Kerajaan San Keu Jong ditaklukkan oleh Kesultanan Sambas

20Juni 2010

Komentar:
Pada tanggal 19 Juni 2010 Raja San Keu Jong, Bong Sau Fan berlutut  didepan Kesultanan Sambas, menyerah tanpa syarat. Di dalam keraton perbedaan status antara“hamba” dengan “baginda” sangat jelas, hamba harus berlutut dihadapan baginda .  Tentu saja peristiwa yang sangat bersejarah ini belum tercatat dalam buku karangan Yuan BingLing” Chinese Democracies A Study Of The Kongsis Of West Borneo”, sebagai buku pegangan dan kesukaan Pak HK.  Kita mengharapkan kelak buku tersebut direvisi untuk penambahan bab tentang peristiwa Kerajaan San Keu Jong ditaklukkan oleh Kesultanan Sambas supaya pada generasi penerus  Singbebas lebih memahami nilai sejarah.

Peristiwa permintaan maaf Pak HK kepada Kesultanan Sambas dan Kesultanan Melayu seluruh KalBar sudah merupakan peristiwa bermakna sejarah. Maka
pelbagai kalangan di Singkawang mengusulkan peristiwa  seperti itu harus mendapat penghargaan MURI. Kalau usul ini diterima oleh badan pemberi MURI, pantas kita ucapkan” you done again Pak HK” seperti bunyi salah satu iklan makanan siap saji mengiklankan produk barunya. Pak HK  dapat penghargaan MURI lagi! Pada pengikuti Pak HK seperti anak tetangganya, Hendy Lie. Asan(Nursantio), Muk Nen bahkan penasihat Pak HK, Pak Lio Kurniawan(Huang Peng Thin) alias ALiok shock membaca koran Pontianak Post  pada hari ini dan melihat foto Pak HK sedang berlutut didepan Kesultanan Sambas seperti seorang tawanan perang saja.
Euginea Wu, pemggemar Pak HK sampai berteriak histeris di Taiwan, Hendra Bong sampai tak bisa makan,pak Dhe sedih. Sedang ketua DPRD Singkawang, Ibu Tjhai Chui Mie dan Santi menggosok minyak angin dikening mereka seakan-akan tidak percaya bahwa Pak HK bertulut, dan bossnya restaurant Sun Moon  berteriak masyallah! Itu nama dari segelintir pengikut Pak HK reaksi mereka melihat idolanya gagah perkasa itu tidak berkutik dihadapan Kesultanan Sambas.

Salah satu buku kesukaan Pak HK dan Pak Aliok “Seni Perang Sun Tzu”. Menurut prinsip kepemimpinan dalam buku tersebut”Jika seorang pemimpin sudah menyerah kepada musuh, dia akan kehilangan kewibawaan”. Dalam budaya orang Hakka  apabila seseorang berlutut dihadapan orang  lain dia akan kehilangan “harga diri(ci hi)” dan “kewibawaan, berlutut adalah perbuatan  menghina diri sendiri”.Karena dalam adat orang Hakka hal itu harus dijaga jangan sampai terjadi kepada kita; berlutut kepada orang lain atau orang lain berlutut kepada kita. Karena orang lain berlutut kepada kita berarti oarng itu meminta pengampuan. Dalam prosesi pengampunan menyangkut dua unsur yaitu “kesalahan” dan “dosa”. Sebagai manusia kita bisa memaafkan kesalahan orang lain kepada kita, tetapi mengampuni “dosa”orang lain itu bukan peranan kita sebagai manusia. Karena hanya Tuhan dapat mengampuni dosa manusia. Bertindak sebagai Tuhan sudah sangat jelas berbuat dosa. Maka dari itu kita jangan membuat sampai orang lain berlutut kepada kita.
Bagi orang Kanton pemahaman “ci hi” tidak prinsip bahkan mereka menganggap pandangan seperti itu tidak benar, cerita bohong.  Mungkin adat Hakka berdasarkan pandangan militer” lebih baik mati daripada mendapat penghinaan dari pihak lawan”. Karena dalam sejarah Tiongkok mencatat  orang  Hakka adalah ahli  pemikir dibidang kemiliteran, mengembangkan konsep kemiliteran dan pemimpin kemiliteran yang baik. Sampai saat ini pun orang Hakka mendominasi karier dibidang  kemiliteran  di RRT dan Taiwan .

Secara politis karier Pak HK sudah finish. Dia unfit untuk menjadi pemimpin bagi para pengikutnya. Dampak dari masalah makalah dan patung naga memberi satu pengalaman sangat berharga untuk  masyarakat Singkawang khusus komunitas Tionghoa Singkawang tentang pemimpin yang akan mereka piilih pada pilkada mendatang.Pelajaran apa yg kita dapatkan dari pengalaman Pak HK tersebut sebagai komunitas Tionghoa Singbebas ? Sebagai warganegara Indonesia minoritas kita sudah hidup turun temurun didaerah Singbebas kita harus memahami ada hal yang sangat sentitif terutama masalah SARA dimasyarakat kita. Kalau kita terjebak dalam masalah tersebut akibatnya akan merugikan komunitas kita. Seharusnya Beliau tidak perlu mendapat reputasi sebagai wali kota Tionghoa Singkawang pertama mendapat hukuman adat dan dipermalukan seperti itu(bu juk) seandainya Beliau memahami hal itu.

Patut disayangkan Pak HK adalah the best MC tetapi tidak memiliki kecanggihan kalkulasi politik dan lebih banyak terinspirasi dengan cerita legenda masa lalu akibat banyak belajar dari buku buku yang ditulis para pelancong,Republic Lanfong dan cenderung ber"Kalibers"ria dengan anak tetangga. Seperti apa yang pernah terjadi di milis smp berbeda pendapat adalah musuh,dan musuh itu harus diusir. Penghakiman massal  terhadap  orang-orang  yang berbeda pendapat dengan mereka. Kalau perlu orang seluruh kampungnya dimusuhi.
Bukti ini sangat jelas seperti  apa yang telah dialami oleh pak Alex EM (Moo Kon Luk) baru baru ini. Pak Akex dimusuhi, ditekan, oleh para pengikutnya se Singkawang hanya karena berbeda pandangan dalam masalah patung naga. Bahkan ada indikasi menunjukkan ada rencana untuk menyakiti Pak Alex secara fisik. Cara berpolitik berunsur primitif dan barbarian itu sudah tidak diterima oleh komunitas Tionghoa Singkawang.Hal ini harus disadari oleh mereka ingin menjadi pemimpin dikawasan ini.
Semoga dengan kejadian takluknya raja San Keu Jong  ini masyarakat Singkawang lebih dewasa dalam berbeda pandangan,bermasyarakat,berbangsa dan bernegara, Amin.
  
CintaSingkawang, 20Juni 2010