Nasehat dari Mantan

10 Oktober 2009
Komentar:

Menanggapi nasehat dari ‘mantan’ kadang-kadang kita perlu ekstra hati- hati untuk memahami maksud dan tujuan dari nasehat itu.Nasehat yang diberikan oleh ‘mantan’bisa saja merupakan suatu  ungkapan perasaan kecintaan,simpati, keirihatian, sindiran, simpati dan kekuatiran, ataupun merupakan kekecewaan terhadap kita.

Nasehat dari mantan wali kota Singkawang, Pak Awang Ischak yang memberikan nasehat kepada wako kita, Pak Hasan Karman tentang renovasi kantor wali kota Singkawang di Singakawang yang memakan biaya Rp 27.5M. Biaya sebesar Rp 27.5 M adalah angka  spektakuler untuk ukuran kota Singkawang. Menurut Pak Awang betapa baiknya jika kantor wako dipindahkan kelokasi lain(baru) dan lokasi yang sekarang yang ditempati kantor wako itu dijual kepada pihak swasta. Biaya penjualan ditambah dana renovasi dipakai untuk membangun kantor baru di lokasi baru. Jika dananya tidak cukup bisa mengajukan permohonan kepada pemerintah pusat kata Pak Awang via salah satu koran lokal. Nasehat yang diberikan oleh Pak Awang dalam hal ini bukan suatu konsep yang baru. Transaksi seperti ini, sering kita sebut “Ruislag”(tukar guling). Tetapi, ada beberapa kelebihan dibandingkan konsep renovasi terutama mengenai planning perluasan kedepan.

 

Sesudah  pelantikkan 25 anggota legislatif  kota Singkawang untuk masa jabatan 2009-2014 pada Rabu, tanggal 16 September 2009 yang lalu. Pak Awang Ischak terpilih sebagai   anggota DPRD  Singkawang untuk masa bakti 2009-2014 . Sejak kekalahan Beliau dari pemilihan pilkada beberapa tahun yang lalu, keberadaan Beliau tidak banyak diberitakan oleh media cetak. Seperti dalam sebuah cerita komik persilatan, tokoh yang pernah kalah dalam suatu pertandingan  kemudian menghilang dari keramaian, pergi mencari ilmu baru, mempelajari jurus jurus baru yang sangat memikat kemudian muncul kembali kedunia persilatan.

Dalam pengakuan Beliau mengatakan mengapa Beliau memilih menjadi anggota DPRD Singkawang padahal Beliau memiliki peluang menjadi anggota legislatif untuk tingkat  provinsi. Karena pilihan Beliau berdasarkan “kecintaan” Beliau begitu besar terhadap Singkawang. Walaupun Beliau mengatakan dirinya hanya memiliki satu suara tidak akan dapat berbuat banyak di dalam gedung dewan. Tetapi, masyarakat Singkawang yakin kepada Pak Awang yang memiliki banyak kelebihan dalam pergaulan, mudah berkawan. Akan membuat banyak kawan di gedung dewan untuk melakoni sebuah drama yang menarik untuk kita. Pak Awang juga menyatakan dirinya siap mencalonkan diri sebagai kadidat wako untuk  pilkada pada tahun 2012 yang akan datang. Menurut Beliau,  masih banyak  unfinsih jobs yang harus Beliau lanjutkan  untuk membangun kota Singkawang yang sesuai dengan misi Beliau.  Reaksi dari masyarakat Singkawang terhadap pernyatakan Pak Awang itu sangat positif, dinilai seorang politisi yang profesional dan sportif bukan type “politisi kagetan/karbitan”(jika ada pilkada baru muncul). Dengan demikian, masyarakat  Singkawang  akan menaruh harapan kepada Beliau,  menilai kemampuan Beliau bermain di dalam gedung dewan sebagai materi penilaian.

Sebaliknya, sangat berbeda  dalam pernyataan mencalonkan diri kembali untuk kandidat  wako incumbent  untuk  pilkada 2012 nanti. Setiap kali jika ada acara peringatan perayaan di kalangan komunitas Tionghoa Singkawang, Pak Hasan Karman selalu  memanfaatkan moment  tersebut untuk menyampaikan “keluhan” berupa beban misi yang Beliau pikul sebagai wako Singkawang. Namun demikian, Beliau tetap menyampaikan keinginannya mencalonkan diri kembali untuk pilkada 2012 nanti. Meminta masyarakat tetap memberi dukungan kepada Beliau. Beliau selalu mengingatkan kepada masyarakat Tionghoa Singkawang “jangan bodoh orang-orang Tionghoa jangan mau diadu domba.”. Menurut masyarakat itu adalah bagian dari doktrin atau ajaran dari Pak Aliok yang menyerukan sentimen etnis “ Bui Fa Nyin”. Bukti sangat nyata, ketika Pak Aliok sebagai ketua Permasis, adakah proyek dari Pak Aliok yang bermanfaat untuk masyarakat Tionghoa Singkawang? Apakah kehidupan Fa Nyin sudah semakin makmur di daerah Singbebas ? Selama Beliau menjadi ketua Permasis berapa milliar dana dihabiskan untuk kegiatannya? Mana ada proyek untuk Fa Nyin yang bisa kita pelajari kemanfaatannya? Jika ada tolong kirimkan data untuk kami pelajari, agar kami dapat mereview untuk masyarakat.

Satu-satunya keberhasilan dari Doktrin “Bui Fa Nyin”nya Pak Aliok adalah melalui Permasisnya sanggup mengorbit beberapa politisi karbitan seperti Pak Hasan Karman adalah kader Permasis. Dan beberapa anggota legislatif yang sekarang terpilih adalah para oportunis seperti Ketua DPRD Singkawang sementara, Chui Mie,Su Mian,Johni dll. Mereka adalah para sukarelawan Permasis di lapangan tetapi belum memiliki karya nyata untuk  masyarakat.

Yang jelas proyek hasil karya Pak  Aliok bukan “ Bui Fa Nyin” tetapi “ Bui Fan Nyin”. Masih ada satu  monument di kota Singkawang yang belum Pak Aliok selesaikan “ rumah adat melayu”.Ada tokoh masyarakat Tionghoa Singkawang  menitip pertanyaan untuk Pak Aliok” kapan proyek itu akan diselesaikan? “. Peringatan dari beberapa tokoh masyarakat tionghoa Singkawang kepada mereka yang ingin menjadi pemimpin tetapi mengandalkan sentimen rasis untuk mencapai cita-cita mereka. “Mereka(calon) ini lebih baik mempelajari dan memahami konsep nasional kita  ‘bernegara dan berbangsa’ terlebih dahulu sebelum menyatakan dirinya sebagai calon pemimpin.”. “Menjual isu sentimen  rasis di kota Singkawang seperti menjual sampah, tidak laku terjual dikota(Jakarta) dibawa ke kota Singkawang. Apa yang bisa diharapkan pemimpin seperti itu?” kata pada tokoh masyarakat kita.

Sebagian masyarakat  menilai tingkah laku Pak Hasan Karman sangat kontradiksi, “mengeluh” tetapi tetap ingin mencalonkan diri kembali, persis seperti kegemaran orang-orang Singkawang tempo doeloe yang sangat gemar dengar film-film mandarin era Lin Ching Xia Cs dengan lakon melankholis itu apakah ini cara politik Pak Hasan  dalam meraih simpati masyarakat Singkawang?

 

CintaSingkawang,10 Oktober 2009