Wako mimpi Mega Proyek,Warga Pesta Api Unggun
20 April 2008

Komentar:

Diantara pembaca pasti  ada yang belum pernah merasakan betapa indahnya kalau kita duduk mengelilingi api unggun.Rasa kehangatan dari api unggun akan semakin bermakna,apalagi kalau ditemani oleh sahabat dengan hidangan kopi hangat.Suasana seperti itu akan terasa betapa indah hidup ini.
Tetapi api unggun bagi masyarakat Singkawang yang hidup dipinggiran kota Singkawang belakangan ini,tidak seindah seperti apa yang kita bayangkan.Api unggun bagi mereka menandakan kemunduran
perabadan manusia,penurunan standard kehidupan,dan menambah kerepotan dalam hidup.
Mereka ini adalah masyarakat yang tidak beruntung,tidak sanggup membeli minyak tanah atau gas elpiji untuk dipakai memasak.Mereka terpaksa harus memakai kayu bakar untuk memasak .Kehidupan mereka seperti  memutar jam kembali ke masa 40 tahun yang silam,kembali gaya hidup masa primitif. 

Harga minyak tanah Rp.7ribu perliter,meskipun dengan harga Rp.7ribu perliter masyarakat  sulit mendapat minyak tanah di Singkawang.Kelangkaan minyak tanah ini sangat berdampak terhadap kehidupan masyarakat. Entah berapa besar kerugian materi yang diderita oleh masyarakat,terutama bisnis restaurant dan katering . Kota impian pariwisata CapGoMeh berubah menjadi kota pariwisata Api Unggun.Tabung Elpiji untuk ukuran 12 kg seharga Rp1juta,dan isi ulang elpiji Rp110rb.Hanya segelintir masyarakat di pedesaan yang sanggup memakai gas elpiji. Ketika laporan ini ditulis,masyarakat sedang antri minyak tanah di jalan Kuala Singkawang dengan harga Rp7ribu per liter dengan jatah 2liter per hari per keluarga.Penyediaan stock  gas elpiji di Singkawang sangat terbatas. Teriakan warga dimana-mana ,dibawah pemerintahan wako Pak Hasan Karman membeli minyak tanah harus antri.  Konversi minyak tanah ke elpiji adalah program nasional,untuk menghemat subsidi dan menyelamatkan APBN puluhan trilium rupiah. 

Sementara masyarakat Singkawang sibuk menyalakan api unggun,pak wako kita sibuk mencari investor untuk  impian mega proyeknya, membentuk konsorsium bangun bandara dan pabrik pengolahan sawit menjadi CPO.Sejauh ini kita belum mendengar kebijaksanaan dari pak Wako kita untuk mengatasi masalah krisis  minyak tanah dan gas elpiji dikota Singkawang.Susah diprediksi krisis ini akan berlangsung sampai berapa lama,selama kenaikan harga minyak mentah di pasar internasional kekurangan gas elpiji akan terjadi.Akibat kenaikan harga minyak,beberapa Negara pengekport beras menaikkan harga berasnya untuk mengimbangi kenaikan harga minyak. 

Masyarakat Singkawang ingin mendengar blueprint dari wako kita dalam bentuk langkah konkrit untuk mengatasi situasi ini. Keterlambatan memberi kebijaksanaan untuk mengatasi masalah ini akan dinilai masyarakat sebagai penderita penyakit Autisme sosial .Yaitu Wako tidak bisa interaksi sosial,kurang peka terhadap berbagai persoalan lokal dan mengabaikan keinginan masyarakat Singkawang . Dan masyarakat juga menanti kebijaksanaannya untuk  persiapan menghadapi kenaikan harga  pangan .

CintaSingkawang,20 April 2008