Menghadiri Pesta Hari Ulang Tahun Konglomerat

 "Berhasilkah  Pak HK  melobi Dato Tan Sri Burhan Uray untuk  mendirikan  sekolah Khong Hu Cu  di Singkawang?"

12 Nopember 2010

Komentar:

Ketika sedang berlangsung kampaye pilkada Singkawang 2007 yang lalu.  Ada dua nama konglomerat dijadikan sebagai  bahan iklan oleh Pak HK yaitu Pak Prajogo Pangestu dan Dato Tan Sri Burhan Uray (Bong Sung On). Kedua nama konglomerat ini dipakai untuk menyakinkan kepada komunitas Tionghoa Singkawang bahwa dia mendapat dukungan dari kedua tokoh tersebut. Seperti perusahaan memasarkan produk kecantikan maka diperlukan  memakai orang terkenal untuk mempromosikan produknya kepada para konsumen.

Mengapa harus memakai nama para konglomerat sebagai promotor? Karena  sebagian besar dari komunitas Tionghoa Singkawang menganut ajaran “Phung-tai-kiok-isme”(ajaran pemujaan terhadap orang kaya). Bagi mereka yang menganut ajaran tersebut sangat percaya mereka akan mendapat “sesuatu” dari dewa yang mereka puja. Pandangan masyarakat kita ini sangat berbeda dengan pandangan bangsa –bangsa lain, terutama bangsa yang telah memiliki standar hidup yang  sudah tinggi. Mereka memiliki standar penilaian terhadap karya manusia. Menilai manusia bukan berdasarkan berapa banyak kekayaan yang dimilikinya atau berapa banyak pengetahuan(pendidikan) dimiliki orang tersebut, jabatan atau kedudukan yang dijabatnya.  Mereka menilai seberapa banyak kontribusi yang  telah diberikan untuk misi kemanusiaan sehingga kehadirannya  didunia ini memiliki manfaat  bagi orang lain(masyarakat).

Sekedar perbandingan antara Mr.Bill Gates dengan Mother Teresa. Walaupun Mr. Bill Gates sudah beberapa kali mendapat predikat sebagai orang terkaya di dunia tetapi dia belum mendapat pengakuan dari masyarakat internasional sebagai insan berguna untuk misi kemanusiaan sejauh ini. Maka itu Mr.Bill Gates memahami kekurangannya, setelah dia berhenti dari urusan bisnis  komputer software, kemudian dia berkonsentrasi melakukan kegiatan organisasi sosial. Dia bolak-balik antara Amerika dengan Afrika supaya mendapat pengakuan. Persis seperti Pak Aliok bolak balik Jakarta –Singkawang supaya kelihatan dia serius dan sibuk  dengan misi sosialnya padahal Pak Aliok memiliki agenda tersembunyi di Singkawang. Sayangnya,  Pak Aliok tidak serius mengurus masalah sosial. Banyak orang percaya, kalau Pak Aliok bersungguh hati melakukan  misi sosial  dia akan mendapat pengakuan dari komunitas Singbebas.

Sebaliknya Mother Teresa, biarawati, orang miskin. Tetapi karya kemanusiaannya sangat menakjubkan masyarakat internasional. Karya kemanusiaannya sebagai bahan inspirasi bagi orang lain melakukan misi sosial yang sama untuk meringankan penderitaan orang lain.

Pak HK memahami sebagaian dari karakter komunitas Tionghoa Singkawang, maka Beliau memakai nama konglomerat untuk manipulasi pandangan masyarakat. Memakai nama para konglomerat untuk menakut-nakuti komunitas Tionghoa Singkawang.

Pada tanggal 13 November 2010 ini, Pak Bong Sung On,lelaki kelahiran Sibu ,Serawak yang pernah 2 tahun berlindung di Singkawang ini,yang juga adalah mantan suhu bisnis Pak Prajogo Pangestu itu akan merayakan hari ulang tahun Beliau ke 80 tahun di Hotel Shangri-La  Fuzhou, Fukkien, China.  Pesta perayaan hari ulang tahun Pak Bong Sung On ini akan dihadiri para tamu dari Indonesia. Sebuah pesawat charteran akan membawa para tamu dari Indonesia. Menurut pihak panitia HUT, Pak HK termasuk salah satu dari tamu yang diundang dan akan berangkat bersama dengan rombongan tamu lain dari Indonesia .

Menurut pihak panitia, ada satu penantian yang sangat diharapkan oleh Pak HK sebagai oleh-oleh yang bisa dibawa  kembali ke  Singkawang nanti. Yaitu sebuah harapan agar keluarga Pak  Bong Sung On bersedia “dijolok” untuk mendirikan sekolah Khong Hu Cu di kota Singkawang. Kita belum tahu jelas apa itu permintaan  dari masyarakat Singkawang melalui Pak HK atau  merupakan ide dari  pak HK sendiri, tapi yang jelas bagi seorang Hasan Karman akan menjadi bahan sebuah cerita  baru yang lebih menghebohkan warga Singkawang daripada cerita Republik LanFong bahkan MURI. Terutama bagi mereka yang sering bersedia menjadi pendengar setia Pak HK di kelenteng-kelenteng.

Mari kita tunggu cerita Pak HK pulang pesta nanti !.
 
CintaSingkawang, 12 Nopember 2010