Tanggapan Panitia HUT 2 PERWAKABTA

"Tanggapan Perwakabta"
15 Januari 2011

Komentar:

From: Wardi Chandra <wardichandra@ymail.com>
Subject: Tanggapan surat pembaca Cintasingkawang
To: cintasingkawang@yahoo.com
Received: Friday, 14 January, 2011, 5:15 PM

Yth Cintasingkawang,
Menanggapi surat pembaca Bpk. Thim Mung di web Anda tentang PERWAKABTA khusus butir ke 2 perlu kami jelaskan sbb:
1.Bahwa Perhimpunan warga Kalbar-Tangerang (PERWAKABTA) didirikan tgl 28 oktober 2008 oleh 19 pendiri kami di Istana Nelayan Serpong,Tangerang merupakan hasil perjuangan Almarhum Thio Ngin Ho,seorang pedagang sayur yang waktu meninggal dunia menitipkan amanat ini kepada kami utk meneruskan cita-cita Beliau.

2.Bahwa ,sebagai Perhimpunan warga kalbar kami dengan tangan terbuka menyambut kehadiran semua warga Kalbar pada HUT Perwakabta ke 2 kemarin,tanpa memandang status mereka.
Mengenai Hasan Karman hadir dalam kapasitas pribadi yang bersangkutan,dalam acara yang kami susun tidak ada sambutannya dan juga dalam Buletin yang kami edarkan juga tidak memuat hal ini ,sedang Wakil Gubernur Kalbar dan Gubernur Banten serta Ketua Bumi  Katulistiwa dan Ketua Permasis merupakan undangan resmi kami selaku Panitia HUT PERWAKABTA ke - 2.

Demikian penjelasan kami,Terima Kasih.

wassalam,

Wardi Chandra
mantan Humas Panitia HUT 2 PERWAKABTA  

 

Jawaban dari CintaSingkawang:

Yth Bapak Chandra,

Terima kasih atas penjelasan dari Bapak mengenai perayaan HUT PERWAKABTA  kedua. CintaSingkawang sangat terkejut setelah mendengar  penjelasan dari Bapak,  mengenai Pak HK bukan tamu yang diundang “resmi” oleh organisasi Bapak dalam acara perayaan tersebut. Dengan pengertian Pak HK adalah tamu “nyasar”, tidak diundang tetapi dia datang sendiri.

Pada akhir-akhir ini masyarakat Singkawang sangat cemas jika ada acara pesta atau  perayaan yang dihadiri oleh Pak HK. Baik sebagai tamu yang diundang ataupun bukan. Karena kehadiran Pak HK sering membuat suasana tidak nyaman bagi tamu dan tuan rumah. Seperti ketika perayaan HUT Kelenteng Sam Chin To Chu Kelurahan Sedau, Senin (3/1) yang lalu. Acara HUT diubah menjadi acara syukuran, acara ramah tamah diubah menjadi propaganda dan kampanye politik. Pada tamu yang hadir dipaksa mendengar propaganda Pak HK tentang keberhasilan”semu”nya memperoleh tiga kali penghargaan di bidang pertanian. Padahal para tamu  yang hadir  bukan berprofesi sebagai petani. Nyanyian dari Pak HK tidak mendapat respon dari para hadirin. Tidak ada tepuk tangan dari tamu hanya beberapa anakbuah Pak HK yang memberi tepuk tangan supaya tidak mengecewakan bossnya.  Para tamu sebenarnya ingin bubar kalau tidak memandang muka kepada tuan rumahnya. Ada satu insiden, kehadiran HK disuatu pesta perkawinan yang pernah dikejutkan oleh seorang penyayi bukan karena suara merdunya tapi sebuah lagu HakFa sindiran yang diakhiri dengan kata maaf, pak Wako!

Cerita dari Pak HK  tentang keharmonisan, kerukunan  antar etnis di kota Singkawang tidak luput dari usaha Beliau.  Padahal itu merupakan kesaksian bohong yang tidak menarik perhatian masyarakat. Bukti sangat nyata mengenai patung naga, merupakan usaha Pak HK untuk menciptakan ketegangan antar kerukunan etnis di kota Singkawang, dan memanfaatkan  momentum tersebut untuk mendapat lebih banyak  dukungan komunitas Tionghoa Singkawang.

Baik dalam perayaan acara suka ataupun  acara duka (belasungkawa) tidak luput dari perhatian Pak HK memanfaatkan momen tersebut untuk evangelization politiknya

Jika organisasi Bapak Chandra tidak mengundang Pak HK  dalam acara tersebut dapat dimaklumi oleh masyarakat Singkawang, you do right thing!

Mengenai Buletin Perwakabta Cinta sungguh tersentuh dengan sambutan kenegarawan dari Gubernur Anda (Banten) Ibu  Hj.Ratu Atut Chosiyah yang mengajak masyarakat Kalbar di wilayahnya agar tidak terjebak pada sikap eksklusif dan berorientasi pada primordialisme ( kedaerahan/kesukuan).

Menurut narasumber Cinta di wilayah Tangerang Beliau menyumbang Rp.30 juta untuk Perwakabta, bukan? 

Sambutan Gubernur Anda tersebut sangat berbeda dengan pejabat-pejabat Tionghoa KalBar yang hanya mampu menjual isu-isu rasialisme dalam belbagai kesempatan dan bersikap feodalisme merasa bangga jika ada  masyarakat yang menyumbang untuk Beliau-beliau. Seperti yang sering terjadi di acara klenteng-klenteng jika HK hadir ada beberapa pendukungnya memainkan sandiwara lelang, dan hasil lelang dipersembahkan kepada HK.

Ah, Pak Chandra. Pemimpin kami bermental cengeng, lebih suka menerima daripada memberi!

Sekali lagi terima kasih Pak Chandra atas penjelasan. Selalu membaca CintaSingkawang.

Salam kompak selalu,

Cintasingkawang

Surat Pembaca-Jawaban
Tentang Perhimpunan Warga Kalimantan Barat Tangerang (PERWAKABTA)

 

CintaSingkawang, 15 Januari 2011