Altar Panitia Spektakuler bentukan Walikota Singkawang gagal dalam lelang CGM 2010

02 Maret 2010

Komentar:
Perayaan  Cap Go Meh 2010 sudah berakhir, tetapi pesta “persoalan” bagi panitia CGM baru dimulai. Seperti biasanya pada setiap kali pasca perayaan CGM pasti ada berita yang menarik untuk kita. Apalagi CGM 2010 ini yang dipimpin oleh tokoh kharismatik Singkawang, Pak Lio Kurniawan alias Bong Phen Thin atau lebih dikenal  A Liok. Komunitas Tionghoa Singkawang sudah siap memberikan penilaian terhadap keberhasilan pihak panitia CGM 2010 dalam melakukan tugasnya. Terutama penilaian dari elite komunitas Tionghoa Singkawang  di Jakarta

Para elite ini menilai keberhasilan panitia dalam pelaksanaan perayaan CGM dengan memakai tolok ukur terhadap hasil akhir (pendapatan) “lelang” barang-barang CGM. Kalau hasil pendapatan dari lelang semakin besar berarti pihak panitia perayaan CGM  mendapat dukungan dari masyarakat. Sebaliknya jika hasil lelang gagal berarti pihak panitia  dinyatakan tidak didukung oleh elite komunitas Tionghoa Singkawang  di Jakarta. Mereka menilai keberhasilan panitia bukan berdasarkan rekor MURI yang dicapai(cetak) oleh pihak panitia. Karena bagi mereka  dengan duit rekor itu sangat mudah diciptakan( harap dibaca diakali).

Mereka melelang sepasang jeruk bali bisa sampai seharga puluhan juta rupiah. Berapa orang dari penduduk lokal Singkawang yang berani lelang dengan harga seperti itu?  Harga  sepasang jeruk bali di kampung Kulor tidak sampai seharga Rp100ribu! Beli saja di kulor daripada beli ditempat lelang.  Seorang anak sekolah SD memahami logika nilai ekonomi ini, apalagi bagi mereka yang tamat dari STIE Mulia Singkawang  sudah seharusnya lebih memahami.

 

Namun, yang terjadi diantara para elit Singkawang bukan faktor logika ekonomi,sebagian dari para penggemar Lelang ini adalah orang-orang Singkawang OKB yang ingin show off kepada warga kampung halamannya bahwa yang bersangkutan telah sukses dirantau. Menurut seorang sosiolog Untan yang tidak mau namanya dicantumkan ia mengatakan cara elit Singkawang memperkenalkan dirinya yang paling efektif kepada masyarakat Singkawang  adalah lewat cara tradisional yaitu Lelang.

Narasumber ini menyebut contoh seorang pengusaha karoseri yang tinggal di Surabaya sebelumnya tak dikenal oleh habitatnya sendiri tetapi karena keberaniannya melelang Rp.99.999.999,99,- beberapa tahun yang lalu namanya meroket seantero Singkawang. Lelang adalah cara yang paling primitif dari budaya Singkawang untuk memperkenalkan dirinya kepada publik, sebagai media untuk proganda diri.

Oleh sebab itu, setiap panitia yang bertugas tentu akan memanfaatkan sikon ini untuk memanfaatkan para perantau OKB ini.

 

Ada satu  rekor yang terjadi pada  CGM 2010 ini,hasil lelang altar panitia resmi yang dilindungi SK Walikota dan mendapat subsidi dari Pemkot Singkawang gagal menyaingi altar Tri Dharma dan MTI. Menurut pihak panitia mereka gagal mendapat pendapatan lelang karena pada para pendukung mereka tidak berhasil mencapai ke lokasi lelang, ada isu terjadi bentrok antara pawai CGM dengan pawai takruf Maulid. Menurut laporan Chin Miaw Fuk kepada Pak Aliok bahwa banyak tamu terutama para OKB ini dalam perjalanan dari Pontianak menuju ke Singkawang; mereka ini yang berpotensi membantu lelang,tetapi mereka membalik arah kembali ke Pontianak ketika mendengar ada isu akan terjadi kekacauan di Singkawang.  Tetapi, menurut hasil investigasi team CintaSingkawang terhadap kasus mengapa altar panitia resmi gagal dalam meraih pendapatan dari lelang sangat berbeda dengan pernyataan pihak panitia.

Ini hasil investigasi team kami:  Ada operasi khusus dari elite komunitas Tionghoa Singkawang  di Jakarta yang mengirim sekelompok orang ke Singkawang untuk interferensi acara ini. Operasi ini diberi kode”FPC”(Front Pembela Chinese) yang bertujuan :

-memberikan pelajaran berharga kepada para elit lokal Singkawang atas ulahnya terutama Pak Hasan Karman dan konco-konconya, menggagalkan lelang pada altar panitia resmi pemegang lisensi Walikota Singkawang.

- membantu(meningkatkan)pendapatan lelang pada altar saingan mereka (Altar Bong Wui Kong dan Chai Ket Kiong).

 

Menurut salah satu narasumber yang berpesan kepada CintaSingkawang jangan mencantumkan identitas dirinya bahwa pihak panitia CGM 2010 akan mengalami defisit(rugi) antara Rp1Miliar sampai Rp 1,5Miliar. Katanya itu adalah angka yang reasonable. Pihak panitia mengalami defisit karena gagal lelang, biaya untuk keamanan tahun ini melonjak sangat tajam akibat tekanan dari ormas tertentu terhadap Pantia CGM 2010 bahkan biaya keamanan beberapa kali lebih besar dari budget sudah ditentukan. Pertanyaan kita dengan memakai dana dari mana pihak panitia untuk menutup defisit ini?

 

Hasil kerja panitia CGM 2010 akan menjadi bahan evaluasi bagi masyarakat terhadap kemampuan personil-personil yang ada disana.

 
CintaSingkawang,02 Maret 2010