Surat Pembaca-Jawaban

Film Bakpao Ping Ping
16 Oktober 2010

Komentar:

From: Pui Moi Lan <puimoilan@gmail.com>
Subject: Film Bakpao Ping Ping
To: cintasingkawang@yahoo.com
Received: Tuesday, 26 October, 2010, 1:40 PM

                               

Yth: Cinta Singkawang,
Kami menulis surat ini untuk mewakili organisasi kami,  Himpunan Kaum Ibu Tionghoa Singbebas para pekerja sosial GKI,  Jakarta Barat dan Tangerang untuk merespon terhadap penayangan film “Bakpao Ping Ping” pada stasiun SCTV pada tanggal 23 Oktober 2010.


Menurut penilaian kami  isi dari cerita film tersebut sengaja dirancang untuk  mendiskreditkan dan pelecehan terhadap  kaum wanita Singbebas khususnya kaum wanita komunitas Tionghoa Singbebas.
 

Materi sebagai bahan penulisan cerita film Bakpao Ping Ping” merupakan sebuah hasil observasi dangkal tanpa mengadakan pengkajian mendalam dan pengujian materi. Tanpa dikonsultasikan kepada komunitas kami.  Ketidakmampuan Sutradara Viva Westi memahami struktur sosial dan budaya Tionghoa Singbebas yang terdapat kemajemukan status sosial ekonomi, akibatnya Sutradara menyimpulkan  bahwa semua kaum wanita Singbebas seperti dalam cerita film tersebut. Kesimpulan seperti itu salah dan sangat merugikan kami sebagai kaum wanita Tionghoa Singbebas karena tidak menaruh posisi kami yang benar dalam hal ini.  Perlu kami tegaskan kaum wanita Tionghoa Singbebas bukan sebuah komoditi, bisa perdagangkan.  Sebagai manusia kami memiliki harga diri, cinta dan kasih sayang, berhak menentukan nasib kami sendiri, berhak menentukan siapa yang akan menjadi teman hidup kami.

 

Kami sangat kecewa terhadap Nyonya Hasan Karman sebagai ketua PKK kota Singkawang gagal berperan sebagai pembela kepentingan kaum wanita.  Dan ketua DPRD Singkawang Ibu Chai Chui Mie. Sebagai figur kaum wanita di kota Singkawang sedikitpun mereka tidak memberi respon terhadap pelecehan terhadap kaum wanita Singkawang melalui sebuah film murahan itu.

 

Terima kasih.

 

Hormat kami,

Ny. Pui Moi Lan

Tinggal di Ancol -Jakarta

 

Jawaban dari CintaSingkawang:

Yth: Ibu Pui Moi Lan dan Kaum Ibu Tionghoa Singbebas,

Terima kasih atas email Ibu. Rasa kejengkelan dan frustrasi para Ibu Tionghoa Singbebas dapat Cinta pahami. Walaupun komunitas Tionghoa Singbebas memiliki walikota, ketua DPRD tetapi tetap dijadikan obyek hinaan dan lelucon. Isu ini sangat sensitif karena menyangkut martabat, prejudice, diperlakukan tidak adil dan tidak terhormat.

 

Rasa kekecewaan Ibu semakin bertambah melihat tokoh wanita kota Singkawang tidak memberi respon terhadap film “Bakpao Ping Ping” yang bertujuan mendiskreditkan kaum Ibu. Sangat kita sayangkan sikap mereka sebagai tokoh dan politisi kaum wanita kota Singkawang memilih berdiam diri.

 

Ah, Bu. Mungkin Ibu pernah mengalami pengalaman seperti berikut. Pada suatu hari Ibu menemukan di koran ada iklan tentang produk detergen baru. Menurut iklan tersebuat produk baru ini dapat menghilangkan kotoran tanah  pada pakaian. Sesudah Ibu membeli produk tersebut kemudian mencoba mencuci pakaian kotor dengan produk tersebut ternyata produk tersebut “can’t do the job”. Hati-hati Ibu banyak produk yang berlabel “Bui Fa Nyin” di market.  Iklan boleh klaim hebat belum tentu produknya hebat. Begitu juga selama ini kaum Ibu komunitas Tionghoa Singbebas menaruh posisi mereka sebagai orang yang bisa dijadikan panutan, nyatanya  mereka tidak bisa membela kepentingan kaumnya sendiri.

 

Menurut hasil investigasi Cinta bahwa pihak Sutradara film telah berkonsultasi dengan Pak Aliok  alias Lio Kurniawan sebagai narasumber, pria dengan motto terkenalnya “Bui Fa Nyin”(demi kepentingan komunitas Tionghoa). Banyak pihak menduga Pak Aliok sebagai aktor pemain di belakang layar film BakPao Ping-Ping untuk mendapat pengaruh dari kelompok pendukung HK  di Singkawang. Sudah sangat jelas usaha pencemaran nama baik kaum wanita Tinghoa Singbebas dengan motif kepentingan kelompok.

 

Ada dua hal menurut Cinta pihak Sutradara telah melakukan kelalaian yang dapat merugikan komunitas Tionghoa Singbebas yaitu:

-Narasumber;  hanya berdasarkan pada satu narasumber, sehingga tidak ada sumber lain sebagai pembanding terhadap sumber utama. Ini dapat menyebabkan kesalahan informasi sebagai bahan penulisan.

 

-Dalam awal pemutaran film tidak  memberi peringatkan  kepada penonton(pemirsa) bahwa film BakPao Ping-Ping berupakan cerita fiksi bukan sebuah dokumenteri. Jadi, kalau ada terdapat persamaan dalam kehidupan nyata berupakan cerita kebetulan saja. Sehingga para pemirsa tidak menarik kesimpulan bahwa BakPao Ping-Ping merupakan cerita nyata kehidupan masyarakat Tionghoa Singbebas.

 

Ibu Pui Moi Lan yang sedang sedih, Cinta setuju dengan pendapat Ibu bahwa” film BakPao Ping-Ping” merupakan sebuah karya berdasarkan  hasil observasi dangkal. Karena kita sering menemukan artikel di media cetak menceritakan kehidupan kaum wanita komunitas Tionghoa Singbebas tidak berdasarkan fakta yang akurat hanya berdasarkan sebuah observasi dangkal pada penulis. Ketidakmampuan penulis memahami struktur sosial komunitas Tionghoa Singbebas yang bervariasi sehingga kesimpulan penilaian akurat yang dikemukan penulis sangat terbatas. Sekedar contoh, pada umumnya penulis mengadakan interview kepada kaum wanita bekerja sebagai pegawai salon, penjaga warung kopi, penjaga toko sebagai narasumber. Mereka adalah bagian dari komunitas kita kemudian pandangan dari mereka itu dipakai oleh penulis sebagai gambaran untuk mewakili kaum wanita Tionghoa Singbebas keseluruhan. Padahal kaum wanita kita sudah banyak yang memiliki wawasan luas baik dari segi pendidikan, profesi dll.

 

Harapan Cinta sesudah pemutaran film BakPao Ping-Ping itu dijadikan momentum perjuangan dan penyuluhan bagi para perkumpulan Ibu-ibu  untuk  memajukan kaum wanita komunitas Tionghoa Singbebas sebagai saingan terhadap organisasi  yang dipimpin oleh Ny HK. Komunitas Tionghoa Singkawang merasa misi PKK yang dipimpin oleh Ny HK telah gagal menjalankan misinya.

 

Semoga jawaban dari Cinta ini dapat sedikit menenangkan perasaan Ibu yang sedang gundah .

 

Salam kompak selalu,

CintaSingkawang

 

CintaSingkawang, 26 Oktober  2010