitu:

Kursi pesakitan,orang yang duduk di kursi pesakitan adalah orang hukuman(terdakwa).Apabila orang duduk di kursi pesakitan dalam suatu perkara di pengadilan, jika secara hukum terbukti bersalah orang tersebut akan mendapat hukuman.Namanya hukuman,bukan hal yang  enak untuk dinikmati.

Kursi roda(wheelchair),pada umumnya orang yang duduk diatas kursi roda adalah orang lumpuh atau orang  yang menderita cacat.Karena terbatasan fisiknya dapat bergerak dari satu tempat ketempat lain orang lumpuh memerlukan kursi roda untuk mempermudah mobilitas didalam kehidupannya. Kursi roda dapat digerakan dengan memakai tenaga listrik supaya orang lumpuh dapat mengontrolnya tanpa harus dibantu orang lain.

Kursi listrik(electric chair) adalah alat  untuk mengeksekusi para penjahat yang mendapat hukuman mati.Penjahat yang  akan dieksekusi didudukan diatas kursi listrik kemudian listrik dinyalakan  dalam waktu hitungan detik saja penjahat tersebut akan mati.

Bagaiman menurut pengertian dalam bahasa Tionghoa Singkawang /San Kheu Jong hakfa  tentang Kursi listrik(Thian Ten),mari ikut cerita berikut ini.

Pada akhir bulan September 2008 yang lalu, rombongan pengurus Permasis mengunjungi daerah  Kalbar.Rombongan ini dipimpin oleh ketua dewan pembina Permasis, Pak Agus(Siauw Kim On).Ketua Permasis ,Pak Aliok tidak ikut dalam kunjungan ini.Rombongan ini tiba di Pontianak  langsung  meninjau  kantor koran Borneo Tribune.Pak Agus ditemani oleh Pak Akhiong. Pak Akhiong  sebagai komisaris utama  koran Borneo Tribune.Koran ini baru berusia beberapa bulan saja,dengan harga eceran  Rp.1000/ eks.Dari segi ekonomi,koran tersebut memberi subsidi kepada pembacanya dengan harga jual yang sangat murah.

Setelah mengunjungi kota Pontianak,rombongan Permasis ini melanjutkan perjalanannya  menuju kota Singkawang.Di kota Singkawang rombongan ini  mengadakan pertemuan  dengan wako kita,Pak Hasan Karman.Ketika dalam pertemuan tersebut Pak Agus memberikan wejangan yang sangat berharga kepada wako kita yang juga adalah mantan anak buahnya di Barito .Kata Pak Agus”jangan lupa diri dengan kedudukan”. Nasehat dari Pak Agus ini merupakan hasil dari sebuah observasi terhadap tingkah laku komunitas Tionghoa Singkawang dalam kehidupan Beliau .Selama puluhan tahun Beliau bekerja diperusahaan Barito  Group,Beliau telah berjasa  besar dalam hal memberikan kesempatan  kepada komunitas orang Singkawang  untuk bekerja di perusahaan  tersebut.Selama itu juga Beliau telah banyak melihat tingkah laku anak buahnya.Ada  yang bersifat penjilat,ada yang merasa berkuasa lupa dengan daratan , tidak menghargai orang lain dll.Beliau memahami betul sifat orang  berkuasa sering lupa diri.Beliau tidak ingin mantan anak buahnya bersikap demikian maka Beliau mengingatkan kepada Pak wako kita.

Didepan ex bosnya Pak wako kita mengaku posisi dia seperti sedang duduk diatas kursi listrik.(thian ten).Tentu saja yang dimaksudkan oleh wako kita yaitu kekuasaannya seperti duduk di atas kursi listrik tidak bisa bergerak seperti orang lumpuh saja.Karena dalam bahasa Tionghoa Singkawang kata thian ten juga diartikan Kursi roda(wheelchair).Maksudnya kebijakan yang dihasilkan tidak bisa berjalan sehingga Beliau menyadari bahwa memimpin masyarakat itu sangat berbeda tidak seperti memimpin  pegawai diperusahaan swasta.Apalagi harus menghadapi anak-anak nakal di taman dewan yang tidak mau berkompromi, mereka itu memiliki pandangan politik  yang sangat berbeda yang menurut istilah pak wako kita tidak level. Memang kekuasaan sangat berbeda dengan memimpin.Kekuasaan tanpa kemampuan memimpin sama saja seperti kapal yang kehilangan kompas,sulit untuk mencapai tujuan untuk membangun kota Singkawang spektakuler.

 

CintaSingkawang,10 Oktober 2008