Sanggupkah Perayaan Cap Go Meh memberi kontribusi pembangunan Singbebas?

Darlius ketua MABT di TV One tgl 04/03/2011 malam :”Mana janji-janji kampanye HK?

06 Maret 2011
Komentar:

Kita tidak tahu pasti seberapa dampak pertumbuhan ekonomi yang bisa  didapat dari perayaan CGM di Singbebas setiap tahunnya. Akan tetapi ada satu hal yang sudah kita ketahui secara pasti yaitu setiap tahun miliaran rupiah dana dari masyarakat dihabiskan tanpa mencapai suatu sasaran nilai ekonomi yang jelas. Mempromosi suatu event dengan memakai dana dari publik dan dana pemerintah (dana milik rakyat, sebagai pembayar pajak) tanpa mendatangkan manfaat ekonomi yang dapat meningkatkan  standar kehidupan masyarakat di sana. Negeri ini sudah sarat dengan berbagai event, baik itu berupa event  budaya, agama dll. Pada intinya setiap perayaan event itu memerlukan biaya yang tidak sedikit.

 

Sekedar contoh, CGM Singkawang. Setiap tahun  perayaan CGM Singkawang memakan biaya miliaran rupiah, diperkirakan selama lima tahun paling tidak menghabiskan biaya 10 - 15 miliar rupiah. Seandainya 60 persen dari dana masayarakat dan pemerintah yang dihabiskan untuk perayaan CGM  itu  diinvestasikan ke dalam proyek pengentasan kemiskinan di kawasan Singbebas. Kita percaya  akan memberi kemanfaatan bagi masyarakat yang memerlukan. Mungkin komunitas kita,Tionghoa Singbebas tidak salah belajar lebih banyak pengalaman dari Muhammad Yunus (Bangsa Bangdesh, pemenang hadiah Nobel) cara  memberi mikro kredit kepada penduduk miskin untuk membantu mereka membangun kredit dan keuangan secara swasembada.

 

Menurut pihak  panitia CGM  tujuan perayaan CGM  selain bernilai  religius dan Budaya,  dapat menyejahterakan para Tatung dan keluarganya, merangsang pertumbuhan ekonomi melalui promosi pariwisata. Kita tidak percaya dengan tunjangan sebesar beberapa juta rupiah yang  diberikan dari pihak panitia kepada para Tatung dapat mengubah atau mensejahterakan kehidupan para Tatung dan keluarganya. Karena untuk mensejahterakan kehidupan perlu suatu usaha stimulat secara berkesinambungan, dalam pengertian  manajemen sistim “pembinaan”.

Pariwisata? Sudah sangat jelas, perayaan CGM masih belum memenuhi persyaratan disajikan kepada masyarakat internasional. Baik dari segi kualitas acara CGM ataupun fasilitas umum yang dimiliki kota Singkawang. Tanpa dijual ke market Internasional, CGM tidak mendatangkan nilai ekonomi. Kalau mengharapakan wisatawan domestik, paling–paling tamu dari Jakarta kemudian bermalam di rumah Pak Aliok di kawasan Sinnam , tamu  takut bermalam di hotel karena banyak nyamuk, kalau hujan atap hotel  kebocoran.

Selain kualitas, acara CGM dirancang bukan acara untuk keluarga, anak anak di bawah umur sudah seharusnya tidak menyaksikan acara yang sarat dengan adegan sadisme.

 

Perayaan CGM Singkawang bahkan seluruh perayaan CGM yang ada  Kalbar sudah merupakan agenda tersembunyi untuk kepentinang politik  . Dimanfatakan oleh mereka yang berkepentingan politik, dan  mereka yang mencari keuntungan ekonomi secara individu. Para oportunis ini memprogandakan sebuah persepsi kepada etnis Tionghoa Kalbar bahwa hanya dibawah pemerintah Gubernur atau Walikota dari etnis tertentu saja para etnis Tionghoa dapat merayakan CGM secara bebas dan mewah. Padahal siapa saja dan dari etnis apa saja yang menjadi pemimpin Kalbar atau pemimpin Kota Singkawang akan memberi kebebasan kepada etnis Tionghoa merayakan hari besar mereka, ini amanat reformasi. Karena kebebasan ini dilindungi oleh undang-undang Negara kita.  Sejarah telah membuktikan bahwa budaya dan agama yang dianut etnis Tionghoa Kalbar dapat survive selama ratusan tahun di bumi Kalbar walaupun telah banyak menghadapi pelbagai tantangan jaman.

Pada era reformasi ini, seorang pemimpin selalu memikirkan konsekwensi di kotak suara jika bertindak  tidak sesuai dengan prosedur yang ada .

Disamping itu, masyarakat merasa perayaan CGM 2011 Singkawang sudah bergeser nilai ritual keagamaan dan budaya.  Kehadiran tatung amoy sexy dengan memakai celana pendek yang memamerkan paha mulus. Dibandingkan dengan era Kenny Kumala mengurus CGM hal-hal seperti itu; tatung pamer paha dan  kekerasan sangat dilarang keras. Karena Pak Kenny sangat memperhatikan masalah nilai budaya  dan moral. Perayaan CGM  harus dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat.

 

Sejauh ini, perayaan CGM Singkawang bukan merupakan perayaan yang bebas dinikmati masyarakat umum. Walaupun Pak Cornelius mengatakan hiburan gratis dari pemerintah untuk rakyat, masyarakat bebas menikmati perayaan CGM , sumbangan pemprov seratus juta rupiah dan sumbangan pemkot Singkawang ratusan juta rupiah sebagai jaminan. Tetapi dalam kenyataannya, menurut  laporan oleh kru TV One Jakarta dalam Acara jejak malam menemukan dilapangan pihak panitia memungut bayaran dari penonton( masyarakat). Jelas tindakan pihak panitia yang tidak sesuai dengan prosedur, mencari keuntungan, dan  merugikan masyarakat Singkawang.  Sudah sepantasnya hal ini diusut. Terutama pada anggota legislatif sebagai wakil rakyat memiliki kewajiban  mempertanyakan hal ini kepada pemkot. Karena sumbangan pemkot untuk perayaan CGM itu sudah merupakan uang rakyat, sebagai bagian biaya menonton CGM yang harus dibayar masyarakat Singkawang.

 

Dalam acara TV One tersebut menurut pendapat Pak Eddy Darlius ketua MABT (MABT bayangan hasil rekayasa oleh HK  untuk menghadapi  MABT group Pak Frans Tshai QQ PoFat ) “apa artinya perayaan CGM Singkawang secara mewah  jika masyarakat masih banyak yang miskin dan hidup mereka susah”. Pak Darlius juga menegaskan bahwa pemerintah Pak HK “gagal” dalam pengentasan kemiskinan di kota Singkawang seperti yang dilansir oleh TV One banyaknya anak-anak Tionghoa yang drop- out sekolah, fenomena kopi pangku di kawasan Saliung ,trafficking amoy-amoy Singkawang”. Dimana Janji-janji kampanye HK akan banyak pabrik yang  hadir kalau dirinya terpilih sebagai wako.

 

Tidak mungkin membangun daerah Singbebas dengan perayaan CGM.  Tetapi dengan semangat CGM , mungkin kita dapat mengumpulkan dana untuk diinvestasikan ke dalam proyek  pengentasan kemiskinan dapat merangsang pertumbuhan ekonomi di kawasan Singbebas. Sudah pada saatnya sebagai komunitas Tionghoa Singbebas, kita  memikirkan suatu cara ke depan memberdayakan dana masyarakat untuk pembangunan riil. Bukan menghabiskan dana masyarakat untuk perayaan event religius atau Budaya yang tidak begitu jelas manfaatnya untuk kehidupan nyata. Kalau kebiasaan ini kita teruskan:” tidak ada bedanya dengan etnis lain sering kita kritik dalam hati kita bahwa mereka menghabiskan dana percuma untuk event tidak ada gunanya”.


 
CintaSingkawang,06 Maret 2011