San Keu Jong Sedang Chaos

“ Pemukulan terhadap A Bun bermotif politik,

 Pelopor tanda tangan pemindahan Patung Naga Pak Alex mendapat ancaman”

11Juni 2010

Komentar:

A Bun adalah seorang penjual es balok di persimpangan Jalan Kepol Mahmud-Jln Niaga Singkawang, tidak jauh dari patung naga yang menjadi biang masalah di kota Singkawang. Seperti pada umumnya penduduk  di kota Singkawang penghasilan A Bun hanya  cukup untuk menghidupi keluarganya . Satu hari tanpa berjualan berarti dia tidak memiliki penghasilan bagi keluargaanya. Maka itu A Bun setiap hari berdoa jangan ada  demo di sekitar  patung naga supaya dia dapat berjualan. Kehidupan lapisan masyarakat seperti A Bun  dari hari ke hari  semakin bertambah banyak tantangan hidup yang harus mereka hadapi. Walaupun Pak HK pernah berjanji akan menaruh perhatian kepada mereka. Tetapi sampai saat ini mereka merasakan tidak ada  perubahan yang berarti bagi  kehidupan yang dapat dirasakan masyarakat di kota Singkawang.

Sebagai penjualan es balok A Bun sering berkomunikasi dengan langganannya dari berbagai lapisan masyarakat di kota Singkawang. A Bun sering mendengar keluhan, kritikan, makian dan pujian dari masyarakat kepada pemerintahan Pak HK.  Tetapi bagi A Bun  cara penilaian terhadap sesuatu harus dengan cara pengujian fisik; apa yang dia rasakan dan dilihatnya. Type orang seperti A Bun harus melihat fakta nyata dia baru mau percaya dan memberi pujian. Maka itu sering dia beropini bahwa pemerintah Pak HK gagal memberi kehidupan yang lebih baik untuk masyarakat Singkawang terutama  untuk lapisan masyarakat seperti dirinya. A Bun  sering terlibat dalam diskusi dengan langganannya yang  bertopik “ketidakmampuan Pak HK membangun kota Singkawang Spektakuler, apa gunanya kita mendukung orang tidak mampu?”.  Opini-opini dari A Bun ini sudah seperti siaran radio FM untuk kawasan di persimpangan Jalan Kepol Mahmud-Jln Niaga bahkan sudah seluruh kota Singkawang, suaranya jelas dan merdu.

Tetapi, bagi Pak HK suara A Bun yang merdu itu bukan suara  radio FM berkumandang lagu kesayangannya, kritikan A Bun itu  seperti “setumpuk bara menyala yang ditaruh di kepala Pak HK” kata .

Sudah bukan menjadi  rahasia  umum bagi dikalangan komunitas Tionghoa  Singkawang  yang tinggal di Singkawang bahwa jika ada orang(Tionghoa) yang mengkritik  Pak HK pasti dia akan kena malapetaka atau meminjam istilah konco-konco HK adalah di-frans-tshai-kan. Kekerasan politik  yang tersembunyi terhadap komunitas Tionghoa Singkawang di kota Singkawang  sejak Pak HK menjadi wako. Aksi aksi kejahatan seperti itu  tidak bisa kita terima dengan alasan apapun sebagai komunitas Tionghoa Singkawang kita sangat  menghargai dan mencintai demokrasi. Kekerasan dan  kejahatan semacam itu tidak ada tempat untuk di kota Singkawang. Pemukulan terhadap  A Bun yang dilakukan oleh Philipius memiliki indikasi sangat kuat bahwa di belakang peristiwa pemukulan tersebut ada motif politik. Tidak jelas apakah suatu kebetulan atau sesuatu sudah dirancang terlebih dahulu; Pak HK menyumbang Rp 150 jt untuk acara naik dangau yang diterima oleh Philipius.

Gaya pemikiran politik yang dipakai Pak HK tidak ada bedanya dengan negara –negara di Afrika,  menciptakan  perang antar etnis. Pak HK sudah memakai doktrin itu untuk tetap berkuasa. Menurut doktrin itu jika ingin tetap berkuasa harus pandai menciptakan ketegangan etnis dan memanupulasi mereka sehingga mereka tidak bersatu suara untuk menjatuhkan incumbent. Indikasi ini sangat  jelas dalam makalahnya yang berjudul “Sekilas Melayu Asal Usul dan Sejarahnya”. Makalah itu untuk mendeskreditkan etnis Melayu, seakan-akan Cina dan orang Dayak adalah korban dari keganasan dan ambisi etnis Malayu. Sudah sangat jelas Pak HK berusaha melibatkan etnis Dayak untuk menghadapi tekanan politik yang dihadapinya. Sebagai pemimpin di kota Singkawang seharusnya Pak HK mengambil tindakan mengeliminasi konflik bukan mempertajam konflik.

Sebagai komunitas Tionghoa Singkawang kita harus berhati-hati jangan menjadi korban permainan ambisi Pak HK yang intinya akan merugikan komunitas kita sendiri. Dalam hal ini, ambisi Pak HK adalah ambisi dia pribadinya.

Komunitas Tionghoa Singkawang memuji sikap Pak Alex (Mu Kon  Luk) yang telah memberi dukungan untuk  pemindahan patung naga dan memberi tanda tangannya kepada pihak yang  memperjuangkan pemindahan patung naga. Menurut Pak Alex patung naga harus dipindahkan demi kerukunan dan kepentingan masyarakat Singkawang. Bagi mereka yang menentang pemindahan berarti mereka belum memahami konsep hidup bermasyarakat dan bernegara.

Kemarin(10/06/2010) Pak Alex datang ke tempat pemberian dukungan dan memberi tanda tangannya. Sesudah Pak Alex meninggalkan tempat itu, Pak Alex  mendapat ancaman dari Pak Bong Li Thiam via sms ingin mem”frans Tshai”kan Pak Alex.  Ketika Pak Alex menceritakan  kepada kerabatnya di Sedau dan Lirang tentang ancaman itu, isu itu cepat tersebar seluruh Kelurahan Sedau. Tentu saja masyarakat di Kelurahan itu  tidak bisa terima dengan ancaman seperti itu, massa cepat berkumpul siap pergi ke Singkawang untuk memberi pelajaran kepada Bong Li Thiam dan konco2nya. Untung Pak Alex cepat menenangkan kepada massa supaya mereka jangan bertindak anarkhis biar kasus ini akan dihadapi Pak Alex sendiri malahan pagi ini Pak Alex kembali lagi ke lokasi untuk membubuhkan satu tanda tangan lagi sebagai warga Singkawang yang bertanggung jawab atas ucapannya dan siap menghadapi segala konsekwensinya.

Reaksi tokoh-tokoh Singkawang di Jakarta juga demikian keras hari ini terhadap ancaman yang diterima Pak Alex, perlu diketahui Pak Alex adalah seorang pengusaha yang cinta damai dan memiliki wawasan. Beliau pulang ke Singkawang dengan sebuah misi perdamaian untuk mengakhiri berbagai konflik yang diakibatkan oleh ulah segelitir pengemar Patung Naga itu. Bagi Pak Alex Patung Naga itu lebih banyak mudaratnya dari pada manfaatnya, sebagai wujud dari dukungan tokoh-tokoh Singkawang. Menurut rencana dalam waktu dekat mereka akan menjelaskan masalah ini melalui Koran lokal.

Pada siang hari ini(11/6/2010) telah tampak banyak pedagang pasar dari etnis Tionghoa Singkawang datang kesana untuk membubuhkan tanda tangan mereka, pada para tetangga Pak Bong Li Thiam tidak mau ketinggalan juga datang memberi tanda tangannya. Sebenarnya mereka sudah lama risih dengan patung naga tersebut yang membuat omset bisnis mereka menurun namun kasus A Bun dan Frans Tshai telah membuat mereka takut bersuara terutama terhadap para oligarkhis Gangs HK yang mempraktekkan politik tekanan terhadap orang Tionghoa sendiri.

Namun hari ini suasana tampak berbeda setelah Pak Alex melakukan gerakan moral untuk mendukung pemindahan patung naga tersebut.  Kita percaya pasti banyak dari komunitas Tionghoa Singkawang akan mengikuti jejak Pak Alex.

Peristiwa yang dialami oleh A Bun dan Pak Alex menandakan kota Singkawang mengalami kemunduran di bawah pemerintahan Pak HK. Masyarakat tidak bebas mengeluarkan pendapat.Apakah situasi di Singkawang sedang Chaos???

 

 

CintaSingkawang, 11Juni 2010