Dilema yang dihadapi Permasis

02 Maret 2010

Komentar:

Ketika Pak Lio Kurniawan (Aliok) melakukan peletakan batu pertama untuk pembangunan sekretariat Permasis di Season City,  jalan Latumenten Jakarta Barat pada tanggal 29 Juli 2007 yang lalu. Didalam benak Beliau tersimpan  sebuah pertanyaan besar yang tidak terjawab oleh Beliau pada saat itu. ”Sanggupkah pemimpin penggantinya (penerus) meneruskan visi, mempembarui visi  organisasi dan mengembangkan program kerja  untuk kemajuan organisasi?” Itulah pertanyaan besar yang ada di benak Beliau. Sebagai pemimpin, rasa kekuatiran seperti itu wajar saja biasa dialami oleh siapapun merupakan proses berpikir yang mendalam dan melihat sesuatu jauh ke depan.

Klub,organisasi, yayasan yang ada di masyarakat kita,  merupakan  tempat berkumpulnya orang –orang yang memiliki berbagai macam kepentingan dan motif untuk mencari sesuatu di sana. Bisa saja merupakan tempat “making money”; tempat mencari kerjasama bisnis atau ``networking opportunity'',tempat mencari pupularitas,bahkan tempat mencari kedudukan politis.

Seandainya  tujuan untuk seperti itu, para opportunis menunggu kesempatan itu muncul, jika waktunya tepat mereka akan beraksi untuk mendapat apa yang mereka idamkan tanpa perlu  bekerja keras. Ada juga tidak sabar menunggu, dia memakai prinsip”arisan” siapa yang betting dulu mungkin lebih menguntungkan kalau arisan gagal mencapai putaran penuh alias organisasi tidak dapat bertahan lama. Yang jelas ada tiga status yang selalu dicari oleh anak manusia yaitu:kekayaan, kedudukan dan nama.

Dalam lingkungan pergaulan seperti itu diantara sesama anggota akan timbul suatu persaingan untuk mendapat(mencari) pengaruh di dalam organisasi untuk mendapat posisi sebagai  godfather atau big brother. Pertaruhan untuk perebutan  mendapat pengaruh atau untuk mendekati tokoh tertentu(biasanya tokoh yang ingin didekati adalah orang super kaya yang kharismatik dan berpengaruh secara politis dan ekonomi).

Takut pengaruhnya hilang atau takut tidak mendapat pengaruh maka cenderung menimbulkan  konflik diantara sesama anggota.  Bagi mereka  yang kalah dalam persaingan,atau kepentingannya sudah mengalami perubahan di dalam organisasi mereka ini akan meninggalkan organisasi tersebut.  Organisasi bisa bubar secara alamiah (tidak berfungsi) jika ada tokoh yang dikerjar atau idola di dalam organisasi itu tidak aktif lagi dalam organisasi. Karena tujuan mereka sudah sirna, mereka bukan dipersatukan dalam satu visi dan pemikiran(idelogi) di dalam organisasi.tetapi mereka dipersatukan dalam  suatu pemujaan terhadap individu tertentu.

Sudah sangat logis, tidak mungkin ada orang mau buang beberapa puluh juta rupiah untuk sebuah membership kalau tujuannya for nothing, minimal  untuk mendapat sebuah pengakuan terhadap status sosial ekonomi  mereka dari masyarakat bahwa mereka  ini yang disebut”upper class”.

Memang harus kita akui tidak ada klub yang luput dari anggotanya yang memiliki kepentingan pribadi tertentu untuk menggabung dirinya ke klub. Permasis, tidak ada bedanya dengan organisasi(klub) lain yang ada dimasyarakat kita memiliki berbagai agenda dan persoalan.

Suatu kumpulan bertujuan mencari peluang “bisnis” tidak boleh dicampur aduk dengan ide “bakti sosial”. Kedua hal itu tidak bisa digabungkan karena  memiliki arah orientasi yang berbeda.. Bisnis intinya mencari keuntungan materi sedangkan bakti sosial mengorbankan (rugi)materi yang bertujuan untuk menangani permasalahan sosial di dalam masyarakat supaya masyarakat lebih sejahtera sehingga nilai kemanusiaan dimuliakan.

Dilema yang dihadapi Permasis yaitu mempresentasikan  identitas dirinya tidak jelas kepada masyarakat.  Apakah organisasi ini adalah kumpulan orang –orang  upper class seperti pada umumnya bisnis klub atau  badan bakti sosial yang tujuan menangani permasalah sosial yang ada masyarakat Singbebas. Kalau sebagai bisnis klub sudah sangat jelas merupakan tempat menampung orang tertentu , disitu tempat “money talking” berlangsung.Jika sebagai badan bakti sosial,  Permasis memerlukan lebih banyak “expertise and manpower” untuk menunjang dan mengembangkan program- program organisasinya yang kena sasaran yang dibutuhkan oleh masyarakat Singbebas. Tidak ada  satupun badan sosial dapat berfungsi baik tanpa melibatkan masyarakat umum untuk membantu mereka menjalankan programnya supaya mencapai sasaran.

Pada tanggal 21 Februari 2010, secara resmi Permasis memiliki sekretariat permanent. Semoga di kantor ini akan melahirkan program kerja yang bermanfaat untuk masyarakat  Singbebas. Itulah yang ditunggu oleh masyarakat. Sanggupkah pimpinan  Permasis menerima tantangan  yang ada di benak Pak Aliok ketika peletakan batu pertama?? Atau malah mengecewakan Pak Aliok??

CintaSingkawang,02 Maret 2010