Pemkot Singkawang Berusia 9 Tahun

    
24 Oktober 2010

Komentar:

Ketika perayaan HUT  Pemkot Singkawang yang ke 9, pada tanggal 17 Oktober 2010 yang lalu. Sebagian besar dari masyarakat Singkawang mencoba mencari jawaban masing-masing dari sebuah pertanyaan yang sama :apa yang telah dicapai  kota Singkawang selama  sembilan tahun ini? Sebuah pertanyaan yang sederhana tetapi memberi jawabannya yang bermakna penilaian terhadap sebuah pembangunan bukanlah hal yang mudah. Karena pembangunan bisa mencakup  pelbagai aspek kehidupan kita, banyak factor yang  harus dipertimbangkan sebelum memberi jawaban. Jadi, no single answer dalam hal ini.  Mungkin diantara warga ada  mengatakan Singkawang  telah banyak mencapai kemajuan selama dipimpin oleh Pak HK. Nah, untuk menanggapi jawaban seperti itu  kita harus berhati-hati dan melihat dulu siapa yang memberi jawaban seperti itu, dari pendukungnya atau dari orang orang yang mencari keuntungan disekitar Pak HK.  Kalau itu jawaban dari para pendukungnya, orang seperti sudah kena brainwash oleh doktrin HK dengan cara pembodohan dan sentimen etnis.  Mereka ini belum menemukan “jawaban baru” hingga jawaban lama yang menjadi pegangan mereka sekarang dianggap jawaban yang paling benar.

 

Sebagai wako Singkawang Pak HK sendiri tidak berani memberi komentar tentang hasil karya pembangunan kota Singkawang selama tiga tahun dibawah kepemimpinannya. Respon seperti itu bukan gaya dasar Pak HK yang Narsis dan  pecinta berat penghargaan MURI ini.  Dalam pengakuannya, Beliau menemukan perbedaan mendasar dalam memimpin perusahaan swasta dengan pemerintahan. Sedikitpun tidak ada salah pendapat seperti itu, konsekwensi sebagai pemimpin pemerintah  berbeda dengan pemimpin perusahaan swasta.

Jika anda sebagai pimpinan perusahaan swasta anda menghabiskan dana perusahaan miliaran rupiah dalam pelaksanaan suatu proyek, ternyata anda gagal memimpin proyek tersebut. Ada dua kemungkinan konsekwensi yang akan anda hadapi karena anda telah merugikan uang perusahaan . Yaitu: anda dipecat dari perusahaan atau anda tidak akan dipromosi  kejenjang lebih tinggi, dimutasikan ke jabatan yang tidak berperanan. Kalau sebagai pemimpin pemerintahan ? Belum tentu ada konsekwensinya. Sebagai contoh masalah betonisasi jalan utama di Singkawang.  Biaya betonisasi menghabiskan  miliaran rupiah. Proyek kebanggaan Pak HK ini gagal total, untuk pengaspalan kembali( kita sebuat saja pengaspalanisasi) memerlukan biaya antara 7-9 miliar rupiah supaya jalan utama itu berfungsi dan layak sebagai jalan utama. Sebagai pemimpin kota Singkawang sudah sangat jelas bahwa Pak HK bertanggungjawab dalam hal ini. Uang negara dan daerah telah dirugikan karena  kebijakan yang salah. Kalau memakai prinsip perusahaan swasta kita yakin Pak HK akan dipecat dari jabatannya.

Menurut Pak Agustinus Aryawan, mantan direksi PT Barito Pacific Group yang  sudah biasa  mengambil tindakan kedisiplinan terhadap pegawainya yang gagal melakukan tugasnya apalagi merugikan perusahaan. ”Pimpinan seperti itu sudah pantas  dipecat” kata Beliau sembari memberikan contoh tindakan yang pernah diambil oleh Barito Pacific terhadap Seventien Lunardi alias A Tien beserta seluruh kelompoknya termasuk HK sendiri pada tahun 1996 yang lalu.

Tetapi kalau sebagai pemimpin pemerintahan gagal melaksanakan proyek dan  keuangan Negara dirugikan, tindakkan kedisiplinan apa yang akan dikenakan kepada pejabat tersebut ? Apa konsekwensinya?  Seandainya para anggota DPRD Singkawang proaktif mengontrol jalannya roda pemerintahan, sudah seharusnya mereka mengajukan Hak Interpelasi terhadap Walikota atas kebijakan bermasalah yaitu Betonisasi dan   mengadakan investigasi terhadap  kasus betonisasi.

 

Harapan Pak HK supaya masyarakat Singkawang mau memaafkan ketidakmampuan Beliau memimpin kota Singkawang. Menurut asumsi Beliau; apabila kita berterus terang mengakui kelemahan kita akan mendapat simpati, memakai taktik minta dikasihani. Dari segi pandang prinsip hukum; yang salah tetap salah. Hukuman terhadap kesalahan tergantung dari ringan atau beratnya(jumlah) pelanggaran. Bukan karena dikasihani lalu bebas dari segala pertanggungjawaban. Dalam kamus kehidupan orang dewasa sangat jelas tidak ada skenario seperti itu.

 

Ketika Pak HK terpilih sebagai wako Singkawang tiga tahun yang lalu. Ekpektasi dari masyarakat Singkawang khususnya komunitas Tionghoa Singkawang begitu besar terhadap Beliau. Dengan rasa kesombongan Pak HK mengklaim bahwa pemerintahnya akan membangun kota Singkawang dengan cara:

 -Tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Butir point ini    sudah berkali kali dikupas CintaSingkawang dalam beberapa artikel. Jadi, tidak akan Cinta ulangi untuk mengupas point ini lagi.(jadi Para Pembaca dipersilahkan baca kembali artikel-artikel Cinta sebelumnya)

 

- Akan merampingkan(permak) birokrasi Pemkot supaya efisien.

Untuk merampingkan birokrasi supaya efisien paling tidak melibatkan dua hal. Yaitu sumber daya manusia dan implementasi informasi teknologi. Kualitas para pegawai negeri sipil perlu ditingkatkan supaya mereka ini terampil dalam bidang tugasnya dan terampil dalam mengoperasikan informasi teknologi.  Dengan memanfaatkan informasi teknologi akan memberi dampak penggunaan tenaga manusia, mengurangi jumlah personil tenaga pegawai negeri sipil. Kendala yang akan dihadapi dalam  implementasi informasi teknologi yaitu biaya dan tenaga ahli di bidang IT.  Tenaga ahli IT yang diperlukan bukan  tenaga IT sekelas anak tetangga Pak HK, Hendy Lie itu. Kita perlu konsultan kelas dunia yang dapat menciptakan arsitektur sistem yang diperlukan oleh pemkot untuk mengontrol birokrasinya. Biaya untuk efisiensi ini tidak murah, membayar biaya konsultan dan  setiap tiga tahun sekali peralatan kantor  harus ganti seperti komputer, printer dll.

Dalam kenyataan, masyarakat Singkawang untuk mendapat pekerjaan mencari di ladang pemerintah, menjadi pegawai negeri sipil. Setiap tahun pemerintah harus menyediakan ratusan lowongan pekerjaan untuk masyarakat. Ini akan membebansi APBD. Sudah  jelas tidak mungkin Pak HK berhasil memiliki birokrasi yang efisien. Kita sering membaca berita di koran bahwa anak buah Pak HK bermain di warung kopi di tepi jalan pada jam kerja. Ini menandakan memiliki banyak pegawai tetapi sedikit pekerjaan untuk mereka.

 

Sementara masyarakat Singkawang memikirkan janji Pak HK untuk  mengatasi masalah air ledeng dan listrik, pengangguran. Pak HK pernah berjanji kepada masyarakat Singkawang, sesudah dia terpilih sebagai wako Singkawang. Beberapa hari kemudian dia akan membawa konglongmerat Pak Prajogo Pangestu ke RRT untuk membeli mesin pembangkit listrik. Sudah tiga tahun masih belum menjadi kenyataan. Dalam HUT ke 9 ini Pak HK memikirkan proyek Bandara Spektakuler yang tidak berhasil memperoleh izin. Rasa bersalah Beliau kepada konco-konconya yang telah membeli tanah dengan harapan bandara akan dibangun diatas tanah mereka sehingga mereka mendapat keuntungan.

 

Mungkin seperti perkataan Pak Mooridjan “kita bukan memperingati HUT Pemkot Singkawang ke 9 tetapi kita memperingati kecongkakan HK yang  mengaku dirinya selevel dengan Tuhan”.

 


 
CintaSingkawang, 24Oktober 2010