Wako suka menghadiri undangan

Kepada siapakah sindiran Gubernur Kalbar ditujukan?

14 Agustus 2010
Komentar:

Pada saat pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Bengkayang periode 2010-2015 beberapa hari yang lalu, Gubernur Kalbar Pak Cornelis mengingatkan kepala daerah baik itu bupati atau wali kota.

“Jangan sedikit-sedikit ke Jakarta. Ada undangan, berangkat, padahal ada undangan yang lebih penting dengan gubernur dan staf ditinggalkan”. “Kadang antara bupati dan wakilnya, wali kota dan wakilnya Jalan sendiri-sendiri. Iya, kalau hubungan bupati dan wakilnya, atau wali kota dengan wakilnya bagus, kalau tidak?”. Tanya Pak Cornelis.

 

Kritik  pedas Pak Cornelis terhadap kenyataan yang terjadi di lingkungan birokrasi itu seperti kita memandang lukisan “ Mona Lisa”. Dari sudut arah manapun kita memandang lukisan “ Mona Lisa” itu kita akan menemukan bahwa lukisan Mona Lisa selalu tersenyum kepada kita. Apabila masyarakat Singkawang menaruh perhatian pada kritik  Pak Cornelis tersebut dengan jernih, mereka akan menemukan yang dimaksud oleh Pak Cornelis itu adalah Wali kota Singkawang. Walaupun Pak Cornelis tidak menyebutkan nama pejabat tersebut.  Tetapi, marilah kita menguji beberapa point utama dari pernyataan keras Pak Cornelis apakah Pak wako Singkawang memenuhi persyaratan yang dimaksud tersebut?

Syarat :

- sedikit-sedikit ke Jakarta. Ada undangan.

- wali kota dan wakilnya Jalan sendiri-sendiri.

 

Siapakah diantara  pejabat  Kalbar setingkat Bupati/Wako yang paling banyak pergi ke Jakarta? Kalau pertanyaan ini ditujukan  kepada masyarakat Singkawang.  Mereka akan memberi jawaban:” wali kota kami “.  Wah, dapat rekor MURI lagi ! Untuk meninggalkan kantor Pak wako harus meminta izin( pemberitahuan) kepada atasannya(gubernur) bahwa dia mendapat “undangan” di Jakarta.  Kepada bawahannya  Pak wako mengatakan  bahwa ada urusan “proyek” atau mencari “investor” di Jakarta.  Kepada teman atau konco-konconyanya bahwa  pergi ke Jakarta untuk menghilangkan “stress”, mencari udara segan dan inspirasi di Jakarta.

 

Bukan menjadi  rahasia umum bagi masyarakat Singkawang bahwa hubungan antara Pak Edy dengan Pak HK sudah kurang harmonis lagi. Buktinya sangat jelas, ketika Pak Edy sedang giat memberi penyuluhan kepada masyarakat tentang  bahaya narkoba. Saran Pak Edy kepada anak muda-mudi kita jangan bergaul dekat dengan teman mereka yang suka konsumsi narkoba. Analogi yang dipakai Pak Edy ini seperti menaruh jeruk hijau yang masih seger dengan  jeruk kuning yang sudah membusuk, jika jeruk hijau ditaruh berdekatan dengan jeruk kuning akibatnya jeruk hijau yang seger tadi akan menjadi kuning melalui suatu proses pembusukkan. 

Sedangkan Pak HK bukan memberi dukungan terhadap  usaha  Pak Edy  tetapi sebaliknya Pak HK bermain api dengan  para pemakai narkoba. Buktinya Bong Li Thiam sebagai teman Pak HK ditangkap polisi dan tes urinenya positif pemakai narkoba.

Masyarakat Singkawang meragukan foto yang dimuat koran yang menyatakan itu foto Pak Bujang Ali. Itu adalah foto Pak Bong Li ketika dia ditangkap  polisi.

 

Disamping itu Singkawang merupakan satu-satunya wilayah teritorial khusus di Negara Kesatuan Republik Indonesia(NKRI)  sebagai wilayah yang secara de yure dipimpin oleh seorang Walikota namun secara de facto walikota Singkawang juga harus tunduk dan patuh kepada Walikota informal di Jakarta oleh sebab itu HK lebih sering tampak berada di Jakarta.  

 

Sesudah menguji persyaratan diatas  Pak HK sudah memenuhi “fit and proper test” sebagai walikota yang  suka melancong  ke Jakarta seperti dimaksudkan oleh Pak Cornelis itu beberapa waktu yang lalu di Bengkayang dan wako yang tidak bisa bekerja sama dengan wakilnya .

 

Tampaknya Gubernur Kalbar sudah mencium ada yang tidak beres dalam pemerintahan di Singkawang dan hubungan yang tidak harmonis antara Wako dan Wawako Singkawang.

 

CintaSingkawang, 14 Agustus 2010