Ambruknya bangunan Hotel  Prapatan  II

18 Maret 2011

Komentar:

Dampak dari Gempa dan Tsunami yang menimpa negara Jepang  menjadi keprihatinan   masyarakat Internasional . Kerugian  ekonomi  dan jiwa manusia dapat mempengaruhi  pertumbuhan perekonomian negara tersebut. Rasa simpati dari masyarakat Internasional  kepada Jepang sangat jelas dengan berbagai bantuan yang telah dikirim ke negara Sakura tersebut.

 

Sebagai manusia berakhlak dan beradab kita selalu bersikap simpati terhadap mereka yang  mengalami bencana atau musibah di luar keterbatasan kita sebagai manusia.

Tetapi,  sikap seperti itu tidak berlaku bagi sebagian masyarakat Singkawang terhadap musibah ambruknya hotel Prapatan II di jalan Diponegoro Singkawang, hotel milik “tokoh unik Singkawang” yakni Bong Li Thiam.  Menurut beberapa kalangan kontraktor  kerugian yang diderita oleh suami Ping- Ping (bukan Bakso Ping-Ping)  dan dkknya  minimal  Rp 5 miliar.

Sebagian masyarakat berkomentar ambruknya hotel tersebut murni faktor human error, kecerobohan dan keserakahan dari pemiliknya,bahkan ada yang mengkait-kaitkan sebagai dari karma  terhadap  dosa-dosa  Bong Li Thiam yang suka mengeksploitasi amoy-amoy  miskin di Singkawang untuk kepuasan sexualnya.

Terutama bagi mereka yang pernah menjadi korban pelecehan sexual dari Bong Li Thiam ini, Lina misalnya mantan penyanyi band ini mengaku pernah menjadi korban pelecehan sexual Bong Lie Thiam ,dan masih banyak Lina-Lina lainnya memberi tanggapan  Syukur Alhamdulillah!

Sudah merupakan kebiasaan manusia, kita tidak bisa membendung komentar orang lain terhadap mereka yang mengalami bencana. Menurut rumor sedang beredar di kota Singkawang bahwa Pak HK ikut invest sahamnya di hotel Prapatan II sebesar 10 persen. Bahkan ada yang memberi julukan baru kepada  Pak HK sebagai “Mr.Ten percent Singkawang”.

 

Menurut mandor pertama( I ) yang diminta Bong Lie Thiam untuk yang mengerjakan hotel Prapatan II ini,pembangunan hotel ini sesuai dengan izin bangunan hotel ini dibangun setinggi (3) tiga tingkat. Mandor I mengerjakan proyek ini sesuai dengan  prosedur izin bangunan dan spesifikasi bangunan. Ketika fondasi bangunan sudah hampir selesai, Pak Bong Li memintanya menambah lebih banyak tingkat, menjadi 5 tingkat. Tentu saja permintaan Pak Bong Li tidak sesuai dengan prosedur hukum( tidak sesuai dengan izin bangunan) dan sudah diperhitungkan struktur fondasinya oleh sebab itu permintaan Bong Li ditolak oleh mandornya.

 

Mandor  I dianggap oleh Pak Bong Li sebagai mandor yang  tidak bisa diajak kerjasama. Kemudian Pak Bong Li memberhentikannya dan menganti mandor baru. Pak Bong Li memberi jaminan kepada  mandor II  jika nanti ada masalah, Pak Bong Li  akan menanggung dan menghadapi semuanya untuk membuktikannya  Pak Bong Li dengan bangga dan sesumbar mengatakan :“Siapa sih di Singkawang ini yang tidak tahu siapa aku? Anytime aku bisa memanggil  walikota Singkawang  Hasan Karman! Bahkan "aku bisa memerintahkan Pak Wako kapan saja”.  Tahu maksudku!”. Mandor II tidak mau mengambil resiko jika terjadi sesuatu karena bagunan ini melanggar hukum dan tak mau menangung konsekwensi hukum di kemudian hari timbul.  Sebelum peristiwa ambruk terjadi, Pak Bong Li merencanakan menyewa traktor untuk memperkuat fondasi bangunan tersebut dengan tehnik “suntik”. Ini membuktikan Pak Bong Li sadar dan sangat memahami bahwa fondasi bangunan itu tidak kuat untuk bangunan lima lantai,namun bangunan itu keburu ambruk duluan.  

 

 

Akibat ambruknya hotel Prapatan II di jalan diponegoro, menunjukkan betapa lemahnya birokrasi pemerintahan walikota “Spektakuler Singkawang” Hasan Karman ini Cq pihak pengawasan tata kota di kota Singkawang. Tanpa pengawasan ketat, akan memberi peluang bagi mereka melakukan penyalahgunaan perizinan bangunan. Tanpa pengawasan yang baik tidak mungkin kota Singkawang menjadi kota Spektakuler.

Sudah pada saatnya masyarakat Singkawang  mempertanyakan “ketidakmampuan” DPRD Singkawang yang tidak menegur  Pak HK  dalam hal ini. Sudah sangat jelas pengawasan tata kota merupakan salah satu  tugas utama wali kota.

 

Sayang, gedung lima tingkat sebelum Pak HK meresmikannya sudah ambruk dahulu. Mungkin hoki Pak wako kita belum mendapat kesempatan meresmikan bangunan lima tingkat,yang menurut sebuah sumber HK dan Bong Li sedang merencanakan sebuah acara peresmian ter-spektakuler dengan pidato paling spetakuler  pula eh,  hotel itu keburu ambruk. Ya, apes deh! Gara-gara bangun hotel dengan “ten percent”.


 
CintaSingkawang, 18 Maret 2011