Awal  sebuah Persaingan 

“Lagi-lagi terjadi pembodohan massal dilakukan oleh elit Singkawang”

 21 Agustus 2010
Komentar:

Jika ada dua  perusahaan sedang bersaing satu sama lain  untuk menguasai pasar. Mereka akan bersaing  menghasilkan  produk baru  yang lebih unggul dibandingkan produk lama baik dari segi mutu ataupun teknologi.  Mereka  akan sangat hati-hati  memasarkan produk barunya supaya konsumen mau memakai  produk baru sebagai produk andalkan mereka. Tentu  saja produk baru mereka harus memenuhi kebutuhan dan tututan  konsumen. Apabila produk baru dari mereka itu bisa diterima oleh konsumen berarti penguasaan  terhadap market  semakin meningkat, profit perusahaan tersebut juga akan bertambah.

Begitu juga persaingan antara Lions Club Jakarta Kalbar  Prima dengan Permasis. Lions Club Jakarta Kalbar  Prima( LCJKP ) dipimpin oleh Pak Lio Kurniawan (pria dengan selusin nama tesebut, terlahir Bong Choi Liok nama bisnis Bong Phen Thin, nama sapaan Aliok), mantan ketua Permasis. Dari segi kehormatan, memimpin  LCJKP jauh memiliki nilai ”prestige” bagi Pak Aliok. Sebagai ketua LCJKP  Pak Aliok dipanggil “President”, dulu ketika menjabat ketua Permasis dipanggil “ketua”. Di LCJKP setiap kali membaca surat yang ditujukan ke organisasinya enak dibaca, dimulai dengan kalimat yang menyenangkan;”Yth Bapak/Tuan President Lio Kurniawan”. Rasa kepuasan yang dirasakan Pak Aliok dapat kita pahami, dipanggil “president” berarti dia kontrol penuh terhadap kebijakan organisasi. Tidak seperti dulu ketika sebagai ketua Permasis dia harus tunduk dengan stakeholder Permasis. Kadang-kadang dia harus tunduk dengan orang tidak mempunyai pengetahuan menjalankan organisasi bahkan tidak mempunyai wawasan bagaimana cara membangun Singbebas.

Kembalinya Pak Aliok dengan dukungan LCJKP sudah sangat jelas Pak Aliok siap bersaing dengan Permasis, untuk membuktikan bahwa dirinya lebih cakap memimpin organisasi. Sejauh ini, sesudah Permasis ditinggalkan oleh Pak Aliok, Permasis tidak banyak mengadakan sosialisasi ke masyarakat. Tanpa ada program yang menarik dari Permasis, pelan-pelan popularitas Permasis akan menurun dimata masyarakat Singbebas.

Dalam acara sembahyang Shi Ku( sembahyang rampasan) beberapa hari yang lalu, kehadiran  Pak Aliok dibawah bendera LCJKP memberi indikasi bahwa Pak Aliok ingin menguasai market Singkawang. Dari segi marketing point, sementara Permasis sedang lemah berarti kesempatan baik  untuk  Pak Aliok mempromosi produk baru untuk komunitas Tionghoa Singkawang di Singkawang. Cuma sayangnya, produk baru yang dipromosikan Pak Aliok itu tidak jauh dari masalah budaya dan agama. Produk semacam ini sudah tidak kena sasaran untuk membangun masyarakat menuju arah masyarakat sejahtera alias unmarketable lagi bagi masyarakat Singkawang,singkatnya “itu-itu saja” menunya Aliok kata sebagian masyarakat Singkawang .

Sembahyang Shi Ku. Sebenarnya apa tujuan dari sembahyang Shi Ku? Alkisah beberapa ratus tahun yang lalu di negeri Tiongkok sedang dilanda kemiskinan, akibatnya banyak rakyat miskin meninggal karena kelaparan. Karena kekurangan gizi orang mudah kena penyakit. Pada masa sulit itu, mayat ada dimana-mana. Untuk menenangkan masyarakat, diadakan acara Shi Ku yang bertujuan untuk memberi makan(sembahyang) kepada arwah dan  memberi makan kepada orang miskin.Pada saat sembahyang Shi Ku orang miskin boleh mengambil barang yang mereka perlukan. Panggung sembahyang Shi Ku dibangun bertingkat untuk menaruh barang donasi dari masyarakat, barang yang bisa dikonsumsi ditaruh berbeda lokasi (tingkat)dengan barang non konsumsi(pakaian,selimut) untuk memudahkan penyaluran. Sudah lama sembahyang Shi Ku ditinggalkan masyarakat di negeri asalnya karena itu bukan cara yang efektif untuk mengatasi kemiskinan. Pemerintah yang bertanggungjawab soal kesejahteraan masyarakatnya. Kalau masyarakat Singkawang  merasa tidak sejahtera sudah sangat jelas siapa yang harus bertnggungjawab. Kita percaya hanya dengan makanan setengah ember tidak mungkin dapat mengubah kehidupan mereka yang tidak beruntung itu.

Jika komunitas Tionghoa Singkawang menerima produk dari Pak Aliok berupa sembahyang Shi Ku sebagai produk unggulan. Menjadi pertanyaan bagi kita semua ; Masyarakat kita masih bodoh atau Pak Aliok mencoba membodohnisasi ( proses membodohkan orang lain ) komunitas Singkawang???

 

CintaSingkawang, 21 Agustus 2010