Dapatkah Gelar Kera mendongkrak Kepopularitas Pak HK?
27 Juni 2011

Komentar:

Sms yang beredar di kalangan elit Tionghoa :”Slmt pagi !Wah Hasan Karman tmbh banyak gelar.Dengan duit dia memperoleh gelar bangsawan dari keraton Solo,sama seperti Manohara,Syahrini dan Julia Perez ,Tambah keren dia sekarang “

 

Dalam dunia bisnis sering perusahaan berusaha untuk mendapat suatu pengakuan standarisasi dari badan Nasional ataupun badan Internasional terhadap produk yang dihasilkan dari perusahaannya. Katakan saja untuk mendapat “sertifikasi ISO” terhadap produk ataupun kinerja perusahaannya. Dampak dari “pengakuan” tersebut dapat memberi kesan kepada konsumen bahwa mutu produk atau kinerja kerja dari perusahaannya dapat dipertanggungjawabkan. Seperti sudah kita ketahui, keberhasilan suatu produk menembus pasar  bukan hanya mengandalkan mutu dan kualitas saja, banyak faktor lain juga pengaruhi sukses suatu produk dimarket, misal teknologi, teknik pemasaran dan harga jual.

 

Sudah hampir satu minggu beredar cerita di kalangan komunitas Tionghoa Singkawang bahwa walikota Singkawang, Pak Hasan Karman mendapat gelar bangsawan KRAT dari keraton Surakarta. Ketika berita ini belum dimuat dikoran, di kalangan Tionghoa Singkawang ada yang  menyebutnya gelar “KERA”, ada juga menyebutnya gelar “ KALAH”. Maklumlah, lidah  orang Tionghoa Singkawang ada yang mengalami kesulitan menyebut huruf “r”, apalagi melafalkan “kr”. Sesudah mendapat gelar KRA, penampilan Pak HK juga beda dibandingkan  beberapa tahun yang lalu. Dulu , Pak HK lebih suka  berpakaian “Cindul”(Cina Abdul=Tionghoa muslim) mungkin sekarang berpakaian bangsawan Jawa,dengan keris di pingggang dan  blankon di kepala Pak HK, tentu pula jalan lemah gemulai dan mulailah konco-konconya menyapa Kanjeng HK.

 

Ada sebagian besar dari masyarakat Singkawang tidak peduli akan gelar KRA itu karena tidak ada hubungan sedikitpun kota Singkawang dengan kota Surakarta baik itu merupakan hubungan geografi ataupun budaya dan sejarah di daerah ini. Apalagi mempertanyakan bagaimana cara Pak HK mendapatkan gelar tersebut. Pada prinsip umum berlaku; memberi suatu tanda penghargaan kepada seseorang dengan pertimbangan bahwa orang yang menerima penghargaan itu telah berjasa atau telah memberi kontribusi kepada komunitas mereka, dalam hal ini keraton Surakarta. Tetapi menurut pengakuan  Pak HK itu merupakan pemberian tanpa “alasan yang jelas”.

Ada juga menafsirkan tujuan mendapat gelar KRA  bagi Pak HK  untuk menghilangkan image yang memalukan “berlutut di depan Kesultanan Sambas”. Untuk menunjukkan kepada Kesultan Sambas bahwa dia masih berharga didepan raja Surakarta.

 

Beberapa hari ini di kota Singkawang mengalami pemadaman listrik. Setiap kali pemadaman membuat ketidaknyamanan bagi masyarakat. Padahal sudah berkali kali pemerintah Pak HK memberi jamiman kepada masyarakat bahwa dia akan memperhatikan masalah ini. Sejauh ini tidak ada solusi.

 

Apapun gelar yang diperoleh Pak HK baik itu KRA atau KERA  tidak akan sedikipun mengubah tuntutan masyarakat Singkawang terhadap perbaikan pelayanan umum di kota Singkawang. Pertanyaan: sanggupkah dengan gelar KRA dapat mendongkrak kepopularitas Pak HK?

 

 

CintaSingkawang, 27 Juni 2011