Bagimana  Ischak mengajari Hasan ?

26 Maret 2010

Komentar:

Apabila kita menyikma isi  dari artikel pada koran Pontianak Post edisi 22 Maret 2010 dengan judul berita :” Beton Jalan Kesalahan Besar”. Cinta ingin  tahu bagaimana masyarakat Singkawang  menanggapi  artikel tersebut.  Oleh sebab itu Cinta menurunkan teamnya  ke lapangan untuk mengumpulkan opini  masyarakat.  Hasil penemuan Cinta  di lapangan  dapat  disimpulkan seperti berikut:

-Pak Awang Ishack mantan Wali Kota Singkawang  mengajar Pak Hasan Karman bagaimana cara  membangun kota Singkawang yang benar.

-Komunitas Tionghoa Singkawang  diketawai oleh komunitas lain di Singkawang memilih orang tidak tahu permasalahan bagaimana  membangun kota Singkawang.

Ini menandakan komunitas Tionghoa Singkawang semakin sadar bahwa kota kesayangan kita, Singkawang harus dipimpin orang memiliki visi, memahami permasalahan isu lokal . Jangan seperti anak tetangga Pak Hasan , si Aloy. Setiap kali orang menilai kinerja Pak Hasan  si Aloy ini  selalu mengatakan” Beri waktu untuk Pak Hasan untuk memimpin kota Singkawang”. Padahal masyarakat Singkawang telah memberi  waktu sudah hampir tiga tahun kepada Beliau tetapi hasil kerjanya tidak dapat meyakinkan masyarakat. Tarif PDAM naik, biaya parkir naik. Masyarakat merasakan biaya hidup naik,Naik,nAik, naIk,naiK,NAIK !

Di Singkawang sedang terjadi perbedaan persepsi bagaimana cara  mempergunakan dana bantuan dari pusat untuk mengantisipasi banjir.  Menurut Pak Hasan Karman cara mengatasi banjir di kota Singkawang : peninggian jalan dengan beton di beberapa jalan utama Kota Singkawang. Sedangkan menurut pendapat   Pak Awang : daerah di Singkawang Utara jika dibangunkan jalan atau melakukan perbaikan jalan, membangun waduh dan  kanal.

Dari segi politik, sudah sangat jelas perbedaan  kedua tokoh itu  memilih lokasi dan solusi untuk menangani banjir .  Pak Hasan memilih daerah perkotaan, sudah jelas di situ tempat populasi pendukungnya tinggal. Pak Awang memilih daerah Singkawang Utara, daerah ini  markas pendukung Pak Awang.

Dari segi inteligensi:metode  dan pendekatan yang dipakai kedua tokoh tersebut sangat berbeda sudut pandang mereka dalam  mengantisipasi masalah  banjir di Singkawang.

Pak Hasan memilih dengan cara meninggikan jalan dengan beton. Dalam pemikiran Pak Hasan banjir sering terjadi, yang penting jalanan tidak digenang air, berarti transportasi tidak terganggu, kegiatan ekonomi tetap lancar. Apakah dengan cara membetonkan jalan-jalan dapat menghindari bencana banjir di kota Singkawang? Tidak  mungkin ! Sudah sangat jelas metode yang dipilih oleh Pak Hasan tidak kena sasaran, apalagi mau memecahkan permasalahan banjir. Kelebihan jalan beton yaitu menghemat biaya pemeliharaan dalam jangka panjang, tidak mudah rusak dilewati kendaraan berat.  Seperti jalan-jalan di negara maju semua jalanan  memakai fondasi beton. Kalau Pak Hasan mau membangun jalan beton di Singkawang, izinkanlah Cinta memberi sedikit gambaran tentang jalan beton.

Jalan yang akan dibangun dengan fondasi beton, pertama jalan harus diratakan, dua samping kiri kanan jalan dibikin penahan dari beton  kemudian jalan bagian tengah dibeton setiap jarak dua meter diberi sebuah gap selebar 2cm sebagai jarak pemuaian. Gap ini diisi dengan kepingan karet. Diatas beton itu dilapisi aspal yang tercampur  dengan batu kecil dan pasir setinggi 15 cm. Nah, kalau Pak Hasan membangun jalan beton seperti itu pasti akan memecahkan rekor MURI dan memdapat MURI lagi tanpa harus menunggu CGM 2011,karena jalan beton terenak di seluruh Republik tercinta ini hanya ada di kota Singkawang,rekor MURI bukan?

Sudah sangat jelas banjir tidak  bisa diatasi dengan cara jalan dibeton. Banjir itu harus dicari penyebab kemudian baru mencari solusi bagaimana mengatasi akomodasi air.

Cara Pak Awang mengantisipasi banjir dengan membangun waduh, kanal.Tempat penampungan air, jalan dll. Konsep yang dipaparkan oleh Pak Awang sebagian masih perlu diuji kebenarannya. Namun demikan, secara metode dan pedekatan yang dipakai Pak Awang dapat diterima karena memenuhi persyaratan ilmiah: melokasi permasalahan, penyebab, dan pemecahannya.

Perdebatan tentang mengantisipasi banjir di kota Singkawang antara Pak Hasan dengan Pak Awang, pemenang sementara adalah  1 : O untuk Pak Awang!.Wah,rupanya anak tetangga Pak HK yang gemar taruhan bola itu jika ini dijadikan taruhan si Aloy bisa kalah habis .

Bagaimana pemerintah Hindia Belanda mengantisipasi banjir di kota Singkawang?   Sebenarnya konsep yang dipakai pemerintah Hindia  Belanda sangat sederhana untuk mengantisipasi banjir di kota Singkawang tempoe doeloe.

Dibelakang setiap blok perumahan di kota Singkawang dibangun got(selokan) yang dalam. Pada ujung got dipasang  pintu yang dapat menutup air mengalir, kalau pintunya ditutup  got itu berfungsi sebagai tempat  penampungan air.Pada saat air laut sedang  pasang dan hujan, semua pintu got yang letaknya dekat dengan sungai ditutup. Supaya air sungai/laut  tidak masuk, sedangkan air hujan ditampung di got.Perselisihan waktu  6 jam antara terjadi  air pasang dan air surut. Ketika air surut semua got dibuka supaya air mengalir kelaut.

Semoga cerita ini menjadi inspirasi bagi mereka ingin membangun kota Singkawang bebas dari banjir.Tentunya tak ada rekor MURI yang didapat tapi dapat menyelamatkan rumah si Aloy dari banjir.

 

 

 

CintaSingkawang, 11 Maret 2010