Sekelumit catatan (etnografi) mengenai Singkawang

01 Desember 2008
Komentar:
A Fian), kami senang menerima artikel dari Bapak.Untuk itu,kami mengucapkan terima kasih.Artikel tersebut sangat menarik. Supaya pembaca kami memahami  informasi  yang ingin Bapak sampaikan melalui artikel tersebut.Cinta menambah komentar dengan huruf warna biru.

Sekelumit catatan (etnografi) mengenai Singkawang

Etnografi merupakan tulisan mengenai sesuatu yang liyan (other), gambaran deskriptif perihal segala hal yang ada di luar diri (self) etnografer itu sendiri. Segala hal yang digambarkan sebagai sesuatu yang liyan tersebut identik disebut “budaya” dalam arti yang luas. Berarti penyajian dalam bentuk tulisan mengenai budaya lain yang ada di sekeliling etnografer yang sama sekali berbeda dengan budayanya sendiri, atau mungkin juga dia menjadi bagian dari budaya itu sendiri tapi tidak sepenuhnya (total). 

Etnografi merupakan cikal bakal dari ilmu antropologi, yang bersumber dari catatan-catatan para etnografer mengenai sesuatu yang liyan. Dan etnografer awal yang melahirkan antropologi ini adalah para kolonial (penjajah) yang dengan catatan-catatan etnografinya menggambarkan keliyanan yang didapat di tanah koloni tersebut. Para antropolog awal ini membuat catatan-catatan etnografi setelah mereka “bergaul” dan menjadi bagian dari budaya liyan itu melalui serangkaian proses observasi partisipatoris.

(Etnografi adalah bagian dari ilmu antropolog yang  mempelajari karakteristik orang(group) lain - hubungan dan perbedaan  diantara mereka)

Rivalitas Dua Kubu Pemimpin Rakyat

Sebagai seorang yang belajar menjadi etnografer dan antropolog kencur, saya sungguh takjub dengan keliyanan (baca: budaya) yang ada di Singkawang sejak awal kedatangan saya di tanah seribu kelenteng ini. Sebelum saya mulai adaptasi dengan lingkungan fisik Singkawang, saya sudah dikagetkan dengan polemik di media cetak mengenai “pertengkaran” antara dua kubu pemimpin rakyat yang mana salah satu pihak menyebut pihak lain tidak selevel dengannya. Langsung di benak saya terlintas beberapa istilah jelek yang (mungkin) akan terjadi membaca polemik tersebut; impeachment, mosi tidak percaya, atau persona nongrata terhadap salah satu pihak. Ternyata polemik tersebut tidak sampai berlarut, dan saya saat itu juga berpikir bahwa (mungkin) Singkawang masih sangat arif menyikapi “pertengkaran” dua kubu yang mengatasnamakan rakyat tersebut.(Antara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Singkawang-DPRD dengan Wali kota)

Tidak berapa lama berselang, masing-masing kubu kerakyatan ini kembali membuat ulah. Salah satu pihak mengeluarkan policy – pertama kali sejak menjabat – yang merupakan hak prerogratifnya dan policy yang dikeluarkan tersebut uniknya setara dengan Perda yang menjadi kewenangan kubu rivalnya. Saya tidak harus menyebutkan policy tersebut secara mendetail, yang mana intinya menunjuk salah satu organisasi “ilegal” menjadi aktor penting melaksanakan salah satu agenda pemerintah namun dengan cara melancangi instansi-instansi pemerintah yang berwenang. Lantas saya kembali berpikir, apakah organisasi tersebut tidak mempunyai etika (politik), atau jangan-jangan memang diajari demikian oleh pemberi mandat tersebut? Saya tidak mau menjawabnya, karena saya tahu jawaban saya sebagian besar selaras dengan pemikiran kalangan bawah yang selama ini menjadi sumber catatan etnografi saya. Selain itu, saya sendiri mengetahui kalau kalangan bawah – tidak hanya dari utara – sudah gerah akan lagak salah satu kubu pemimpin rakyat ini. Seandainya pemimpin rakyat ini mengetahui – setidaknya menyadari benar-benar – bahwa (Majelis Adat)nya sudah sangat repot untuk meredam “api dalam sekam” para kalangan bawah akibat dari lagak politiknya yang sungguh kekanak-kanakan tersebut. Sebaiknya pihak pemimpin rakyat yang satu ini segera tahu diri, sehingga kursi gading yang sedang nyaman didudukinya tidak segera retak dan menyebabkannya terjungkal. Mempermainkan adat akan sangat kualat akibatnya.     (baca artikel SK Walikota Singkawang no.138 )

Berbeda dengan rivalnya tersebut di atas, kubu rakyat satunya juga seolah tidak mau kalah untuk berulah. Ulah salah satu kubu ini terbukti “lucu” namun sungguh konyol. Disebutkan dua event nasional yang seharusnya menggugah nasionalisme dibuat lawakan sedemikian rupa dengan tidak dihadiri satu pun anggota kubu rakyat ini. Heroiknya, rivalnya malah tampak menghadiri event tersebut meskipun hanya sebatas formalitas semata. Kalau mau membandingkan tingkat rasa nasionalisme – sebagaimana juga diumbarkan oleh salah satu kubu – maka drama dagelan politik tersebut dengan mudah diketahui lakon yang menjadi pemenangnya. Andai saya dapat bertemu dengan beberapa anggota salah satu kubu – sebagaimana biasanya di warkop – maka sungguh seru mengetahui tanggapan dan alasannya mengenai ulah tersebut. Kita akan tunggu mungkin tidak lama lagi ada yang legawa komentar sekaligus mungkin “meminta maaf” atas ulah tersebut.(Event yang hanya dipaksakan,tidak ada manfaatnya.Tidak bisa mengubah kehidupan masayarkat Singkawang yang lebih baik)

Kita akan mengetahui bagaimana tensi rivalitas antara dua kubu pemimpin rakyat ini pada 2009 nanti setelah terpilihnya para anggota baru salah satu kubu pemimpin rakyat, yang kita harap mudah-mudahan akan selevel dengan kubu pemimpin rakyat satunya. Kalau tidak selevel lagi pasti akan sangat mudah digoyang ke sana kemari, sehingga akan mudah menimbulkan ulah konyol lainnya, dan tentu saja tidak bisa melaksanakan amanat rakyat yang dipimpinnya. Sekarang pun kita masih harus tetap optimis dengan kinerja kubu pemimpin rakyat ini menjelang berakhirnya tugas, mudah-mudahan akan ada kebijakan “spektakuler” yang populis. Kita tunggu.(Baca artikel Wawancara dengan Bapak Janudin Fam,nasib wako kita.Juga baca artikel Level)

Menuju Singkawang Spektakuler?

                Festival Singkawang yang ditengarai sukses sudah berakhir. Saya akan mengurai sebagian cerita – kembali dari kalangan bawah – mengenai festival Singkawang tersebut. Kecewa bercampur heran, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan event tersebut. Bagaimana tidak, orang Singkawang sendiri tidak sedikit yang tidak mengetahui keberadaan “gawe” ini, dan ternyata memang salah satu media nasional juga meliput betapa kurang promosinya event tersebut, sehingga keheranan saya pun terjawab.

                Potensi (budaya) lokal yang ada di Singkawang sungguh tidak muncul dalam “gawe” yang mengatasnamakan kebudayaan tersebut. Sesungguhnya saya berharap akan disuguhi pagelaran permainan hian, wayang gantung, musik kesong-kesong hingga Tanjidor oleh mayoritas orang orang lokal Singkawang – tanpa membedakan etnik tertentu – bukan performance “maksa” sedemikian rupa yang tidak mempunyai (kelihatan) bau khas Singkawang. Kebudayaan yang digembor-gemborkan mana? Singkawang itu sendiri tidak muncul, apakah dalam tarian NKRI yang “dipaksakan” merepresentasikan wajah Singkawang itu sendiri? Masyarakat kalangan bawah dengan tegas menggelengkan kepala, sekaligus menunjukkan mimik tidak puas sedemikian rupa. Mudah-mudahan penyelenggara tidak selamanya bersembunyi dibalik alasan klise teknis ataupun proyek awal.     

Polemik di Singkawang tampaknya memang tidak akan pernah habis. Selesai (baca: mereda) satu polemik maka muncul polemik yang lain, atau bahkan memicu polemik baru lagi. Belum sampai teredam emosi arus bawah sudah mulai disuguhi dengan polemik baru. Kali ini polemik terkait dengan salah satu identitas suatu kelompok etnik mayoritas Singkawang yang akan dibangun di salah satu perempatan pusat kota. Kembali saya hanya memaparkan “riak-riak” dari kalangan bawah terkait upaya pembangunan “ikon” etnik tertentu tersebut. Kalangan bawah ternyata sangat tanggap, entah dari kelompok etnik tertentu ataupun dari kelompok etnik yang diwakili oleh ikon tersebut. Kalangan bawah ini menakutkan akan terpicunya konflik yang tidak diinginkan di tanah multietnik ini.

Dicurigai kerukunan yang sudah terjalin baik antar semua etnik di Singkawang akan dapat rusak dengan pembangunan ikon etnik tersebut. Apakah keinginan menjadikan Singkawang menjadi spektakuler harus dibayar dengan konflik etnik (baca: SARA) yang bisa saja meletus suatu saat. Disamping itu juga, sebagaimana mitologi dan kepercayaan etnik yang “memiliki” ikon itu, pembuatan ikon yang menjadi salah satu hewan suci tersebut tidak bisa sembarangan tempat. Bisa-bisa menimbulkan malapetaka bagi kota Singkawang. Sebagaimana pada beberapa waktu lampau pernah terjadi bencana banjir, dan juga kematian yang dikarenakan tidak “menghormati” kesakralan hewan suci serupa dengan yang akan dibangun tersebut. Masyarakat Singkawang masih menunggu akan dibuat bagaimana kepala hewan sakral itu. Seperti sebut saja arah kepalanya akan kemana, apakah berani dan sanggup orang-orang yang tinggal sekitar perempatan tersebut dengan kepala hewan khayangan menghadap ke arah mereka? Atau apakah ada pihak yang berani bertanggung jawab akan (kemungkinan) resiko buruk akibat pembangunan ikon mistis tersebut?  Apakah cuaca buruk akhir-akhir ini menjadi pertanda? Saya bukan bermaksud menyajikan takhayul atau semacamnya, namun sesungguhnya hal seperti ini secara jujur sudah diprediksi oleh banyak pihak. Mistis dan spiritual seperti ini sangat umum di masyarakat kita, pun dipraktikkan dalam keseharian. Menurut saya hal-hal lumrah dalam keseharian kita ini sudah selayaknya tidak menafikan fakta-fakta bahwa sebagian besar kita memang masih mempercayainya. Kepercayaan seperti ini pun sudah selayaknya dihormati. Kearifan lokal (local wisdom) Singkawang ini setidaknya harus diindahkan oleh salah satu kubu pemimpin rakyat yang berkeinginan menjadikan Singkawang menjadi (Kota) Spektakuler. (Entah apa gunanya  patung naga untuk masyarakat Singkawang? Yang jelas, patung itu bukan proyek komunitas Tionghoa Singkawang.Hanya  kemauan Pak Bong Li Thiam dan mendesak  Pak wako kita untuk menuruti kemauannya .Jika kelak diSingkawang terjadi sesuatu,orang tersebut harus diminta  bertanggungjawabannya karena mendanai sesuatu proyek(kejahatan)yang dapat mengancam keselamatan masyarakat Singkawang .Menurut sumber informasi  yang dapat dipercaya bahwa MABT Singkawang tidak memberi dukungan pembangunan patung naga tersebut.Karena proyek tersebut bukan atas kemauan komunitas Tionghoa Singkawang. Baik Pemkot(Pak Hasan Karman) maupun Pak Bong Li Thiam  tidak pernah "berkonsultasi "dengan pihak MABT sebagai wadah resmi menangani masalah budaya komunitas Tionghoa di Singkawang dalam hal ini(pembangunan patung naga). Kita tidak tahu pasti kelak siapa yang akan menjabat wako sesudah Pak Hasan Karman.Wako yang akan datang juga boleh membangun patung bersimbol(ikon) agama tertentu juga.Kota Singkawang bukan hanya kota penuh dengan sarang walet tetapi juga penuh dengan simbol-simbol agama,kota yang sakit?)

Sedikit berkaca pada konflik-konflik yang terjadi di berbagai daerah lain, sebut saja konflik SARA di Ambon (sebenarnya) bermula dari munculnya tulisan, spanduk, simbol atau lambang yang “mengagungkan” suatu kelompok tertentu. Sekali ada trigger maka konflik dengan sangat cepat meluas membakar Ambon yang pada awalnya adem ayem tersebut. Seharusnya ini yang harus dipikirkan dengan arif oleh para pemrakarsa Singkawang Spektakuler. Pertanyaannya, Singkawang sudah siap belum akan terjadinya konflik? Tentu saja masyarakat bawah tidak mau ada konflik di Singkawang.

Polemik ini akan semakin hangat, menjadi satu hidangan para penikmat kopi di warkop-warkop yang banyak bertebaran di Kota Singkawang. Sebagaimana ungkapan salah seorang yang sungguh mencintai Singkawang, “Masyarakat Singkawang sangat pandai berpolitik, sedikit isu atau wacana tertentu muncul di media langsung ditanggapi berbeda-beda. Baru tahu rasa orang yang pernah bilang sangat mengerti karakter masyarakat Singkawang. Dia sekarang dibuat mabok oleh masyarakat yang diyakini sangat dikenal karakternya.” Demikian segelintir komentar disela-sela menyeruput kopi saat saya berada diantara orang-orang yang sepanjang malam selalu “menjaga” ketenangan Singkawang.(Itu memang keistimewaan orang Singkawang, mulutnya lebih cepat berkerja daripada otaknya)

Sebagai seorang partisipan observer, local knowledge seperti di atas sangat berguna dalam jagat antropologi. Hendaknya local knowledge yang sangat banyak di Singkawang – dari semua etnik yang ada – selalu diindahkan dan tidak ada salahnya untuk diketahui dan kemudian dihormati oleh semua pihak, khususnya yang “ngebet” menjadikan Singkawang menjadi bombastis dengan mengatasnamakan (kebudayaan) namun sebenarnya “cetek” pengetahuan akan budaya-budaya yang ada di Singkawang. Menutup tulisan ini, saya selalu terngiang wejangan seorang guru (sepuh) Singkawang – meskipun dia bukan asli Singkawang – yang selalu menasehati muridnya yang asli Singkawang, “ jangan arogan!”

A Fian. Tinggal di Kuala

CintaSingkawang,01 desember 2008