Lio Kurniawan menobatkan dirinya sebagai  Kaisar San Keu Jong

19 Februari 2011

Komentar:

Secara prinsip acara perayaan CGM 2011 Singkawang  tidak berbeda dengan perayaan CGM tahun sebelumnya. Cuma penampilan pawai lampion tahun ini berbeda,  CGM 2011 ini menampilkan beberapa tokoh  yang tidak asing bagi pembaca CintaSingkawang.  Salah satu  dari mereka yang menonjol dan mendapat  perhatian dari masyarakat Singkawang yakni Pak Aliok, nama genetiknya Bong Choi  Liok, nama pergaulan Lio Kurniawan dan nama pemberian guru spritualnya Bong Phen Thin.

 

Dalam rombongan iringan pawai lampion, Pak Aliok didampngi seorang permaisuri yang manis,seorang  Amoi Sanggau sexy ini duduk manis diatas kapal kekaisaran. Dengan memakai jubah kebesaran ”liong” sebagai symbol kekuasaan, Pak Aliok kelihatan lebih gagah dan ganteng  malam itu.Namun sangat disayangkan ada sebuah keteloran Pak Aliok lupa membawa cerutu kesayangannya yang biasa dibeli dari Cuba,sehingga mengurangi sedikit wibawa seorang Kaisar Tiongkok kuno.   Ketika Pak Aliok sedang melewati para penonton, masyarakat berteriak “ban soi, ban soi” (“panjang umur”, sebuah seruan dari rakyat untuk menghormati Kaisar mereka dalam  kehidupan yang berorientasi budaya kekaisaran). Ketika  Pak Aliok mendengar seruan tersebut Beliau sangat bangga dan gembira. Dalam hati kecil Pak Aliok  menaruh satu komitmen“aku akan bangun sebuah dinasti baru di San Keu Jong”. Tentu saja kita dapat membayangkan betapa bangga  Pak Aliok duduk diatas kendaraan kekaisaran itu untuk menunjukkan kepada pesaingnya di lingkungan elite Tionghoa Singkawang di Jakarta khususnya mantan kolegenya di Permasis. Untuk membuktikan bahwa dirinya masih laku dikonsumsi oleh sebagian masyarakat kota Singkawang. Diumpamakan seperti hasil produk  industri dimarketkan kepada konsumen yang memiliki daya beli pada level tertentu, hasil produk Pak Aliok ini  dimarketkan pada entry level (the lowest level).

Sebagian masyarakat Singkawang tidak konsen apakah pemimpin mereka mampu atau tidak mampu menciptakan lapangan pekerjaan untuk  mereka yang masih menganggur yang berjumlah 30 ribu orang di kota Singkawang, yang penting bagi mereka yakni pemimpin yang dapat memeriahkan acara CGM atau yang sanggup berspektakuler ria, oleh sebab itu muncul gejala pemimpin “urat malu putus” .

 

Banyak ahli di bidang politik dan sosial berpendapat bahwa  perbedaan kualitas sumber daya manusia dan standar antara pemimpin Negara maju dengan Negara terbelakang, karena perbedaan ini akan mempengaruhi cara berpikir para pemimpin tersebut. Sebagai pemimpin yang sukses dan tahu memimpin di negara maju, pemimpinnya harus dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat dan mensejahterakan masyarakatnya. Untuk dapat menciptakan lapangan pekerjaan harus memahami masalah ekonomi dan logika ekonomi, memiliki vision ke depan. Pemimpin sukses dan terus memimpin  adalah pemimpin yang berhasil menciptakan pertumbuhan ekonomi. Sangat berbeda para pemimpin di negara terbelakang, untuk tetap dapat memimpin para pemimpin harus bisa memanipulasi masalah etnis, budaya, agama. Masalah ekonomi bukan faktor yang  menentukan sukses dan dapat  mempertahankan kepemimpinan mereka.

 

Masih belum jelas berapa pendapatan dari hasil lelang pada Altar resmi sampai pada saat artikel ini diturunkan, ada yang mengatakan pendapatanya sekitar satu miliaran rupiah. Ada yang meragukan angka tersebut, bahkan ada mengatakan ada  terjadi lelang fiktif yang dilakukan oleh pihak panitia sendiri supaya kelihatan seperti masyarakat memberi dukungan  kepada para elite yang terlibat langsung dalam kepanitian CGM 2011 Singkawang. Memang dalam dunia lelang, hal seperti itu bisa saja terjadi. Bukan hanya terjadi di dunia lelang saja, di dunia pengemis ada satu trik supaya mendapat banyak sedekah dari dermawan. Pada pengemis harus menaruh duit sendiri pada kotak/topi sedekah untuk  menunjukkan seakan –akan dia telah mendapat simpati dari pada dermawan. Ini dapat mempengaruhi para calon dermawan lain yang  lewat disitu memberi sedekahnya kepada dia.

 

Pihak panitia memarketkan barang lelangan dengan dengan kampanye usang bahwa barang yang dilelangkan telah diberkati. Bagi mereka yang melelang barang tersebut akan mendapat berkat dan hoki. Tentu saja pernyataan seperti sulit  dibuktikan kebenaran khasiatnya. Fakta di lapangan sampai hari ini para pelelang yang biasanya memecahkan rekor lelang tak terdengar batang hidungnya di tahun berikutnya, Bukti nyata lainnya; Pak Nico hopengnya Pak Chin Miau Fuk,sang penembak jitu busway di Jakarta setiap tahun  lelang barang dari Altar resmi, nyatanya pada  menjelang perayaan CGM 2011 malah tertimpah musibah Nico ditangkap dan ditahan karena tembak busway dan Bandar narkoba . Bukan  melelang barang lelangan yang diberkati  yang dapat menangkis malapetaka dari permasalahan hukum, tetapi menaati hukum adalah cara terbaik untuk menghindari permasalahan hukum.

 

Kita tidak sependapat dengan komentar dari  ketua VDPW Persatuan Forum Komunikasi pemuda Melayu Wilayah Singbebas, Pak Noviar yang menyesatkan masih ada orang Melayu yang muslim memikul tandu dalam acara CGM 2011. Menyalahkan pihak  panita CGM 2011 dan Polres Singkawang tidak melarang mereka. Bahkan Pak Noviar  melihat hal ini jika tidak ditangani  dimasa akan datang akan menjadi potensi konflik. Sudah sangat jelas pihak panitia sudah menyampaikan himbauan dari Pak Noviar kepada para pemikul tandu. Bukan kewajiban pihak panitia melarang pemikul tandu dari etnis Melayu jika mereka ingin mengambil bagian untuk menyukseskan acara CGM Singkawang. Komunitas Tionghoa Singkawang selalu  menghargai kepada etnis lain yang ingin mengambil bagian dan menyukseskan acara CGM Singkawang, dan kami menghormati hak individu dan organisasi dalam hal ini.

Jika Pak Noviar keberatan dengan ada pemikul tandu dari etnis Melayu, itu merupakan kewajiban Bapak dan organisasi Bapak  untuk mengadakan penyuluhan kepada komunitas Bapak dalam hal ini. Dengan demikian  supaya mereka menaati dan memahami himbauan dari organisasi Bapak.

 

Ketika reporter CintaSingkawang menanyakan komentar dari Pak AJit yang tinggal di sekitar Stadion Kridasana Kota Singkawang tentang perayaan CGM tahun ini yang mempawaikan kaisar San Kew Jong itu. Kata Pak AJit :” Bagi keluarga saya bagaimana mengatasi persoalan tingginya harga sembako dan kebutuhan lainnya serta dengan penghasilan yang pas-pasan jauh lebih penting dari perayaan CGM  yang sedikitpun tidak mengubah nasib golongan kami”. Pernyataan Pak AJit ini merupakan sebuah renungan mendalam  untuk  kita semua terutama untuk Raja dan Kaisar yang baru saja menobatkan dirinya sebagai kaisar San Keu Jong.

Apakah  mengikuti jejak mentornya “Poh” yang memobilisasi massa tionghoa di PRJ dengan kemasan CGM juga hanya untuk mendapat tepuk tangan dan sebuah ucapan ; “Kalau Obama bisa kenapa Poh tidak?” Mungkin Pak Aliok sedang berpikir tak pernah menjadi Pejabat tapi cukup menjadi seorang kaisar sekalipun hanya dalam pawai.

  


 
CintaSingkawang,19 Februari 2011