Peresmian kantor Penghubung Tzu Chi Singkawang

    
06 Nopember 2010

Komentar:

Peresmian kantor penghubung Tzu Chi Singkawang pada tanggal 31 Oktober 2010 merupakan hari yang bersejarah bagi masyarakat Singkawang. Terutama bagi mereka yang memerlukan bantuan sosial. Dengan adanya kantor  penghubung Tzu Chi di Singkawang, maka bagi mereka yang memerlukan bantuan sosial akan tahu kemanakah mereka  harus pergi.

 

Adanya kantor penghubung Tzu Chi di Singkawang akan memberi dampak positif terhadap ormas-ormas lokal dalam persaingan memberi pelayanan sosial untuk masyarakat Singkawang. Tzu Chi di Singkawang lebih maju selangkah, memiliki kantor penghubung dibandingkan dengan ormas lokal lainnya  seperti Permasis misalnya. Sampai saat ini Permasis belum memfungsikan  kantor cabang di Singkawang dengan baik . Tetapi perbedaan kedua organisasi itu sangat jelas berbeda. Menurut  ketua He Qi ( komunitas relawan wilayah) Utara, Like Hermansyah “setidaknya ada 3 syarat utama yang harus dimiliki oleh setiap daerah untuk menjadi Kantor Penghubung Tzu Chi, yaitu harus ada relawan yang mau bekerja dan bertanggung jawab, ada donatur, dan ada orang yang membutuhkan bantuan”. Kalau pengertian itu diterjemahkan ke dalam bahasa bisnis: ‘mau bekerja dan bertanggung jawab’= memiliki management skill, ‘ada donatur’= kapital(modal), ‘ada orang yang membutuhkan bantuan’= ada konsumen. Untuk memiliki Kantor Penghubung Tzu Chi kurang lebih seperti membeli “franchise” dalam dunia bisnis, karena harus memenuhi beberapa persyaratan.

Perbedaan antara Tzu Chi Singkawang dengan Permasis;  Permasis merupakan hasil karya putra-putri Singbebas yang konsepnya khusus dirancang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Singbebas. Permasis tidak memiliki koneksi ke suatu ajaran tertentu atau doktrin tertentu. Sedangkan Tzu Chi merupakan hasil karya bangsa lain,yakni Taiwan. Samahalnya  dengan Lion,s Club juga karya bangsa lain.Tzu Chi berorientasi dan berkoneksi dengan ajaran Buddha.

 

Akhir –akhir ini negara kita terutama para konglomerat sedang tren mendirikan badan sosial.

Apa keuntungan mereka memiliki badan sosial? Jelas banyak keuntungannya di negara ini.Di negara maju badan sosial itu adalah milik masyarakat umum, tidak ada kepentingan yang ditanam oleh mereka untuk mencari keuntungan dengan dalil “sosial”. Masyarakat dan pemerintah akan memonitor kegiatan mereka karena mereka mendapat bantuan dari pemerintah. Di negara  kita pengontrol terhadap mereka masih sangat minim. Maka itu mudah dimanfaatkan oleh mereka untuk  mencari keuntungan pribadi. Ada beberapa bidang yang dapat dimanipulasi:

-Menerima bantuan dari publik, pemerintah atau bantuan luar negeri  jika ada bencana alam(aliran dana)

-Mencari donasi ke perusahaan lain / masyarakat ( pengumpulan modal)

-Membelanjakan bantuan ke group bisnis sendiri(menjual barang ke badan sosial sendiri)

-Kemungkinan penghindaran dari kewajiban bayar pajak, sebagian keuntungan diklaim sebagai donasi  ke badan sosial.

-Alat untuk mencari power, mendekati pejabat

 

Ketua Tzu Chi Singkawang, Pak Tetiono. Siapakah Pak Tetiono itu? Bagaimana Pak Tetiono menjadi Ketua Tzu Chi Singkawang.  Mari kita ikut hasil investigasi CintaSingkawang.

Nama panggilan Pak Tetiono adalah Atie atau di Singkawang lebih dikenal sebagai Fo Fung Ci / Fo Fung Tie. Bisnis yang ditekuni Pak Atie yaitu di bidang peternakan. Sebelum Pak HK terpilih sebagai  wako Singkawang, Pak Fo Fung Tie adalah   pendukung setia Pak Awang.  Adalah perkara biasa, filsafat  pada pebisnis akan mendukung incumbent.

 

Pak Aliok mengatur strategi kota Singkawang, supaya Pak HK bisa aman duduk kursi nomor satu di kota Singkawang. Pada waktu itu Pak Aliok menjabat ketua Permasis. Persaingan  antara Permasis dengan MABT Singkawang ( kubu Pak Frans Chai), untuk memperlemah pengaruh MABT Singkawang. Pak Aliok memakai teknik militer yaitu memutuskan mata rantai supply MABT dengan demikian MABT akan menyerah sebagai tawanan perang kepada kelompoknya alias berlutut kepada Aliok . Karena MABT Singkawang mendapat bantuan beras dari Tzu Chi Jakarta untuk disalurkan kepada masyarakat Singkawang,  MABT sebagai penyalur menjadi populer dimata masyarakat.

Supaya MABT Singkawang tidak berfungsi, maka perlu didirikan cabang Tzu Chi Singkawang. Untuk itu perlu dicari seorang yang bersedia sebagai ketua Tzu Chi Singkawang. Pilihan Pak Aliok jatuh kepada Pak Fo Fung Tie. Mengapa Pak Aliok memilih Pak Atie ini ? Ada beberapa persyaratan yang menjadi pertimbangan Pak Aliok yaitu:

-Memiliki bisnis yang baik,alias punya duit.

-Tidak cacat moral di mata masyarakat Singkawang.

-Ada koneksi dengan Pak Aliok dengan demikian bersedia menjadi “orangnya” Aliok..

Jadi, pilihan Pak Aliok jatuh kepada Pak Atie, karena memenuhi persyaratan.

 

Setelah Pak HK terpilih sebagai wako Singkawang, Pak Atie  baru berubah pandangan, mendukung Pak HK. Pekerjaan rumah yang pertama Pak HK berikan kepada Pak Atie adalah sebagai kasir Pak HK untuk urusan entertainment,  proyek pertama yang diberikan kepada Pak Atie yaitu sebagai ketua kordinator membersihkan sungai Singkawang, sebuah proyek spektakuler yang menjadi impian HK sejak masa kecilnya di Cung Hin Kai yang konon kabarnya HK sering melamun sambil menikmati hobby barunya isep cerutu untuk mewujudkan impiannya ini. Karena sungai Singkawang mengalami pendangkalan.

 

Menurut perhitungan Pak Atie biaya untuk membersihkan sungai Singkawang memerlukan biaya sebesar Rp 2 miliar. Pak Atie meminta tokoh-tokoh Jakarta terutama yang tergabung di Permasis untuk membantu pendanaan. Permintaan Pak Atie ditolak oleh Permasis karena dengan alasan; proyek ini  tidak diajukan dalam bentuk proposal, dan  Pak Atie belum memiliki reputasi menangani proyek untuk kepentingan masyarakat yang menelan biaya miliarn rupiah.

 

Ada pihak dari masyarakat menaruh curiga, mungkin Permasis tidak memberi dukungan kepada Pak HK lagi maka Pak HK mencari mainan baru. "Kekuatiran" masyarakat, Tzu Chi Singkawang  akan dijadikan mainan baru ?

Masih terlampau prematur untuk kita memberikan penilaian terhadap sesuatu organisasi dalam waktu yang sangat singkat seperti Tzu Chi Singkawang, namun demikian kita  mengharapkan Tzu Chi Singkawang dapat berjalan sesuai dengan misinya.

 


 
CintaSingkawang, 06 Nopember 2010