Permainan “kartu Setda”

04 Maret 2011

Komentar:

Ketika  anak tetangga Pak HK, Hendy Lie sedang menghitung beberapa jumlah hadiah MURI yang telah diperoleh  Kota Singkawang selama masa pemerintahan wako kesayangannya. Pak HK berkata kepada anak tetangganya:”Hen, jangan lupa tambahkan satu lagi hadiah MURI untuk keterlambatanku menyelesaikan tugasku menyusun Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) kota Singkawang” . “Iya, Suk. Saya akan menambahkan hadiah MURI yang sangat istimewa itu! “. “Sau Suk” akan tercatat sebagai wako paling lelet di Indonesia” jawab Hendy kepada tuannya. “Ah” jawab Pak HK, sambil meneruskan membaca berita koran tentang teman Pak HK yakni Pak Ahok. Dengan judul berita”AHok sedang bermimpi mau mencalonkan diri untuk jabatan  RI-2 “.

Pak HK merupakan Wako Tionghoa pertama di Indonesia memenuhi persyaratan mendapat hadiah MURI untuk  keterlambatan menyusun draft APBD.

 

Keterlambatan menyerahkan draft APBD  ke pemprov,  menimbulkan perasaan kegelisahan, ketidaktenangan pada diri Pak HK. Perasaan semacam itu  dapat kita maklumi ketika kita menghadapi suatu permasalahan yang keadaannya tidak dapat dikontrol.  Diumpamakan seorang murid masih tetap mengerjakan soal ujian sementara para peserta ujian lain sudah menyelesaikan soal ujian dan meninggalkan ruang ujian. Murid yang tidak mampu menyelesaikan soal ujian tepat pada waktunyan sering mengklaim tidak cukup waktu untuk mengerjakan soal.

 

Keterlambatan menyelesaikan draft APBD 2011 Kota Singkawang  sangat memprihatinkan, akibatnya dana dari pusat akan berimplikasi terhambatnya program pembangunan. Bisa jadi pemerintah Pak HK menjalankan roda birokrasinya tanpa ada dana. Untuk membayar keperluan birokrasi, gaji pegawai, pemerintah Pak HK harus meminjam uang dari Bank.  Setiap pinjaman akan dikenakan bunga. Jelas, ini akan mempengaruhi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di kota Singkawang. Dana APBD yang diterima dari pusat kemudian dipotong  dengan pinjaman dan bunga dari Bank, dana riil APBD akan mengalami penyusutan nilai. Pada prinsipnya keterlambatan ini akan merugikan masyarakat Singkawang. 

 

Sementara itu, Pak HK telah menemukan sebuah permainan baru. Yaitu posisi Setda. Kita sudah mengetahui Bapak Libertus  ditunjuk sebagai pejabat caretaker Setda  kota Singkawang sampai pada  saat nanti terpilihnya pejabat Setda definitif. Menurut berbagai kalangan ditunjuk Pak Libertus sebagai caretaker Setda sarat dengan kepentingan politik pribadi Pak HK. Paling tidak ada dua kepentingan:

-Untuk mengamankan insiden penghakiman terhadap Pak Alex di perkampungan Dayak. Karena insiden tersebut  melibatkan Pak HK secara tidak langsung, menurut hasil penyelidikan sebuah team khusus yang diminta oleh Pak Alex, hasil penyelidikan tersebut memberi indikasi bahwa Pak HK sebagai mastermind merancang rencana tersebut. Pak HK mempermainkan kartu "Dayak".

 

-Suksesi 2012. Apakah kelak Pak Libertus bisa “dipakai” tergantung pada hasil Pilkada 2012 nanti. Kalau Pak HK terpilih kembali, kemungkinan Pak Libertus akan mendapat hadiah posisi khusus lainnya?  Untuk itu, Pak Libertus harus kerja dulu dan berjuang untuk pentingan politik Pak HK sekarang, jadi Pak Libertus “dipakai dulu” Pak HK.

 

Posisi “Setda” masih merupakan sebuah kartu hidup bagi Pak HK untuk dimainkan supaya dia dapat survive terhadap tantangan  politik. Bisa saja Pak HK menawari posisi tersebut kepada mereka yang ingin menjadi pejabat Setda, orang sedang bermimpi mudah dimanfaatkan oleh orang lain kalau diberi janji mimpi indah.

 

Dalam banyak hal Pak HK tidak menghargai barang bekas apalagi mencintai barang semacam itu. Tetapi mantan pejabat  Setda  kota Singkawang, Pak Suhadi Abdullani adalah barang sangat berharga bagi Pak HK secara pribadi. Karena Pak Suhadi diumpamakan sebagai barang pusaka yang dapat melindungi Pak HK dari berbagai kerepotan masalah hukum. Sudah sangat jelas harus “staying in touch”dengan  Pak Suhadi jika tidak ingin direpotkan, Hati-hati lho Pak HK !

 


 
CintaSingkawang, 04 Maret 2011