Cara menyogok orang berkuasa 

"Sudah saatnya Masyarakat Singbebas memerlukan buku panduan Phung-tai-kiok-isme?

27 Februari 2011

Komentar:

Budaya pemujaan terhadap orang kaya atau orang berkuasa sudah ada dalam kehidupan manusia sejak ada peradaban manusia. Setiap bangsa  memiliki cara tersendiri dalam pemujaan. Mereka percaya obyek yang mereka puja itu memiliki suatu kekuatan magis atau kuratif.  Sekedar contoh pada abad pertengahan di negara Inggeris dan Perancis, masyarakatnya percaya bahwa “Sentuhan Raja” dapat menyebuhkan penyakit TBC. Para penderita penyakit TBC kalau disentuh oleh Raja beryakinan penyakitnya akan sembuh. Bahkan bangsa Spanyol pada abad itu percaya darah orang kaya dapat menyebuhkan penyakit TBC.

 

Masa dan abad  bisa berlalu tetapi pemujaan masih ada dalam kehidupan modern ini cuma dalam bentuk type  pemujaan yang berbeda. Sekedar contoh, pemujaan yang terjadi di kalangan

komunitas kita, Tionghoa Singbebas memiliki acara unik pemujaan terhadap orang kaya.  Diantara sekian cara, ada satu cara yang mendapat perhatian masyarakat kita yang dilakukan oleh Pak Aliok, yakni:  mengirim jeruk bali CGM . Pak Aliok mengirim sepasang jeruk bali berkualitas terpilih untuk konglomerat kita, Pak Projogo Pangestu. Sayangnya, Pak Aliok tidak memahami falsafat  memancing ikan, untuk mendapat ikan si pemancing harus memilih umpan yang disukai ikan. Sebelum memancing seharusnya bertanya pada diri sendiri” umpan apa yang disukai ikan?”. Karena setiap jenis ikan mempunyai kesukaan umpan yang berbeda. Mungkin bagi Pak Projogo Pengestu lebih menghargai kalau dikirim kepiting raksasa dari perairan Maluku daripada jeruk bali Singbebas.

 

Seperti Pak Aliok harus banyak belajar tentang bagaimana cara memancing ikan raksasa tentu saja tekniknya berbeda dengan memancing ikan kakap yang tidak memiliki wawasan. Dengan beberapa kata pujian saja sudah dapat  Pak Aliok kontrol mereka.  Pak Aliok kaya dengan teknik dan pengalaman dalam hal ini. Seharusnya berbagi pengalamannya kepada orang-orang lain terutama generasi kita berikutnya sebab itu CintaSingkawang menyarankan kepada Pak Aliok segera membukukan pengalamannya, agar supaya bagi mereka ingin mendalami Phung-tai-kiok-isme” memiliki buku panduan sebagai pegangan serta dapat memperkaya perpustakaan di Singkawang. Ide menulis buku bukan hal yang jelek, ini dapat memberikan motivasi kepada pihak lain terutama kepada pembaca buku. Seperti bangsa Amerika, ada pengalaman atau peristiwa orang lain yang dapat memotivasi masyarakat, cerita seperti itu diangkat ke dalam film atau difilmkan. Supaya masyarakat termotivasi dengan ide yang ada difilm tersebut.

Ide perayaan CGM Singkawang yang digembar gemborkan dapat dijadikan obyek wisata seharusnya ide tersebut dibukukan supaya ide yang bagus ini dapat dipelajari pihak lain ingin membangun daerahnya dengan CGM. Sementara ketua DPRD kota Singkwang menghimbau kepada pemerintah pusat “jangan hanya membangun tempat wisata di pulau Bali saja, Singkawang juga perlu mendapat perhatian karena ada perayaan CGM”. Sayangnya, ketua DPRD kita sangat minim pengetahuan tidak membaca artikel asing tentang perusahaan yang mengontrol stock paket tour internasional, perusahaan ini  mempertanyakan kemampuan pulau Bali sebagai tempat destinasi plesiran murahan. Menurut pendapat perusahaani ini pembangunan pulau Bali tidak memadai, banyak jalan-jalan menuju obyek wisata tidak bisa menampung wisatawan dalam skala besar, pembangunan jalan jalan menuju pedesaan fasilitasnya sangat memprihatinkan. Sangat berbeda dibandingkan dengan pulau di Phuket, Thailand.  Perusahaan ini membuat paket tour kemudian diperdagangkan dalam market Internasional  sebagai komoditas. Kalau mau menjadikan CGM Singkawang sebagai bahan konsumsi wisatawan asing masih merupakan impian kepanjangan.

Akankah Singkawang akan memiliki buku panduan CGM seperti artikel Cinta ini ? Subhanallah, hanya Aliok yang bisa menjawab tantangan ini.

 

CGM  2011 di JIexpo PRJ Jakarta

Lain  Aliok lain pula Poo Tjie Guan berbeda dengan  dalam hal pemujaan dan tujuannya pun beda.

Cara Pak Murdaya Poo memuja orang berkuasa sangat berbeda gayanya seperti yang dipakai  Pak Aliok . Ketika perayaan Imlek dan CGM  Beliau yang satu ini memobilisasi massa Tionghoa  dengan mengatasnamakan Tionghoa Indonesia dengan sebuah ormas yang sangat asing kedengarannya  bagi komunitas Tionghoa Indonesia yaitu FBTI ( Forum Bersama Tionghoa Indonesia; yang diklaim encek Poo mewakili 80 kelompok Tionghoa ,entah Tionghoa yang mana tidak disebutkan) mengundang Presiden RI, dalam acara yang penuh dengan pemujaan kekuasaan ini seperti lagu-lagu karya SBY dan sebuah  seminar yang berjudul “ Sumbangsih Warga Tionghoa Demi Kemajuan Nasional Indonesia” yang kemudian melahirkan sebuah lelucon “Kalau Obama bisa kenapa Poo tidak ? Keesokan harinya banyak aktivis Tionghoa mengaku heran dengan acara aneh semacam ini, bahkan banyak diantaranya terang-terangan mengecam tindakan Poo sebagai gejala urat malu sudah putus. Sarat dengan politik cari muka, ketika suku-suku lain seperti Aceh, Jawa dll berjuang sampai titik darah penghabisan tak pernah mereka menagih Sumbangsihnya kepada  Republik tercinta ini, mantan poltisi PDIP yang kini berbalik badan dengan puja puji SBY ini tentu ada pamrih yang diidamkan.

 

Memuja adalah  pekerjaan yang tidak mudah, sering pemuja harus menderita, korban perasaan karena belum tentu semua usaha yang telah dilakukan mendapat respon dari orang yang dipuja . Namun demikian, masih banyak  orang mau mencoba.

  


 
CintaSingkawang,27 Februari 2011