Ditangkap Polisi  atau menyerah diri

28 Juni 2008
Komentar:

Peristiwa paling spektakuler yang  terjadi dalam minggu ini di Singkawang, Polres Singkawang berhasil menangkap buronan, sdr .Chi Djun Nam. Sebagai tersangka penganiayaan terhadap Bapak Dr.Frans Tshai pada saat menjelang Pilkada 2007 di Singkawang yang lalu .Sdr.Chi Djun Nam  sempat menikmati udara bebas selama tujuh bulan dalam pelariannya sebagai orang  DPO.Namun demikian, akhirnya dia ditangkap oleh polisi di rumahnya.  Keberhasilan Polisi menangkap tersangka kunci ini, merupakan berita spektakuler bagi masyarakat Singkawang.

Masyarakat memuji dan salut kepada Kapolres Singkawang ,Bapak Parimin Warsito SH bersama jajarannya yang telah berhasil menangkap  buronan  tersebut.Pihak aparat kepolisian telah menghabiskan banyak waktu dalam perencanaan,pengintaian sehingga berhasil menangkap sdr .Chi Djun Nam.Keberhasilan ini, memberikan dampak positip terhadap kinerja aparat kepolisian Singkawang.Menambah kepercayaan masyarakat  terhadap keseriusan aparat kepolisian dalam hal menangani masalah keamanan di kota Singkawang. Kasus pemukulan (lihat:Kasus kekerasan Politik Di Singkawang) terhadap Pak Frans itu,adalah salah satu kasus kekerasan politik melawan kemanusiaan yang mendapat perhatian serius komunitas Tionghoa Singkawang.Masyarakat ingin tahu,apakah Bapak Frans mendapat keadilan dalam hal ini.

Menurut berita koran lokal bahwa sdr .Chi Djun Nam menyerahkan diri kepada Polres Singkawang.Cerita menurut versi koran lokal itu, membuat kita meragukan kebenaran berita tersebut.Karena menurut textbook kriminologi jika para pelaku kejahatan dalam waktu 3 kali 24 jam, para aparat tidak berhasil menangkapnya, dia akan memilih menjadi buronan daripada menyerah diri. Seperti sudah kita ketahui sdr .Chi Djun Nam sempat mengisap udara bebas selama tujuh bulan.Apakah dia mungkin menyerahkan diri? Seandainya dia mau menyerahkan diri, mengapa harus menunggu sampai tujuh bulan? Melihat fakta ini tentu saja tidak bisa diterima oleh logika kita,maka CintaSingkawang mengadakan cross check dilapangan.Inilah hasil dari investigasi Cinta:

Ketika Polres Singkawang mencium berita  bahwa sdr .Chi Djun Nam sebagai buronan yang selama ini mereka cari pulang kerumahnya .Pihak Polisi mengepung rumahnya, sdr .Chi Djun Nam. Kepungan ini tidak memberikan kesempatan  kepada buronan ini dapat meloloskan diri. Saudara Chi Djun Nam terpaksa menyembunyikan diri  kedalam kamar tidurnya .Ketika aparat Polisi mau menggeledah kamar tidur mereka,dicegah oleh Ny. Chi Djun Nam.Terjadi negosiasi antara  nyonya Chi Djun Nam dengan pihak polisi, nyonya Chi Djun Nam memberi jaminan secara tertulis yang menyatakan suaminya akan menyerahkan diri dan  meminta mereka diberi waktu  untuk keluarganya.Dengan pertimbangan sdr .Chi Djun Nam tidak mengancam keselamatan(tidak memiliki senjata)masyarakat disekitarnya,dan faktor  kemanusiaan(memberi waktu untuk pertemuan keluarganya). Akhirnya,aparat kepolisian memenuhi permintaan nyonya Chi Djun Nam.

Keputusan yang diambil oleh nyonya Chi Djun Nam dalam hal ini dapat kita pahami,lebih baik dia meminta suaminya menyerahkan diri daripada kamar tidur mereka digeledah oleh polisi.Karena bagi sebagian orang kamar tidur adalah tempat yang paling pribadi,tidak ingin dilihat oleh orang lain.Seandainya, pihak polisi sampai menggeledah kamar tidur mereka dan menemukan bukti(tempat persembunyian) yang dapat berindikasi nyonya Chi Djun Nam  bersekongkol dengan suaminya.Tentu saja dia juga akan ditahan polisi sebagai tersangka membantu menyembunyikan orang yang dicari polisi.Demi keluarganya, tentu saja nyonya Chi Djun Nam tidak mau mengambil resiko yang lebih besar, lebih baik meminta suaminya menyerah kepada polisi daripada kehidupan keluarganya menderita terus.

Pada saat Cinta meninggalkan tempat tetangganya sdr .Chi Djun Nam,disalah satu rumah dari tempat itu  berdiri seorang kakek sedang memberikan ceramah kepada beberapa anak muda.Kata kakek itu”guru terbaik adalah pengalaman orang lain.Terutama pengalaman mereka melakukan ketololan.Melakukan ketololan memiliki implikasi secara langsung terhadap kehidupan pada pelaku dan keluarganya.Ketololan ini menyebabkan dia harus menerima hukuman”. Si kakek ini juga mengingatkan kepada  para pemuda “sebagai orang bijak kita tidak akan mengulangi perbuatan orang tolol”.Tentu saja kita mengerti apa yang dimaksudkan oleh si kakek yang sering terlihat di kawasan Gg.Abadi itu kongkow-kongkow dengan anak muda sambil memberikan nasehat kepada mereka.

Menurut informasi yang Cinta terima dari sumber Polres Singkawang membenarkan bahwa sdr. Chi Djun Nam sudah ditahan  dan akan diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.Mengenai proses penangkapannya pihak Polres Singkawang tidak mau memberikan komentar lebih jauh, dalam hal ini ,yang penting pada buronan sudah  kita tahan kata narasumber di kepolisian yang tidak mau disebut namanya itu.

Sebagaimana kita ketahui,dalam kampanye Pilkada 2007 yang lalu  sdr.Chi Djun Nam selalu membantu Pak Hasan Karman.Dimana ada Pak Hasan Karman disitu ada sdr .Chi Djun Nam yang dikenal masyarakat “HIDUP MATI” asalkan bersama Pak HK,pada masa kampanye mereka berdua sangat mesra.Dalam acara Singkawang Spektakuler dibioskop 21, sdr .Chi Djun Nam memberi kata pengantar dalam acara tersebut. Sebagai sahabat, sudah seharusnya Pak Hasan Karman menjeguk sdr .Chi Djun Nam yang sekarang sedang menghuni tahanan polisi.Memberikan dorongan dan semangat kepada dia.

Mengunjungi dia pada waktu malam hari? Seperti cerita didalam Alkitab,ada pejabat mengunjungi Yesus pada waktu malam hari.Supaya tidak ketahui dan dilihat orang.Sayangnya, sdr .Chi Djun Nam ini bukan Yesus.Kalau Pak Hasan Karman nekat mengunjungi dia pada malam hari tidak ada manfaatnya karena dia tidak dapat memberikan sesuatu yang berguna kecuali sebuah “kepusingan”……kepusingan,kepusingan baru…..

CintaSingkawang,28Juni2008