Surat Pembaca-Jawaban

Normalisasi Sungai Singkawang
12 Nopember 2010

Komentar:

From: Henry Wu <henry7267@yahoo.com>
Subject: Mana Foundation Luar negeri?
To: cintasingkawang@yahoo.com
Received: Wednesday, 10 November, 2010, 2:06 PM

 

 Hi,CintaSingkawang 

   

Gw baca di pontianakpost bbrp hari yg lalu walikota Singkawang Hasan Karman mau menjolok dana pusat utk menormalisasi Sungai Singkawang?
Sebelum Hasan Karman jd Walikota  gw kira Hasan Karman itu seperti Hasan Tiro yg bs cari bantuan Foundation2 Asing bantu Singkawang normalisasi sungai Singkawang seperti yg dikatakan Hasan Karman waktu kampanye di dunia maya.gw msh simpan posting Hasan Karman sekedar informasi buat Cinta  dibawah ini gw lampirin Posting Hasan Karman sebelum jadi Walikota.
 
Thanks ya Cinta banyak informasinya yg akurat.
 Henry Wu
               

 

Jawaban dari CintaSingkawang:

Yth: Bapak Henry Wu,

Terima kasih Pak Henry  untuk email  dan arsip  posting yang Bapak  kirimkan kepada kami sehingga dapat menambah arsip CintaSingkawang. Betapa berbahagianya  kalau Pak HK  mendapat pendanaan dari Foundation Asing( luar negeri) untuk melakukan normalisasi Sungai Singkawang. Sungguh bangga bagi kita sebagai warga Singkawang jika ada pihak Asing mau mendanai kita untuk clean up Sungai Singkawang.

Tetapi, setelah  Bapak  membaca berita koran  Pontianak Post  yang menurut catatan kami per tanggal 03 Nopember2010, yang berjudul “Sungai Jadi Bak Sampah” Kelihatannya Bapak merasa kecewa.  Cinta memahami perasaan  frustrasi  dan rasa kebanggaan Bapak berkurang jika pendanaan bersumber dari Foundation Asing diganti dengan pendanaan dari “menjolok” Pemerintah Pusat. Namun demikian, dalam jangka waktu selama empat tahun komitmen Pak HK untuk melakukan normalisasi Sungai Singkawang tidak pernah  berubah sedikitpun. Karena itu sudah merupakan cita-citanya semenjak masih kanak-kanak ,cuma sumber pendanaan berbeda atau dengan perkataan lain Pak HK “ masih sangat konsisten untuk tidak selalu konsisten dalam hal  pendanaan”.Pak HK juga sangat konsisten untuk tidak selalu konsisten membangun Singkawang tanpa mengandalkan dana APBD karena Pak HK sangat spektakuler dalam membangun Singkawang.

Mari kita mencoba memahami dengan memakai alasan apakah Pak HK mengajukan proposal untuk meminta anggaran ke pemerintah pusat, untuk menormalisasi Sungai Singkawang.  Tanpa ada fakta dan permasalahan yang jelas tidak mungkin pemerintah pusat akan sembrono memenuhi  proposal yang diajukan Pak HK.

Dari artikel  “Sungai Jadi Bak Sampah” ada beberapa point yang dikemukakan oleh Pak HK bahwa Sungai Singkawang ‘ada’:

- Pencemaran lingkungan

- Habitatnya beragam jenis ikan

-Nilai Sejarah

Marilah kita mencoba melihat lebih dekat hal yang telah disebutkan diatas apakah memenuhi persyaratan untuk dijadikan argumentasi dalam proposal spektakuler ini.

Pencemaran lingkungan”, Sungai Singkawang tercemar akibat kelalaian dan ketidakdisplinan  masyarakat, faktor manusia sangat berperan dalam hal ini. “Kelalaian dan ketidakdisplinan” dapat diatasi dengan cara penyuluhan, law enforcement, dan pendidikan , Masyarakat Singkawang dapat melakukan itu sendiri tanpa perlu bantuan pemerintah pusat.

Habitatnya beragam jenis ikan”, tidak perlu kita ragukan bahwa di sungai Singkawang terdapat berbagai jenis ikan hidup di sana. Apakah di sungai Singkawang terdapat spesis ikan yang tidak ada di tempat lain di Indonesia ? Atau species  ikan langka yang harus dilindungi secara hukum oleh Negara? Bahkan oleh negara lain juga?  Karena kelangkaan jenis ikan tersebut.  Kalau ada,  habitatnya yakni Sungai Singkawang sangat perlu mendapat prioritas untuk penangan dalam hal ini. Sulit atau hampir mustahil untuk membuktikan di sungai Singkawang ada spesias ikan langka, kalau hanya mengandalkan ikan lele ,betok atau seluang  sebagai ikan andalan Pak HK sudah pasti proposal Pak HK ditolak.

Nilai Sejarah”, pada umumnya sungai-sungai di Kalimantan berfungsi sebagai sarana transportasi. Dalam jalur pelayaran ada tempat-tempat tertentu dijadikan tempat persinggahan kapal. Kalau hanya disinggahi oleh beberapa orang “Sing Hak”(pendatang baru utk mencari emas) apakah sudah memenuhi persyaratan mengatakan bahwa sungai Singkawang memiliki “nilai sejarah”? Karena memiliki “nilai sejarah” merupakan aset nasional, harus dilindungi? CintaSingkawang merasa alasan mengandung  ‘nilai Sejarah’ akan menambah lagi point untuk dicoret lagi .

Pak Henry yang baik, sesudah kita mempelajari argumen yang dipakai Pak HK untuk menjolok dana pusat dalam rangka menormalisasi Sungai Singkawang, Kemungkinan besar  Pak HK berpotensi gagal lagi mendapat dana menormalisasi Sungai Singkawang.

Mungkin Bapak  bertanya bagaimana kalau mencari dana dari masyarakat? Tentu saja bisa mencari dana dari masyarakat, bahkan ini satu-satunya cara yang dapat dipakai Pak HK.

Dulu ketua Tzu Chi Singkawang pernah mengajukan kepada orang–orang Permasis soal pendanaan normalisasi Sungai Singkawang.Tetapi  permohonan tersebut tidak mungkin akan dipenuhi oleh pihak Permasis.Untuk menjelaskan hal ini CintaSingkawang  memakai perumpamaan ini :”Hubungan antara dua teman”.

Yang satu bernama ‘Tzu Chi Singkawang’ sebagai pemburu memiliki senjata api tetapi tidak memiliki peluru. Temannya yang lain bernama  ‘Permasis’ memiliki peluru tetapi tidak memiliki senjata. Tetapi Tzu Chi Singkawang  ingin berburu di ladang Permasis yang memiliki ternak. Kalau Permasis meminjamkan peluru kepada temannya, Tzu Chi Singkawang, Permasis tidak akan mendapat apa-apa, hilang peluru dan hilang ternak pula. Apakah Permasis mau meminjamkan pelurunya? Tentu saja Pak Henry mendapat jawabannya, bukan?

Bapak Henry, mengenai Pak HK mau  menormalisasi Sungai Singkawang dengan memakai gaya menormalisasi Sungai Thames, Inggris. Menurut banyak pihak  Posting Pak HK tersebut  sudah mendapat jawaban di milist pada waktu itu tentunya Cinta juga mendapat kiriman data tersebut,jadi tak perlu lagi Cinta komentari posting tersebut. Selamat membaca.

Salam kompak selalu,

CintaSingkawang

 

Kutipan  dari koran Pontianak Post  tertanggal 03 Nopember 2010:

"Sungai Jadi Bak Sampah

SINGKAWANG – Sungai Singkawang semakin tercemar, dan memprihatinkan. Perlu dilakukan normalisasi. Namun, tak sedikit biaya yang harus dikeluarkan, Pemerintah Kota Singkawang. Walikota Singkawang Hasan Karman, mengaku sudah berupaya ‘menjolok’ dana ke pemerintah pusat. Namun, usaha itu kandas alias tidak ada respon dari pemerintah pusat di Jakarta.

 

 “Sampai detik ini belum ada jawaban,” sesal Hasan Karman, saat Bhakti Sosial yang digelar Yayasan Budha Tzu Chi Indonesia, dan TNI, di Singkawang belum lama ini. Hasan Karman menegaskan, belum lama ini juga dipanggil untuk diminta mempresentasikan kondisi Sungai Singkawang, oleh stake holder di Jakarta.

 

 Bahan-bahan untuk presentasi kemudian dipersiapkan. Lalu pada waktunya, dibeberkan.

 

“Sungai Singkawang perlu dinormalisasi, namun biayanya tidak sedikit. Kalau dibiarkan kotor, dan menebarkan bau tidak sedap,” kata Hasan Karman.

 

Ia menegaskan, masyarakat tanpa sadar akan kebersihan dan kesehatan membuang sampah di Sungai Singkawang itu. Begitu juga dengan pedagang ayam, tegasnya, membuang sampah di sungai yang membelah kota itu.

 

“Sungai Singkawang (dianggap) seperti bak sampah,” lirihnya.  Sungai Singkawang itu terdiri terdiri dari tiga bagian. Yakni, dari Pasar Baru hingga Pasar Beringin, kemudian Pasar Beringin hingga Jembatan Agen, dan Jembatan Agen hingga Kuala.

 

Hasan Karman prihatin, karena sekarang ini mungkin sudah tidak banyak lagi ikan ikan yang hidup di sungai itu. Berbeda dengan zaman dahulu, dimana sungai tersebut menjadi habitatnya beragam jenis ikan.

 

Ini kerusakan lingkungan yang diakibatkan manusia,” tegasnya. Dia menambahkan, Pemkot Singkawang sudah mengajukan anggaran ke pemerintah pusat, untuk normalisasi Sungai Singkawang ini.

 

Mengandalkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kota Singkawang, menurut dia, tidak bisa.

 

 “APBD bukan superman, apalagi sekarang ini kita mengalami defisif (anggaran),” ungkap orang nomor satu di Pemkot Singkawang itu.

 

Menurut dia, perlu dukungan semua pihak untuk mengatasi permasalahan ini. Bukan hanya tanggungjawab pemerintah saja. Seperti diketahui, pada zaman dahulu Sungai Singkawang merupakan jalur utama kegiatan perekonomian kota ini.

 

Sungai itu juga merupakan saksi sejarah perkembangan kota Singkawang dari sebuah tempat persinggahan para pencari emas zaman kerajaan Sambas hingga menjadi sekarang ini.

 

Dulu Sungai Singkawang merupakan salah satu jalur utama transportasi barang dan manusia, dimana ada dermaga atau pelabuhan, serta kegiatan bongkar muat  barang yang berpusat disana (ody)".

 

Posting-posting:

From: Hasan Karman <hasankarman@cbn.net.id>
Subject: [Singkawang] Sungai Singkawang Dibersihkan
To: singkawang@yahoogroups.com
Received: Thursday, 9 November, 2006, 9:45 PM

Hasan Karman <hasankarman@ cbn.net.id> wrote:

Tjung Po, saya memiliki daftar panjang PR yg harus dikerjakan kalo jadi (kalo nggak jadi, saya nggak bisa apa2). Salah satunya adalah Sungai Skw itu. Waktu kecil saya sering ikut pembantu yg menyuci pakaian di Thoi Phai (tangga sungai) Jl. Niaga (Atapkai), seberang rumah Hendy. Saya senang berenang ketika pembantu saya sedang nyuci. Kini pembantu saya yg kemudian menikah dg veteran tentara di Taiwan sudah menjanda. Thoi Phai di Atapkai juga sudah ditutup dg pagar dan diberi pintu yang digembok. Katanya jalan masuk Thoi Phai itu ditutup karena banyak maling yg menggunakan akses Thoi Phai itu utk masuk ke rumah2 yg berada di pinggir sungai.

Baik pembantu maupun Thoi Phai itu meninggalkan kenangan yg tidak bisa saya lupakan. Pembantu yg mengasuh saya ketika saya masih kecil itu nggak mau kembali ke Indonesia ketika kami minta. Umurnya mendekati 70 dan tidak punya anak. Saya nggak tahu kapan bisa bersua dg beliau, saya juga nggak tahu apakah Thoi Phai2 yg dahulu banyak di pinggir Sungai Skw masih bisa dikembalikan nggak. Tapi saya yakin jika ada niat, pasti ada jalan.... Air Sungai Skw sudah kotor dan menghitam. Dulu masih sering bisa dapat Ikan Malas (Ikan Betutu/ Setok) jika kita pasang keranjang bekas dan diangkat pelan2. Sekarang mau mancing Kok Khiam saja sulit ketemu Kok Khiamnya.... ..

Beberapa tahun silam saya pernah membaca bagaimana Pemerintah Inggris menormalisasi Sungai Thames yg tercemar berat. Kini sungai tsb telah normal dan ikan2 pun bisa hidup sehat. Saya juga merindukan Sungai Skw dapat dinormalkan kembali, dimana masyarakat bisa mengayuh sampan, dimana pada saat Cung Chiu Chiat bisa mandi Ng Si Sui, dimana saat musim hujan bisa lomba berenang dari jembatan Atapkai ke jembatan Rusen/Pakkung. ........ Semua yg peduli pasti memiliki perasaan yg sama. Adik-adik yang lahir di akhir 1970-an mungkin nggak pernah mengalami pengalaman berenang di Sungai Skw...... Sulit digambarkan nostalgia itu.

Untuk melaksanakan normalisasi sungai tsb banyak cara dapat ditempuh, termasuk meminta bantuan dari foundation2 yg ada di luar negeri (asal dananya jangan ditilep).

Semoga...... ..

HK      



Robert Lay <robertlaymas@ yahoo.com> wrote:

From: Robert Lay <robertlaymas@yahoo.com>
Subject: [Singkawang] Nasib Sungai Singkawang ???
To: singkawang@yahoogroups.com
Received: Friday, 10 November, 2006, 8:20 PM

Dear Pak Tjung Po,Pak Hasan dan Pak Kurniwan.

Saya terharu membaca post pak Hasan dan pak Tjung Po tentang nostalgia  beliau terhadap sungai Singkawang itu.Saya yakin, sungai ini menjadi bahan inspirasi ,kenangan  bagi ribuan warga kota Singkawang. Sudah sepatutnya kita  jaga dan lindungi barang yang berharga itu.Saya senang mendengarnya pak Hasan telah memberi komitmen kepada kita, jika beliau terpilih menjadi walikota Singkawang untuk periode 2008,sungai itu akan menjadi salah satu agenda mendapat perhatian utama. Sebelum kita  coba mengikuti cara pak Hasan  untuk memecahkan persoalan ini. Lebih baik kita coba melihat permasalahan yang dihadapi sungai Singkawang itu.
Inti masalah yaitu bagaimana menjaga sungai Singkawang ini tidak terjadi pendangkalan.
Karena pendangkalan akan menimbulkan banyak masalah bagi masyarakat di kota Singkawang, yaitu penyakit, bau busuk, banjir.
Faktor yang menjadi pendangkalan:
-sampah
-alam(ekologi )
Sampah: Manusia("orang Singkawang", jelas bukan  orang Pontianak!)membuang sampah secara langsung ke sungai. Dengan berbagai macam alasan seperti :malas(jauh dari tempat pembuangan), tidak ada tempat pembuangan sampah,praktis, tidak ada penalty kalau membuat demikian.
Tidak langsung, karena hujan semua kotoran(sampah) dijalanan terbawa oleh air hujan menuju kesaluran (drain)ke sungai, kota Singkawang tidak memiliki drainage system yang memadai. Kalau bentuk sampah itu kita golongkan ada dua jenis yaitu padat dan cairan, cairan seperti minyak(oli), ditergent, bahan kimia dll.
Sebagian sampah yang dibuang ke sungai itu tengelam ke dasar sungai dapat menyebabkan pendangkalan.

-alam:erosi dari tepi sungai,hasil produk kimia(terutama bahan pencuci pakaian,washing powder)dapat menjadi bahan pupuk bagi rumput yang tumbuh di sungai,rumput tumbuh subur ini dapat menganggu kelancaran aliran sungai. Inipun dapat menyebabkan pendangkalan sungai.

Persoalannya pendangkalan sungai Singkawang itu bukan hanya single isu tetapi bisa kombinasi berbagai isu. Jelas ini bukan persoalan  kecil, sampai pak Hasan memikirkan dengan cara normalisasi sungai seperti sungai Thames yang terkenal itu yang mengandung nilai ekonomi dapat menpengaruhi daya tukar poudsterling
. Banyak perusahaan raksasa tanpa dikomando siap mengambil bagian penggalian sungai Thames, karena itu adalah kesempatan  untuk  menunjukkan  kehebatan teknologi mereka kepada dunia luar.Tentu saja nasib sungai Singkawang tidak sebaik dengan sungai Thames itu. Sungai Singkawang itu sama sekali tidak mengandung nilai ekonomi!


Minta foundation internasional untuk membiaya normalisasi sungai Singkawang? Apakah kita tidak merasa  malu sama masayarakat internasional gara-gara kita made a mess (tidak disiplin)terharap sungai kita minta orang lain menolong. Dengan bermodal muka tebal meminta bantuan dari badan internasional itu mungkin masih belum cukup persyaratan untuk mendapat grant tersebut.

Mari kita lihat badan internasional ini bagaimana organisasinya memberi grant. Setiap badan internasional memberi grant untuk proyek lingkungan hidup(membersihkan sungai  Singkawang adalah masalah lingkungan hidup)menetapkan requirement tinggi yang susah dapat penuhi bagi pemohon grant. Applicant harus menunjukkan dampak lingkungan hidup(ancaman kehidupan) terhadap kehidupan masyarakat disekitar daerah yang akan menjadi target proyek, dan proposal proyek yang akan mengubah(meningkatkan) quality of life masyarakat. Saya yakin betul bahwa masalah sungai Singkawang mau menjadi bahan untuk mendapat grant tersebut pasti "gagal". Karena pencermaran sungai Singkawang belum sampai tingkat mengancam kehidupan masyarakat sekitarnya. Paling- paling kena bau busuk dari sungai!


Jika  pak Hasan tidak keberatan, kalau saya boleh  menyarankan( kalau pak terpilih menjadi walikota)suatu cara baru membersihkan sungai Singkawang .Yaitu tentukanlah pada suatu hari(ketika air surut)bapak adalah orang pertama turun ke sungai untuk mengangkut sampah kemudian diikuti staff bapak. Tentu saja seluruh masyarakat Singkawang akan ikut serta. Karena saya melihat hanya dengan cara ini lebih efektip dan biayanya murah, tanpa membebani  pihak tertentu.
Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat.

salam,
Robert Lay-sydney


On Fri, 11/10/06, ivert tan <ivert_mantan@yahoo.com> wrote:

From: ivert tan <ivert_mantan@yahoo.com>
Subject: Re: [Singkawang] Nasib Sungai Singkawang ???
To: singkawang@yahoogroups.com
Date: Friday, November 10, 2006, 8:50 PM

Dear all,

wah,Ide Pak Robert bagus juga ,Pak Hasan akan tercatat dalam sejarah sebagai Walikota pertama yang siap terjun sungai.

Bagaimana pak Hasan,berani terima tantangan ? ditunggu !!!

 

rgds

Ivert

CintaSingkawang, 12 Nopember 2010