|
Bagaimana Cara
Mempersatukan Komunitas Orang Tionghoa
Singkawang untuk Tujuan Demokrasi?
Bagian Pertama:
Kehadiran Majelis Tao Indonesia di
Kota Singkawang
Menurut berita di Pontianak Pos pada
tanggal 7Juni 2007,dengan judul berita “Lahirkan
Pro Kontra”. Di
kota
Singkawang bertambah satu lagi aliran(ajaran)
untuk komunitas Tionghoa Singkawang,yaitu: TAO.
Organisasi ini disebut “Majelis Tao
Indonesia(MTI) Kota Singkawang, dengan Chai Ket
Khiong sebagai ketuanya.
Gagasan pembentukan MTI
kota
Singkawang itu merupakan bagian dari package
konsep ideologi pembangunan komunitas orang
Tionghoa Singkawang menurut versi pak Dr.Frans
Tshai.Sejak kritikan Dr.Frans Tshai terhadap
panitia cap go meh 2007 yang lalu, masyarakat
Singkawang sangat antusias untuk menunggu
jurus(“konsep “) baru dari Dr.Frans Tshai
mengenai bagaimana cara membangun masyarakat
Singkawang khususnya komunitas orang Tionghoa
Singkawang. Menurut berita “Lahirkan Pro Kontra”
itu, CintaSingkawang percaya
sebagian besar dari komunitas orang Tionghoa
Singkawang akan merasa kecewa, karena
gagasan dari Dr.Frans Tshai itu
hanya melahirkan Majelis Tao Indonesia(MTI) Kota
Singkawang, dimana gagasan tersebut tidak ada
bedanya dengan organisasi kemasyarakatan
yang sudah ada di kota ini yang berorientasi
tentang masalah agama atau aliran .
Sebagaimana sudah kita ketahui, ada
beberapa tokoh komunitas orang Tionghoa
Singkawang yang merasa memiliki umat (massa) agama atau aliran di
masyarakat. Mereka ini:
-Budiman(FOKET): menguasai umat Kong Hu Cu
-Bong Wui Khong(DPRD):menguasai umat Buddha
-Dr.Frans Tshai(MABT):menguasai umat Tao(melalui
organisasi MTI yang baru mereka bentuk).
Yang menjadi
pertanyaan kita, apakah dengan cara demikian
mereka dapat menguasai suara komunitas orang
Tionghoa Singkawang untuk dipergunakan dalam
tujuan demokrasi? seperti pemilihan calon
anggota DPR/D dari etnis Tionghoa? Dengan cara
mereka tersebut, suara masyarakat Tionghoa
Singkawang itu akan terpecah, terbagi-bagi dalam
beberapa kelompok yang tidak ada manfaatnya.Bagi mereka yang
ingin menjadi anggota DPR/D dari etnis Tionghoa
Singkawang, harus dapat mempersatukan komunitas
ini sehingga suara masyarakat menjadi bulat.
Bagaimana caranya? Kita perlu membuat konsep
baru mengenai masalah ini sehingga konsep
tersebut dapat diterima oleh berbagai kalangan
dalam komunitas tersebut. Konsep tersebut harus
berdasarkan manajemen modern, berorientasi
sosial dan ekonomi bukan mengandalkan(pendekatan)
masalah agama atau aliran.
Kita akan mengupas
masalah ini pada edisi Opini mendatang.......harap
bersabar bagi mereka yang mau menjadi politisi.
|