Persamaan

05 Agustus 2010
Komentar:

Membandingkan antara Mr.Barack Obama dengan Wako Singkawang Pak Hasan Karman memang sangatlah berlebihan yang satu adalah pemimpin dunia dan yang satu lagi adalah pemimpin dari sebuah kerajaan  kecil spektakuler khayalan. Namun  dalam satu  perkara terdapat kesamaan antara Presiden Amerika ke 44, Mr Barack Obama dengan Wako Singkawang  Pak Hasan Karman. Rakyat Amerika merasa  Presiden mereka sudah jarang mempergunakan kata “can do”. Tidak seperti ketika kampanye dan awal jabatan kepresidenannya Pak Presiden Amerika itu selalu bersemangat ketika mengucapkan;”yes,we can”. Begitu juga dengan masyarakat Singkawang  merasa Pak wako mereka sudah “tidak pernah lagi” memakai kata “Spektakuler” bahkan dirinya sudah merasa alergi jika ada yang menyebut kata itu.

Menurut hasil angket ter
akhir, bertambah banyak  warga Amerika merasa kurang puas terhadap cara Presidennya menangani masalah perekonomian. Begitu juga dengan warga Singkawang semakin kecewa terhadap cara wako mereka membangun kota Singkawang.

Masyarakat Singkawang merasa semakin frustrasi dengan kehidupannya di Singkawang yang semakin tidak spektakuler lagi. Kenyamanan hidup dari hari ke hari semakin berubah menjadi tidak  nyaman. Jalan yang tidak berdebu berubah seperti gurun pasir Sahara ketika ditiup angin debu berterbangan. Itu jalan beton Spektakuler pertama yang dimiliki kota Singkawang dengan planning Spektakuler dengan kualitas pekerjaan Spektakuler memakai dana spektakuler dari dana APBN. Kalau kita mengadakan angket pendapat tentang penilaian masyarakat Singkawang terhadap jalan beton. Seandainya pertanyaan ini kita tanyakan kepada mereka:apakah suka memiliki jalan beton atau tidak ? Kita semua yakin jawaban mereka pasti tidak suka bahkan pasti ada yang menolaknya. Sekarang kita coba menafsirkan jawaban dari masayarakat itu, dari sudut pandang antara wako dan masyarakat.

Sudut pandang dari Pak HK:

“Jalan beton, adalah jalan mewah bagi banyak Negara/kota. Hanya mereka yang berstatus kaya yang  sanggup memiliki fasilitas seperti itu. “Betapa beruntungnya kalian warga Singkawang” dapat memiliki barang mewah seperti itu. Kalau bukan saya yang menjadi wako siapa lagi yang akan bangun jalan beton untuk kalian. Kalian menolak jalan beton?  Berarti kalian menolak kemewahan, sama saja menolak kebijakan saya. Apakah tidak malu kalau rahasia ini sampai diberitakan di koran bahwa ‘Warga Singkawang menolak jalan beton?’ Nah, apa penilaian masyarakat luar terhadap kita? Pertama; masyarakat luar (non komunitas Singkawang) akan berpendapat bahwa masyarakat kita tidak bisa menerima tranformasi kehidupan dan anti modernisasi. Kalau pendapat mereka seperti itu, saya bisa maklum. Karena kita sudah terbiasa hidup gaya Tarzan atau koboi mandi dengan memakai air setengah ember, bahkan lebih hebat mandi dengan air raksa(merkuri) untuk bersaing dengan Fong She Nyuk ,tokoh legenda kung fu yang memiliki kekebalan, memiliki kulit logam dan bertulang baja. Listrik, tidak mengalami pemadaman bergilir di kota Singkawang? Ini tergantung janji Pak Dahlan Iskan berlaku berapa lama. Satu bulan ? Dua bulan ? Atau untuk selama-lamanya? Sudah sangat jelas dunia ini tidak ada jaminan yang tidak dibatasi dengan jangka waktu.

Ke dua; masyarakat luar bisa menafsirkan berita seperti itu sebagai berikut; masyarakat Singkawang lebih memahami apa yang mereka butuhkan daripada pemimpinnya. Dengan perkataan lain masyarakat lebih pintar daripada pemimpinnya dalam hal menentukan kebijakan pembangunan kota Singkawang.  Pendapat semacam ini tidak bisa saya terima, sebagai Raja San Keu Jong saya memiliki penasehat dan konsultan. Konsultanku adalah konsultan Spektakuler "selevel denganku",dengan ide spektakuler pula dan memiliki kesamaan dengan para Tatung di Singkawang, kepalanya bergoyang-goyang ketika sedang memberi nasehat. Bedanya, jika  para Tatung minta syarat harus disajikan minuman arak agar kepalanya  bisa bergoyang sedangkan konsultan saya, Bong Li Thiam cukup disajikan dengan ekstasi. Disitulah letak perbedaan yang paling fundamental antara modernasasi dengan tradisional”.

 Sudut pandangan dari masyarakat Singkawang:

Sejak Pak HK menjabat wako Singkawang kami yang tinggal di negeri Kerajaan San Keu Jong sempat menikmati beberapa kali pesta kembang api. Retribusi parkir dari harga Rp 300 naik menjadi Rp 1000. Ini akibat dari membangun negeri Kerajaan San Keu Jong tanpa membebani ABPD. Beberapa hari yang lalu ada instansi mengatakan penyakit menular seperti TBC di kota Singkawang tidak perlu dikhawatirkan. Memang, saya juga mendengar di kiri kanan saya orang sedang membatuk sesudah melewati  jalan beton yang menurut pendapat Raja San Keu Jong jalan beton dapat mengantisipasi banjir  . Kami sebagai pemilik usaha yang dekat dengan di lokasi jalan beton mendapat debu spektakuler setiap hari. Omzet penjualan kami jatuh drastis seperti popularitas Raja San Keu Jong semakin hari semakin tidak spektakuler. Para pelanggan kami lebih menghindar ke tempat usaha kami supaya hidup sehat. Setiap kali mereka sesudah mengunjungi kami harus membeli obat batuk. Belum lagi kami mengalami masalah dengan saluran-saluran spektakuler  dimana-mana .  Ah, mungkin  baginda tidak memahami apa yang saya maksudkan dengan debu spektakuler itu. Coba baginda naik jeep dengan deck terbuka melewati jalan beton kebanggaan negeri Kerajaan San Keu Jong baginda akan menikmati debu, ya debu. Seharusnya kehidupan modern tidak diganggu debu. Kalau bisa kami akan memilih jalan aspal daripada beton tetapi berdebu”.

 

 

CintaSingkawang, 05 Agustus 2010