Memajukan Permasis ala Yahudi

26 Desember 2008
Renungan Akhir Tahun:

Permasis adalah  singkatan dari Perhimpunan Masyarakat Singkawang dan Sekitarnya, merupakan ormas bergerak di bidangsosial budaya  menurut misi dan visi dari organisasi tersebut.
Sudah  hampir 60 tahun di daerah Singbebas tidak ada ormas yang terkoordinasi dengan baik yang dapat  memberikan pelayanan  khusus dalam masalah sosial-budaya kepada komunitas Tionghoa Singkawang yang tinggal di wilayah tersebut. Sehingga kehadiran Permasis menjadi harapan  masyarakat ormas ini dapat membangun dan mensejahterakan mereka. Ekspektasi masyarakat terhadap kemampuan Permasis sangat tinggi (khususnya dalam hal mengatasi pengangguran dan penanggulangan kemiskinan di daerah Singbebas.)

Gagasan dan konsep Permasis merupakan hasil karya brilliant dari putra Singkawang. Salah satu dari putra Singkawang yang berbakat itu adalah Pak Aliok sebagai arsitektur Permasis. Beliau ini telah menghabiskan banyak waktu  untuk tujuan kemajuan Permasis. Dibawah kepemimpinan Pak Aliok yang kharismatik itu telah berhasil membina beberapa pengikut Permasis yang setia (fanatik) dan donatur yang dermawan, seperti Pak Akhiong,Pak Liu Tji Lim dan Pak Chin Miau Fuk, dll. Mereka ini selalu siap menerima instruksi dari Pak Aliok. Beberapa minggu yang lalu Pak Chin Miau Fuk baru saja menerima instruksi untuk menjabat sebagai ketua panitia pelaksana Cap Go Meh 2009.

Sebagaimana pada umumnya ormas yang ada di negeri ini, sering terlibat dalam masalah politik. Baik keterlibatan itu secara langsung atau tidak langsung. Permasis juga tidak luput dari dilema ini. Memang, kadang-kadang kita perlu politik untuk melindungi kepentingan organisasi dan komunitas kita. Tetapi, kita tidak ingin komunitas kita menjadi bahan komoditas politik. Jika kepentingan komunitas dipertaruhkan dengan ambisi politik perseorangan atau kelompok maka pada akhirnya yang menjadi korban adalah  komunitas itu sendiri. Bukti di lapangan menunjukkan bahwa komunitas Tionghoa tidak berbeda dengan komunitas dari etnis lain, mudah dimanipulasi dengan masalah ras. Sekedar contoh Bapak Basuki Tjahaja Purnama alias Tjung Ban Hok atau  panggilan sehari –hari A Hok. Ketika Pilkada untuk bupati Beltim pada tahun 2005, ada indikasi Beliau memanipulasi isu ras dalam kampanyenya (baca artikel ttg ahok). Begitu juga Pak Hasan Karman tidak ketinggalan mengikuti jejak Pak Ahok menyisipkan isu ras dalam kampanye Pilkada 2007 di Singkawang yang lalu.Walaupun kedua tokoh itu tidak mau mengakui bahwa  mereka tidak rasis dan tidak “main kotor” dalam masalah ras ketika kampanye. Tetapi bukti di lapangan menunjukkan lain (Perjalanan Sejarah Kota singkawng). Kita memfokuskan pada perbuatan mereka bukan pada perkataannya yang menjadi penilaian kita. Kita memaklumi hal tersebut karena keterbatasan wawasan dan konsep  yang dimiliki para calon pemimpin sehingga cara mereka memperjuangkan ambisinya di bidang birokrasi melibatkan komunitas kita dalam posisi yang tidak menyenangkan.Walaupun tidak terjadi insiden yang dapat membahayakan komunitas kita. Tetapi kita tidak ingin kelak para calon pemimpin baru mengikuti metode mereka yang salah itu. Kehidupan politis harus senantiasa dicerahi (bukan diperbodoh atau dimanipulasi).

Kita ingin pemimpin (calon pejabat) di masa mendatang yang  mewakili komunitas Tionghoa Singkawang lebih berwawasan dan memahami konsep membangun masyarakat multiras. Untuk itu kita perlu satu wadah dapat membina mereka sehingga mereka menjadi calon pemimpin yang cerdas dan berwawasan. Permasis pantas memiliki dan memimpin wadah tersebut karena Permasis memiliki fasilitas yang memadai. Tetapi dengan kemampuan sumber daya manusia(SDM) yang dimiliki Permasis sekarang  masih belum memadai. Namum demikian ada beberapa hal perlu kita lakukan yaitu memajukan Permasis supaya mendapat SDM yang kita perlukan. Kita perlu terobosan baru untuk memajukan Permasis dengan cara yang berinovasi, berorientasi ke depan, dan mengembangkan hal-hal strategis. Tanpa perencanaan dan pemikiran ke depan maka masyarakat akan menilai kemampuan Permasis hanya sanggup mengurus  acara Cap Go Meh, mengurus acara tersebut  tidak memerlukan skill tertentu. Menurut fakta di lapangan memberi gambaran sangat jelas kepada kita sejauh ini bahwa siapapun  yang mengelolah  Cap Go Meh maka hasil pendapatan dari acara CGM  selalu sama yaitu “defisit”. Sebagai orang Singkawang kita merasa malu terhadap komunitas Tionghoa Sambas mereka mendapat suplus puluhan juta rupiah dari acara CGM 2008 yang lalu. Aaaah kalau begitu komunitas tionghoa Singkawang  kalah cerdas dalam hal pemahaman menejemen CGM. Mudah-mudahan para team panitia CGM 2009 Singkawang nanti akan mengadakan study banding ke Sambas untuk mempelajari menejemen orang Sambas itu.

Demi mencari SDM,Permasis harus “go internasional” (globalization). Kita tidak perlu merasa malu belajar konsep dan pengalaman dari  bangsa lain, seperti bangsa Yahudi mempersatukan bangsanya untuk kemajuan dan perkembangan negaranya.

Orang keturunan Yahudi  tinggal dimana-mana. Orang Yahudi tinggal di luar negara Israel, bahasa yang mereka pakai ada bermacam-macam bahasa tergantung di negara mana  mereka tinggal. Untuk  mempersatukan  generasi muda Yahudi diseluruh dunia ini, negara Israel mendirikan camp persahabatan untuk anak-anak Yahudi perantauan. Hampir semua anak dari Yahudi perantauan pernah mengunjungi camp tersebut, mengkontribusi talenta mereka dan kesempatan berkenalan dengan sahabat-sahabat dari berbagai negara.

Untuk membangun daerah Singbebas tidak mungkin hanya mengandalkan kemampuan sumber daya lokal, harus dibantu dengan kemampuan dari luar (global). Mengingat ada sekitar 100 ribu jiwa orang  Singbebas yang hidup di perantauan (Hongkong,Taiwan,Malaysia,Singapore,RRC). Ini adalah sebuah potensi bisnis yang perlu mendapat perhatian kita. Anak (keturunan) mereka memiliki SDM jauh lebih baik dibandingkan generasi  orangtua mereka. Untuk itu, Permasis harus mendirikan sebuah camp di wilayah Singbebas. Lokasi yang dipilih untuk mendirikan camp, pilihlah daerah  perbukitan dan memiliki pemandangan alam yang indah. Daya tampung camp ini kurang lebih untuk 150 orang, memiliki fasilitas seperti motel. Keturunan dari orang Singbebas di perantauan kita himbauan untuk mengunjungi camp ini. Kegiatan camp selama 3 minggu, para pengunjung dibagi dalam beberapa group, setiap group terdiri dari pengunjung domestic (Jakarta) dan internasional. Acara kegiatan camp ini harus disusun sedemikian rupa, ada berbagai kegiatan sosial dan budaya. Ini seperti sebuah paket holiday untuk mereka. Harapan kita dengan ada kegiatan camp Permasis ini sehingga terjadi pertukaran informasi, gagasan dan masukan – masukan yang dapat dipakai sebagai bahan kajian cara membangun daerah Singbebas via Permasis. Siapa tahu kelak Permasis dapat melahirkan pemimpin kelas Internasional karena sudah go internasional.Itulah yang menjadi harapan kita. Apakah Pak Aliok sudah  siap menerima tantangan ini ?

 

 

CintaSingkawang,26 Desember 2008