|
Wajahnya berseri-seri ketika Pak wako
kita menyampaikan kabar gembira kepada
Cinta bahwa Beliau telah mengantongi
surat
izin cuti untuk melaksanakan kampanye
pemilu.Sebagai ketua Dewan Pimpinan
Rakyat Daerah Partai Indonesia Baru
Kalbar,Beliau menyadari tanggungjawabnya
sangat besar. Berhasil atau gagal,
partai yang Beliau pimpin ini mendapat
kursi di DPRD pada pemilu nanti akan
sangat tergantung dari strategi
bagaimana berkampanye.Khusus dikandang
sendiri(kota Singkawang), masyarakat
akan menilai apakah Partai PIB Kalbar
dibawah kepemimpinan Pak Hasan Karman
akan berhasil mendapatkan kursi di DPRD
dalam jumlah yang signifikan
dibandingkan dengan kepemimpinan partai
yang di era terdahulu,Pak Bong Wui Khong.
Pada hari cuti pertama,Pak Wako kita
memakai jas partai PIB.Kelihatan Beliau
lebih muda,langsing dan ganteng
kalau memakai jas
partai PIB. Pak wako kita selalu
ditemani ketua partai PIB Singkawang
bayangan,Pak Budiman. Disamping itu Pak
wako kita dibantu oleh private
assistennya yang bernama A Ti alias Pak
Lim Kim Jie. Ketika rombongan ini
mengadakan sosialisasi di lingkungan
komunitas Tionghoa Singkawang di sekitar kota Singkawang, Pak A Ti memakai doktrin gaya kampanye khas group
Pak Hasan Karman dengan cara
memprovokasi kebencian terhadap lawan
politiknya tanpa
memberikan argumentasi yang
jelas,misalnya bertanya kepada
masyarakat kenapa Kalian mendukung
partai si Botak kan sudah dibenci
masyarakat. Menurut pendapat
masyarakat, metode ini
dikembangkan oleh Pak Budiman untuk
memecah belah dan memprovokasi kebencian
diantara komunitas Tionghoa Singkawang
untuk tujuan politik mereka. Atau metode
ini menurut anak tetangga Pak Hasan
Karman,A Loy yang menyebutnya
“character assassin”.
Apapun namanya motede tersebut, yang
jelas itu adalah
cara-cara yang tidak manusiawi,tidak
elegan,serta sudah ketinggalan
zaman. Dengan cara memprovokasi
masyarakat,seperti komunitas Tionghoa
tidak memiliki kebebasan untuk memilih
partai yang mereka sukai. Menghalangi
komunitas kita memilih partai politik,
ini sangat tertentangan dengan konsep
ajaran Budi Pekerti /Dizi
Gui(baca
pertanyaan dari Ibu yenny Rustiana Yap)
yang dikembangkan oleh
Permasis.Menghalangi mereka berarti
tidak menghormati pilihan mereka.
Sudah dapat kita pastikan Pak Aliok
adalah pihak yang pasti kecewa melihat
kelompok ini,tidak memahami
Budi Pekerti /Dizi
Gui, memecah belah komunitas
kita.Akibatnya, rasa percayaan komunitas
kita terhadap pemimpin akan semakin
berkurang.
Dari fakta statistik ,seharus caleg
yang dijagoi mereka akan terpilih tanpa
harus memprovokasi kebencian diantara
komunitas Tionghoa Singkawang.Pada
pemilu ini ada 4 ratusan caleg yang ikut,
51 caleg diantaranya adalah
warga Tionghoa.Semua akan kebagian kalau
ada kerjasama dan koordinasi di dalam
komunitas kita.
|