|
Ketika Pak Lio
Kurniawan (Aliok)
melakukan peletakan batu pertama
untuk pembangunan sekretariat Permasis
di Season City, jalan
Latumenten Jakarta Barat pada tanggal 29
Juli 2007 yang lalu. Didalam benak
Beliau tersimpan
sebuah pertanyaan besar yang tidak
terjawab oleh Beliau pada saat itu. ”Sanggupkah
pemimpin penggantinya (penerus)
meneruskan visi, mempembarui visi
organisasi dan mengembangkan
program kerja untuk
kemajuan organisasi?” Itulah pertanyaan
besar yang ada di benak Beliau. Sebagai
pemimpin, rasa kekuatiran seperti itu
wajar saja biasa dialami oleh siapapun
merupakan proses berpikir yang mendalam
dan melihat sesuatu jauh ke depan.
Klub,organisasi,
yayasan yang ada di masyarakat kita,
merupakan tempat
berkumpulnya orang –orang yang memiliki
berbagai macam kepentingan dan motif
untuk mencari sesuatu di sana. Bisa saja merupakan
tempat “making money”; tempat mencari
kerjasama bisnis atau
``networking opportunity'',tempat
mencari pupularitas,bahkan tempat
mencari kedudukan politis.
Seandainya tujuan untuk seperti
itu, para
opportunis menunggu kesempatan itu
muncul, jika waktunya tepat mereka akan
beraksi untuk mendapat apa yang mereka
idamkan tanpa perlu
bekerja keras. Ada juga tidak sabar
menunggu, dia memakai prinsip”arisan”
siapa yang betting dulu mungkin lebih
menguntungkan kalau arisan gagal
mencapai putaran penuh alias organisasi
tidak dapat bertahan lama. Yang jelas
ada tiga status yang selalu dicari oleh
anak manusia yaitu:kekayaan, kedudukan
dan nama.
Dalam lingkungan
pergaulan seperti itu diantara sesama
anggota akan timbul suatu persaingan
untuk mendapat(mencari) pengaruh di
dalam organisasi untuk mendapat posisi
sebagai godfather
atau big brother. Pertaruhan untuk
perebutan mendapat
pengaruh atau untuk mendekati tokoh
tertentu(biasanya tokoh yang ingin
didekati adalah orang super kaya yang
kharismatik dan berpengaruh secara
politis dan ekonomi).
Takut pengaruhnya
hilang atau takut tidak mendapat
pengaruh maka cenderung menimbulkan
konflik diantara sesama anggota.
Bagi mereka
yang kalah dalam persaingan,atau
kepentingannya sudah mengalami perubahan
di dalam organisasi mereka ini akan
meninggalkan organisasi tersebut.
Organisasi bisa bubar secara
alamiah (tidak berfungsi) jika ada tokoh
yang dikerjar atau idola di dalam
organisasi itu tidak aktif lagi dalam
organisasi. Karena tujuan mereka sudah
sirna, mereka bukan dipersatukan dalam
satu visi dan pemikiran(idelogi) di
dalam organisasi.tetapi mereka
dipersatukan dalam suatu
pemujaan terhadap
individu tertentu.
Sudah sangat logis,
tidak mungkin ada orang mau buang
beberapa puluh juta rupiah untuk sebuah
membership kalau tujuannya for nothing,
minimal untuk
mendapat sebuah pengakuan terhadap
status sosial ekonomi mereka
dari masyarakat bahwa mereka ini
yang disebut”upper
class”.
Memang harus kita
akui tidak ada klub yang luput dari
anggotanya yang memiliki kepentingan
pribadi tertentu untuk menggabung
dirinya ke klub. Permasis, tidak ada
bedanya dengan organisasi(klub) lain
yang ada dimasyarakat kita memiliki
berbagai agenda dan persoalan.
Suatu kumpulan
bertujuan mencari peluang “bisnis” tidak
boleh dicampur aduk dengan ide “bakti
sosial”. Kedua hal itu tidak bisa
digabungkan karena
memiliki arah orientasi yang berbeda..
Bisnis intinya mencari keuntungan materi
sedangkan bakti sosial mengorbankan (rugi)materi
yang bertujuan untuk menangani
permasalahan sosial di dalam masyarakat
supaya masyarakat lebih sejahtera
sehingga nilai kemanusiaan dimuliakan.
Dilema yang dihadapi
Permasis yaitu mempresentasikan
identitas dirinya tidak jelas
kepada masyarakat.
Apakah organisasi ini adalah kumpulan
orang –orang upper
class seperti pada umumnya bisnis klub
atau badan bakti
sosial yang tujuan menangani permasalah
sosial yang ada masyarakat Singbebas. Kalau sebagai bisnis
klub sudah sangat jelas merupakan tempat
menampung orang tertentu , disitu tempat
“money talking” berlangsung.Jika sebagai badan
bakti sosial, Permasis
memerlukan lebih banyak “expertise and
manpower” untuk menunjang dan
mengembangkan program- program
organisasinya yang kena sasaran yang
dibutuhkan oleh masyarakat Singbebas.
Tidak ada satupun
badan sosial dapat berfungsi baik tanpa
melibatkan masyarakat umum untuk
membantu mereka menjalankan programnya
supaya mencapai sasaran.
Pada tanggal 21
Februari 2010, secara resmi Permasis
memiliki sekretariat permanent. Semoga
di kantor ini akan melahirkan program
kerja yang bermanfaat untuk masyarakat
Singbebas. Itulah yang ditunggu
oleh masyarakat. Sanggupkah pimpinan
Permasis menerima tantangan
yang ada di benak Pak Aliok
ketika peletakan batu pertama??
Atau malah
mengecewakan Pak Aliok??
|