PROVOKATOR

Politik pencitraan diri  HK dengan menanggalkan baju lama “ Mem-Franstshai-kan”  


16 Oktober 2010
Komentar:

Akhir-akhir ini ada sebuah istilah sedang popular beredar di kalangan internal Kerajaan San Keu Jong terutama para juru bisik dan Raja San Keu Jong,yaitu “Provokator”. Orang yang tidak disukai oleh Pak HK akan diberi gelar “Provokator”. Yaitu sebuah penilaian  terhadap mereka yang  tidak bisa diajak kerjasama, orang-orang yang  dapat membahayakan stabilitas  posisi wako Singkawang baik itu pada kondisi sekarang  ataupun  pada tahun 2012.

 

Untuk memahami arti kata provokasi lebih jauh , kita coba mencari jawaban dari kamus bahasa Indonesia. Para pelaku “provokasi” disebut “Provokator”.  Dalam kamus bahasa kita kata “provokasi” diartikan: pancingan, tantangan.  Dalam penggunaan bahasa sehari-hari  kata provokasi  sering  diartikan “memanasi situasi  supaya terjadi sesuatu” . Akibatnya  kata provokasi  ditaruh dalam posisi bermakna negatif, maka orang yang  melakukan provokasi dianggap perbuatan tidak terpuji !  Kita merasa  memahami kata “provokasi” dari segi bahasa Indonesia makna dari kata tersebut  sangat terbatas; tidak bisa ditafsirkan dalam arti lain.  Mari kita bandingkan  makna kata “provokasi”  dengan  bahasa Inggeris  “provoke”. Dalam kamus bahasa Inggeris kata “provoke”  artinya: to arouse to a feeling or action (membangkitkan perasaan atau tindakan). Juga  diartikan memancing, menimbulkan. Sekedar contoh kalimat dalam bahasa Inggeris : His jokes provoked a lot of laughter from audiences (leluconnya  menimbulkan banyak tawa dari para penonton). Dari  contoh kalimat diatas menunjukkan kata “provoke” bermakna positif “ menimbulkan orang ketawa” .

 

Orang –orang yang sudah divonis sebagai “Provokator” oleh Pak HK. Yaitu:

Pak Alex Mu Kon Luk, pemberi tanda tangan dukungan terhadap  relokasi patung Naga di kota Singkawang itu mendapat  cap  oleh Pak HK sebagai “Provokator”, alias pengacau atau orang tidak disukai karena tidak seidelogi.

 

Pak Awang Ischak, mantan wako Singkawang. Sebagai anggota DPRD Singkawang  Beliau menyatakan banyak  pendapat yang berbeda pandangan  dengan Pak HK dalam hal bagaimana cara membangun kota Singkawang melalui media koran lokal. Usaha dari Pak Awang  ini tidak disenangi oleh Pak HK karena  Pak HK merasa Ischak mengajari Hasan. Maka Pak Awang  mendapat  gelar “Provokator” dari  Pak HK, karena dianggap orang yang dapat  mengganggu stabilitas administrasi; berpotensi  memberi pengarahan  atau membajak kelancaran administrasi melalui anakasuhnya yang dititipkan kepada Pak HK.

 

Pak A Bun, warga Singkawang yang tinggal di Jakarta. Beberapa hari yang lalu  Pak A  Bun pulang ke kampung  karena  ada urusan keluarga. Pak A Bun diteleponi oleh Pak Lurah pada malam hari bahwa Pak A Bun sebagai “Provokator”. Karena  Pak A Bun memiliki rasa sosial yang  tinggi Beliau memberi dukungan terhadap organisasi sosial yang bergerak di bidang pendidikan di kampung halamannya. Dimata Pak HK memberi dukungan kepada organisasi yang tidak disenangi dianggap melakukan hal menentang kebijakan pemkot Singkawang. Padahal organisasi ini mencoba mengangkat ”nilai kemanusiaan yang dimiliki orang Singkawang” di mata masyarakat internasional untuk mendapat tempat terhormat.

Entah Pak Lurah ini diprovokasi oleh siapa, berkali-kali menelepon Pak A Bun  mengatakan dia sebagai “Provokator” . Dan memerintahkan kepada Pak A Bun ketemu di kantor Kelurahan pada malam itu juga padahal bukan jam kantor dan tidak prosedural . Jelas Pak A Bun yang alumnnus fakultas hukum Unpar Bandung ini memberi ceramah kepada Pak Lurah telah terjadi abuse bureaucracy  di kalangan birokrat Pak HK. Pak Abun merasa prihatin melihat anak buah Pak HK  minim kemampuan pemahaman terhadap hukum, kemudian Beliau menasehati anak buah Pak HK itu supaya jangan mempermalukan atasannya dan bersopan santun sedikit terhadap warganya kalau mau bossnya dipilih kembali.

 

Mereka yang mendapat gelar “Provokator” dari  Pak HK ini, adalah mereka melakukan  provokasi  yang bermakna positif, setidak-tidaknya akan mengundang kita tersenyum.

 

 

CintaSingkawang, 16 Oktober  2010