|
Menurut hasil pemantauan reporter
CintaSingkawang pada jam
12 siang ,tanggal 11 Januari 2009
telah terjadi bencana
banjir melanda kota Singkawang lagi.
Hubungan jalan darat
antara Pontianak menuju ke Singkawang
terputus di desa Gunung Besi(Lirang)
karena terjadi tanah longsor. Di desa
Kaliasin(Jamthang) juga terjadi tanah
longsor.Bahkan warga di Kaliasin yang
tidak pernah banjir
hari ini dikejutkan dengan banjir
setinggi lutut,ditepi
jalan di desa Padang Pasir(Saliung)
menuju pabrik keramik Tajau Mas
juga dilanda
banjir.Padahal dalam sejarah desa
tersebut belum pernah dilanda banjir.
Dalam kurung waktu dua bulan
kota
Singkawang sudah dilanda banjir 2 kali.
Fenomena alam ini menjadi bahan diskusi
yang menarik di warung-warung kopi di
kota ini.Sebagian besar dari masyarakat
Singkawang menghubungkan bencana banjir
yang terjadi di kota ini dengan salah
prosedur dalam pembangunan patung naga
yang kemudian dikenal sebagai “Patung
Naga Bong Li Thiam” tsb. Ada juga
fenomena ini dihubungkan dengan
pembentukan Panitia Cap Go Meh 2009 yang
dipaksakan oleh Pak wako kita,Pak Hasan
Karman.”Ini merupakan sebuah karma(hukuman)
untuk kota ini karena
ketua Panitia CGM 2009 bukan menganut
agama yang sama dengan kita”, menurut
seorang ahli hitung
perbintangan Tionghoa yang
meminta Cinta jangan mencantumkan
identitas dirinya.Menurut Pak Tua
ini,untuk ditunjuk menjadi sebagai ketua
Panitia CGM harus
memenuhi beberapa persyaratan,salah satu
persyaratan itu yaitu orang itu harus
pai shin(sembahyang pekong).
Mengenai kebijakan
tata cara CGM 2009 yang diinginkan oleh
Pak wako kita itu,sekarang menjadi isu
di kota Singkawang.Karena para Tatung
keberatan dengan konsep satu
altar.CintaSingkawang meminta
pendapat pemerhati masalah
Singkawang,Pak Herry Chung di Bandung
via telepon .Pak Herry
mengatakan”Seharusnya
Pak Hasan Karman memanfaatkan momentum
pembentukan Panitia CGM 2009
ini untuk memperbaiki
imagenya di komunitas Tionghoa
Singkawang.Bukan sebaliknya mempersulit
diri sendiri.Paling tidak ada 2
keuntungan Beliau dapat jika Beliau
memberi kesempatan kepada masyarakat
yang mau mendirikan altar(lebih
dari satu altar).Yaitu pertama:
menandakan Beliau seorang
demokrat,memperkecil perselisihan paham
Beliau dengan faksi –faksi di dalam
komunitas Tionghoa Singkawang.Dengan
demikian Beliau akan mendapat dukungan
penuh dari komunitas Tionghoa
Singkawang.Kedua,dalam krisis finansial
yang sedang kita hadapi.Sudah
jelas sangat sulit mencari sponsor untuk
acara CGM. Selama ini sumber dana dari
pasar Tanah Abang(Jakarta) tahun ini
mungkin susah mendapat sponsor karena
ada sekitar 8 cukong besar
mengalami bangkrut,ada juga yang
kabur.Tentu saja ini akan mempengaruh
pengusaha yang lain yang berbisnis di
Tanah Abang. Jika masyarakat beri hak
kebebasan mendirikan altar masing-masing
berarti beban ekonomi tidak
memberatkan kepihak panitia.Karena
masing-masing altar mencari keuangannya(dana)
masing-masing.Nah,sebaliknya apa yang
Beliau dapat dengan konsep satu altar?
Justru sekarang Pak
Hasan Karman mendapat tuduhan
mempergunakan kekuasaannya itu untuk
mengintimidasi para Tatung yang berbeda pendapat dengan Beliau dalam masalah
altar.Ini sama saja Pak Hasan Karman
memakai kekuasaan menindas komunitasnya
sendiri.”
|