Membangkitkan orang bodoh, membiarkan orang pintar jatuh

28 September 2009
Komentar:

Ada sebuah artikel berbahasa mandarin saat ini sedang beredar di kalangan terbatas di Jakarta dengan judul “Membangkitkan “A Dou”, Membiarkan “Ming Khong” Jatuh(membangkitkan orang bodoh, membiarkan orang pintar jatuh)”.Dengan mudah kita akan mendapatkan artikel tersebut di daerah yang banyak penghuni komunitas Singkawang,seperti di daerah Jembatan Lima(Krendang), Bandengan. CintaSingkawang mendapat copy dari artikel tersebut dalam bentuk dua versi, versi bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia. Berikut ini hasil investigasi Team Cinta dan komentar dan analisa CintaSingkawang terhadap artikel tersebut sbb:

Penulis artikel tersebut  mencantumkan nama Bong Miau Sen sebagai nama jati dirinya.Menurut data yang ada di organisasi Permasis memang ada anggotanya bernama Bong Miau Sen,seorang lelaki yang berumur 60an tahun. Kita tidak tahu pasti apakah Bapak Bong Miau Sen anggota Permasis itu adalah identik dengan Bong Miau Sen sebagai penulis artikel tersebut.Nama bisa sama tetapi orang belum tentu sama, ini bisa terjadi.Namun demikian, satu hal sangat jelas bagi kita bahwa kemungkinan besar penulis adalah anggota Permasis karena tulisannya menceritakan begitu detail  apa yang telah terjadi dilingkungan organisasi mereka, Permasis.

Dalam tulisan tersebut, penulis membagi dua bagian:

Bagian pertama: Eulogy untuk “jabatan” ketua Permasis. Tentu  saja yang dimaksudkan yaitu jabatan mantan ketua Permasis, Pak Aliok. Eulogy adalah pidato atau kata puji-pujian terhadap orang meninggal dunia.Dalam budaya orang Barat  prosesi pemakaman mereka sering dilakukan di dalam gereja, peti mati diletakkan di depan orang- orang yang sedang  berkabung.Pada saat tersebut ada orang menyampaikan eulogy yang berisikan kata puji-pujian kepada orang yang tertidur pulas di dalam peti mati itu.  Orang yang menyampaikan eulogy itu biasanya  teman dekat/konco  atau anggota keluarga. Kata pujian itu berupa tentang keberhasilan, kebaikan,amal bakti dan kasih sayang. Kata pujian tersebut dimaksudkan agar dapat menimbulkan rasa cinta dan sayang kepada orang yang tertidur didalam peti itu. Menurut budaya mereka, pada saat orang yang tertidur didalam peti mati itu harus diberi komentar “baik-baik saja dan positf” walaupun semasa hidupnya banyak melakukan hal yang jelek tetapi harus mengatakan dia “bagus dan baik”. Dalam kehidupaan masyarakat yang menganut budaya seperti ini, kamus kepemimpinan mereka tidak ada pemimpin yang baik.Yang dikatakan pemimpin yang baik yaitu ketika pemimpin itu mendapat eulogy! Jadi, sebelum meninggal tidak akan  disebut sebagai pemimpin yang baik.

Dalam budaya kita, budaya komunitas Tionghoa Singkawang kita  tidak mengenal eulogy. Karena itu bukan budaya dan kebiasaan kita dalam upacara pemakaman. Filsafat kehidupan yang dianut komunitas kita adalah sesuatu yang telah berlalu tidak ada nilai dan tidak bermakna, mati ya  sudah mati, yang mantan ya sudah mantan. Tidak perlu diberi pujian dan penghargaan. Walaupun di dalam pepatah kita ada yang memberikan nasehat kepada kita:”Orang mati meninggalkan ‘nama’ harimau mati meniggalkan kulit”. Dalam kehidupan bermasyarakat kita tidak menemukan pepatah tersebut benar adanya. Karena orang yang  mati tidak bisa meminta orang yang masih hidup mengingatkan namanya. Supaya orang yang hidup bisa mengingat kepada nama orang sudah mati, harus ada acara bagaimana mendidik orang yang hidup itu menghargai perbuatan,pemberian,usaha yang telah dilakukan orang lain untuk memperbaiki dan kemajuan komunitasnya. Bukti sangat jelas di dalam sejarah orang Tionghoa Singkawang sudah berusia hampir 300 tahun tak terdapat seorangpun sebagai nama tokoh yang selalu dikenang dari jaman ke jaman oleh komunitas orang Tionghoa Singkawang. Atau namanya merupakan cerita dari mulut ke mulut(cerita rakyat) oleh komunitas kita. Ini menandakan masyarakat masih belum tahu bagaimana cara menghargai orang yang telah memajukan komunitasnya.

Pak Bong Miau Sen begitu sedih melihat adik “pheng ting” tidak dihargai usaha yang telah dia lakukan untuk Permasis. Kita sangat memahami akan hal ini, itu sebagai resiko menjadi pemimpin komunitas orang Tionghoa Singkawang.

Dalam eulogy Pak Bong Miau Sen untuk “jabatan” tidak melukiskan bagaimana karakter Pak Aliok ketika memimpin Permasis dan mengadakan rapat-rapat Permasis. Dari aksi memukul meja sampai memaki-maki anggotanya seperti Thung Kha sampai mengirim gambar-gambar porno kepada orang yang tak disukainya. Memang dalam eulogy kita tidak akan menemukan hal seperti itu.

Bagian Kedua: Karakter Orang Tionghoa Singkawang.

Dalam bagian kedua tulisan Pak Bong Miau Sen melukiskan bagaimana karakter Orang Tionghoa Singkawang di lingkungan Permasis. Menurut Pak Bong Miau Sen kemunafikan, tipu muslihat, ketidak jujuran ketika  proses dalam pemilihan ketua Permasis.Ada yang pura-pura bersahabat padahal dia adalah musuh yang tersembunyi mencari kesempatan menikam adik “pheng ting” dari belakang. Mereka ramai-ramai membantai adik “pheng ting”nya kemudian menendangnya keluar dari lingkungan Permasis. Bersekongkol antara junior dan senior, “kedua orang”  ini sebagai aktor  intelektual di belakang semua itu terjadi. Pak Bong Miau Sen sangat kecewa terhadap senior ini seharusnya sebagai senior memberi teladan,meluluskan yang bengkok,mengatakan salah ya salah. Bukan sebaliknya menurut kemauan para penipu. Pak Bong pesimis Permasis jatuh ketangan ‘mereka’akan terorganisasi dengan baik.

Ada satu hal perlu dipertanyakan kepada diri Pak Bong Miau Sen, menurut pengakuannya  bahwa dirinya diberi kepercayaan(tugas) sebagai KPU Permasis.Jika benar  dia mengetahui ada sesuatu tidak beres yang sedang berlangsung seharusnya dia “speak up”.Apakah Pak Bong ini juga mengalami ketidaksempurnaan karakter sebagai orang Tionghoa Singkawang yang tidak berani(takut) ‘speak up’ dihadapan orang-orang kaya? Padahal Pak Bong ini telah banyak membaca buku cerita “Ah Q(a cui)” sebagai buku pegangan menghadapi pertentangan kelas di masyarakat. Sulit bagi kita untuk menemukan orang yang berkarakter seperti Ah Q di komunitas kita. Ah Q berprinsip, berpendirian,speak up walaupun dia tidak memiliki pendidikan tinggi. Sebaliknya kita akan menemukan banyak orang yang berkarakter seperti Ah Q hadapi di komunitas kita. Marilah ikuti cerita Ah Q yang singkat ini.

Ketika satu hari sebelum menjelang tahun baru Imlek  Ah Q pulang dari perantauan. Pada saat tiba di kampung halamannya hari sudah malam,dia mengetok-ketok rumah pintu orangtuanya sambil mengatakan identitas dirinya.Lalu orangtuanya menanyakan kepada Ah Q apakah dia ada membawa uang pulang? Jika ada,  akan dibukakan pintu untuk dia.Ah Q menjawab:”biar aku masuk nanti baru kita bicarakan hal itu”. Sedangkan tetangganya berbisik-bisik Ah Q pasti tidak membawa duit, pulang malam. Hanya membawa satu bungkusan besar dan berat, mungkin isi batu “ kata tetangganya. Keesok hari, pada hari pertama tahun baru imlek para tetangga pagi sekali pergi sembahyang Pekong, mereka membawa persembahannya berupa ayam dan daging babi.Tetapi Ah Q masih tidur, belum bangun. Pada saat tengah hari, Ah Q baru pergi sembahyang ke Pekong. Ah Q membawa bahan persembahannya yang berbeda daripada para tetangganya. Dia pakai duit sebagai bahan persembahan, duit satu tumpuk ditaruh diatas piring besar supaya para tetangganya bisa melihat apa yang dipersembahkannya. Selesai sembayang di Pekong duitnya dibakar. Kemudian Ah Q pulang ke rumah ,tetangga- tetangganya semua datang memberi hormat kepada Ah Q. Ada yang memanggil Ah Q ‘Thai Kho ‘Asuk,ada yang memanggil Ah Q ‘Akung’. Kemudian Ah Q mengumpulkan tetangga- tetangganya kemudian  berbicara kepada mereka. Ah Q berkata dihadapan mereka:”saya tahu kalian membutuhkan apa di kampung ini, liung kong(kayu mengangkat peti mati).Liung kong harus ditambah”.Pada tetangga menjawab iya,betul. Sedikitpun tidak salah kami butuh liung kong. Padahal menurut adat kita Tionghoa pantang membicarakan masalah kematian pada tahun baru imlek karena ini akan membawa kesialan sepanjang tahun. Ah Q membuktikan memiliki duit itu dapat  mengubah prinsip yang dimiliki para tetangganya.Kita akan menemukan orang berkarakter seperti para tetangga Ah Q dimana saja bukan hanya di organisasi di Permasis saja.

Kesimpulan:

Tulisan Pak Bong Miau Sen yang berjudul Membangkitkan “A Dou”, Membiarkan “Ming Khong” Jatuh(membangkitkan orang bodoh, membiarkan orang pintar jatuh)”.Sedikitpun tidak memberikan gagasan dan solusi bagaimana cara pemecahan ataupun sebuah pemikiran bagaimana memperbaiki sistem management Permasis.Supaya mencegah hal-hal sudah terjadi  jangan terulang lagi sehingga tidak terjadi  korban lebih banyak lagi. Atau sebuah pemikiran mengembangkan metode yang lebih demokratis sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

Walaupun Pak Bong Miau Sen mengatakan tidak takut,  siap menghadapi balasan. Tetapi nyatanya beliau tidak berani menyebut identitas  kedua tokoh di Permasis yang menurutnya sebagai mastermind lengsernya  adik “pheng ting”. Tanpa menyebutkan identitas kedua orang tersebut membuat para pembaca yang diluar lingkungan Permasis agak kebingungan memahami cerita tersebut.

Seperti  apa yang dimaksudkan Pak Bong dia menulis essay  tersebut sekedar mendapat sejenis kepuasan seksual.Sebuah tulisan hanya mengandalkan kata-kata kotor saja sudah sangat  tidak menarik perhatian masyarakat untuk dijadikan bahan diskusi atau sebagai sumbangan suatu pemikiran dari Pak Bong Miau Sen, alumnus Nam Cung Singkawang ini. Pada awal alinea tulisannya sudah membuat kesalahan, ada satu kata "tidak" lupa dimasukkan oleh Pak Bong sehingga membingungkan pada pembaca.Pada awal paragraf berbunyi "Dikarenakan oleh rencana busuk sekelompok orang yang tidak tahu diri dan tidak tahu malu, yang berbuat curang dengan segala macam cara, akhirnya “Huang Pang Ting” terpilih dengan suara tinggi. Saya dan kelompok saya tidak suka melihat itu, tidak rela kalah. Ketua Huang adalah orang yang kuat". Apakah tidak terdapat keganjilan pada alinea tersebut? Kita perlu bertanya kepada Pak Bong secara logika kalimatnya mana yang  benar:"karena kecurangan sekelompok orang akhirnya Huang Pang Ting” terpilih dengan suara banyak" atau "karena kecurangan sekelompok orang akhirnya Huang Pang Ting” tidak terpilih dengan suara banyak"? Melihat tulisan Pak Bong bagaimana melukiskan emosinya, sudah dapat kita pastikan yang benar "tidak terpilih". Jadi, seharusnya berbunyi begini:"Dikarenakan oleh rencana busuk sekelompok orang yang tidak tahu diri dan tidak tahu malu, yang berbuat curang dengan segala macam cara, akhirnya “Huang Pang Ting” tidak terpilih dengan suara tinggi. Saya dan kelompok saya tidak suka melihat itu, tidak rela kalah. Ketua Huang adalah orang yang kuat."

Memakai perumpamaan yang sangat keliru dengan menyebut nama Yesus,tetapi dalam Essaynya menghujat,

Ini juga merupakan suatu signal kepada pihak Permasis untuk memperbaiki kekurangan yang ada pada pihaknya. Jika tidak, kelak kita akan lebih banyak menemukan Pak Bong yang lain sambil menyanyi lagu-lagu frustrasinya dan menyebarkan pampletnya.

############################

Membangkitkan “A Dou”, Membiarkan “Ming Khong” Jatuh

(membangkitkan orang bodoh, membiarkan orang pintar jatuh)

 oleh :Bong Miau Sen

Dikarenakan oleh rencana busuk sekelompok orang yang tidak tahu diri dan tidak tahu malu, yang berbuat curang dengan segala macam cara, akhirnya “Huang Pang Ting” terpilih dengan suara tinggi. Saya dan kelompok saya tidak suka melihat itu, tidak rela kalah. Ketua Huang adalah orang yang kuat. Orang yang kalah karena ketidak-adilan ini janganlah berkecil hati dan tidak rela. Janganlah salahkan diri saya untuk tidak menenangkan orang-orang yang kalah. Orang yang hebat jatuh dan akan bangkit di tempat yang sama.

Dia membiarkan orang-orang lain bersedih hati sendirian, hati ketakutan tidak tahu arah, menakut-takuti diri dengan perasaan tak tenang. Dengan menunjukan suasana hati sangat senang, wajah tenang dan tidak bersalah. Menjadikan kerbau neraka, setan bahkan dewa (hal buruk tak terlihat) disingkirkan satu-satu bagai bola. Melainkan hal-hal seperti anjing, cacing, binatang busuk (berbagai binatang), langsung dimusnahkan, ketika dalam emosi yang meledak-ledak. Jika benar-benar memiliki sikap wibawa yang seperti ksatria, walaupun hanya memukul lalat, dan tidak memukul harimau, saya senang mendengar hal tersebut. Sehingga hatiku tenang. Sejujurnya saya takut kamu membalasku.

Saya biasanya menganggap diri saya sendiri angkuh dan tinggi hati, tidak mudah untuk bergabung dengan kelompok sosaial dan bersosialisasi. Baik berupa acara pemakaman, pernikahan maupun perayaan, sejak berbicara dengan bapak saat itu, kamu maju ke depan untuk menjadi seorang pemimpin, menujukkan sosok dirimu yang dewasa dan mandiri. Tidak dapat bergabung sembarangan dengan kelompok lainnya. Ketua sebelumnya tidak berhasil dengan semestinya. Hal itu disebabkan karena image dirinya di depan orang banyak sangatlah baik, sehingga takut bersalah pada orang lain, sehingga “shi dou yen” menjadi ahli sosialisasinya, sehingga akhir ceritanya adalah “jadi manusia sukses, cara menyelesaikan masalah yang gagal.”

Di antara kita, sejak pertemuan pertama kita, saya sangat menyukai kepribadiaan anda, saya sangat mengagumi sifat anda yang blak-blakan. Sehingga saya bisa naik ke dalam kapal busukmu, sekarang menyesal dan tidak bisa kabur dari kapal itu, walaupun bisa kabur, saya juga tidak bisa berenang, semua sudah terjadi, menyesalpun sudah terlambat, mendoakanmu mati, bernasib sial, mengutukmu, dan mengharapkan segala hal yang terburuk terjadi padamu. Tetapi saya tidak tega melihatmu dipukul ramai-ramai, dikucilkan dan dibunuh diam-diam dengan pistol.

 

Saya juga merasa sangat tidak adil. Mata putihmu melototin mata-mata hijau mereka. Saya sangat marah sampai mataku pun ikut merah dibuatnya marah. Dari samping melihatmu dipaksa turun oleh anggota lainnya dari takhta. Kamu menggunakan sifat kamu yang tegas dan dewasa tersenyum. Aku mendukungmu, aku tidak menyalahkanmu, kamu pemimpin yang sangat baik. Wahai Adik “pheng ting” kamu barulah kalah sekali, kamu masi muda, masa depan dirimu masih bisa menjadi sangat baik, kamu baru memcobanya sekali, jika kalah masih ada kesempatan yang akan datang. Kegagalanmu itu membuat diriku senang. Aku senang sekali melihatmu gagal. Dipaksa turun dari jabatan. Diusir dari belakang dan ditunggu untuk dihajar didepan (maju salah, mundur salah). Orang yang menyatakan bahwa diri mereka adalah teman baikmu malah bersuka cita. Orang yang gagal pastilah sedih dan kecewa. Sikap yang berani mengangkat dan berani menurunkan sangat pantas dihargai. Walaupun ratusan bahkan ribuan orang menuduhnya dan memnuntutnya. Sungguh sikap orang besar. “sui ce mo” pada puisi “khang ciau” mengatakan bahwa jika pelan-pelan datang, maka haruslah pelan-pelan juga perginya, melambaikan tangan dengan gagah dan tidak meninggalkan sedikitpun kehormatan. Pada puisi “ro pin wang” paling cocok untuk menunjukan perasaanmu saat ini. (tidak ada orang yang benar-benar tinggi dan bersih, siapa yang dapat menyatakan dengan jelas perasaan orang lain).

Disaat Permasis diatur oleh ketua yang bahkan tidak tahu siapa yang berkuasa. Kamu berhasil mundur. Kamu di Permasis disaat dimana dirimu lumpuh dan hancur, ada orang yang bersuka cita atas keadaan ini. Dalam kesempatan ini dia menjajah, menduduki wilayah kekuasaan, hingga menciptakan dunia baru. Sungguh anggota yang brengsek, mereka telah mengkhianati hati nurani mereka sendiri. Merubah haluan “suara pemilihan” tidak peduli pada orang yang telah membantunya. Membiarkan orang yang berjasa akan diri mereka mendapat masalah. Membiarkan keberhasilan yang telah kamu menangkan dimenangkan oleh orang lain. “bagai kaleng minyak yang bocor” sehingga dia yang mendapatkan pujian. Hanya mampu memunggut hal praktis, dengan cara yang curang untuk memenangkan hal tersebut. Sungguh tidak rela membiarkan dirimu dijahati oleh orang-orang bodoh itu. Kemenangan kali ini merupakan kemenangan yang tidak adil. Membuat orang ingin cepat marah namun sangat ingin tertawa terhadap anggota-anggota marah dan mudah ngambek. Tidak punya belas kasih dan berhati kejam itu. Agar tidak membiarkan orang yang curang itu maju dengan seenaknya saja tanpa alasan, tidak mau melihat situasi itu dan tak mau membiarkan orang yang baik bersedih di rumah, orang jahat malah berada di atas panggung berdrama-ria. Oleh karena suasana yang tidak mengenakkan dan tidak rela inilah, sehingga tidak ada cara lain lagi selain protes. Belajar dari ”a cui” yang berteriak “ni ma de se”(ngomelan), untuk melampiaskan perasaan di hati dan rasa marah.

Mengingat tahun lalu, adikmu membawa kerabat dan teman-teman untuk kembali ke Guang Zhou. Di depan lapangan besar kampus “luo ciau”. keinginanmu untuk membuat tamu-tamumu senang. Perlakuan kamu sangat baik, membuat orang begitu kagum. Suasana hati senang dan sangat memuaskan, bersenang-senang bersama. Kedewasaan dan royalitas “terlihat harapan kemakmuran akan masa depan”. Yah walaupun hanya begitu, apapun dilakukan bersama-sama, dapat menunjukkan tingginya derajatmu. Semua orang yang pergi bersamamu juga sangat mengagumi dan salut padamu. Kami berikan dukungan padamu dengan bertepuk tangan.

Terhadap Permasismu yang telah diperjuangkan dengan bertahun-tahun bekerja keras. Mengerahkan seluruh tenaga dan pikiran baru dapat memperoleh dukungan dari anggota. Membuat masa depan seluruh anggota mendapatkan hari yang cerah dan pandangan akan masa depan yang begitu baik sekarang. Melakukan begitu banyak kerja keras barulah dapat mengambil hati orang. kamu berkata bahwa ini merupakan pekerjaan yang ingin dilakukan, harus dilakukan, dan terpaksa harus melakukannya. Setiap hari menghadapi begitu banyak orang sehingga siapapun yang melihatnya pasti berkepala besar. Waktumu, seperti ikan yang jadi santapan untuk beramai-ramai, hingga yang tertinggal hanyalah tulang. Tapi kamu malah menyatakan bahwa kamu tidak menyesal, demi Permasis kamu telah mengorbankan diri dan hidup.

Bagaimana caranya orang-orang itu menuntut dirimu untuk dihukum. Sungguh anggota kelompok yang begitu baik hati, dan perlakuan yang tidak adil. Apakah anggota kelompok tidak memiliki sebuat standar penilaian yang lebih baik? Hanya dikarenakan sifat dirimu yang tegas, tidak menuntut keuntungan pribadi daripada kepentingan bersama, menghambat orang jahat yang mau sukses. tidak memberikan orang yang lebih tua penghormatan untuk berbuat seenaknya, akhirnya mereka bersatu untuk menghancurkan dirimu, dengan sekali hentakan suara, seperti tikus yang hanya berpandangan pendek menjadikanmu sebagai korban. Membuat orang yang menjanjikan keuntungan kepada kita semua, menjadikan kata-kata kebohongan beruntun sebagai harapan akan masa depan yang tinggi dan polos. Memandang orang jahat tetapi menanggap dirinya sebagai dewa.

“Kang You Wei”, ketika diincar dan melarikan diri dari Jepang, pada pemerintahan Dinasti Ming. Menyerahkan sebagian Negara membuat dirinya terluka dan sedih, sehingga menuliskan kata-kata yang sangat bagus “sangatlah sedih saat melihatnya” sungguh merupakan penghinaan terhadap Permasis telah menjadi sumber kesedihan, melihat begitu banyak orang brengsek menjahati dirimu, siapapun tidak akan senang melihatnya. Mereka mengira dengan tidak adanya “Kang You Wei” yang memilikipun  harta sehingga berkata sembarangan, mengatakan kata-kata yang miring. Sungguh  berharap Taliban ataupun binladen beserta kelompok perangnya menghampiri dan sekali bom, meledak bagai bunga. Dengan bom bunuh diri sehingga kita mati bersama, dan kembali ke Tuhan kita masing-masing, dengan demikian selesailah sudah  semua.

Dalam setiap hati manusia ada semacam penilaian yang membuat kita suka membanding-bandingkan, dengan kata lain jika berbuat kebaikan, hanya sedikit orang yang akan menyatakan bahwa orang lain baik. Orang-orang cenderung tidak senang melihat orang lain lebih bahagia. Kelompok orang bodoh itu lupa akan kebaikan orang, tidak berpendidikan dan tidak pandai menilai. Hari ini percaya Yesus besok berdoa pada Kuan Im. Tidak protes bisakah?

Di saat pengumuman politik, tidak pernah berhenti berpidato, meyakinkan orang lain akan sifatnya yang adil dan terbuka, tetapi malah berbuat curang untuk dapat suara, kebohongan seperti itu saja sudah sanggup kamu lakukan. Bahkan dikatakan juga pada saat pertemuan dia menyatakan dengan wajah tak bersalah. Kebohongan yang terlalu konyol. Tidak perduli pada harga diri, tak peduli akan buruk di mata orang lain. Muka tuanya tak sanggup tahan, kenyataan curang ini sangat nyata terlihat, sungguh penghinaan terhadap anggota kelompok lainnya, sampai anggota yang kurang berpartisipasi pun sudah tahu. Saling bertanya-tanya tetapi tetap berpura-pura tidak tahu. Sungguh membuat diriku sebal dan bete.

Sejak dahulu kala, dulu sampai sekarang di seluruh dunia pastilah terdapat penipu, baik penipu uang, penipu sex bahkan ada penipu cinta. Semua itu tidak ada apa-apanya dibanding dirimu, ada penipu yang sekali lihat langsung ketahuan, seperti di kelas ketika masih bersekolah pastilah ada yang berlagak preman dan bertindak rendah, menyakiti dan mengerjai guru, pastilah sudah langsung kelihatan dari tampangnya. Karena dari wajah saja sudah kelihatan rendahan. Tamu kecil tak diundang yang berada di ujung jalan, menawarkan diri untuk meramal nasib, orang buta pegang tulang, dan berbagai penipu meramal lainnya. Pedagang kaki lima yang jual obat di samping jalan, menjual obat kuat di samping jalan yang bilang ajaib. Seperti sales penjual obat kuat, sedikit perhatikan pasti langsung terlihat bahwa semua itu penipu. Tidak perlu orang ingatkan pun, dari dalam diri pastilah sudah ada sifat waspada, sehingga tidak akan tertipu.

Tetapi ada penipu yang tidak begitu mudah dilihat. Harus ada yang memperingatkan barulah kita bisa membuka mata. Saya pikir lebih mudah untuk memberikan sebuah contoh untuk jadi bahan pertimbangan: Mereka bukanlah tidak mampu atau tidak memiliki karir bahkan sebenarnya kekayaan mereka pastilah sudah melebihi kita, mereka bukan hanya penipu begitu saja, mereka memdapatkan keuntungan yang sangat banyak dikarenakan tak ada dia. OKB tidak pantas, tidak berbudaya malah tidak berpendidikan, secara tidak sengaja kaya sedikit. Mendadani monyet dengan baju dan celana, dan menjadikan monyet tersebut orang. Permasis jatuh ke tangan mereka bagai “ayam-ayam kecil” (alat kelamin laki-laki). Anggota kelompok disiksa dan ditindas sampai tidak dapat bersuara. Bagaikan mendapatkan penyakit sulit pipis.

Penipu-penipu selain menipu dan berbuat curang terhadap suara pemilihan, kata-kata kasar, semuanya anjing, bahan pembicaraannya tidak jauh dari bagaimana cara bikhuni melahirkan, bagaimana pendeta suci berbuat dosa, dokter yang menyuntikkan obat tidak berkhasiat. Ratusan kata-kata ngibul, tidak mengerti tapi pura-pura mengerti. Mereka bilang sayang Negara dan kampung kami, seluruh mulut penuh kebohongan. Kata-kata itu hanya menjadi obat palsu saja, semuanya bohong. Di saat bicara selain membuat perselisihan tidak disenggaja. Dibandingkan dengan kelompok orang Medan, kelompok orang Sulawesi, dan kelompok orang Jawa jauh sekali bedanya. Benar-benar kalah telak, menyedihkan, menyerahlah pada nasib saja. Ini terjadi pada diri anda, anda seseorang yang pintar bernyanyi, memberikan obat penurut padaku dan menjanjikan hal-hal manis, mengetarkan hati, dan membuat senang,.

 Saya adalah oang yang diberikan kepercayaan oleh “KPU” Permasis, yang mengetahui keadaan yang sebenarnya dari pemilihan suara. Disaat pemilihan yang dipelototi oleh semua anggota, dia malah buka celana di depanku, mau melakukan pelecahan padaku. Benar-benar buta. Saya tidak membuka kedoknya busuknya pada semua orang sudah sangat berbaik hati. Kalo sampai kebablasan, jangan salahkan diriku yang bertindak diluar kendali, sampai adikmu hilang, barang yg berharga sendiri saja belum bisa jaga. Bagaimana kamu mau manusiawi? Menyatakan pada semua orang suaramu. Dan bagaimana pula dapat mampu (sex), bagaimana mengeras saja sudah tak mampu (sex). Mana mungkin bisa disebut laki-laki. Lebih baik mati saja.

Disaat suara pemilihan tidak terbuka secara keseluruhan, tidak dapat dibuktikan, sebanyak kamu melakukan sekian banyak kegagalan. Baru dapat menyatakan dengan tepat kegelapan mana yang kamu bawahi pada kami, di saat aku kecewa dan berteriak “ai yo” kesedihan akan meneteskan setetes air mata buaya. Kamu pasti akan mendapatkan omelan dari tante-tante dan nenek-nenek. Kamu “lau huang” lagi teriak apa, minta digampar. Ada sebuah pepatah yang berkata: harga diri diberikan orang lain, tapi harga diri hancur karena dibuang oleh diri sediri. Jangan salahkan aku kalau hancurkan dan membuang harga dirimu. Bagaikan di saat kamu berselingkuh dan tertangkap basah, aku malah di kasur bercinta dan berteriak keenakan, berkata puas dan sangat senang. Kamua hanya suka memnyemprotkan cairan spermamu dan membuat orang lain tersiksa, menangis sedih dan menderita. Membiarkan lawan mainmu menahan kesakitan, menahan kesedihan, tidak mampu protes ketika menyemprotkan spermamu, bukankah ini sangat angkuh dan menyebalkan. Lihat saja karmamu! Banci.

Aku dengan pisau melukai kalian, dan mengobatinya dengan tensoplas karena kuatir kalian infeksi. Hal ini dapat membuktikan bahwa saya sadis namun baik hati. Sudahlah, sudah tak mau tulis lagi, semakin ditulis makin semakin menyebalkan, seperti mengulek kotoran manusia. Baunya luar biasa, semua orang jadi tidak enak. Asal kalian tidak bertindak keterlaluan saya akan usahakan untuk tidak berkata terlalu banyak. Sungguh tidak mau bermusuhan dengan kalian. Jangan paksa aku “belajar” membuka baju kalian mengaca di depan kaca, cukup untuk membuat kalian berdua merasa lebih nyata menghadapi diri.

Dengan tulisan ini, coba pikirkan apakah mantan yang gagal akan puas? Saat melihat foto kerja sama kalian, bersekongkol, berbuat jahat bersama. Semua baru akan mengetahui baunya kalian sama, taraf rendahnya sama. Kalian memang sesuai untuk bekerja sama, masing-masing saling mengerti. Tidak mau mengatakan hal buruk, tapi kalian dapat berkerja sekarang ga akan bisa bekerja sama selamuanya.

Melihat diriku meminum air seni, seluruh mulut keluarnya hanya kata kotor. Sudah hampir tidak tahu malu itu apa, tapi masih bangga berkata sembarangan. Sadarlah hanya kalian berdua yang tidak nyaman, di saat aku menimpakan seluruh tubuh penuh kepahitan orang-orang tua yang kurus. Ini akan menjadi bahan bacaan yang sangat menyenangkan, semoga ada yang mengerti perasaanku. Saya akan rela mati untuk itu. Seperti makanan enak yang luar biasa, sehingga begitu berharga. Merasa diriku sangat angkuh dan tinggi hati, tulislah satu lembar lagi, untuk membalasku. Sudah saya siapakan tempatnya untuk meletakkan balasanmu. Silakan membalasku.

Si Cia San Khou” Huang Miau Sen

Bacaan ini dituliskan menunjukan pelampiasan, seperti perlakuan sex sangat menyenangkan bukan main. Surat ini menyatakan diriku secara apa adanya,. Siapa yang tidak punya gairah sex, dalam Alkitab Yesus menyatakan bahwa: Siapa yang mengira dirinya tidak bersalah dan suci, malah melemparkan batu pada orang yang bersalah. Kemarilah (tantangan), aku akan mengenakan jubah besi dan penutup kepala besi. Asal bukan bom, lempar saja, air kotor siram saja, main trisam (sex), main permainan ”Tian Ti Yi Cia Jin” kemarilah! aku sangat serius dengan ini, lagipula aku suka permainan, suka disiksa, berbuat nakal seperti demikian rupa. Itulah yang membuat diriku terlihat lucu dan imut. Laki-laki yang hebat tidak akan tidak menanggapi hal ini bukan? Hadapilah diriku dengan kedok aslimu.

 

 

CintaSingkawang,28 September 2009