|
Ada sebuah artikel berbahasa
mandarin saat ini sedang beredar di
kalangan terbatas di Jakarta dengan
judul “Membangkitkan
“A Dou”, Membiarkan “Ming Khong” Jatuh(membangkitkan
orang bodoh, membiarkan orang pintar
jatuh)”.Dengan mudah kita akan
mendapatkan artikel tersebut di daerah
yang banyak penghuni komunitas
Singkawang,seperti di daerah Jembatan
Lima(Krendang), Bandengan.
CintaSingkawang mendapat copy dari
artikel tersebut dalam bentuk dua versi,
versi bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia. Berikut ini hasil
investigasi Team Cinta dan komentar dan
analisa CintaSingkawang terhadap artikel
tersebut sbb:
Penulis artikel tersebut mencantumkan
nama Bong Miau Sen sebagai nama jati
dirinya.Menurut data yang ada di
organisasi Permasis memang ada
anggotanya bernama Bong Miau Sen,seorang
lelaki yang berumur 60an tahun. Kita
tidak tahu pasti apakah Bapak Bong Miau
Sen anggota Permasis itu adalah identik
dengan Bong Miau Sen sebagai penulis
artikel tersebut.Nama bisa sama tetapi
orang belum tentu sama, ini bisa
terjadi.Namun demikian, satu hal sangat
jelas bagi kita bahwa
kemungkinan besar penulis adalah
anggota Permasis karena tulisannya
menceritakan begitu detail
apa yang telah terjadi
dilingkungan organisasi mereka, Permasis.
Dalam
tulisan tersebut, penulis membagi dua
bagian:
Bagian pertama:
Eulogy untuk “jabatan” ketua Permasis.
Tentu saja yang
dimaksudkan yaitu jabatan mantan ketua
Permasis, Pak Aliok. Eulogy adalah
pidato atau kata puji-pujian terhadap
orang meninggal dunia.Dalam budaya orang
Barat prosesi pemakaman
mereka sering dilakukan di dalam gereja,
peti mati diletakkan di depan orang-
orang yang sedang berkabung.Pada
saat tersebut ada orang menyampaikan
eulogy yang berisikan kata puji-pujian
kepada orang yang tertidur pulas di
dalam peti mati itu. Orang
yang menyampaikan eulogy itu biasanya
teman dekat/konco atau
anggota keluarga. Kata pujian itu berupa
tentang keberhasilan, kebaikan,amal
bakti dan kasih sayang. Kata pujian
tersebut dimaksudkan agar dapat
menimbulkan rasa cinta dan sayang kepada
orang yang tertidur didalam peti itu.
Menurut budaya mereka, pada saat orang
yang tertidur didalam peti mati itu
harus diberi komentar “baik-baik saja
dan positf” walaupun semasa hidupnya
banyak melakukan hal yang jelek tetapi
harus mengatakan dia “bagus dan baik”.
Dalam kehidupaan masyarakat yang
menganut budaya seperti ini, kamus
kepemimpinan mereka tidak ada pemimpin
yang baik.Yang dikatakan pemimpin yang
baik yaitu ketika pemimpin itu mendapat
eulogy! Jadi, sebelum meninggal tidak
akan disebut sebagai
pemimpin yang baik.
Dalam budaya kita,
budaya komunitas Tionghoa Singkawang
kita tidak mengenal
eulogy. Karena itu bukan budaya dan
kebiasaan kita dalam upacara pemakaman.
Filsafat kehidupan yang dianut komunitas
kita adalah sesuatu yang telah berlalu
tidak ada nilai dan tidak bermakna, mati
ya sudah mati, yang mantan
ya sudah mantan. Tidak perlu diberi
pujian dan penghargaan. Walaupun di
dalam pepatah kita ada yang memberikan
nasehat kepada kita:”Orang mati
meninggalkan ‘nama’ harimau mati
meniggalkan kulit”. Dalam kehidupan
bermasyarakat kita tidak menemukan
pepatah tersebut benar adanya. Karena
orang yang mati tidak
bisa meminta orang yang masih hidup
mengingatkan namanya. Supaya orang yang
hidup bisa mengingat kepada nama orang
sudah mati, harus ada acara bagaimana
mendidik orang yang hidup itu menghargai
perbuatan,pemberian,usaha yang telah
dilakukan orang lain untuk memperbaiki
dan kemajuan komunitasnya. Bukti sangat
jelas di dalam sejarah orang Tionghoa
Singkawang sudah berusia hampir 300
tahun tak terdapat seorangpun sebagai
nama tokoh yang selalu dikenang dari
jaman ke jaman oleh komunitas orang
Tionghoa Singkawang. Atau namanya
merupakan cerita dari mulut ke mulut(cerita
rakyat) oleh komunitas kita. Ini
menandakan masyarakat masih belum tahu
bagaimana cara menghargai orang yang
telah memajukan komunitasnya.
Pak Bong Miau
Sen begitu sedih melihat adik “pheng
ting” tidak dihargai usaha yang telah
dia lakukan untuk Permasis. Kita sangat
memahami akan hal ini, itu
sebagai resiko
menjadi pemimpin komunitas orang
Tionghoa Singkawang.
Dalam eulogy Pak Bong
Miau Sen untuk “jabatan” tidak
melukiskan bagaimana karakter Pak Aliok
ketika memimpin Permasis dan mengadakan
rapat-rapat Permasis. Dari aksi memukul
meja sampai memaki-maki anggotanya
seperti Thung Kha sampai mengirim
gambar-gambar porno kepada orang yang
tak disukainya. Memang dalam eulogy kita
tidak akan menemukan hal seperti itu.
Bagian Kedua:
Karakter Orang Tionghoa Singkawang.
Dalam bagian kedua
tulisan Pak Bong Miau Sen melukiskan
bagaimana karakter Orang Tionghoa
Singkawang di lingkungan Permasis.
Menurut Pak Bong Miau Sen kemunafikan,
tipu muslihat, ketidak jujuran ketika
proses dalam pemilihan ketua
Permasis.Ada yang pura-pura bersahabat
padahal dia adalah musuh yang
tersembunyi mencari kesempatan menikam
adik “pheng ting” dari belakang. Mereka
ramai-ramai membantai adik “pheng
ting”nya kemudian menendangnya keluar
dari lingkungan Permasis. Bersekongkol
antara junior dan senior, “kedua orang”
ini sebagai aktor intelektual
di belakang semua itu terjadi. Pak Bong
Miau Sen sangat kecewa terhadap senior
ini seharusnya sebagai senior memberi
teladan,meluluskan yang
bengkok,mengatakan salah ya salah. Bukan
sebaliknya menurut kemauan para penipu.
Pak Bong pesimis Permasis jatuh ketangan
‘mereka’akan terorganisasi dengan baik.
Ada satu hal perlu
dipertanyakan kepada diri Pak Bong Miau
Sen, menurut pengakuannya
bahwa dirinya diberi kepercayaan(tugas)
sebagai KPU Permasis.Jika benar dia
mengetahui ada sesuatu tidak beres yang
sedang berlangsung seharusnya dia “speak
up”.Apakah Pak Bong ini juga mengalami
ketidaksempurnaan karakter sebagai orang
Tionghoa Singkawang yang tidak berani(takut)
‘speak up’ dihadapan orang-orang kaya?
Padahal Pak Bong ini telah banyak
membaca buku cerita “Ah Q(a cui)”
sebagai buku pegangan menghadapi
pertentangan kelas di masyarakat. Sulit
bagi kita untuk menemukan orang yang
berkarakter seperti Ah Q di komunitas
kita. Ah Q berprinsip,
berpendirian,speak up walaupun dia tidak
memiliki pendidikan tinggi. Sebaliknya
kita akan menemukan banyak orang yang
berkarakter seperti Ah Q hadapi di
komunitas kita. Marilah ikuti cerita Ah
Q yang singkat ini.
Ketika satu hari
sebelum menjelang tahun baru Imlek
Ah Q pulang dari perantauan. Pada
saat tiba di kampung halamannya hari
sudah malam,dia mengetok-ketok rumah
pintu orangtuanya sambil mengatakan
identitas dirinya.Lalu orangtuanya
menanyakan kepada Ah Q apakah dia ada
membawa uang pulang? Jika ada,
akan dibukakan pintu untuk dia.Ah
Q menjawab:”biar aku masuk nanti baru
kita bicarakan hal itu”. Sedangkan
tetangganya berbisik-bisik Ah Q pasti
tidak membawa duit, pulang malam. Hanya
membawa satu bungkusan besar dan berat,
mungkin isi batu “ kata tetangganya.
Keesok hari, pada hari pertama tahun
baru imlek para tetangga pagi sekali
pergi sembahyang Pekong, mereka membawa
persembahannya berupa ayam dan daging
babi.Tetapi Ah Q masih tidur, belum
bangun. Pada saat tengah hari, Ah Q baru
pergi sembahyang ke Pekong. Ah Q membawa
bahan persembahannya yang berbeda
daripada para tetangganya. Dia pakai
duit sebagai bahan persembahan, duit
satu tumpuk ditaruh diatas piring besar
supaya para tetangganya bisa melihat apa
yang dipersembahkannya. Selesai
sembayang di Pekong duitnya dibakar.
Kemudian Ah Q pulang ke rumah ,tetangga-
tetangganya semua datang memberi hormat
kepada Ah Q. Ada yang memanggil Ah Q
‘Thai Kho ‘Asuk,ada yang memanggil Ah Q
‘Akung’. Kemudian Ah Q mengumpulkan
tetangga- tetangganya kemudian
berbicara kepada mereka. Ah Q
berkata dihadapan mereka:”saya tahu
kalian membutuhkan apa di kampung ini,
liung kong(kayu mengangkat peti mati).Liung
kong harus ditambah”.Pada tetangga
menjawab iya,betul. Sedikitpun tidak
salah kami butuh liung kong. Padahal
menurut adat kita Tionghoa pantang
membicarakan masalah kematian pada tahun
baru imlek karena ini akan membawa
kesialan sepanjang tahun. Ah Q
membuktikan memiliki duit itu dapat
mengubah prinsip yang
dimiliki para tetangganya.Kita akan
menemukan orang berkarakter seperti para
tetangga Ah Q dimana saja bukan hanya di
organisasi di Permasis saja.
Kesimpulan:
Tulisan Pak Bong Miau
Sen yang berjudul “Membangkitkan
“A Dou”, Membiarkan “Ming Khong” Jatuh(membangkitkan
orang bodoh, membiarkan orang pintar
jatuh)”.Sedikitpun tidak memberikan
gagasan dan solusi bagaimana cara
pemecahan ataupun sebuah pemikiran
bagaimana memperbaiki sistem management
Permasis.Supaya mencegah hal-hal sudah
terjadi jangan
terulang lagi sehingga tidak terjadi
korban lebih banyak lagi. Atau
sebuah pemikiran mengembangkan metode
yang lebih demokratis sehingga tidak ada
pihak yang merasa dirugikan.
Walaupun Pak Bong
Miau Sen mengatakan tidak takut,
siap menghadapi balasan. Tetapi
nyatanya beliau tidak berani menyebut
identitas kedua tokoh
di Permasis yang menurutnya sebagai
mastermind lengsernya
adik “pheng ting”. Tanpa menyebutkan
identitas kedua orang tersebut membuat
para pembaca yang diluar lingkungan
Permasis agak kebingungan memahami
cerita tersebut.
Seperti
apa yang dimaksudkan Pak Bong dia
menulis essay tersebut
sekedar mendapat sejenis kepuasan
seksual.Sebuah tulisan hanya
mengandalkan kata-kata kotor saja sudah
sangat tidak menarik
perhatian masyarakat untuk dijadikan
bahan diskusi atau sebagai sumbangan
suatu pemikiran dari Pak Bong Miau Sen,
alumnus Nam Cung Singkawang ini.
Pada awal alinea tulisannya sudah
membuat kesalahan, ada satu kata
"tidak" lupa dimasukkan oleh
Pak Bong sehingga membingungkan pada
pembaca.Pada
awal paragraf
berbunyi
"Dikarenakan oleh rencana busuk
sekelompok orang yang tidak
tahu diri dan tidak tahu
malu, yang berbuat curang dengan segala
macam cara, akhirnya “Huang
Pang
Ting”
terpilih dengan suara tinggi.
Saya
dan kelompok saya tidak suka melihat itu,
tidak rela kalah.
Ketua Huang
adalah orang yang kuat".
Apakah tidak terdapat keganjilan pada
alinea tersebut? Kita perlu bertanya
kepada Pak Bong secara logika kalimatnya
mana yang benar:"karena kecurangan
sekelompok orang akhirnya
“Huang
Pang
Ting”
terpilih dengan
suara banyak"
atau "karena kecurangan sekelompok
orang akhirnya
“Huang
Pang
Ting”
tidak
terpilih
dengan suara
banyak"? Melihat tulisan
Pak Bong bagaimana melukiskan emosinya,
sudah dapat kita pastikan yang benar
"tidak terpilih". Jadi,
seharusnya berbunyi begini:"Dikarenakan oleh rencana busuk
sekelompok orang yang tidak
tahu diri dan tidak tahu
malu, yang berbuat curang dengan segala
macam cara, akhirnya “Huang
Pang
Ting”
tidak
terpilih dengan suara tinggi.
Saya
dan kelompok saya tidak suka melihat itu,
tidak rela kalah.
Ketua Huang
adalah orang yang kuat."
Memakai perumpamaan
yang sangat keliru dengan menyebut nama
Yesus,tetapi dalam Essaynya menghujat,
Ini juga merupakan
suatu signal kepada pihak Permasis untuk
memperbaiki kekurangan yang ada pada
pihaknya. Jika tidak, kelak kita akan
lebih banyak menemukan Pak Bong yang
lain sambil menyanyi lagu-lagu
frustrasinya dan menyebarkan pampletnya.
############################
Membangkitkan “A Dou”, Membiarkan “Ming
Khong” Jatuh
(membangkitkan
orang bodoh, membiarkan orang pintar
jatuh)
oleh
:Bong Miau Sen
Dikarenakan oleh rencana busuk
sekelompok orang yang tidak
tahu diri dan tidak tahu
malu, yang berbuat curang dengan segala
macam cara, akhirnya “Huang
Pang
Ting”
terpilih dengan suara tinggi.
Saya
dan kelompok saya tidak suka melihat itu,
tidak rela kalah.
Ketua Huang
adalah orang yang kuat. Orang yang kalah
karena ketidak-adilan
ini janganlah berkecil hati dan tidak
rela. Janganlah salahkan diri saya untuk
tidak menenangkan orang-orang yang kalah.
Orang yang hebat jatuh dan
akan bangkit di
tempat yang sama.
Dia
membiarkan orang-orang lain bersedih
hati sendirian, hati ketakutan tidak tahu
arah, menakut-takuti diri dengan
perasaan tak tenang. Dengan menunjukan
suasana hati sangat senang, wajah tenang
dan tidak bersalah. Menjadikan kerbau
neraka, setan bahkan
dewa (hal buruk tak terlihat)
disingkirkan satu-satu bagai bola.
Melainkan hal-hal seperti anjing, cacing,
binatang
busuk (berbagai binatang), langsung
dimusnahkan, ketika dalam emosi yang
meledak-ledak. Jika benar-benar memiliki
sikap wibawa yang seperti ksatria,
walaupun hanya memukul lalat, dan tidak
memukul harimau, saya senang mendengar
hal tersebut. Sehingga hatiku tenang.
Sejujurnya saya takut kamu membalasku.
Saya
biasanya menganggap diri saya sendiri
angkuh dan tinggi hati, tidak mudah
untuk bergabung dengan kelompok sosaial
dan bersosialisasi. Baik berupa acara
pemakaman, pernikahan maupun perayaan,
sejak berbicara dengan bapak saat itu,
kamu maju ke depan untuk menjadi seorang
pemimpin, menujukkan
sosok dirimu yang dewasa dan mandiri.
Tidak dapat bergabung sembarangan dengan
kelompok lainnya.
Ketua sebelumnya tidak berhasil dengan
semestinya. Hal itu disebabkan karena
image dirinya di depan orang banyak
sangatlah baik,
sehingga takut bersalah pada orang lain,
sehingga “shi dou yen” menjadi ahli
sosialisasinya, sehingga akhir ceritanya
adalah “jadi manusia sukses, cara
menyelesaikan masalah yang gagal.”
Di
antara kita, sejak pertemuan pertama
kita,
saya sangat
menyukai kepribadiaan anda,
saya
sangat
mengagumi sifat anda yang blak-blakan.
Sehingga
saya
bisa
naik ke dalam kapal busukmu, sekarang
menyesal dan tidak bisa kabur dari kapal
itu, walaupun
bisa kabur, saya juga tidak bisa
berenang, semua sudah terjadi,
menyesalpun sudah terlambat, mendoakanmu
mati, bernasib sial, mengutukmu, dan
mengharapkan segala hal yang terburuk
terjadi padamu. Tetapi
saya
tidak tega
melihatmu dipukul ramai-ramai,
dikucilkan dan dibunuh diam-diam dengan
pistol.
Saya
juga
merasa sangat tidak
adil. Mata putihmu melototin mata-mata
hijau mereka. Saya sangat marah sampai
mataku pun ikut merah dibuatnya marah.
Dari
samping melihatmu dipaksa turun oleh anggota
lainnya
dari takhta.
Kamu menggunakan sifat kamu yang tegas
dan dewasa tersenyum. Aku mendukungmu,
aku tidak menyalahkanmu, kamu pemimpin
yang sangat
baik. Wahai Adik “pheng ting” kamu
barulah kalah sekali, kamu masi muda,
masa depan dirimu masih bisa menjadi
sangat baik, kamu baru memcobanya sekali,
jika kalah masih
ada kesempatan yang
akan datang.
Kegagalanmu
itu membuat diriku senang. Aku senang
sekali melihatmu gagal. Dipaksa turun
dari jabatan. Diusir dari belakang dan
ditunggu untuk dihajar didepan (maju
salah, mundur salah). Orang yang
menyatakan bahwa diri mereka adalah
teman baikmu malah bersuka cita. Orang
yang gagal pastilah sedih dan kecewa.
Sikap yang berani mengangkat dan berani
menurunkan sangat pantas
dihargai.
Walaupun ratusan bahkan
ribuan orang menuduhnya dan memnuntutnya.
Sungguh sikap orang besar. “sui ce mo”
pada puisi “khang ciau” mengatakan bahwa
jika pelan-pelan datang, maka haruslah
pelan-pelan juga perginya, melambaikan
tangan dengan gagah dan tidak
meninggalkan sedikitpun kehormatan. Pada
puisi “ro pin wang” paling cocok untuk
menunjukan perasaanmu saat ini. (tidak
ada orang yang benar-benar tinggi dan
bersih, siapa yang dapat menyatakan
dengan jelas perasaan orang lain).
Disaat
Permasis
diatur oleh
ketua yang bahkan tidak tahu siapa yang
berkuasa. Kamu berhasil mundur.
Kamu
di Permasis
disaat dimana dirimu lumpuh dan hancur,
ada orang yang bersuka cita atas keadaan
ini. Dalam kesempatan ini dia menjajah,
menduduki wilayah kekuasaan, hingga
menciptakan dunia baru. Sungguh anggota
yang brengsek, mereka telah mengkhianati
hati nurani mereka sendiri. Merubah
haluan “suara pemilihan” tidak peduli
pada orang yang telah membantunya.
Membiarkan orang yang berjasa akan diri
mereka mendapat masalah. Membiarkan
keberhasilan yang telah kamu menangkan
dimenangkan oleh orang lain. “bagai
kaleng minyak yang bocor” sehingga dia
yang mendapatkan pujian. Hanya mampu
memunggut hal praktis, dengan cara yang
curang untuk memenangkan hal tersebut.
Sungguh tidak rela membiarkan dirimu
dijahati oleh orang-orang bodoh itu.
Kemenangan kali ini merupakan kemenangan
yang tidak adil. Membuat orang ingin
cepat marah namun sangat ingin tertawa
terhadap anggota-anggota marah dan mudah
ngambek.
Tidak
punya belas kasih dan berhati kejam itu.
Agar tidak membiarkan orang yang curang
itu maju dengan seenaknya saja tanpa
alasan, tidak mau melihat situasi itu
dan tak mau membiarkan orang yang baik
bersedih di rumah, orang jahat malah
berada di atas panggung berdrama-ria.
Oleh karena suasana yang tidak mengenakkan
dan tidak rela inilah, sehingga tidak
ada cara lain lagi selain protes.
Belajar dari ”a cui” yang berteriak “ni
ma de se”(ngomelan), untuk melampiaskan
perasaan di hati dan rasa marah.
Mengingat tahun lalu, adikmu membawa
kerabat dan teman-teman untuk kembali ke
Guang
Zhou.
Di depan lapangan besar kampus “luo ciau”.
keinginanmu untuk membuat tamu-tamumu
senang. Perlakuan kamu sangat baik,
membuat orang begitu kagum. Suasana hati
senang dan sangat memuaskan,
bersenang-senang bersama. Kedewasaan dan
royalitas “terlihat harapan kemakmuran
akan masa depan”. Yah walaupun hanya
begitu, apapun dilakukan bersama-sama,
dapat menunjukkan
tingginya derajatmu. Semua orang yang
pergi bersamamu juga sangat mengagumi
dan salut padamu. Kami berikan dukungan
padamu
dengan bertepuk tangan.
Terhadap Permasismu
yang telah diperjuangkan dengan
bertahun-tahun bekerja
keras. Mengerahkan seluruh tenaga dan
pikiran baru dapat memperoleh dukungan
dari anggota. Membuat masa depan seluruh
anggota mendapatkan hari yang cerah dan
pandangan akan masa depan yang begitu
baik sekarang. Melakukan begitu banyak
kerja keras barulah dapat mengambil hati
orang. kamu berkata bahwa ini merupakan
pekerjaan yang ingin dilakukan, harus
dilakukan, dan terpaksa harus
melakukannya. Setiap hari menghadapi
begitu banyak orang sehingga siapapun
yang melihatnya pasti berkepala besar.
Waktumu, seperti ikan yang jadi santapan
untuk beramai-ramai, hingga yang
tertinggal hanyalah tulang. Tapi kamu
malah menyatakan bahwa kamu tidak
menyesal, demi
Permasis
kamu telah mengorbankan diri dan hidup.
Bagaimana caranya orang-orang itu
menuntut dirimu untuk dihukum. Sungguh
anggota kelompok yang begitu baik hati,
dan perlakuan yang tidak adil. Apakah
anggota kelompok tidak memiliki sebuat
standar penilaian yang lebih baik? Hanya
dikarenakan
sifat dirimu yang tegas, tidak menuntut
keuntungan pribadi daripada kepentingan
bersama, menghambat orang jahat yang mau
sukses. tidak memberikan orang yang
lebih tua penghormatan untuk berbuat
seenaknya, akhirnya mereka bersatu untuk
menghancurkan dirimu, dengan sekali
hentakan suara, seperti tikus yang hanya
berpandangan pendek menjadikanmu sebagai
korban. Membuat orang yang menjanjikan
keuntungan kepada kita semua, menjadikan
kata-kata kebohongan beruntun sebagai
harapan akan masa depan yang tinggi dan
polos. Memandang orang jahat tetapi
menanggap
dirinya
sebagai dewa.
“Kang
You
Wei”,
ketika diincar dan melarikan diri dari
Jepang, pada pemerintahan
Dinasti
Ming.
Menyerahkan sebagian Negara membuat
dirinya terluka dan sedih, sehingga
menuliskan kata-kata yang sangat bagus “sangatlah
sedih saat melihatnya” sungguh merupakan
penghinaan terhadap
Permasis
telah menjadi sumber kesedihan, melihat
begitu banyak orang brengsek menjahati
dirimu, siapapun tidak akan senang
melihatnya. Mereka mengira dengan tidak
adanya “Kang
You
Wei”
yang memilikipun harta sehingga berkata
sembarangan, mengatakan kata-kata yang
miring. Sungguh berharap Taliban
ataupun binladen beserta kelompok
perangnya menghampiri dan sekali bom,
meledak bagai bunga. Dengan bom bunuh
diri sehingga kita mati bersama, dan
kembali ke Tuhan kita masing-masing,
dengan demikian selesailah sudah semua.
Dalam
setiap hati manusia ada semacam
penilaian yang membuat kita suka
membanding-bandingkan, dengan kata lain
jika berbuat kebaikan,
hanya
sedikit orang yang akan menyatakan bahwa
orang lain baik. Orang-orang cenderung
tidak senang melihat orang lain lebih
bahagia. Kelompok orang bodoh itu lupa
akan kebaikan orang, tidak berpendidikan
dan tidak pandai menilai. Hari ini
percaya
Yesus
besok berdoa pada
Kuan
Im.
Tidak
protes bisakah?
Di
saat pengumuman politik, tidak pernah
berhenti berpidato, meyakinkan orang
lain akan sifatnya yang adil dan terbuka,
tetapi malah berbuat curang untuk dapat
suara, kebohongan seperti itu saja sudah
sanggup kamu lakukan. Bahkan
dikatakan juga pada saat pertemuan dia
menyatakan dengan wajah tak bersalah.
Kebohongan yang terlalu konyol. Tidak
perduli pada harga diri, tak peduli akan
buruk di mata orang lain. Muka tuanya
tak sanggup tahan, kenyataan curang ini
sangat nyata terlihat, sungguh
penghinaan terhadap anggota kelompok
lainnya,
sampai anggota yang kurang
berpartisipasi pun sudah tahu.
Saling bertanya-tanya tetapi tetap
berpura-pura tidak tahu.
Sungguh membuat diriku sebal dan bete.
Sejak
dahulu kala,
dulu sampai
sekarang
di
seluruh dunia pastilah terdapat penipu,
baik penipu uang, penipu sex bahkan ada
penipu cinta. Semua itu tidak ada
apa-apanya dibanding dirimu, ada penipu
yang sekali lihat
langsung ketahuan, seperti di kelas
ketika masih
bersekolah pastilah
ada yang berlagak
preman dan bertindak rendah, menyakiti
dan mengerjai guru, pastilah sudah
langsung kelihatan dari tampangnya.
Karena dari wajah saja sudah kelihatan
rendahan. Tamu kecil tak diundang yang
berada di ujung jalan, menawarkan diri
untuk meramal nasib, orang buta pegang
tulang, dan berbagai penipu meramal
lainnya. Pedagang kaki lima yang jual
obat di samping jalan, menjual obat kuat
di samping jalan yang bilang ajaib.
Seperti sales penjual obat kuat, sedikit
perhatikan pasti langsung terlihat bahwa
semua itu penipu. Tidak perlu orang
ingatkan pun, dari dalam diri pastilah
sudah ada sifat waspada, sehingga tidak
akan tertipu.
Tetapi
ada penipu yang tidak begitu
mudah dilihat.
Harus ada yang memperingatkan barulah
kita bisa membuka mata. Saya pikir lebih
mudah untuk memberikan sebuah contoh
untuk jadi bahan
pertimbangan: Mereka bukanlah tidak
mampu atau tidak memiliki karir bahkan
sebenarnya
kekayaan mereka pastilah sudah melebihi
kita, mereka bukan hanya penipu begitu
saja, mereka memdapatkan keuntungan yang
sangat banyak dikarenakan tak ada dia.
OKB tidak pantas, tidak berbudaya malah
tidak berpendidikan, secara tidak
sengaja kaya sedikit. Mendadani monyet
dengan baju dan celana, dan menjadikan
monyet tersebut orang. Permasis jatuh ke
tangan mereka bagai “ayam-ayam kecil” (alat
kelamin laki-laki). Anggota kelompok
disiksa dan ditindas sampai tidak dapat
bersuara. Bagaikan mendapatkan penyakit
sulit pipis.
Penipu-penipu selain menipu dan berbuat
curang terhadap suara pemilihan,
kata-kata kasar, semuanya anjing, bahan
pembicaraannya tidak jauh dari bagaimana
cara bikhuni melahirkan, bagaimana
pendeta suci berbuat dosa, dokter yang
menyuntikkan
obat tidak berkhasiat. Ratusan kata-kata
ngibul, tidak mengerti tapi pura-pura
mengerti. Mereka bilang sayang Negara
dan kampung
kami, seluruh mulut penuh kebohongan.
Kata-kata itu hanya menjadi obat palsu
saja, semuanya bohong. Di saat bicara
selain membuat perselisihan
tidak
disenggaja. Dibandingkan dengan kelompok
orang Medan, kelompok
orang Sulawesi, dan kelompok orang Jawa
jauh sekali bedanya. Benar-benar kalah
telak, menyedihkan, menyerahlah pada
nasib saja. Ini terjadi pada diri anda,
anda
seseorang yang pintar bernyanyi,
memberikan obat penurut padaku dan
menjanjikan hal-hal manis, mengetarkan
hati, dan membuat senang,.
Saya
adalah oang yang
diberikan kepercayaan oleh “KPU”
Permasis,
yang mengetahui keadaan yang sebenarnya
dari pemilihan suara. Disaat pemilihan
yang dipelototi oleh semua anggota, dia
malah buka celana di depanku, mau melakukan
pelecahan padaku. Benar-benar
buta.
Saya tidak membuka kedoknya busuknya
pada semua orang sudah sangat berbaik
hati. Kalo sampai kebablasan, jangan
salahkan diriku yang bertindak diluar
kendali, sampai adikmu hilang, barang yg
berharga sendiri saja belum bisa jaga.
Bagaimana
kamu mau manusiawi? Menyatakan pada
semua orang suaramu.
Dan
bagaimana pula dapat mampu (sex),
bagaimana mengeras saja sudah tak mampu
(sex). Mana mungkin bisa disebut
laki-laki. Lebih baik mati saja.
Disaat
suara pemilihan tidak terbuka secara
keseluruhan, tidak dapat dibuktikan,
sebanyak kamu melakukan sekian banyak
kegagalan. Baru dapat menyatakan dengan
tepat kegelapan mana yang kamu bawahi
pada kami, di saat
aku kecewa dan berteriak “ai yo”
kesedihan akan meneteskan setetes air
mata buaya. Kamu pasti akan mendapatkan
omelan dari tante-tante dan nenek-nenek.
Kamu “lau huang” lagi teriak apa, minta
digampar. Ada sebuah pepatah yang
berkata: harga diri diberikan orang
lain, tapi harga diri hancur karena
dibuang oleh diri sediri. Jangan
salahkan aku kalau hancurkan dan
membuang harga dirimu. Bagaikan di saat
kamu berselingkuh dan tertangkap
basah, aku malah di kasur bercinta dan
berteriak keenakan, berkata puas dan
sangat senang. Kamua hanya suka
memnyemprotkan cairan spermamu dan
membuat orang lain tersiksa, menangis
sedih dan menderita. Membiarkan lawan
mainmu menahan kesakitan, menahan
kesedihan, tidak mampu protes ketika
menyemprotkan spermamu, bukankah ini
sangat angkuh dan menyebalkan. Lihat
saja karmamu! Banci.
Aku
dengan pisau melukai kalian, dan
mengobatinya dengan tensoplas karena
kuatir kalian infeksi. Hal ini dapat
membuktikan bahwa saya sadis namun baik
hati. Sudahlah, sudah tak mau tulis lagi,
semakin ditulis makin semakin
menyebalkan, seperti mengulek kotoran
manusia. Baunya luar biasa, semua orang
jadi tidak enak. Asal kalian tidak
bertindak keterlaluan saya akan usahakan
untuk tidak berkata terlalu banyak.
Sungguh tidak mau bermusuhan dengan
kalian. Jangan paksa aku “belajar”
membuka baju kalian mengaca di depan
kaca, cukup untuk membuat kalian berdua
merasa lebih nyata menghadapi diri.
Dengan
tulisan ini, coba pikirkan apakah mantan
yang gagal akan puas? Saat melihat foto
kerja sama kalian, bersekongkol, berbuat
jahat bersama. Semua baru akan
mengetahui baunya kalian sama, taraf
rendahnya sama. Kalian memang sesuai
untuk bekerja sama, masing-masing saling
mengerti. Tidak mau mengatakan hal buruk,
tapi kalian dapat berkerja sekarang ga
akan bisa bekerja sama selamuanya.
Melihat diriku meminum air seni, seluruh
mulut keluarnya hanya kata kotor. Sudah
hampir
tidak tahu malu itu apa, tapi masih
bangga berkata sembarangan. Sadarlah
hanya kalian berdua yang tidak nyaman,
di saat aku menimpakan
seluruh tubuh penuh kepahitan
orang-orang tua yang kurus. Ini akan
menjadi bahan bacaan yang sangat
menyenangkan, semoga ada yang mengerti
perasaanku. Saya akan rela mati untuk
itu. Seperti
makanan
enak yang luar biasa, sehingga begitu
berharga. Merasa diriku sangat angkuh
dan tinggi hati, tulislah satu lembar
lagi, untuk membalasku. Sudah saya
siapakan tempatnya untuk meletakkan
balasanmu. Silakan membalasku.
“Si
Cia
San
Khou”
Huang
Miau
Sen
Bacaan
ini dituliskan menunjukan pelampiasan,
seperti perlakuan sex sangat
menyenangkan bukan main. Surat ini
menyatakan diriku secara apa adanya,.
Siapa yang tidak punya gairah sex, dalam
Alkitab
Yesus menyatakan bahwa:
Siapa
yang mengira dirinya tidak bersalah dan
suci, malah melemparkan batu pada orang
yang bersalah. Kemarilah (tantangan),
aku akan mengenakan
jubah besi dan penutup kepala besi. Asal
bukan bom, lempar
saja, air kotor siram saja, main trisam
(sex), main permainan ”Tian
Ti
Yi
Cia
Jin”
kemarilah! aku sangat serius dengan ini,
lagipula aku suka permainan, suka
disiksa, berbuat nakal seperti demikian
rupa. Itulah yang membuat diriku
terlihat lucu dan imut. Laki-laki yang
hebat tidak akan tidak menanggapi
hal ini bukan? Hadapilah diriku dengan
kedok aslimu.
|