Persaingan Elite memakai nama Konglomerat

-Dibalik pernyataan  Pak Agustinus Aryawan, advisor Prajogo  Pangestu hari ini di koran  Kalbar Times

01 September 2012

Komentar:

Bill Clinton, mantan presiden AS. Dia adalah pemain saksofon tenor yang berbakat. Di sekolah lanjutan dia terpilih sebagai salah satu pemain saksofon tenor yang mendapat kesempatan untuk bergabung dalam band negara. Walaupun dia sebagai mantan presiden AS, dia sering mendapat undangan dari korporasi dan perusahaan perusahaan yang meminta dia memainkan saksofon tenor pada acara perjamuan makan bergengsi. Permintaan semacam itu selalu ditolak oleh Bill Clinton. Karena dia tidak ingin dirinya diperalat atau dipakai perusahaan mencari kepopularitasan, untuk mendongkrak harga saham mereka yang  sedang mengalami anjlok. Kecuali dalam acara kegiatan sosial dan kemanusiaan Bill Clinton memainkan saksofon tenor sebagai bentuk dukungannya kepada organisasi tersebut.

Orang besar selalu menjaga “imega”nya supaya tidak disalahgunakan, terutama dalam hal yang dapat merugikan publik dan dirinya.

 

Hari ini masyarakat Singkawang bertanya tanya sesudah membaca berita dikoran lokal, Kalbar Times. Yang memuat berita “Projogo dukung Hasan Karman”. Terutama bagi mereka, generasi muda bertanya siapakah “Pak Projogo Pangestu dan  Pak Agustinus Aryawan”? Kedua tokoh tersebut sudah tidak populer dikalangan generasi muda Singkawang. Bahkan banyak masyarakat Singkawang tidak mengenal mereka. Ini dapat kita maklumi, tidak seperti ditahun 1970an dan 1980an sebagian besar masyarakat Singbebas mencari makan di perusahaan Barito. Jaman berganti, generasi berubah, pandangan masyarakat juga berubah terhadap kehidupan ini. Banyak hal yang tidak menyangkut kehidupan mereka sudah mereka tidak hargai. Mereka lebih mengenal Agnes Monica, apalagi menghargai orang yang tidak memberi apa apa dalam kehidupan mereka.

 

Memuat foto mesra Pak Projogo Pangestu dan  Pak Agustinus Aryawan dan Pak HK dikoran lokal tersebut menimbulkan pertanyaan lama yang belum terjawab. Lima tahun yang lalu, Pak HK didepan masyarakat Tionghoa Singkawang mengatakan” jika dia terpilih sebagai wako Singkawang Pak Projogo akan membawa dia ke China membeli mesin pembangkit listrik. Kota Singkawang akan terang, listrik tidak akan padam.Tidak ada pemadaman bergilir merupakan gaya hidup yang tidak cocok dengan perkembangan dan tuntutan jaman. Dan menurut Pak HK,  Pak Projogo juga berjanji akan investasi di Singkawang.Pertanyaannya: Siapakah yang berjanji ? Pak HK atau Pak Projogo yang mengatakan akan ke China membeli mesin dan investasi di Singkawang. Masyarakat tidak akan memberi dukungan kalau janji belum ditepati.

 

Sebagian besar masyarakat Tionghoa Singkawang melihat berita tersebut merupakan “persaingan” elite Tionghoa Singkawang, diantara kubu Pak Aliok dengan kubu Pak Agus. Untuk mengurangi pengaruh kubu Pak Aliok diSingkawang, kubu Pak Agus memilih bersimpati kepada Pak HK.  Satu bukti sangat jelas menunjukkan bahwa popularitas Pak HK jauh dibawah kubu Pak Aliok. Kalau bukan kondisi seperti itu buat apa terang terangan ( melalui pemberitaan koran) kubu Pak Agus menyatakan memberi dukungan kepada Pak HK. Apakah dukungan tersebut dapat menolong Pak HK? Jelas tidak mungkin, karena Pak HK sudah kehilangan segala galanya. Kenyataan dilapangan( Singkawang ) masyarakat lebih mengenal Pak Aliok daripada Pak Agus. Dukungan semacam itu justru akan merugikan reputasi kubu Pak Agus. Memilih kuda susah keluar sebagai pemenang, berarti analisa perkembagan politik kota Singkawang mereka buta.

 

Jaman sudah berubah, kehidupan masyarakat Singkawang tidak seperti kehidupan suku terasing, mendengar dan mengikuti perintah dari kepala suku mereka. Masyarakat Singkawang lebih tahu memilih siapa yang pantas menjadi pemimpin mereka tanpa berdasarkan referensi dari Konglomerat.

 


CintaSingkawang, 01 September 2012