Gaya kampanye khas Pak Hasan Karman

20 Maret 2009
Komentar:

Wajahnya berseri-seri ketika Pak wako kita menyampaikan kabar gembira kepada Cinta bahwa Beliau telah mengantongi surat izin cuti untuk melaksanakan kampanye pemilu.Sebagai ketua Dewan Pimpinan Rakyat Daerah Partai Indonesia Baru Kalbar,Beliau menyadari tanggungjawabnya sangat besar. Berhasil atau gagal, partai yang Beliau pimpin ini mendapat kursi di DPRD pada pemilu nanti akan sangat tergantung dari strategi bagaimana berkampanye.Khusus dikandang sendiri(kota Singkawang), masyarakat akan menilai apakah Partai PIB Kalbar dibawah kepemimpinan Pak Hasan Karman akan berhasil mendapatkan kursi di DPRD dalam jumlah yang signifikan dibandingkan dengan kepemimpinan partai yang di era terdahulu,Pak Bong Wui Khong.

Pada hari cuti pertama,Pak Wako kita memakai jas partai PIB.Kelihatan Beliau lebih muda,langsing dan ganteng  kalau  memakai jas  partai PIB. Pak wako kita selalu ditemani ketua partai PIB Singkawang bayangan,Pak Budiman. Disamping itu Pak wako kita dibantu oleh private assistennya yang bernama A Ti alias Pak Lim Kim Jie. Ketika rombongan ini mengadakan sosialisasi di lingkungan komunitas Tionghoa Singkawang di sekitar kota Singkawang, Pak A Ti memakai doktrin gaya kampanye khas group Pak Hasan Karman dengan cara memprovokasi kebencian terhadap lawan politiknya  tanpa memberikan argumentasi yang jelas,misalnya bertanya kepada masyarakat kenapa Kalian mendukung partai si Botak kan sudah dibenci masyarakat. Menurut pendapat  masyarakat, metode ini dikembangkan oleh Pak Budiman untuk memecah belah dan memprovokasi kebencian diantara komunitas Tionghoa Singkawang untuk tujuan politik mereka. Atau metode ini menurut anak tetangga Pak Hasan Karman,A Loy yang  menyebutnya “character assassin”. Apapun namanya motede tersebut, yang jelas  itu adalah cara-cara yang tidak manusiawi,tidak elegan,serta sudah ketinggalan zaman. Dengan cara memprovokasi masyarakat,seperti komunitas Tionghoa tidak memiliki kebebasan untuk memilih partai yang mereka sukai. Menghalangi komunitas kita memilih partai politik, ini sangat tertentangan dengan konsep ajaran Budi Pekerti /Dizi Gui(baca pertanyaan dari Ibu yenny Rustiana Yap)  yang dikembangkan oleh Permasis.Menghalangi mereka berarti tidak menghormati pilihan mereka.

Sudah dapat kita pastikan Pak Aliok adalah pihak yang pasti kecewa melihat kelompok ini,tidak memahami Budi Pekerti /Dizi Gui, memecah belah komunitas kita.Akibatnya, rasa percayaan komunitas kita terhadap pemimpin akan semakin berkurang.

 

Dari fakta statistik ,seharus caleg yang dijagoi mereka akan terpilih tanpa harus memprovokasi kebencian diantara komunitas Tionghoa Singkawang.Pada pemilu ini ada 4 ratusan caleg yang ikut, 51 caleg diantaranya  adalah warga Tionghoa.Semua akan kebagian kalau ada kerjasama dan koordinasi di dalam komunitas kita.

 

CintaSingkawang,20 Maret 2009