Surat Pembaca-Jawaban

"Mengapa konglomerat kita tidak mendukung panitia CGM Singkawang"
03 Februari 2011

Komentar:

From: Kuntet Kartodirjo <kuntet189@yahoo.co.id>

Subject: Gelisah nich ye

To: cintasingkawang@yahoo.com, dionjun@gmail.com

Received: Monday, 31 January, 2011, 5:13 PM

 

Salam kompak Pembaca Cinta Singkawang,

Kalau Cinta menyapa Pak Jun yang sedang gelisah, dari surat pembaca yang dikirimkan kelihatan cukup gelisah dengan sesama alumni Santo Yusup Malang.  Kami pun ingin sharing dengan siapa saja yang care terhadap perkembangan Kota Singkawang, termasuk tulisan2 yang dimuat oleh Cinta.

 

Kami adalah putra-putri asli asal Singkawang, sebaiknya Pak Jun dkk tak usah terlalu gelisah dengan Singkawang, gara2  konconya HK jadi walikota sana. Banyak tulisan Cinta Singkawang menunjukkan fakta dan brain washing buat siapa saja termasuk Dion Jun dkk juga pakarnya seperti Murdaya Poo,  politisi cap kaki dua versi mbak Mega, rajin2 baca Cinta. Kami orang awam bisa menilai, Pak Poo ini tak beretika dalam berpolitik dan bahkan merusak tatanan politik di Indonesia, yang disayangkan dia seorang Tionghoa, justru etnis lain menilai negatif terhadap apa yang dilakukan Poo yang akan membawa dampak ke Etnis Tionghoa dalam kancah politik di Indonesia. Anak kecil saja akan tertawa,  Pak Poo di PDIP, istrinya Hartati Murdaya di Partai Demokrat. Ini kan namanya main-main.  Jadi lewat forum ini, tolong Pak Poo jangan coba bermain-main api di masyarakat Singkawang, bagai pahlawan  di siang bolong aja, pak? Punya misi politik jangka panjang. Sabar dulu, ya!

 

Selama lebih dari 3 tahun pemerintahan HK, masyarakat Singkawang hidup dengan kegelisahan seperti yang dialami Pak Dion Jun. Tingkah laku seorang doktol versi Cinta sangat spektakuler, menjadikan warga Singkawang melakoni kehidupan selalu bertanda tanya. Tindak kekerasan meningkat, keamanan kota tak nyaman, kemiskinan dimana2 di perkampungan. Walikota sibuk ngurus MURI dan AIRPOT yang penuh pembualan. Kami juga ingatkan ke Yayasannya MURI milik Jaya Supriana, itu kerjanya banyak pembohongan publik. Bagaimana kue keranjang khasnya orang Tionghoa waktu perayaan Imlek  dibuat dengan cara model cor semen Jayamix bisa diberi Penghargaan MURI? Kue Tian Pan itu kalau secara tradisional harus dikukus sampai puluhan Jam, dan banyak pantangan2 yang dianggap dapat membuat kue itu tidak benar2 matang. Yang jelas ada indikasi komersial MURI untuk mencari  MONEY, konon serifikat MURI dibayar Rp. 25 juta. yang ditonjolkan MURI itu umumnya didapat dengan MONEY, bukan suatu yang istimewa,  seperti saran Cinta suruh 1.000 orang bawa kasur tidur di jalan, habis itu kasurnya dibawa pulang karena ada bau MURI biar mimpinya  enak.

 

Kenapa Konglo2 asal Singkawang tidak mau terlibat di CGM, tentu ada sebabnya. Pertama tidak mendidik, Kedua menghamburkan uang yang tak bermanfaat. Ketiga Konglo2 takut setiap tahun dicari sama Tatung2. Keempat Konglo2 itu bilang kalau Loya2 hebat cari uang gampang, kasih buntut nomor yang  jitu aja, kok gitu repot2 !!! Benar kata  alm. Gus Dur .

 

Jalan terus Cinta Singkawang,  biar orang makin pinter tanpa harus gelar doktol setelah gabung dengan Cinta.

 

Salam,

Kuntet

Jawaban dari CintaSingkawang:

Yth Bapak Kuntet Kartodirjo,

Terima kasih untuk  email Bapak  yang memberi respon positif terhadap tulisan Cinta.

Cinta merasa Para Pembaca dan Cinta memiliki satu keinginan yang kuat agar komunitas kita lebih maju dan berkembang, memanfaatkan kekuatan yang  kita miliki bersama untuk mengambil bagian dalam  membangun Negara kita, Indonesia khususnya di kawasan Singbebas. Untuk itu, terlebih dahalu kita perlu mencerdaskan, mengembangkan potensi, dan mempersiapkan komunitas kita sehingga komunitas kita memiliki daya saing yang sama dengan  komunitas lain yang ada di dalam masyarakat kita. Sesuai dengan kebutuhan dan tututan  komunitas kita maka kita memerlukan media CintaSingkawang  untuk mengembangkan misi mulia ini.

 

Menurut catatan yang ada pada CintaSingkawang, Bapak Murdaya Poo pernah menyumbang agar supaya nama Beliau dicantumkan sebagai team panitia CGM 2010 Singkawang. Begitu juga pada tahun ini, Bapak Murdaya Poo juga  menyumbang Rp200juta. Tentu saja kita tidak mempersoalkan sumbangan Beliau atau siapapun yang berkeinginan untuk menyumbang jika itu merupakan sumbangan murni, tanpa ada motif yang tersembunyi. Kalau sumbangan Beliau bertujuan sebagai investasi kepentingan politik di kawasan Singbebas kita menyesalkan keinginan seperti itu.  Karena kepentingan politik dan bisnis apabila kedua hal itu dikombinasikan hasilnya tidak memberi keuntungan kepada masyarakat yang dijadikan sasaran atau tempat yang dijadikan tujuan.  Politik mengandalkan trik, kesempatan untuk mendapat kekuasaan. Adakala mengabaikan kepentingan ekonomi demi mempertahankan kekuasaan merupakan bagian dari proses mengambil keputusan dari segi prospektif berpolitik. Sedangkan bisnis memiliki prinsip mencari keuntungan, menguasai pasar dan teknologi untuk memperbesar peluang untuk mendapat keuntungan. Apabila kedua hal  tersebut dikombinasikan  dan dipakai sebagai alat untuk  monopoli pasar, memakai kekuasaan menekan pihak kompetitor bisnis mereka, mendikte  kebijakan ekonomi . Jika ini terjadi, masyarakat sebagai konsumen akan dirugikan, membayar jasa dan barang jauh lebih mahal. Memakai keuntungan dari bisnis itu untuk membiayai kegiatan  politik.

 

Apabila kita melihat  prosedur dan cara penyelenggara CGM Singkawang  yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat umum  akan menyebabkan para konglomerat segan mau terlibat  dalam kepanitaan. Masyarakat umum ingin merayakan CGM secara sederhana, sesuai dengan  tradisi tanpa dikontrol oleh pihak tertentu. Dari tahun ke tahun para konglomerat menarik dukungannya terhadap  cara perayaan dan penyelenggaraan CGM di Singkawang. Karena beberapa tahun ini CGM sudah dipakai sebagai media politik untuk pihak tertentu. Berbagai pihak terutama mereka yang berkepentingan langsung dengan politik dan kelompok  di Singkawang memanfaatkan event ini. Disamping itu perayaan CGM bukanlah sebuah investasi yang dapat memajukan komunitas kita, para konglomerat merasa malu  sebagai orang yang memiliki wawasan  tetapi kontribusi mereka dipakai untuk hal-hal yang tidak produktif dan tidak bermanfaat bagi masyarakat. Bahkan menguntungkan pengusaha perhotelan seperti Bong Li Thiam,restoran,travel dan maskapai penerbangan padahal mereka enggan memberikan kontribusinya kepada CGM yang memberikan keuntungan bagi mereka.

 

Sebagai kamonitas Tionghoa Singbebas kita harus belajar lebih banyak dari tetangga kita Malaysia Chinese . Mereka sudah sanggup memberi pinjamanan dengan suku bunga terjangkau kepada anggota komunitas mereka melanjutkan study mereka diuniversitas terkemuka di luar negeri. Dari tahun ke tahun sumber daya manusia(SDM) pada komunitas Malaysia Chinese semakin membaik sehingga komunitas mereka dapat bersaing dengan komunitas lain yang mendominasi di negara  Malaysia. Dengan system berkesinambungan pembinaan sumber daya manusia mereka.

 

Ketika sebelum Pak HK terpilih sebagai wako para pengusaha walet Singkawang percaya jika Pak HK menjabat wako nanti  mereka tidak banyak dikenakan sumbangan illegal seperti ketika pemerintah Pak Awang. Ternyata selama Pak HK sebagai wako para pengusaha masih tetap dikenakan pelbagai sumbangan bahkan bertambah parah dibandingkan pemerintah Pak Awang. Ini menandakan Pak HK tidak membawa perubahan dibidang  manajemen birokrasi. Persepsi; siapa saja yang menjadi wako para pengusaha walet tetap menjadi ladang meminta sumbangan untuk membiayai kegiatan politik non budget.

 

Sekali lagi terima kasih Pak Kuntet atas pencerahannya dari bapak untuk Pak Dion Jun. Pengalaman yang dialami Pak Dion Jun  merupakan pelajaran berharga bagi kita. Sebagai pencari dana di kalangan alumni Santo Yusup Malang. Sampai saat ini Pak Dion Jun masih belum memberi pertanggungjawaban secara akuntasi kepada donatur. Setidak-tidaknya memberi penjelasan penggunaan dana tersebut, sementara Pak HK sudah duduk di kursi wako sedangkan pak Dion Jun menanggung beban moral pantas pak Dion Jun ini gelisah karena dia sudah mempromosikan sebuah produk bernama “Spektakuler’ ini ternyata isinya jauh dari harapan.

 

 

Salam kompak,

CintaSingkawang

CintaSingkawang, 03 Februari 2011